Franz Magnis Suseno saat ditemui di Gedung Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, Selasa siang (19/3/2019).
Franz Magnis Suseno saat ditemui di Gedung Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, Selasa siang (19/3/2019). Bismo Agung / Beritagar.id
BINCANG

Franz Magnis: Kata stupid dan benalu adalah kebodohan besar

Ia mengakui bisa saja memilih kata yang lebih sopan. Namun, ia terpesona dengan kata-kata seperti psycho-freak—untuk mengkritik kaum golput.

Pria yang duduk hanya beberapa meter dari kami tak tampak agresif. Penuturannya lembut, tanpa tekanan emosi, dan berpenampilan seperti Albert Einstein: rambut acak-acakan seperti salju. Ia adalah Franz Magnis Suseno. Seorang rama, cendekiawan dan juga filsuf.

Kami menemuinya di Gedung Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, Selasa siang (19/3/2019). Kami berjabat tangan, bertukar kata sebentar, lalu ia meminta Heru Triyono, Muammar Fikire dan Bonardo Maulana, duduk berjajar di sebelah kiri. “Maaf, agar terdengar. Karena telinga kanan saya sudah tuli,” kata Magnis memulai wawancara.

Kini, impresi orang terhadap Magnis bisa jadi beda. Sebab, Mbahnya filsafat moral Indonesia ini tiba-tiba berubah kasar. Lantaran mengkritik kaum golput di kolom Harian Kompas dengan kata-kata bodoh, benalu dan psycho-freak.

Tak heran kritik bermunculan, meski ada juga yang sepakat dengannya. Alhasil pro dan kontra ramai di media sosial. Ada yang bilang intelektualitas Magnis ditelan usia, ada juga yang menganggapnya jadi inspirasi demokrasi. “Semua kritik itu saya terima. Mungkin saya terlalu keras,” ujarnya.

Di depan mata kamera Bismo Agung dan Melissa Octavianti, Magnis tampak hati-hati ketimbang memberikan jawaban cepat. Saat itu, kami bertanya-tanya soal redaksional tulisannya di Kompas, golput dan juga politik identitas. Berikut perbincangannya:

Franz Magnis Suseno saat ditemui di Gedung Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, Selasa siang (19/3/2019).
Franz Magnis Suseno saat ditemui di Gedung Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, Selasa siang (19/3/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Saat menulis kolom soal golput di Kompas itu Anda sedang emosi atau marah?
Saya tidak marah. Sebaliknya, saya menulis dengan gembira karena merasa kalimatnya bagus. Ternyata bagus tapi hina. Saya kurang disiplin saja.

Apakah Anda terpengaruh gaya komunikasi politik saat ini, seperti kata-kata dungu, cebong atau kampret?
Saya kira tidak. Ini sebenarnya bukan kosa kata saya. Saya tidak akan memakainya lagi. Bukan karena tak mau, tapi saya sudah punya kosa kata tertentu dan dipakai dalam banyak tulisan saya.

Tapi di tulisan itu terdapat kata-kata penuh amarah yang dialamatkan pada golput…
Saya justru tidak marah. Itu lucunya. Andai kata saya marah, saya tidak akan menulis, saya akan lebih hati-hati.

Bagaimana redaksional tulisan tersebut, apakah ada revisi atau memang kata-kata pedas itu sudah ada sejak awal?
Setelah terbit saya baru sadar, harusnya kata-kata stupid atau psycho freak tidak usah ada. Saya akan tetap mengkritik golput.

Tapi salah juga kalau saya mengatakan stupid dan sebagainya. Bagi saya, yang mereka anggap semua buruk itu bukan alasan untuk tak memilih.

Apakah ada editan dari pihak Kompas?
Ada satu kalimat yang mereka hilangkan. Sebelumnya saya tulis kalau orang mudah tersinggung jangan baca.

Harusnya juga banyak (kata-kata) yang mereka copot. Tapi ya sudah, itu sepenuhnya tanggung jawab saya.

