Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Gusti Randa saat ditemui di restoran Italia Volare, Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Rabu (5/11/2018).
Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Gusti Randa saat ditemui di restoran Italia Volare, Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Rabu (5/11/2018). Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo
BINCANG

Gusti Randa: Bukan Edy out, tapi Exco out

Ia memandang desakan "Edy Out" adalah satu hal yang percuma. Baginya, siapapun ketua umumnya, masalah sama tetap muncul, yakni prestasi.

Gusti Randa dapat mengingat kembali detail-detail bermain bola saat ia kecil. Mulai dari cedera, temannya yang berpulang karena tersambar petir, hingga ia gagal masuk Persija Selatan. “Tinggi badan gue kurang waktu itu, jadi enggak bisa masuk,” katanya.

Ia akui hidupnya bukanlah dongeng pahlawan sepak bola. Ia tak pernah jadi pemain pro. Tapi, meski berangkat dari sepak bola tarkam, ia kemudian berhasil jadi pemeran utama di panggung nasional. Yakni dengan menjadi Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI.

Sejak era Nurdin Halid sampai kepemimpinan Edy Rahmayadi ia telah berkecimpung di PSSI. Dimulai pada 2001, dengan menjabat Ketua Badan Futsal Nasional (BFN).

Jadi, jika ada orang yang tahu dalam-dalamnya PSSI, Gusti Randa adalah sosok itu. Maka, media massa pun mencarinya ketika PSSI ditekan—usai kegagalan Timnas Indonesia di Piala AFF 2018. Tagar #EdyOut kemudian jadi topik tren di media sosial. “Saya tak mengelak bahwa ada tekanan untuk Pak Ketum,” ujar pemeran Syamsul Bahri di film Siti Nurbaya ini.

Masyarakat memang lagi gencar mengkritik Edy. Di antaranya karena status Edy yang rangkap jabatan, dengan menjadi Gubernur Sumatra Utara dan kerap blunder saat mengeluarkan pernyataan.

“Komunikasi kami memang sulit, karena beliau (Edy) tak berada di Jakarta,” kata Gusti saat wawancara dengan Fajar WH, Heru Triyono, fotografer Wisnu Agung, Aulia Rahmah dan Annisa Putri, di restoran Italia Volare, Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Rabu (5/11/2018).

Kepada kami, pengacara dan aktor ini menjawab pelbagai isu seputar tekanan terhadap PSSI. Gusti memulai pembicaraan dengan bercerita kapan dirinya mengenal sepak bola hingga bagaimana ia bekerja dengan Ketua Umum PSSI yang berlatar sipil dan militer.

Sore itu, rambutnya disisir ke belakang dan diminyaki seperti Pat Riley, the god father-nya NBA. Begitu rapi, bahkan angin pun tak mampu menggerakkan rambutnya. Berikut percakapan kami selama dua jam:

Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Gusti Randa saat ditemui di restoran Italia Volare, Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Rabu (5/11/2018).
Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Gusti Randa saat ditemui di restoran Italia Volare, Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Rabu (5/11/2018). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Edy Rahmayadi didesak mundur dari jabatan Ketua Umum PSSI, bagaimana sikap Exco?
Itu saya pahami. Ada norma di masyarakat yang jalan atas persoalan ini. Kalau masyarakat minta Pak Edy mundur, PSSI tidak bisa tinggal diam. Tapi responsnya juga gak bisa dengan mundur saja deh. Enggak bisa. Responsnya akan dalam bentuk evaluasi.

Apakah Exco PSSI punya kewenangan evaluasi itu, evaluasi ketua umum misalnya…
Punya. Exco itu bukan diangkat ketua umum. Kami semua dipilih dari election, mirip Pemilu—di kongres. Misalkan saya dapat 53 suara dan yang lain berapa suara. Kemudian dirangking sampai bottom. Lalu yang suaranya signifikan dipilih jadi Exco. Jadi hubungan kami dengan ketua umum bukan atasan bawahan.

Tapi kayaknya fungsi evaluasi itu jarang mencuat ke publik. Persoalan saat ini saja, Exco yang bicara kepada media, cuma Anda kan?
Ya masalahnya di mana? Lihat dulu.

Penekanan lagi, Exco kan punya kekuatan mengevaluasi, termasuk ketua umum, konkretnya bagaimana?
Semua lini akan kita evaluasi. Boleh jadi gue juga dievaluasi. Boleh dong gue dievaluasi? Tapi, belum tentu apa yang saya lakukan itu baik untuk organisasi atau baik juga untuk sepak bola.

Kapan evaluasinya?
Kita akan evaluasi dari 7 Desember sampai 20 Desember 2018. Apa dan mana saja yang dievaluasi? Ya seluruh departemen, seperti kesekjenan, Timnas dan lain-lain.

Evaluasi ini terkait dengan kinerja?
Pokoknya hasilnya akan diumumkan di kongres tahunan Januari nanti.

Terkait kinerja, mana era kepemimpinan di PSSI yang paling bagus? Anda kan sudah di PSSI sejak era Nurdin Halid…
Ada dua yang bagus: Nurdin dan Edy Rahmayadi. Bukan bicara orangnya, tapi sistem yang dibangun orang itu. Kalau orangnya kita enggak bisa nilai plus minus karakternya. Yang jelas, saya dapat banyak ilmu pas zamannya Nurdin.

Di bawah Nurdin kan banyak cerita kontroversial juga menyangkut PSSI?
Jadi gini, orang gagal paham tentang PSSI. PSSI itu sama dengan 44 cabang di KONI lainnya. Seperti PGSI atau persatuan renang. Apa yang beda? Yang beda PSSI itu akan digebukin kalau tidak berprestasi.

Siapapun ketuanya, harus terima disanjung saat menang dan dicaci kalau kalah. Ketua itu mentalnya harus baja, kuping harus tebal dan membuka diri.

“Sebetulnya kalimat wartawannya baik, Timnasnya juga baik adalah kalimat sufi.”

Gusti Randa

Apakah Edy Rahmayadi enggak memiliki kuping tebal dan keterbukaan?
Saya enggak bicara satu sosok. Lihat saja zamannnya Nurdin sampai La Nyalla. Tekanannya besar. Kongres diserbu tentara, kantor digembok, didemo, dilempar air kencing dari atas tribune dan banyak lagi. Saya merasakan empat ketua umum PSSI dan suka dukanya memang begitu.

Kalau memang posisi ketua umum enggak enak, kenapa banyak yang memperebutkan posisi itu?
Ya karena jadi atensi media.

Atensi media yang terus menghujat maksudnya?
Apapun. Orang kita ya, semakin dikritik, semakin jelek, semakin disebut, semakin naik namanya. Begitu rakyat kita, nanti juga dibela. Artis kawin cerai bukannya malu tuh, tapi sengaja dimasukin ke media. Ada juga gerebek bini, juga undang media.

Tapi kan PSSI bisa memilih untuk dibicarakan yang bagusnya, bukan yang jeleknya…
Betul. Tapi karena ini sepak bola, hal kecil bisa jadi atensi publik. Ada jargon begini: sebagus apapun federasinya, kalau Timnasnya jelek, kata masyarakat ya jelek. Padahal ada negara yang liga dan federasinya enggak ada, tapi Timnasnya bagus. Negara mana itu? Islandia.

Di Jerman, federasinya bagus, kalau Jerman enggak juara tetap saja dibilang jelek. Artinya apa? Lo mau ngapain di PSSI, jungkir balik atau apa kek, kalau Timnasnya menang, lupa tuh orang.

Yang jadi masalah Timnas kita kalah terus?
Nah kita masuk ke pokok persoalan. Banyak orang belagu bicara soal Timnas. Misalnya, dari 250 juta orang di Indonesia, masa enggak bisa dapat 11 yang bagus. Atau ambil saja dari Timur Indonesia, orangnya kuat-kuat.

Jawabannya ya memang enggak ada yang bagus. Jangan dipikir cari pemain itu berdasarkan jumlah populasi. Kalau bicara populasi yang jadi juara dunia itu Cina.

Oke, artinya SDM kita ini kurang bisa bersaing?
Bukan itu. Bicara Timnas enggak bisa ngomong di Mata Najwa atau ILC, lalu selesai. Enggak bisa. Bikin seminar nasional tiga hari tiga malam, bicarakan mulai dari SDM, infrastruktur, rekrutmen, anggaran, political will, semuanya.

Tapi yakin deh cuma bisa ngomong, urusinnya enggak pada mau. Untung masih ada PSSI yang ngurusin.

Ya memang itu urusannya PSSI kan?
Ya memang. Tapi contoh kritik yang ada lihat saja bos. Misalnya, kenapa kita enggak bisa seperti liga di Eropa. Jadwalnya bagus, enggak bentrok dengan main Timnas. Begini, anggaran Indonesia dimulai April kan? Yang punya stadion itu Pemda, baik itu tingkat satu atau dua.

Stadion-stadion di Italia juga milik Pemda, tapi mereka bisa menyusun jadwal dengan baik…
Masalahnya di sini harus dibicarakan dengan Pemda. Mau dipakai atau enggak. Enggak semua stadion itu punya lampu.

Scheduling itu sulit. Eropa liburnya cuma pas Natal dan summer. Kalau kita, puasa kan juga libur. Mau disamain dengan Eropa? Lah kita liganya habis Desember. Mau menunggu sampai Agustus? Klub ngapain delapan bulan kosong. Pemain dan klub masukannya dari mana?

Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Gusti Randa saat ditemui di restoran Italia Volare, Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Rabu (5/11/2018).
Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Gusti Randa saat ditemui di restoran Italia Volare, Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Rabu (5/11/2018). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Maksudnya bukan menyamakan dengan liga di Eropa, tapi masyarakat ingin lihat keseriusan PSSI mengurus liga seperti di Eropa. Kalau ketuanya saja rangkap jabatan, kan susah serius?
Yang dipersoalkan kompetensi memimpin organisasi atau rangkap jabatannya?

Rangkap jabatannya yang perlu dikritisi, tentu bikin pecah fokus dalam memimpin PSSI…
Nah, Pak Mendagri sudah bikin pernyataan. Rangkap jabatan itu tidak melanggar regulasi manapun. Sesmenpora juga bilang begitu. Jadi di mana persoalannya?

Ya ketersediaan waktu dan tempat dalam memimpin organisasi...
Makanya ini masuk area kepatutan. Urus bola tidak bisa sambilan, kira-kira begitu kan? Jadi bukan masalah kompetensi. Kompetensi ini diukur dari bagaimana PSSI menjalankan rodanya. Kebijakannya juga kan diambil oleh Exco. Exco ini bersifat kolektif kolegial.

Siapa yang bisa menilai bahwa rangkap jabatan ini tidak patut, Exco?
Tentu bukan kita. Ketua umum yang bisa beri penilaian terhadap dirinya. Sebagai Exco, saya hanya kasih saran.

Misalnya kalau bertemu wartawan enggak usah statement yang bikin viral. Kan bisa menyerahkan ke yang lain. Ada Exco juga. Dan saya kira gubernur punya protokoler. Ya kalau viral, kita yang akhirnya melurus-luruskan pernyataan itu.

Anda sebenarnya nyaman enggak di bawah kepemimpinan Edy?
Di bawah Pak Ketum sekarang itu keteraturan sudah mulai kelihatan. Dalam dua tahun itu kita ada 66 kegiatan, mulai dari perwasitan, character building, dan lain-lain. Tapi, meski ada 666 kegiatan sekalipun dan Timnasnya enggak menang, ya enggak dilihat bos.

Di bawah Edy, keputusan PSSI memilih Bima Sakti sebagai pelatih dipertanyakan. Apa sih alasan kuat memilih Bima?
Bima yang tahu otaknya Luis Milla, meski dia belum pegang klub, apalagi Timnas. Tapi yang bersama Luis Milla selama dua tahun ini ya Bima. Termasuk apa modul yang dipakai oleh Milla.

Tidak ada kandidat lain?
Ada. Tapi kan ini melalui voting di Exco. Ada nama-nama Simon Mcmenemy, Mario Gomez atau Jacksen F Tiago.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan Luis Milla, kenapa kontraknya enggak diperpanjang?
PSSI kan tetap ingin Milla sebagai pelatih. Pak Ketum sudah setuju kita kontrak Milla setahun, sampai November tahun depan. Tapi pas Piala AFF, saat harus segera memasukkan nama, dari Milla-nya belum ada kejelasan. Ya kita masukkan nama Bima—yang merupakan hasil voting.

Informasinya ada ketidaksepakatan kontrak dengan Milla?
Begini, Luis Milla itu gajinya Rp2,3 miliar per bulan. Mahal, tapi harus dibayar, betul enggak? Kita sudah setuju mengontrak dia lagi. Tapi pelatih harus punya target. Masa enggak ada.

Kalau enggak juara maka akan berimplikasi pada bulanan, misalnya. Tapi, Milla enggak mau bicara itu. Soal target ini yang enggak ketemu--sampai batas waktu pendaftaran nama di Piala AFF.

PSSI juga beberapa kali terlambat membayar gaji Milla…
Semua itu sudah selesai. Kita lihat ke depan saja. Yang gue lihat, masyarakat ini yang penting gaya dulu, jeblok belakangan. Kemarin saja, Asian Games enggak capai target, netizen enggak apa-apa tuh kalau pelatihnya Milla.

Ya soalnya mainnya bagus, tampak ada strategi dijalankan. Mungkin masyarakat melihat kemampuan meracik strategi dari Milla…
Tapi target Milla itu emas. Enggak sesuai target juga kan. Ya jangan kalau ada Milla mainnya jadi bagus, kalau enggak ada jadi kletek-kletek.

Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Gusti Randa saat ditemui di restoran Italia Volare, Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Rabu (5/11/2018).
Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Gusti Randa saat ditemui di restoran Italia Volare, Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Rabu (5/11/2018). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Edy Rahmayadi sepertinya jarang hadir di pertandingan Timnas di Jakarta, kenapa?
Agak sulit Pak Edy ke Jakarta. Sebagai kepala daerah harus ada izin dan lain-lain. Pak Joko Driyono malah yang sering ke Medan. Dia mewakili Exco.

Hasil pertemuan di sana nanti dikomunikasikan kepada kami. Nah, jarak jauh ini, maka ada saran dari Exco. Kalau ada pertanyaan door stop, lebih baik jangan bikin statement. Terkadang menjawabnya spontan kan.

Seperti pernyataan Edy yang wartawannya baik, Timnasnya juga baik ya he-he
Sebetulnya pernyataan wartawannya baik, Timnasnya juga baik adalah kalimat sufi. Sufistik ya. Kalau dikaji ya nyambung, masyarakat mungkin yang enggak merasa nyambung.

Apakah latar belakang militer Edy membuatnya berjarak dengan media dan masyarakat?
Itu kan karakter. Militer kan ada yang komunikasinya baik. Pak Agum Gumelar dan Ali Sadikin misalnya. Itu kepandaian masing-masing lah. Sipil atau militer, semuanya tergantung output. Tidak ada hubungannya dengan kompetensi.

Tapi kok kayak alergi dengan wartawan, cuplikan wawancaranya dengan Kompas TV memperlihatkan itu…
Saya enggak begitu dekat dengan beliau. Bertemunya ya pas di PSSI ini.

Dari Exco ada yang mengeluhkan gaya komunikasi dia?
Pak Edy bicaranya begitu, blak-blakan. Basa-basinya kurang. Di PSSI enggak berpengaruh, tapi berpengaruh di publik. Maka muncul meme dari blunder itu, ditambah Timnasnya enggak menang. Belakangan, muncul juga isu pengaturan skor.

Tapi praktik match fixing itu memang ada kan?
Namanya pertandingan bos. Tinju saja ada. Kalau ada bukti, sebut nama saja. Jangan sebar gosip. Kalau ada tuduhan Exco terlibat, silakan telusuri.

Kalau tekanan “Edy Out” semakin kuat apakah mungkin Edy mundur?
Enggak ada indikasinya. Ya, kalau menilai ketua umum jangan begitu. Saya sih setuju kepada orang yang bilang, bukan Edy out, tapi Jokdri out, Gusti Randa out atau Exco out. Maksudnya jangan bicara out dulu. Apa ada jaminan perbaikan dan prestasi kalau ganti. Evaluasi saja.

Apakah kongres PSSI Januari nanti ada agenda mengevaluasi ketua umum?
Bisa saja. Tapi ada mekanismenya. Enggak bisa sembarangan untuk evaluasi ketua umum. Karena agenda di kongres itu ditetapkan empat minggu sebelumnya.

Gusti Randa, Anak Singkong dan kontroversi Luis Milla /Beritagar ID
BACA JUGA