Ketua Umum The Jakmania Ferry Indra Syarief saat ditemui di kediamannya kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (20/12/2018).
Ketua Umum The Jakmania Ferry Indra Syarief saat ditemui di kediamannya kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (20/12/2018). Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
BINCANG

Ferry The Jak: Silakan buktikan Persija itu 'anak papa'

Ferry tak menutup kemungkinan isu pengaturan skor terjadi. Tapi ia minta isu itu ditindaklanjuti dengan pembuktian, jangan dibiarkan dan jadi alat propaganda.

Ferry Indra Syarief menepuk kening. Dia masih pakai celana pendek dan kaos kebesaran semalam, kemudian menyisir seadanya dengan jari-jari tangan—sembari buka pintu. “Sori lupa, gue kira sekarang Jumat. Mandi dulu ya,” kata Ferry di kediamannya, kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis pagi (20/12/2018).

Pagi itu Ferry terus mengumbar senyum begitu matanya menangkap kehadiran kami. Padahal sudah lama kami tak jumpa. Maklum, ia sedang dejavu. Ia merasa balik lagi ke tahun 2001 saat Persija juara juga. Ketika itu jabatannya sama: Ketua Umum The Jakmania.

Ya, Ferry adalah legenda di lingkungan The Jakmania. Boleh dikatakan, ia kembali turun gunung tahun lalu untuk mengisi kembali posisi ketua The Jakmania sampai 2020 nanti. Ferry merupakan salah satu dari 40 pendiri Jakmania pada 1997. Di antara orang-orang itu ada nama Gugun Gondrong.

“Akhirnya gue rasakan euforia Persija juara lagi. Sudah lama enggak,” kata dia kepada Heru Triyono dan Wisnu Agung saat wawancara.

Tapi euforia kali ini terasa beda bagi Ferry. Meski Persija jadi kampiun, ia dihantui perasaan tak enak. Pasalnya ada pihak-pihak yang mengembuskan isu tentang juara setingan yang disematkan untuk klub Ibu Kota. "Jangan cuap-cuap saja. Buktikan dong," ujar pria berusia 53 ini.

Kepada kami, Ferry bicara terbuka soal tudingan itu, politik suporter sepak bola dan dapur Persija, selama 60 menit. Berikut percakapannya:

Ketua Umum The Jakmania Ferry Indra Syarief saat ditemui di kediamannya kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (20/12/2018).
Ketua Umum The Jakmania Ferry Indra Syarief saat ditemui di kediamannya kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (20/12/2018). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Apakah Anda terganggu dengan tudingan ada pengaturan juara untuk Persija?
Sebagian Jakmania terganggu. Ada yang mau lawan, tapi gue redam. Gue bilang, sudahlah, kalau memang settingan, ya ini settingan Tuhan. Mungkin yang menuduh itu kecewa karena enggak juara.

Yang jadi sorotan, Rochy Putiray berani bertaruh kalau Persija jadi juara, dan itu terbukti benar…
Memangnya dia (Rochy) bisa buktiin? Ayo dong PSSI panggil dia. Ini kan kompetisi mereka. Kalau ada tuduhan begitu didiamkan, bisa-bisa merusak martabat liga. Itu berbahaya.

Anda keberatan dengan pernyataan Rochy, yang notabene mantan pemain Persija juga?
Gue sayangin saja. Kalau benar, ayo buktikan. Ini kan enggak fair. Belum terbukti, tapi isu terus bergulir. Efeknya ya ke pertandingan.

Wasit diprotes berlebihan oleh pemain--karena menduga ada isu itu. Padahal keputusan wasit benar.

Ada istilah Persija itu “anak papa”, lantaran dituding sering diuntungkan karena Joko Driyono memiliki saham di Persija, apa benar?
Silakan buktikan kalau Persija itu "anak papa". Isu ini juga enggak fair. Karena hampir semua klub pemiliknya ya orang-orang PSSI juga.

Misalnya PSMS Medan. Mereka itu degradasi. Apakah Pak Edy ngamuk-ngamuk? Kan enggak. Kemudian, Persija susah main di Jakarta, apakah Pak Joko turun tangan? Kan enggak. Kalau ada kecurangan, silakan buktikan. Itu saja.