Tulisan itu, pihak Kompas yang meminta atau bagaimana?
Saya yang ajukan. Saya tidak diminta. Saya hampir tidak pernah diminta. Saya menulisnya dengan cepat untuk kolom itu. Tidak perlu banyak waktu.

Sebelum terbit apakah ada diskusi dulu dengan pihak Kompas?
Tidak. Itu saya kirim saja. Lima hari kemudian dipublikasi. Saya tidak pernah bertanya apakah itu dimuat atau tidak.

Anda sudah mengira kalau tulisan itu akan jadi kontroversi?
Sebetulnya tidak. Saya memang tidak begitu merasa tulisan itu “wah bagus ini”. Ternyata enggak begitu bagus. Saya berbuat kesalahan.

Itu bodoh. Sebaiknya kesalahan itu diakui, namun tidak membiarkan diri terpukul. Harus ada recovery.

Apa sih yang membuat Anda begitu gelisah dengan keberadaan golput?
Saya punya dua pendapat mengenai hal ini. Satu, dalam demokrasi, masyarakat harus melakukan bagiannya.

Bila suatu bangsa diperintahkan orang-orang yang tidak punya mandat dari masyarakat, ya saya anggap buruk.

Dua, ada teman-teman yang mengatakan kalau dua paslon ini buruk, sehingga mereka tak memilih. Oke buruk, tapi minimal make sure bukan yang terburuk yang dipilih.

Menurut Anda yang mana?
Saya tidak mengatakan buruk. Yang mengatakan buruk adalah mereka yang tidak memilih. Saya melihat dua-duanya tidak sempurna, itu jelas.

Penyebabnya adalah presidential threshold di angka 20 persen. Itu saya anggap salah besar dan mencuri kemungkinan banyaknya pilihan untuk masyarakat.

Apakah akan ada perbaikan jika presidential threshold tadi diturunkan. Menjadi lima persen misalnya?
Jika diturunkan, kemungkinan bukan cuma dua pilihan yang kita punya, tetapi tiga atau empat kandidat.

Mungkin itu akan lebih baik, meski di beberapa negara ada presiden yang mengalami kesulitan karena seperti tidak mewakili masyarakat.

Tapi bisa jadi ketika baca tulisan Anda yang agresif itu, yang golput justru semakin yakin dengan sikapnya--karena tersinggung?
Saya tidak bisa ubah keyakinan orang. Jadi saya menulis untuk masyarakat dan mengambil sikap sendiri. Meski tetap mengharapkan orang tidak golput.

Lalu, dasarnya apa sampai bisa menyebut mereka itu sebagai parasit, bodoh atau psycho freak. Kan golput merupakan hak konstitusional…
Terus terang. Hal ini saya anggap blunder besar. Harusnya kalimat itu tidak ditulis dan tidak perlu.

Saya menyesali karena membikin marah dan justru membuat diskusi jadi emosional.

Kata-kata itu saya tarik kembali, namun saya tidak menarik pandangan saya soal golput.

Franz Magnis Suseno saat ditemui di Gedung Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara, Jakarta, Selasa siang (19/3/2019).
Franz Magnis Suseno saat ditemui di Gedung Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara, Jakarta, Selasa siang (19/3/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Sebenarnya berapa lama Anda berpikir sebelum menuliskan kata-kata pedas itu?
Tidak lama. Hanya saja saya memang terpesona oleh tiga kata itu. Jadi kurang memperhatikan betapa kuat keyakinan golput itu, sehingga orang tersinggung.

Mungkin juga karena saya sudah 82 tahun. Saya berpendapat kata benalu dan psycho freak adalah kebodohan besar.

Apakah etis kata-kata itu menurut Anda?
Katakan saja argumentasi itu berasal dari etika politik. Etika politik menuntut rakyat juga harus melakukan bagiannya dalam demokrasi.

Saya ingin menggugah orang untuk jangan golput. Kalau mereka tidak peduli, maka akan ada situasi di mana demokrasi semakin kosong.

Tapi kan golput sudah sejak lama ada, bahkan sejak Orde Baru. Anda pun pernah golput pada masa itu…
Pada era Suharto saya dipaksa memilih dua partai dan Golkar. Pemilihannya pun tidak bebas dan Golkar selalu mendapat 60 persen suara.

Sekarang orang bisa memilih dengan bebas ketika dia tidak puas pada satu partai. Kebebasan ini kan datang dari upaya perbaikan-perbaikan.

Apa bedanya dengan golput sekarang. Kan juga bersumber dari ketidakpuasan atas kondisi politik?
Ada bedanya. Masa itu tidak boleh membentuk partai dan betul-betul tidak bebas. Saya mendukung golput pada masa Orde Baru.

Suara golput ini apakah berasal dari pendukung Jokowi pada 2014?
Saya tidak ingin masuk di situ. Saya selalu katakan kepada umat Katolik. Memilih Jokowi tidak lebih buruk dari orang yang memilih Prabowo.

Orang yang memilih Prabowo juga tidak lebih buruk dari yang memilih Jokowi. Jangan umat kami dipecah.

Ada polarisasi tajam juga di umat Katolik terkait Pilpres ini?
Saya tidak pernah menemukan polarisasi itu.

Apakah ada trauma dari Anda bahwa Indonesia akan seperti di Eropa pada awal abad 20 ketika militer fasis jadi penguasa?
Saya tidak lihat itu di Indonesia. Eropa ditentukan perang dingin di mana mayoritas besar takut terhadap Soviet.

Ada fasisme yang benci kepada Islam dan itu kebencian kolektif. Indonesia mutlak harus menghindari kebencian itu.

“Kata-kata itu saya tarik kembali, namun saya tidak menarik pandangan saya soal golput.”

Franz Magnis Suseno

Pada Pemilu ini, apakah ada kebencian kolektif itu? Seperti antara cebong dan kampret. Bagi yang golput, mereka kan jengah dengan kebencian semacam itu?
Mereka tidak mau ikut benci, tapi golput, saya sendiri tidak setuju.

Tidak ada demokrasi yang tidak ada segi buruknya. Yang harus kita waspadai adalah jangan sampai ada peristiwa berdarah.

Sekarang ini kan menguat sekali politik identitas dan kebencian yang menyertainya. Apa yang Anda lihat dari isu itu?
Identitas Indonesia itu bukan menindas dan mengurangi, tapi melindungi dan mengangkat identitas-identitas tiap komunitas yang ada.

Komunitas etnik, komunitas budaya, komunitas agama, harus terus dijaga. Pancasila itu bukan negara Islam, tapi negara semua agama yang ada di sini.

Apakah suara golput akan meningkat pada Pilpres tahun ini?
Saya tidak bisa berspekulasi. Yang jelas, ucapan saya tetap sama. Pemilu itu bukan cari yang terbaik, tapi mencegah yang terburuk memimpin. Itu saya lakukan sejak 2004. Bukan pada 2014 saja.

Anda seperti menyesal menulis kolom itu. Apakah akan menulis kembali opini di Kompas?
Mungkin ya. Saya akan tanya teman dulu. Banyak teman yang bijaksana.

Banyak ya teman-teman yang kritik Anda sejak tulisan itu muncul?
Saya banyak dapat kritik dari orang-orang. Kalau kita menulis seperti itu kita juga harus bersedia terima reaksi.

Omong-omong, bagaimana pandangan Anda soal sosok Prabowo?
Saya akan memberi pandangan sesudah pemilihan ha-ha.

Anda kenal dengannya?
Beliau pernah datang ke gedung ini tapi sudah lama.

Franz Magnis bicara Golput tanpa psycho-freak /Beritagar ID
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR