Grace Natalie saat ditemui di Kantor DPP PSI, Kampung Bali, Jakarta Pusat, Jumat (9/3/2018).
Grace Natalie saat ditemui di Kantor DPP PSI, Kampung Bali, Jakarta Pusat, Jumat (9/3/2018). Beritagar.id / Bismo Agung Sukarno
BINCANG

Grace Natalie: Saya tak bermaksud mendelegitimasi orang desa

Grace menolak partainya dikatakan mengandalkan kemolekan dan popularitas. Ia berani mengampanyekan sebuah pesan ambisius untuk partai lain: memenangi Pemilu.

Perjumpaan petinggi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dengan Presiden Joko Widodo Kamis silam (1/3/2018) menyisakan polemik. Yang pro memandangnya sebagai hal biasa dan yang kontra mengkritik pertemuan itu karena dianggap melanggar etika.

Kritik ini datang dari beragam kalangan, termasuk kepada Grace Natalie, notabene Ketua Umum PSI. "Mungkin kami dikritik karena mengganggu kekuatan politik gaya lama," ujarnya kepada Beritagar.id.

Sebelumnya Grace sudah menyatakan keberatannya pada kritik yang muncul, sekaligus menyebut pertemuan itu tak layak dipersoalkan. Ia meluapkan keberatannya itu lewat akun Twitter @grace_nat :

"Heran lebay banget yang pada ributin audiensi PSI ke Istana. Istana itu rumah rakyat. Sampai ada yang ngirimin pasukan untuk demo minta PSI dibubarkan. Segitu takutnya ya sama anak-anak muda? belum lagi yang buat aneka hoax. ndeso ah!" kicau Grace, Sabtu (3/3/2018).

Respons Grace ini juga jadi buah bibir, salah satunya soal diksi ndeso. Grace langsung jadi sasaran empuk warganet. Ada yang anggap kata ndeso itu merendahkan, tapi ada juga yang menilai bukan umpatan serius.

"Maksudnya ndeso yang saya bayangkan itu adalah ndesonya Tukul," kata Grace Kepada Heru Triyono, Muammar Fikrie, Andi Baso Djaya dan fotografer Bismo Agung, di Kantor DPP PSI, Kampung Bali, Jakarta Pusat, Jumat (9/3/2018), saat wawancara.

Mantan presenter berita ini agaknya tak ambil pusing dengan persoalan tersebut. Ia bicara kepada kami dengan riang dan beberapa kali mengklik lidahnya, sambil menggelengkan kepala. "Kenapa yang sebelum-sebelumnya datang ke Istana enggak dipersoalkan ya, ck ck," ujarnya.

Siang itu Grace mengenakan terusan batik selutut. Rambut lurusnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai. Kami saling berhadapan dan berpandangan di sebuah ruangan yang temboknya dihiasi foto-foto pesohor beserta kutipan ucapannya. Di antaranya kutipan Charlie Chaplin yang mengatakan, "hidup ini adalah hal yang luar biasa indah, bahkan untuk ubur-ubur".

Berikut hasil wawancara kami selama satu jam dengan perempuan berusia 35 ini tentang Istana, target PSI dan juga sosialita:

Grace Natalie saat ditemui di Kantor DPP PSI, Kampung Bali, Jakarta Pusat, Jumat (9/3/2018).
Grace Natalie saat ditemui di Kantor DPP PSI, Kampung Bali, Jakarta Pusat, Jumat (9/3/2018). | Bismo Agung /Beritagar.id

Cukup lama ya berbincang dengan Jokowi di Istana?
Sekitar 90 menit. Itu sudah plus menunggu. Kan begitu masuk enggak langsung bisa ke dalam. Presiden ketika itu masih ada tamu. Tamunya siapa, kita enggak ketemu.

Pertemuan itu jadi komunikasi pertama PSI dengan Jokowi?
Enggak, kita sudah tiga kali diterima oleh Pak Jokowi di Istana.

Kok baru sekarang pertemuan itu dipermasalahkan orang?
Saya enggak tahu he-he.

Sejumlah pihak menganggap pertemuan itu enggak etis karena membahas pemenangan Pemilu di Istana...
Justru itu yang harus dipertanyakan juga. Kenapa yang sebelum-sebelumnya ke Istana enggak disorot? Menurut kami, apa yang PSI lakukan dirasa mengganggu.

Mengganggu siapa ya?
Kekuatan politik gaya lama. Gaya lama dalam arti enggak pernah melakukan perekrutan secara terbuka, profesional dan transparan.

Selama ini para caleg masuk partai kan bukan berdasar kompetensi, tapi karena kekuatan mahar. Nah, ketika ada pihak yang terbuka melakukan seleksi dan publik jadi tercerahkan, maka hal ini kan mengganggu.

Oke, tapi memang benar kan PSI dan Presiden membicarakan politik di Istana?
Tentu temanya enggak jauh jauh-jauh dari politik nasional. Masa dengan Presiden ngomongin resep masakan. Enggak mungkin lah ya. Salah satu yang kami sampaikan adalah PSI mengajukan uji materi UU MD3 ke Mahkamah Konstitusi.

Dalam pertemuan itu PSI juga menyatakan dukungan untuk Jokowi jadi calon presiden 2019?
Kita ini menyatakan support kepada Pak Jokowi sejak tahun lalu. Anda bisa cek bagaimana kami produksi materi-materi yang konter hoaks terhadap Pak Jokowi. Kita juga sampaikan keresahan kita soal intoleransi yang semakin parah.

Di situ PSI menawarkan langkah konkret kepada Jokowi untuk melawan hoaks?
Enggak menawarkan itu. Maksudnya kita bicara soal hoaks dan dampaknya terhadap kualitas demokrasi kita.

Tapi yang tersebar di media-media kan PSI membicarakan strategi pemenangan Jokowi lewat pemanfaatan media sosial?
Saya jelaskan konteksnya ya. Saat itu Pak Jokowi bilang "selamat kalian jadi peserta Pemilu" dan kami jawab terima kasih. Kemudian kami juga bilang target kami ini ingin menang Pemilu.

Di situ kami cerita soal pemanfaatan media Youtube untuk menyeleksi caleg. Ternyata Pak Jokowi melihat proses perekrutan caleg kami yang terbuka itu. Dia mengapresiasi dan bilang untuk meneruskan.

Jokowi bilang apa soal target menang PSI di Pemilu?
Pak Jokowi memberi tip. Dia meminta kita harus beda, jangan sama dengan yang lain. Mulai dari platformnya, gayanya, acaranya, semua harus beda.

Soal isu intoleransi, bukankah Pemerintahan Jokowi dianggap gagal mengatasinya. PSI tidak mengkritisi itu saat bertemu?
Kita utarakan soal kualitas demokrasi yang menurun karena intoleransi. Tapi saya cukup optimis hal itu bisa teratasi. Kan beberapa sudah di take down oleh Mabes Polri.

Apa sih yang kurang memuaskan dari Jokowi bagi Anda?
Salah nih tanyanya sama fan he-he.

Fan kan harus kritis juga. Bahkan John Lennon tewas di tangan fannya sendiri he-he...
Itu fan yang sakit jiwa. Menurut saya tidak ada pemimpin yang sempurna. Kalau dari kami, apalagi anak muda, kadang ingin serba cepat sih ya (soal pengambilan keputusan).

Maksudnya Jokowi lambat ya?
Enggak. Mungkin itu pemahaman kita. Tapi kalau Pak Presiden kan pasti penuh pertimbangan.

Tapi sejumlah pihak menilai sikap Presiden atas UU MD3 dianggap lambat dan seperti mendiamkan saja?
Memang ada hal-hal yang kita ingin cepat, tapi di sisi lain kita memahami. Pak Jokowi kan Presiden, pasti banyak pertimbangan. Mungkin di luar dia tampak kalem, tapi itu enggak mengurangi ketegasan dia saya rasa.

Grace Natalie saat ditemui di Kantor DPP PSI, Kampung Bali, Jakarta Pusat, Jumat (9/3/2018).
Grace Natalie saat ditemui di Kantor DPP PSI, Kampung Bali, Jakarta Pusat, Jumat (9/3/2018). | Bismo Agung /Beritagar.id

Kicauan Anda di Twitter mendapat kritik warganet karena memuat kata ndeso, sedang emosi?
Maksud sebenarnya ndeso itu adalah ndesonya Tukul. Ndesonya Tukul itu kan enggak bermaksud marah-marah, hanya ekspresi keheranan saja. Sama sekali enggak bermaksud mendelegitimasi orang desa.

Kenapa memakai kata ndeso?
Coba deh dibaca konteks kalimatnya. Sayangnya itu dipelintir. Kalau melihat Tukul lagi membawakan acara kan dia sering bilang ndeso. Itu bukan menjelekkan orang atau apa, tapi ada unsur bercanda.

Sepertinya Anda tidak tahan menjadi bahan pergunjingan netizen?
Ramainya kan sama grup-grup sana juga sepertinya. Langsung lho ribuan akun menyerang Twitter saya.

Follower Anda bertambah dong?
Lumayan, tapi sudahlah. Ini lucu. Akun yang komentar banyak, tapi isinya sama semua. Kalau pun beda, hanya sedikit. Mereka mungkin akun ternakan yang caper minta dijawab.

Maksudnya bot atau cyber army?
Itu dia.

Tapi PSI punya pasukan media sosial juga kan, sama saja?
Kita enggak punya cyber army. Tim medsos kami hanya ada yang di lantai tiga ini (kantor PSI). Tugasnya menjawab segala macam pertanyaan, bukan army. Mereka ini yang mengidentifikasi situasi di medsos, membuat materi dari rapat, ya semacam editorial plan.

Salah satu pertanyaan besar untuk PSI adalah dari mana uang untuk membiayai operasional partai?
Kita mengandalkan fundraising dari awal dan peran aktif teman-teman pengurus.

Bagaimana dengan gaji?
Enggak ada. Malah pengurus kita minta kontribusinya berupa rumah--untuk dijadikan kantor PSI. Bukan bayar ke saya. Rekrutmen ini kita lakukan secara terbuka di Facebook.

Tapi PSI seperti tidak terbuka untuk menampilkan nama Sunny Tanuwidjaja dan Jeffrie Giovani?
Saya apresiasi pertanyaan ini dan mau konfirmasi ke kita. Begini, kita tidak pernah menyembunyikan dokumen. Sebab dokumen susunan pengurus sudah ada sejak awal. Jadi Bang Jeffrie dan Sunny itu ada sejak PSI berdiri dan dokumen ini kita bawa kemana-mana ketika mengurus surat keterangan domisili.

Tahun berapa?
Sekitar 2014. Kan surat keterangan domisili kita butuhkan untuk mengurus kelengkapan syarat verifikasi. Nama-nama pengurus ini kita bawa kemana-mana dan kalau diributin sekarang menurut kita ya aneh.

Jadi Sunny memang masuk dari awal saat PSI berdiri ya, siapa yang mengajak?
Sunny itu diajak Bro Toni, karena sama-sama peneliti--saat PSI masih berupa gagasan. Saat itu kita mengajak sejumlah pengamat dan narasumber saya ketika jadi wartawan untuk mendukung PSI. Kita hubungi semua untuk sharing ide dan gagasan. Yang mau waktu itu ya Sunny.

Ketika itu Sunny sudah terseret kasus rancangan peraturan daerah (raperda) soal reklamasi Teluk Jakarta atau..
Belum.

Tapi Sunny sudah dekat dengan Ahok ya?
Mereka sudah saling kenal saat Sunny sekolah di Amerika. Kita enggak ngecek ya seberapa dekat. Yang tahu mereka berdua.

Kalau sosok Jeffrie Giovani, Anda sudah kenal lama?
Sudah 13 tahun. Awalnya sebagai narasumber. Bang Jeffrie orang yang bersedia sejak awal dengan platform partai ini. Dia memberi kami masukan dan jaringan. Kami presentasi ke pengusaha-pengusaha sendiri--lewat jaringan dia.

Kami coba meyakinkan mereka, tapi tetap saja lebih banyak yang menolak ketimbang menerima. Karena kami belum punya pengalaman apa-apa. Tapi sekarang kader kami sudah sekitar 650 ribu, sementara pengurusnya 25 ribu orang.

Bagaimana caranya memimpin anak-anak muda ini--notabene belum berpengalaman secara politik praktis?
Seru. Mereka ini baperan. He-he. Pengurus PSI itu 70 persen di bawah 35 tahun. Bayangkan. Tapi positifnya mereka ini idealis, energi banyak dan bisa jalan tanpa dibayar. Enggak masuk akal memang, tapi kita bisa.

“Masa dengan Presiden ngomongin resep masakan”

Grace Natalie

Jadi, target Pemilu mendatang berapa kursi kira-kira?
Target kita itu menang.

Anda sudah komunikasi dengan partai lain--untuk bicarakan strategi pemenangan misalnya?
Belum ada yang ajakin PSI bicara strategi sih ya.

Kok belum ada. Apa karena PSI dipandang sebagai partai kecil?
Mungkin.

Kalau dengan partai pendukung Jokowi?
Belum juga. Ini terlalu awal kali ya. Tapi kalau bertemu personal dengan politisi yang oke dan punya konsern sama sih sudah beberapa kali bertemu. Bahkan ada politisi yang ikut donasi juga.

Mana sih partai yang paling dekat dengan PSI?
Nanti saya dibilang GR (geder rasa) he-he. Semua sama lah. Sama Mas Hasto ini saya baru WA-an. Yang sering banget sebut kita itu PKS dan Gerindra. Mungkin kangen atau apa.

Anda punya target politik pribadi?
Enggak ada. Saya enggak ingin jadi presiden atau menteri. Buat saya keberhasilan kami adalah mendorong orang-orang bagus dan kompeten untuk terjun ke politik.

Tapi ikut menjadi calon legislatif dari PSI?
Saya kemungkinan akan nyaleg, dapilnya di mana lagi dipikir. Kemungkinan Jakarta.

Kenapa sejumlah perempuan cantik mengisi kepengurusan partai, untuk daya tarik atau memang syarat?
Harusnya bersyukur dong. Itu kan positif.

Kalau ada anggapan miring PSI jual tampang doang bagaimana?
Ya kan bisa dilihat. Masa kalau jual tampang kami sampai melibatkan Bapak Mahfud MD dan Ibu Mari Elka untuk seleksi caleg. Bukan ukuran ya menilai orang berdasarkan cantik atau ganteng. Itu mah bonus saja.

Btw Anda juga dicap perempuan sosialita?
Kalau sosialita itu kondenya gede, bawa tas Hermes, bergaul di hotel berbintang, saya kan enggak begitu.

Grace Natalie ungkap isi pembicaraan PSI dan Jokowi di Istana /Beritagar ID
BACA JUGA