Fajar Junaedi berpose untuk Beritagar.id di kawasan Dongkelan, Yogyakarta, Sabtu (14/10/2017). © Reza Fitriyanto / Beritagar.id

Fajar Junaedi: Jangan terus salahkan suporter

Ia tersenyum kecut saat ditanya konflik antarsuporter yang terus berulang di negeri ini.

Penampilannya tak seperti kebanyakan dosen: berambut gondrong, berkaos oblong, bercelana jin belel, dan bersepatu kets khas muda-mudi.

Namun, begitu bicara sepak bola dan suporter, ia fasih mengutip berbagai kajian Ilmu Komunikasi.

Fajar Junaedi berstatus sebagai dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ia jatuh cinta pada sepak bola. Baginya, sepak bola tak hanya sebatas pertandingan. Di luar lapangan, olahraga ini membawa pengaruh pada kehidupan sosial--bahkan politik--di masyarakat.

Lelaki kelahiran 20 Mei 1979 itu mendokumentasikan gagasannya tentang sepak bola serta pengaruhnya dalam masyarakat lewat berbagai buku dan jurnal, misal Bonek Komunitas Suporter Pertama dan Terbesar di Indonesia; Merayakan Sepak Bola (Edisi 1 dan 2); dan Sepak Bola 2.0.

Ia juga menulis pengantar untuk buku Pasoepati; Klub dan Kota, Imagine Persebaya; dan Sport Komunikasi dan Audiens. Blog miliknya, di laman pengajar kampus, kaya hasil penelitian tentang sepak bola dalam kajian ilmu komunikasi.

Fajar juga mengkritik kecenderungan menyalahkan suporter dalam pelbagai peristiwa bentrok antarsuporter. Menurutnya, ada sejumlah faktor pemicu amuk suporter, termasuk sikap perangkat pertandingan yang tak profesional. "Jangan terus salahkan suporter," katanya.

Sabtu (14/10/2017), Beritagar.id mewawancarai Fajar Junaedi di kawasan Dongkelan, Yogyakarta. Kami bertemu di sebuah percetakan buku, tempat sebagian buku-bukunya diterbitkan.

Mesin pencetak yang tak henti berderit membuatnya menawarkan tempat lain sebagai lokasi wawancara. "Ada rumah teman di dekat sini, tak berisik dan lebih pas untuk rekaman video," katanya.

Selama lebih kurang satu jam, kami mengobrol soal fenomena suporter di Indonesia, mulai dari sejarah pengorganisasian suporter hingga tren kultur pendukung garis keras ala Eropa.

Persipura Mania menyaksikan laga Persipura kontra PSM Makassar di Stadion Mandala, Jayapura, Papua,  Rabu (27/9/2017).
Persipura Mania menyaksikan laga Persipura kontra PSM Makassar di Stadion Mandala, Jayapura, Papua, Rabu (27/9/2017).
© Bismo Agung /Beritagar.id

Bagaimana asal-usul pengorganisasian suporter sepak bola di Indonesia?
Sebelum 1986-1987, suporter adalah penonton yang datang ke stadion, mendukung tim, dan tidak terkoordinasi dengan baik. Bisa kita lacak, proses mengonsolidasikan penonton dilakukan Dahlan Iskan terhadap penonton Persebaya Surabaya--musim Perserikatan 1986/1987.

Waktu itu, Jawa Pos adalah media baru yang berhadapan dengan Surabaya Post, pemimpin pasar di Surabaya. Dahlan Iskan--pemimpin redaksi Jawa Pos--memanfaatkan penonton Persebaya dan membuatnya terkoordinir. Dia membuka paket Tret Tet Tet* untuk menonton Persebaya ke Senayan dalam pertandingan enam besar Perserikatan.

*) "Mari kita kembali ke Jakarta: Tret tet teeettt!", judul artikel di halaman depan Jawa Pos (4 Maret 1987). Artikel itu memuat ajakan ke Jakarta untuk mendukung Persebaya, sekaligus tawaran paket perjalanan.

Pengorganisasian itu tak lepas dari kepentingan ekonomi...
Iya. Tak lepas dari kepentingan ekonomi: memperbesar oplah Jawa Pos. Bagaimanapun, Jawa Pos menjadi besar karena kemampuannya mengomodifikasi pasar, yakni Persebaya.

Punya komentar soal peran Dahlan Iskan itu?
Dahlan Iskan adalah orang yang berjasa mengonsolidasikan penonton menjadi suporter. Ia memberi julukan suporter Persebaya, Greenforce.

Lalu wartawan olahraga Jawa Pos, Slamet Urip, menjuluki suporter Persebaya--yang bermodal minim ke Senayan--dengan sebutan Bonek, bondo nekat. Istilah terakhir ini lebih mengena bagi suporter Persebaya.

Adakah penanda sejarah lain di luar konsolidasi suporter Persebaya?
Fenomena kedua adalah suporter Arema Malang. Pada saat Arema main di Galatama, mereka membentuk komunitas suporter resmi, Arema Fans Club (AFC), tetapi tak mendapat dukungan

Lalu, Ovan Tobing--penyiar radio yang sering menyiarkan pertandingan Arema-- mengeluarkan gagasan untuk menyebut suporter Arema menjadi Aremania (medio 1990-an). Mereka (suporter) lebih nyaman dengan Aremania.

Apa yang menyatukan para penonton menjadi suporter?
Dalam kajian Komunikasi, ada istilah Interaksional Simbolik. Simbol-simbol yang menyatukan. Suporter Persebaya disatukan dukungan pada Persebaya, kata "Bonek", dan logo orang mangap. Suporter Arema disatukan dukungan terhadap Arema Malang, nama "Aremania", dan logo singa.

Lantas, bagaimana fenomena suporter ini menyebar ke kota lain?
Ketika Bonek dan Aremania away ke daerah lain, mereka datang dengan seragam, yel-yel yang kompak, dan menjadikan stadion sebagai spektakel. Benar-benar tontonan yang luar biasa. Dari situ ada usaha imitasi. Peniruan dilakukan suporter lain.

Contoh peniruan itu seperti apa?
Misalnya, saat Aremania ke Solo. Suporter Pelita Solo melihatnya sebagai fenomena yang luar biasa. Lalu, Mayor Haristanto bersama beberapa orang lain mengadakan pertemuan dan menyepakati pendirian Pasoepati--kelompok suporter di Solo.

Bagaimana pola pembentukan komunitas suporter di Indonesia?
Ada dua pendekatan kemunculan suporter. Pertama, suporter yang berkembang melalui kultur. Bonek dan Aremania adalah contoh terbaik suporter yang berkembang melalui budaya. Mereka berkembang berdasarkan kesamaan dukungan, logo, dan nama. Tak ada organisasi, tak ada ketua-- hanya ada informal leader dituakan.

Kedua, suporter yang berkembang melalui struktural fungsional. Mereka berkembang dalam bentuk Ormas--dalam tanda kutip. Bahkan, beberapa didaftarkan sebagai Ormas. Contohnya Pasoepati (Solo), Brajamusti (Yogya), dan Slemania (Sleman). Mereka punya organisasi, ketua, dan AD/ART.

Apa kelemahan dan kelebihan dua pendekatan itu?
Suporter yang berkembang melalui budaya, organisasinya tak serapi suporter struktural. Mereka tak punya ketua. Tetapi rata-rata tak mengalami perpecahan. Misal, di Persebaya ada Green Nord (Ultras), tapi mereka tetap disebut sebagai Bonek.

Beda dengan suporter yang berkembang dengan organisasi. Ada peluang perpecahan ketika sebagian anggota tak setuju keputusan organisasi.

Ultras Palembang, kelompok suporter Sriwijaya FC beraliran Ultras, beraksi dalam laga Sriwijaya lawan PSM Makassar di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang, Minggu (17/9).
Ultras Palembang, kelompok suporter Sriwijaya FC beraliran Ultras, beraksi dalam laga Sriwijaya lawan PSM Makassar di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang, Minggu (17/9).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Kata "Mania" sering dipakai dalam penamaan komunitas suporter. Apakah Mania bisa disebut aliran khas Indonesia?
Ovan Tobing pernah cerita. Kata "Aremania" itu berasal dari "Aremaniac" ("Aremaniak"). "Maniac" ("Maniak"). Agar lebih enak jadi Aremania. Nah, itu ditiru suporter lain: menyematkan "Mania".

Mania itu campuran berbagai style. Gaya Aremania pertama berasal dari Amerika Latin. Chant mereka ala Amerika Latin. Pemain-pemain Amerika Latin yang mengenalkan itu. Pada Liga Indonesia pertama banyak pemain Amerika Latin bermain di Arema.

Anda tak sepakat bila Mania disebut khas Indonesia...
Kata "Mania"mungkin lokal Indonesia, tapi kultur itu dari luar negeri. Sepak bola adalah produk globalisasi, hasil silang sengkarut berbagai budaya. Sama dengan suporter. Tidak ada yang murni Indonesia.

Mania monggo dipakai untuk menyebut gaya suporter tertentu. Beberapa suporter juga pakai gaya Ultras, mari dihormati. Ada juga yang bergaya Hooligan atau Casual. Kalau saya pribadi lebih enak menyebut Fans, karena ada berbagai variasi.

Apa yang membedakan kultur suporter Indonesia dengan suporter di luar negeri?
Suporter Indonesia adalah persilangan gaya Mania, Hooligan, dan Ultras. Meski ada juga yang rigid (baca: ketat) mengadopsi Ultras.

Apa bedanya Mania, Hooligan, dan Ultras?
Mania itu gaya suporter seperti Bonek dan Aremania pada generasi awal. Gaya mereka mirip suporter di Amerika Latin.

Ultras mengadopsi suporter Italia yang membangun atmosfer luar biasa di tribune. Mereka menjadikan sepak bola tontonan spektakuler dengan kombinasi koreografi, giant flag, perkusi, dan kedisiplinan tinggi. Gayanya masif.

Sedangkan Hooligan--dari Inggris--menghindari kejaran polisi dengan tak menggunakan atribut ketika datang di stadion. Pakaian mereka cenderung kasual.

Sejak kapan kultur suporter luar negeri masuk ke Indonesia?
Sejak penetrasi internet semakin kuat.

Sebelumnya, ada siaran langsung pertandingan sepak bola melalui televisi, tapi di era televisi terrestrial (baca: gelombang frekuensi) siaran hanya fokus ke pertandingan. Berbeda dengan televisi berbayar dan internet, yang juga menampilkan kejadian di tribune. Fan bisa mempelajarinya.

Kelompok mana yang memelopori tren kultur suporter luar negeri, macam Ultras?
Salah satunya BCS (Brigata Curva Sud) di PSS Sleman. Namun, sebelum BCS, ada Ultras yang berkembang di Solo, Ultras 1923. Keduanya berkembang dalam satu generasi.

Bedanya, Ultras di Sleman mendirikan BCS. Sedangkan Ultras 1923 taat dengan aturan Pasoepati dengan menjadi suku atau koorwil sendiri. Namanya jadi Pasoepati Ultras 1923.

Di beberapa daerah kultur suporter luar negeri bisa tumbuh, tetapi di daerah lain kesulitan berkembang. Apa penyebabnya?
Pertama adalah literasi. Di Sleman, misalnya, daerah ini telah berkembang menjadi kota--tak bisa dilihat sekadar kabupaten. Daerah urban dengan kelas menengah terdidik yang diinisiasi mahasiswa. Maka Ultras di Sleman lebih mudah diterima.

Faktor kedua, kondisi organisasi sebelumnya. Saat BCS muncul, kondisi Slemania tak stabil. Berbeda dengan di Kota Yogya, yang Ultras-nya kesulitan berkembang, karena mereka sudah nyaman dengan Brajamusti dan Maiden.

Apa yang membedakan Ultras atau Hooligan Indonesia dan di luar negeri?
Mereka melakukan negosiasi. Misalnya, di Solo, Ultras 1923 berkompromi dengan Pasoepati. Di Surabaya, Ultras berkembang di tribune utara melalui Green Nord, tapi tak meninggalkan identitas Bonek. Ini yang luar biasa dengan suporter di Indonesia. Bernegosiasi meski berbeda style.

Seperti musik Punk atau Hardcore, apakah Ultras bisa dilihat sebagai subkultur?
Iya. Ultras bisa disebut subkultur yang berkembang dari penonton di tribune stadion. Mereka tak hanya menonton tapi mendukung dan membuat aksi-aksi yang luar biasa. Itu tontonan tersendiri yang luar biasa.

"Suporter Indonesia adalah persilangan gaya Mania, Hooligan, dan Ultras."

Fajar Junaedi

Suporter bergaya Ultras tak punya struktur formal. Bahkan ada slogan, No Leader Just Together. Kenapa seperti itu?
Bukan rahasia, dalam tradisi komunitas suporter--terutama yang terformalkan--elitnya menggunakan (komunitas suporter) sebagai kendaraan politik. Ini mengundang kekecewaan.

Adakah pengaruh ideologi tertentu, misal Anarkisme, sehingga mereka menolak struktur organisasi?
Menurut saya, ideologi paling dominan adalah penolakan mereka terhadap kepemimpinan di gaya lama. Mereka melihat pemimpin memanfaatkan komunitas untuk kepentingannya. Sehingga, mereka membentuk struktur yang lebih egaliter.

Meski tanpa struktur organisasi, mereka solid dan kreatif. Bagaimana Anda melihat fenomena ini?
Menarik. Meski tak ada struktur, mereka aktif mengedukasi lewat literasi dan memberdayakan fans. BCS di Sleman punya Sleman-football.com, Elja TV, dan Elja Radio. Mereka mengedukasi fan. Bahkan, website klub pun tak selengkap media yang diurus fan.

Kalau sekarang mereka solid, itu karena masih di generasi pertama. Tantangan bagi teman-teman Ultras adalah menjaga regenerasi.

Beberapa kelompok membuat sayap perempuan. Misalnya, BCS dengan Ladies Curva Sud, dan Arema dengan Aremanita...
Saya tak sepakat dengan penamaan suporter perempuan. Bukankah mereka (suporter perempuan) sama dengan suporter laki-laki?

Ada politik penamaan. Sisi maskulin dalam suporter masih muncul dalam penamaan. Dalam cultural studies, hal ini eksklusi terhadap perempuan. Bahwa perempuan itu bukan maqom-nya (baca: tingkatan) berada di tempat laki-laki. Mereka harus diberi tempat tersendiri. Itu adalah subordinasi dari laki-laki.

Soal keributan antarsuporter, apa pandangan Anda?
Jawabannya sederhana, tapi penyelesaiannya complicated. Tata kelola pertandingan sepak bola Indonesia tak dikelola dengan baik. Misalnya, pengamanan. Alih-alih menghadap tribune, aparat keamanan menghadap ke lapangan: ikut menonton. Akhirnya, saat terjadi konflik tak bisa segera diatasi.

Konflik antarsuporter juga sering terjadi di wilayah abu-abu. Banyak kasus kematian suporter terjadi di wilayah perbatasan. Aparat mestinya tahu suporter A bersinggungan dengan suporter B. Mereka harusnya preventif. Selama ini, setelah kejadian baru diatasi.

Namun, tiap kali ada kericuhan, suporter kerap dituding sebagai biang kerok...
Jangan terus salahkan suporter. Salahkan juga perangkat pertandingan yang tak profesional. Suporter marah karena perangkat pertandingan yang tak profesional.

Apa komentar Anda soal pemberitaan suporter di media massa?
Saya tidak bilang media mainstream tak mengangkat kreativitas suporter. Namun, sayangnya, lebih banyak berita negatif tentang suporter. Kalau ada kerusuhan suporter akan jadi headline.

Tapi ketika suporter melakukan aksi positif, tidak mendapat porsi pemberitaan yang signifikan. Jadi "bad news is good news" masih dianut media mainstream kita.

Anang Zakaria
Kontributor Beritagar.id Yogyakarta.

BACA JUGA