Pengaturan skor ini kan isu lama, Anda pernah mendengar atau tahu banget?
Pengaturan skor sih gue enggak tahu. Tapi kalau Persija dirugikan, itu pernah terjadi dan bikin kesal.

Jika Persija dirugikan, apakah Anda juga menduga-duga bahwa pertandingan itu ada pengaturan?
Dugaan ada. Tapi lihat di lapangan juga. Kalau fair, pasti suporter oke-oke saja. Ya, ada lho tim yang sudah bersama menentukan wasit, tapi pas hasilnya kalah, malah caci maki. Bagaimana itu?

Suporter PSM sepertinya merasa dirugikan, mereka teriak mafia-mafia selesai ditahan imbang Bhayangkara FC…
Makanya. Gue kecewa sama PSSI. Kalau PSSI mau jaga wibawa, harusnya serius tangani isu ini. Panggil orang yang lempar pernyataan adanya match fixing.

Selama ini PSSI enggak serius?
Bisa lihat sendiri. Maksud gue, jangan sampai masyarakat enggak percaya sama kompetisi PSSI. Kalau masyarakat pergi kan bahaya. Media memberitakan juga enggak laku. Makanya dijaga.

Menurut Anda, masyarakat mulai enggak percaya kompetisi ini?
Mulai ada ketidakpercayaan sama wasit. Itu lebih berbahaya ketimbang suporter lempar botol ke lapangan. Karena isu-isu itu merusak kompetisi.

Kenapa sih PSSI sepertinya sulit menuntaskan isu pengaturan skor?
Sori. Kalau gue bilang, Pak Edy itu kurang fokus.

Apakah The Jak mendorong agar Edy diganti?
Gue bukan tipe ingin ganti-ganti orang. Kecuali dia melanggar aturan. Kan tidak ada yang dilanggar oleh Pak Edy.

Oke, tapi PSSI bisa apa terkait isu ini, apa mereka takut?
Enggak fokus. Mungkin karena rangkap jabatan atau ada yang enggak kompeten. Sehingga banyak masalah yang enggak kepegang.

Joko Driyono kurang kompeten bagaimana, sudah lama dia di PSSI, tapi tak kunjung ada perubahan…
Tapi kan posisi dia di mana dan sebagai apa.

“Sori. Kalau gue bilang, Pak Edy itu kurang fokus”.

Ferry Indra Syarief

Ya sebagai Komite Eksekutif (Exco) PSSI, kan dia punya kewenangan yang luas?
Tetap bukan decision maker. Yang paling sentral kan ketua umum dan sekjen. Sekjen sekarang ilmunya tinggi, tapi kurang pengalaman.

Ilmu di kuliah itu enggak bisa diterapkan secara textbook di masyarakat. Apalagi ini sepak bola.

Maksudnya penunjukkan Ratu Tisha sebagai Sekjen PSSI kurang tepat?
Tepat atau enggaknya gue serahin PSSI. Hanya saja PSSI itu kurang eksis.

Ketika Andritany (kiper Persija) cedera selesai memperkuat Timnas, apa PSSI ada yang nengokin? Enggak ada. Jadi, PSSI sekarang itu kurang.

Memangnya PSSI yang sebelumnya lebih baik, sama saja kan?
Tapi paling enggak mau berkomunikasi dan perhatian. PSSI sebelumnya juga bagus bikin jadwal liga. Kalau sekarang kan berubah-ubah jadwalnya, menguras fisik.

Suporter Indonesia, khususnya The Jak, enggak ingin ada pembenahan di PSSI?
Pengen. Tapi banyak juga yang musti gue kerjain di The Jak. Itu saja sudah menyita waktu, fisik dan pikiran. Kalau gue harus mikir yang lain, malah enggak fokus.

Suara suporter padahal cukup penting untuk menyuarakan perubahan di PSSI?
Penting, tapi gue enggak mau suporter ditunggangi. Gue enggak demen suporter dikumpulin dan teriak-teriak revolusi PSSI.

Mereka yang teriak itu adalah orang yang sama—dengan yang dulu minta revolusi. Tetap saja enggak ada perubahan.

Lagian, prestasi mereka untuk sepak bola Indonesia apa? Kalau mau revolusi, bukti pengaturan skornya mana? Tunjukkin.

Tapi praktik match fixing di Indonesia kan memang ada, enggak bisa dipungkiri…
Gue enggak menutup kemungkinan ada pengaturan skor itu. Tapi gue sudah capek isu tentang itu. Dari dulu ya begitu saja. Cuap-cuap dan enggak ada penyelesaian.

Seandainya Persija enggak juara tahun ini, apakah ada dugaan-dugaan match fixing dari The Jak?
Gue enggak berpikir ke sana. PSM itu pantas seandainya juara. Mereka satu-satunya klub yang pemainnya enggak dipakai Timnas. Mereka diuntungkan. Mereka memang bagus dan konsisten.

Pelatih Robert Rene Alberts berkomentar soal juara settingan, dia punya bukti katanya, bagaimana itu?
Itu yang gue enggak suka dari dia. Bersaing secara sehat lah. Jangan ikut-ikutan membentuk opini. Teco (Pelatih Persija) saja enggak pernah urusin tim lain.

Ketua Umum The Jakmania Ferry Indra Syarief saat ditemui di kediamannya kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (20/12/2018).
Ketua Umum The Jakmania Ferry Indra Syarief saat ditemui di kediamannya kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (20/12/2018). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Menurut Anda, siapa yang paling punya andil membawa Persija jadi juara?
Pak Gede (Direktur Utama Persija) andilnya begitu besar. Perubahan datang ketika beliau masuk. Hal-hal non teknis dia bisa atasi.

Misalnya lapangan latihan dan mes. Jaraknya dekat sehingga pemain fokus.

Sosok Pak Gede juga yang menjembatani polisi dan The Jak, sehingga hubungan kami cair dan izin jadi mudah.

Suasana seperti ini apakah mirip ketika pembina tim Macan Kemayoran masih Sutiyoso?
Kaya terulang memang suasananya. Jadi, antara manajemen dan pendukung itu solid. Atmosfer juara ini terbentuk karena kuatnya dukungan dari pemain, pelatih, manajemen, pemda, media, ya semua.

Termasuk dukungan dari Anies Baswedan ya. Sepertinya dia begitu perhatian?
Enggak gencar kayak Bang Yos sih. Waktu era Bang Yos kan memakai APBD, di era Anies kan enggak boleh.

Ya dibanding gubernur sebelumnya, Anies lebih perhatian lah. Cara dia bicara itu santun, sehingga The Jak-nya juga adem.

Kalau Ahok he-he?
Dia mah malah caci-maki kita. Padahal kami terima saja jika dia enggak dukung. Enggak apa-apa. Tapi jangan juga caci maki The Jak.

Mungkin enggak sih The Jak bisa sejalan dengan Viking atau Bonek?
Untuk sejalan sebenarnya enggak usah. Pendukung harus ada batas. Elu hijau, elu biru, elu merah, gue oranye. Kalau enggak ada, enggak menarik.

Tapi rivalitas ini harus dalam batas koridor sepak bola. Kalau di luar bola, misalnya bertemu musuh langsung ribut sampai mati, itu sudah beda makna.

Para elite di masing-masing suporter enggak coba berembuk membicarakan ini?
Gue coba komunikasi dengan pimpinan-pimpinan Bonek dan Viking. Mereka asyik. Kita harus hormati mereka yang kesulitan menertibkan anggotanya.

Ya kami enggak ada masalah sebenarnya. Herru Joko itu benar-benar orang baik. Begitu juga Bonek.

Apakah suporter juga terpolarisasi menjelang Pilpres tahun depan?
Gue sih coba untuk enggak. Kita sudah berikrar dan berjanji bahwa The Jak enggak mau ikut politik.

Ada partai coba mendekat ke The Jak?
Pasti ada. Apalagi melihat konvoi juara The Jak kemarin. Siapa sih yang enggak mau.

Ya kita sih menerima saja dalam tanda kutip. Kalau ada partai yang mau berkunjung ke The Jak, silakan. Tapi kalau bicara politik ya kami itu bukan tempatnya.

Pendekatan itu datang dari dua kubu ya, Prabowo dan Jokowi?
Iya. Prinsipnya datang saja. Tapi jangan bicara politik. Beri perhatian saja Persija seperti Bang Yos. Tulus. Pasti The Jak dukung. Enggak usah dibayar deh. Pasti anak-anak senang.

Sori, Pak Edy kurang fokus /Beritagar ID
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR