Gading Marten saat ditemui di Hotel Alvina, Pematang Siantar, Sumatra Utara, Jumat malam (14/12/2018).
Gading Marten saat ditemui di Hotel Alvina, Pematang Siantar, Sumatra Utara, Jumat malam (14/12/2018). Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
BINCANG

Gading Marten: Ini penutup tahun yang gila buat gue

Dalam percakapan eksklusif ini ia mengungkap masa-masa suram dan keengganannya jadi pemain bola hanya karena kondisi kamar mandi.

Gading Marten hanya tersenyum. Ia tak menjawab pertanyaan wartawan yang memburunya. Ia melirik saya, lalu dengan cepat berkata. “Ayo!” ajaknya. Ia memencet tombol pintu lift, kemudian kami menyelinap ke kamar hotel di lantai dua, menerobos keramaian.

Suasana resto hotel di daerah Pematang Siantar itu sedang banyak orang. Semua pemeran dan kru film Nagabonar Reborn berkumpul, mengulas beberapa adegan di layar kaca—pada Jumat malam (14/12/2018). Di situ hadir Roy Marten, Ray Sahetapy, Gusti Randa selaku produser eksekutif dan banyak lagi.

Di film itu Gading diplot menjadi sosok Nagabonar. Ini adalah peran utama kedua untuk dia. Yang pertama tentu saja sebagai perjaka tua bernama Richard dalam film Love for Sale. Peran itu membawanya meraih Piala Citra 2018 untuk kategori aktor terbaik baru-baru ini.

“Kado natal gue datang lebih awal he-he,” kata Gading saat wawancara di kamarnya, Hotel Alvina, Pematang Siantar, Sumatra Utara.

Ada yang berbeda dari Gading saat ini. Rambutnya tak lagi pendek. Ia punya rambut baru: panjang mengembang seperti roti baru keluar dari oven. “Ha-ha rambut gue itu rambut ekstensi, disambung 15 sentimeter,“ kata Gading. Malam itu ia banyak ketawa dan berjenaka.

Pria berusia 36 ini memang sedang bahagia di tengah proses perceraiannya dengan Gisella Anastasia. Piala Citra membuatnya semakin eksis di dunia film, bahkan melebihi Sang Ayah, yang belum menyabet piala bergengsi itu.

Kepada kami, ia menggambarkan transisi hidupnya. Dari cita-cita menjadi pemain bola, masa-masa suram hingga mengapa tetap gencar cari uang sebagai master of ceremonies. Berikut perbincangan selama satu jam itu:

Gading Marten saat ditemui di Hotel Alvina, Pematang Siantar, Sumatra Utara, Jumat malam (14/12/2018).
Gading Marten saat ditemui di Hotel Alvina, Pematang Siantar, Sumatra Utara, Jumat malam (14/12/2018). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Menjadi aktor pria terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) adalah pembuktian lu di dunia film?
Itu pembuktian ke bapak gue. Gue bangga jadi anak Roy Marten dan suatu saat mudah-mudahan anak gue juga begitu ke gue. Bangga kepada bapaknya.

Beban menyandang nama Marten jadi berkurang dong setelah dapat Piala Citra?
Sudah 18 tahun gue pinjam nama Marten untuk nge-MC dan main sinetron atau film. Makanya pas dapat Citra, gue lega. Enggak beban lagi.

Gue bilang, “pah anak lu juga aktor lho”. Akhirnya nama Marten itu berada di tempat yang benar he-he.

Memangnya berat ya menyandang nama belakang Marten?
Bagaimana cara melawan bapak gue coba? Lu tanya 10 orang, 11 orang pasti jawab kerenan bapak gue ha-ha. Bahkan sampai sekarang.

Apakah tiap aktor, termasuk lu, seperti tertuntut untuk mendapatkan Piala citra?
Gue sih tipe orang yang komit dengan tanggung jawab saja. Maksudnya, gue selalu kasih yang terbaik pada tiap pekerjaan. Ya kalau dapat penghargaan, itu bonus dari kerja keras kita.

Sebenarnya lu menyangka bisa dapat piala itu?
Enggak sih. Love for Sale itu budget-nya enggak besar. Syutingnya malah pakai Sony A7, seperti bikin film pendek. Tapi respons bloger dan kritikus kok positif. Gue kaget. Salut sih sama tim.

Ada yang bilang, karena tanpa nama Reza Rahadian dalam nominasi FFI itu lu bisa menang?
Gue sih enggak berpikir itu. Semua nominasi itu pemenang. Apalagi mereka sudah langganan main film dan bagus-bagus. Ada Vino, Adipati, Aryo Bayu.

Gue menang nama doang pakai Marten. Kerjaan gue kan nge-MC. Terus tahu-tahu menang, kan gila. Ini penutup tahun yang gila buat gue sih.

Speech lu pas mengangkat Piala Citra itu sudah disiapkan, tampak cair banget?
Gue sih enggak nyiapin. Makanya gue enggak tahu mau ngomong apa. Yang gue ingat, gue harus terima kasih ke bokap, sisanya ya mengalir.

Kenapa tidak ada nama Gisel di-speech itu?
Memang ada beberapa orang yang gue enggak sebut. Jujur, gue blank. Banyak nama yang terlewat. Ucup dan Ipang saja gue enggak sebut.

Lupa itu ada hubungannya dengan situasi rumah tangga lo saat ini?
Enggak ada. Mungkin karena gue baru sekali naik panggung dan angkat piala, jadi deg-degan. Kalau nge-MC kan sudah biasa. Kalau kemarin itu gemetar ha-ha.

Uniknya Roy Marten malah belum dapat sama sekali Piala Citra ya?
Makanya bokap senang banget gue dapat piala ini. Bokap itu sebenarnya sering raih penghargaan. Salah satunya itu menang penghargaan--tapi saat Piala Citra vakum. Namanya Piala Vidia untuk sinetron Kupu-Kupu Kertas.

Menurut lo kenapa bokap enggak pernah dapat Piala Citra?
Faktor teknis. Bokap gak pernah pakai suara sendiri. Kalau aktor lain, pada zaman dubbing dulu, pakai suara sendiri. Nah, bokap selalu pakai suara orang. Itu mungkin jadi bahan pertimbangan juri.

Gisel bilang apa soal pencapaian lu ini?
Dia bangga. Gempi juga bikin ucapan selamat lewat video dan itu bikin gue mewek he-he. Yang jelas, pencapaian ini bikin gue enggak mau move on. Tiap hari mau mosting aja di medsos, tapi takut orang pada enek, ha-ha.

Gading Marten saat ditemui di Hotel Alvina, Pematang Siantar, Sumatra Utara, Jumat malam (14/12/2018).
Gading Marten saat ditemui di Hotel Alvina, Pematang Siantar, Sumatra Utara, Jumat malam (14/12/2018). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Apakah lo sekarang lebih fokus di dunia akting ketimbang nge-MC atau presenting?
Ya paling satu dua film lagi. Habis ini tetep pengen nge-MC. Duitnya di MC. Ya buat naikin harga saja ini ha-ha.

Gue suka bingung kalau di film matok harga berapa. Enggak mungkin film disamakan nge-MC. Kerjanya cepat, langsung dibayar. Kalau film agak lama prosesnya.

Film Love for Sale lama ya proses kreatifnya?
Sebentar banget. Awalnya cuma ngopi sama Ucup (Andi Bachtiar Yusuf) dan sama Chicco Jerikho. Gue diajak main film di situ, ya sudah gue mau.

Awalnya peran Richard itu untuk Rio Dewanto. Cuma bininya lagi hamil. Akhirnya gue yang jadi Richard. Syaratnya tambah berat badan. Ya malam-malam tinggal makan nasi goreng sama mi instan he-he.

Sosok Richard ini dekat dengan kehidupan lo ya, karena lo tampak nyaman memerankan dia?
Jauh. Tapi temen gue ada yang kayak dia. Enggak kawin-kawin dan bermasalah sama perempuan. Seru.

Gue pakai improve saja pake garuk-garuk pantat di awal scene. Semua kru tertawa dan bilang anji** dan bangke segala. Kalau si Della (lawan main) sih, gue kasih wine dulu sebotol, ye kan ha-ha.

Berapa lama mendalami karakter Richard ini?
Enggak sampai sebulan.

Lu pernah mengalami ditinggal kekasih seperti Richard?
Sering, beberapa kali. Gue tuh kalau sedih dinikmatin aja biar cepat move on.

Kalau sama Della Dartyan memang kenal sebelumnya, tampak begitu natural?
Baru kenal di film itu. Gue tipe orang yang gampang dekat. Senang nongkrong dan cari teman.

Pas akting itu kadang ada improvisasi. Jadi, adegan love scene ketika Della buka BH dari belakang itu enggak ada di take pertama. Itu atas permintaan Ucup. Ucup mungkin mengerti gue ha-ha.

Btw benar enggak sih lo pernah main untuk Persitara Jakarta Utara?
Salah. Gue memang suka main bola. Pernah ingin banget masuk Persija. Ketika itu lapangannya masih di Menteng dan gue latihan di sana.

Tapi pas lihat WC-nya, aduh nge-drop. Jujur, mohon maaf nih, gara-gara WC itu besoknya gue gak latihan lagi. Terlalu brutal kondisinya ha-ha.

Ada tahi Macan Kemayoran maksudnya ha-ha?
Beneran macan, gede, ha-ha.

“Tertawa-tawa pas hati sedih itu gampang. Sudah in our blood.”

Gading Marten

Kapan lo mulai merambah dunia akting?
Ceritanya tuh gue tiap Selasa awal bulan selalu antre di Multivision. Ambil ceknya bokap. Lama-lama si Ibu Rakhee Punjabi tanya, kenapa enggak ikut casting saja. Ya gue coba, terus mulai deh main sinetron.

Kalau soal akting mah mungkin sudah bakat kali ya. Makanya tertawa-tawa pas hati sedih ya gampang. Sudah in our blood.

Apakah situasi saat ini adalah fase terendah dalam hidup lo?
Bukan. Tapi ketika bokap di penjara dua kali. Gue ancam dia, kalau ada yang ketiga, maka gue ikut masuk. Soalnya gue di luar sengsara. Mendingan ikut masuk saja.

Bagaimanapun, dia bokap gue dan gue enggak pernah tanya bagaimana dan kenapa dia ditangkap.

Lo takut untuk bertanya?
Itu bukan ranah gue, karena kita sudah gede. Bahkan perpisahan bapak sama ibu saja gue enggak tanya. Setelah kejadian gue, baru dia cerita.

Ada kesamaan penyebab perpisahan mereka dengan rumah tangga lo?
Hampir. Makanya dia sedih banget waktu gue cerita. Dia menangis dan enggak menyangka akan terjadi sama gue.

Di media sosial banyak yang komparasi film Susah Sinyal dengan kehidupan nyata lo, kok bisa mirip ya?
Ha-ha-ha. Kasihan Ernest dia kan enggak tahu apa-apa. Itu cuma kebetulan saja. Atau mungkin Ernest harus bikin film Gading jatuh cinta? Ha-ha.

Lu sudah pelajari karakter Nagabonar dari Deddy Mizwar?
Gue belum nonton filmnya dan belum ketemu juga dengan Deddy. Bokap bilang jangan nonton filmnya, agar Nagabonar ini jadi versi gue.

Jadi, lebih nyaman akting atau nge-MC?
Ha-ha. Zona nyaman gue ya MC, tapi dua-duanya mengasyikkan.

Gading bicara soal love scene, Citra dan ayahnya /Beritagar ID
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR