Keterangan Gambar : Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2013-2015, Hamdan Zoelva, berpose di depan kamera seusai menerima wawancara Beritagar.id di Kantor Zoelva & Partners, lantai 23 Gandaria 8 Office Tower, Jakarta Selatan, pada Kamis (02/02/2017). © Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo

Pernah ditawari suap, yang katanya cukup untuk tujuh turunan. Tapi ia menolak. Apa yang menjadi pegangan para hakim MK?

Hamdan Zoelva kini sudah bisa bergaul lagi dengan banyak orang. Ia aktif dalam kegiatan organisasi masyarakat, terutama Syarikat Islam. Di organisasi ini ia memegang jabatan Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah.

Posisinya cukup bergengsi, mengingat sejarah Syarikat Islam yang telah berumur lebih dari 100 tahun dan melahirkan tokoh-tokoh nasional, seperti Sukarno, Agus Salim, Tan Malaka, Musso, Kartosuwiryo, dan lainnya . Hamdan punya misi ingin mengembalikan kejayaan organisasi itu seperti masa lalu dan fokus pada bidang ekonomi.

Selain mengurus organisasi masyarakat, ia juga sibuk dengan pekerjaannya sebagai konsultan dan pengacara di Zoelva & Partners. "Pekerjaan ini tidak bisa saya tinggalkan karena karyawan saya bekerja dari sejak 1990an," kata Hamdan di kantornya, lantai 23 Gandaria 8 Office Tower, Jakarta Selatan, Kamis, 2 Februari 2017.

Dengan berbagai kesibukannya itu, wajah Hamdan terlihat segar. Tubuhnya lebih berisi dibandingkan ketika menjabat Ketua Mahkamah Konstitusi. Pria kalem ini juga beberapa kali mengeluarkan candaan dan tertawa lepas. Berbeda sekali dengan sosoknya dulu ketika menjadi hakim yang cenderung pendiam dan tidak banyak senyum.

Ia mengakui, selama menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2013 sampai 2015, pergaulannya jadi tidak bebas. "Saya tidak bisa bergaul sama sekali," ujar pria kelahiran Bima, 21 Juni 1962, itu. Ketika menghadiri pesta, ia harus buru-buru pergi. Kalau ada telepon masuk, ia tidak bisa langsung mengangkatnya karena khawatir ada orang yang menyalahgunakannya. "Lebih baik saya telepon balik beberapa jam kemudian," kata Hamdan.

Hobinya bermain golf ketika itu pun terbatasi. Harusnya permainan ini diisi dengan ajang bergaul sana-sini, tapi Hamdan terpaksa bermain sendirian. "Tersiksa betul," ujarnya.

Itu baru masalah pergaulan. Belum lagi godaan suap yang kerap kali datang kepadanya. Dari nominal kecil hingga ratusan miliar pernah datang menawarinya. Tapi ia mengaku menolak itu semua karena masalah integritas yang harus dijaga. Apalagi Hamdan menduduki jabatan tersebut ketika Mahkamah Konstitusi sedang disorot karena kasus jual-beli perkara yang dilakukan ketua sebelumnya, Akil Mochtar.

Karena itu, ia sangat kaget ketika mendengar rekannya di Mahkamah Konstitusi, Patrialis Akbar, terjerat operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi. Hamdan sudah mengenal Patrialis sejak sama-sama duduk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Hamdan merupakan mantan politisi Partai Bulan Bintang, sementara Patrialis masuk Partai Amanat Nasional.

Keduanya sama-sama masuk di Komisi II DPR pada periode 1999 sampai 2002, yang membidangi hukum dan politik. Hamdan sempat menjabat sebagai wakil ketua komisi, sementara Patrialis anggotanya. "Sepak terjang beliau saya tahu betul," ujarnya.

Kepada Fajar WH, Sorta Tobing, dan fotografer Wisnu Agung Prasetyo, Hamdan memberikan pandangannya soal pengawasan para hakim Mahkamah Konstitusi dan aktivitasnya di Syarikat Islam. Ia juga sempat menyebutkan lima hal terfavoritnya ketika sedang senggang. Siapa penyanyi bersuara mezzo-soprano, yang ia gemari? Tonton videonya dalam tulisan di bawah ini.

Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2013-2015, Hamdan Zoelva, ketika menerima wawancara Beritagar.id di Kantor Zoelva & Partners, lantai 23 Gandaria 8 Office Tower, Jakarta Selatan, pada Kamis (02/02/2017).
Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2013-2015, Hamdan Zoelva, ketika menerima wawancara Beritagar.id di Kantor Zoelva & Partners, lantai 23 Gandaria 8 Office Tower, Jakarta Selatan, pada Kamis (02/02/2017).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Anda terkejut ketika Patrialis Akbar tertangkap tangan KPK?
Saya terus terang tidak menyangka. Ini kawan baik saya. Tidak pernah dia ngomong macam-macam dengan saya. Kami ketemu hanya urusan pengajian saja. Pusing juga saya mendengar penangkapan dia.

Informasi awal Anda dapat dari mana?
Ada kawan yang telepon subuh-subuh. Sebelum beredar beritanya di media. Wah, waduh, kena lagi nih MK. Kasihan MK. Bukan karena saya tinggal. Tapi memang kemungkinan itu selalu ada. Saya kasih tahu teman-teman di MK hadapi saja.

Sempat menelepon Pak Arief (Arief Hidayat, Ketua MK saat ini)?
Tidak. Tidak.

Dari pengalaman Anda, pasca kasus Akil Mochtar, pemulihan di MK memakan waktu berapa lama?
Saya dulu memang pasang target. Saya bilang, harus lakukan sesuatu, enam bulan selesai.

Apa yang Anda lakukan?
Pada saat enam bulan awal, kami kerja berat. Banyak hal yang kami lakukan, termasuk memberi semangat kepada karyawan. Mereka down semua. Saya mengunjungi mereka memberi semangat.

Kemudian delapan sampai 10 bulan selesai pemulihan itu. Harapan saya ketika itu, saat pemilihan presiden sudah pulih benar karena orang menunggu tangan dewa. Saya harus meyakinkan semua pihak. Saya memang tidak publikasikan ini, tapi saya meyakinkan kalangan media, para tokoh dan politisi.

Bentuk meyakinkannya seperti apa?
Rutin bertemu.

Kalau secara internal di MK bagaimana?
Bagi saya tidak ada sesuatu yang luar biasa. Tapi memang kami membentuk Dewan Etik MK.

Pembentukan dewan etik itu baru pertama kali?
Ya. Kami bentuk, publikasikan, buka, dan sampaikan ke masyarakat. Apapun yang Anda dengar, isu, desas-desus, suap, silakan laporkan ke dewan etik yang independen, walaupun kami yang bentuk. Tapi tidak kami touch sama sekali.

Banyak laporan yang masuk?
Lumayan banyak. Laporan yang sampai pada saya hanya disposisi saja dan langsung masuk ke dewan etik, silakan diteliti.

Ada laporan yang terbukti?
Tidak ada. Tapi memang hampir semua hakim MK pernah diperiksa. Cuma tidak dipublikasikan.

Mengapa tidak dipublikasikan?
Kalau dipublikasikan nanti jadi masalah. Kredibilitas hakim jadi rusak. Padahal banyak laporan tidak jelas. Tapi terakhir yang saya dengar, Pak Arief kena teguran dari dewan etik.

Kasus Patrialis dan Akil kira-kira hampir sama soal suap....
Beda. Kalau Akil jual-beli perkara. Nah, kalau Patrialis kelihatannya begini. Ada Basuki Hariman, Kamaludin, dan dia. Patrialis memang berteman dengan Kamaludin, saya juga kenal. Biasa-biasa saja. Kamal ini mungkin yang memperkenalkan Basuki Hariman sampai ke kawan ini. Patrialis sih sebenarnya orang baik-baik.

Padahal perkara Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan sudah diputus MK dan tinggal dipublikasikan.
Kasus itu waktu saya jadi ketua pernah ada. Ini soal zonasi. Banyak ahli yang diajukan. Dulu dalam undang-undang itu membolehkan zonasi. Artinya, boleh impor daging dari suatu negara yang tidak clean. Hal ini diperbolehkan dalam rangka mengimpor daging murah. Begitu filosofinya.

Hal ini kemudian digugat karena dianggap membahayakan. Dari berbagai penelitian, tidak mungkin satu negara antar daerah tidak terkontaminasi. Karena itu perlu pembatasan untuk menjaga kesehatan hewan di Indonesia. Selain itu, menghindari transfer penyakit hewan ke manusia. Maka MK memutuskan membatalkan sistem zonasi itu, kembali pada sistem negara yang bersih dari penyakit hewan.

Mengapa bisa muncul lagi soal zonasi ini?
Biasa MK kalau sudah memutuskan itu tegas, tapi kadang dilanggar oleh DPR. Kalau saya hakimnya, clear, lihat saja putusan yang lalu. Selesai. Kecuali ada perubahan-perubahan baru. Tapi hakim MK biasa mengikuti keputusan sebelumnya, meskipun tidak harus.

Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2013-2015, Hamdan Zoelva, berpose di depan kamera seusai menerima wawancara Beritagar.id di Kantor Zoelva & Partners, lantai 23 Gandaria 8 Office Tower, Jakarta Selatan, pada Kamis (02/02/2017).
Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2013-2015, Hamdan Zoelva, berpose di depan kamera seusai menerima wawancara Beritagar.id di Kantor Zoelva & Partners, lantai 23 Gandaria 8 Office Tower, Jakarta Selatan, pada Kamis (02/02/2017).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Selain ada dewan etik, pengawasan hakim MK seperti apa?
Tidak ada. Bagaimana mengawasi? Seorang hakim MK itu masing-masing dewa. Sembilan dewa. Jadi, bayangkan sembilan tiang di depan Gedung MK, itu representasi hakim yang menopang gedung mahkamah. Di sana untuk membicarakan keputusan di luar rapat tidak boleh dan tabu. Tidak ada lobi di MK karena masing-masing hakim punya independensi.

Tapi dewa pun punya kelemahan, masa tidak bisa diawasi?
Yah model pengawasannya yang kami bikin. Kalau ada laporan ya silakan ke dewan etik itu.

Anda pernah dilaporkan?
Pernah. Dilaporkan rame-rame bersama delapan hakim MK lainnya. Itu orang yang tidak puas dengan keputusan saja. Laporan secara pribadi kepada saya tidak ada.

Seperti apa etika antar hakim MK?
Waktu zaman saya menjadi ketua, kalau ada apa-apa kami saling buka untuk hal-hal yang berkaitan dengan integritas. Tapi kalau soal keputusan, pandangannya, hanya bisa dibuka dalam permusyawaratan.

Makanya, orang yang mau suap hakim MK itu pasti tidak benar dan rugi. Kalau kalah, ya kalah saja. Enggak yakin saya bisa suap satu orang. Kecuali dia suap lima orang. Tapi gila saja.

Pernah digoda untuk menerima suap?
Biasalah. Bagi hakim apa pun itu biasa.

Modusnya seperti apa?
Makanya kalau saya ditelepon teman, saya tidak angkat, walaupun nomornya tersimpan di telepon genggam. Beberapa jam kemudian baru saya telepon balik. Kenapa? Saya khawatir kalau diangkat, dia sedang bersama para pihak. Nanti dia peralat saya, "Barusan saya telpon Pak Hamdan, saya dekat, kenal." Itu bisa saja. Lalu, dia bilang, saya minta uang sekian. Gila itu. Saya hindari betul.

Pernah ada yang sampai datang ke rumah, misalnya?
Kawan dekat saya datang ke rumah, saya pikir dia sendiri. Saya juga tidak tanya lagi. Eh, datangnya sama orang lain. Terus dia ngomongin kasus, saya bilang dengan halus jangan deh ngomong di sini. Tiba-tiba, dia keluarin uang. Gila, lo! Saya usir bener mereka. Saya bilang ke teman saya, jangan dua kali bawa orang kayak gitu.

Ada lagi yang minta dikasih tahu posisinya menang atau kalah. Enggak ada yang rugi kan. Enggak merampok kan. Dia bilang nanti saya kasih uang. Gila! Bayangkan, kasih tahu keputusannya saja ada yang mau kasih uang.

Berapa tawaran uang tertinggi?
Wah, jangan ngomong deh. Ada yang besar sekali. Tujuh turunan juga tidak habis. Saya ketawain saja. Emangnya saya bisa memutuskan sendiri.

Padahal gaji hakim MK sudah besar ya.
Lumayanlah. Lebih dari cukup. Kalau untuk kaya, tidak.

Dengan teman-teman di partai Anda membatasi diri juga?
Sama. Foto pun bisa dimanfaatkan. Jadi, saat jadi hakim memang tidak boleh banyak bergaul.

Itu berlaku untuk semua hakim?
Iya.

Harus jadi penyendiri dong.
Betul. Makanya tersiksa kami yang politisi ini. Ha-ha-ha....

Tidak bisa pergi dengan banyak orang?
Menghadiri pesta pun dibatasi. Saya harus cepat-cepat pulang. Tidak ada kesempatan ngobrol karena tidak boleh berinteraksi.

Anda merasa tersiksa sekali?
Terbatas betul. Kemerdekaannya tidak ada. Itu betul. Setelah sudah tidak jadi hakim, saya rasanya merdeka betul. Ha-ha-ha....

Celah yang bisa dimanfaatkan oleh oknum tertentu, selain jual beli perkara, apa? Mana yang perlu diawasi?
Saya gimana ya.... Yang paling pokok menurut saya, sebagai hakim itu integritas pribadinya. Mau model pengawasan apapun. Hakim itu yang paling utama rekam jejaknya. Lingkungan, keluarganya harus dilihat semua.

Di Uni Soviet, tidak bisa orang jadi hakim konstitusi kalau saudaranya ketahuan pernah mencuri atau kena pidana. Ini saudaranya loh, bukan dia.

Di sini tidak ada pengecekan seperti itu?
Tidak ada. Panitia seleksi malah nanya soal pasal-pasal. Bagi saya itu tidak relevan. Semua orang bisa kok menjawab pasal.

Hakim itu yang paling utama rekam jejaknya. Lingkungan, keluarganya harus dilihat semua.

Hamdan Zoelva

Berarti masalah sudah terjadi dari mulai rekrutmennya?
Coba saya tanya, apa yang bisa dilakukan oleh Komisi Yudisial? Ada yang tidak berintegritas juga di sana. Sama. Jadi saya pikir, daripada capek mengawasi, hakim diawasi Komisi Yudisial, lalu Komisi Yudisial diawasi siapa, ndak bakal selesai sampai kapan pun. Cara berpikirnya tidak bisa seperti itu. Yang penting itu rekam jejak. Kapasitasnya seperti apa? Apa yang pernah dia lakukan? Karya-karyanya apa?

Hal tersebut belum dilakukan?
Saya waktu menguji hakim Mahkamah Agung seperti itu. Tapi pengalaman saya waktu tes itu, surat dukungan malah lebih penting. Dia jadi bisa memobilisasi untuk dipilih.

Nah, waktu Patrialis diangkat menjadi hakim MK kan cukup kontroversial.
Ya, banyak yang protes.

Tapi Anda melihat dia cukup punya kemampuan jadi hakim MK?
Kalau saya, dia punya kemampuan.

Secara integritas?
Dia kawan saya di DPR. Saya tidak pernah melihat dia aneh-aneh. Saya tidak menemukan apa yang dia lakukan di DPR tidak sesuai aturan, sepanjang yang saya tahu ya.

Lebih kaget mana, kasus Akil atau Patrialis?
Kalau Akil, ndak bisa ngomong deh. Ha-ha-ha.... Dia anggota saya juga waktu di DPR. Saya pimpinan di komisi. Saya tahu sepak terjangnya juga, termasuk Setya Novanto, Idrus Marham.

Yang paling parah siapa?
Ha-ha-ha.... Ndak boleh itu. Saya hafal semua.

Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2013-2015, Hamdan Zoelva, berpose di depan kamera seusai menerima wawancara Beritagar.id di Kantor Zoelva & Partners, lantai 23 Gandaria 8 Office Tower, Jakarta Selatan, pada Kamis (02/02/2017).
Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2013-2015, Hamdan Zoelva, berpose di depan kamera seusai menerima wawancara Beritagar.id di Kantor Zoelva & Partners, lantai 23 Gandaria 8 Office Tower, Jakarta Selatan, pada Kamis (02/02/2017).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Perkara terberat di MK yang pernah Anda tangani?
Pemilihan presiden. Yang paling berat dan capek itu menangani sengketa legislatif. Kami membuat 600 keputusan dalam sebulan. Mata sampai kunang-kunang membaca berkas-berkas. Tapi jujur, saya tidak merasa ada beban psikologis ketika menangani pemilihan presiden, meskipun menjadi perhatian publik sangat besar. Sedikit pun tidak terbebani.

Kalau perkara Bang Yusril (Yusril Ihza Mahendra, Ketua Umum Partai Bulan Bintang)?
Biasa saja. Ketik pakai jubah hakim, kami harus menempatkan diri, tidak boleh memihak. Fairness itu yang harus dibangun. Kalau Anda bertanya berat di pihak sana, maka harus berat juga di pihak sini. Itu fairness. Jadi, orang percaya dengan pengadilan. Hakim harus berada di tengah.

Berkaca dari kasus Akil dan Patrialis, apa sebaiknya hakim MK tidak dari kalangan politisi?
Bagi saya bukan itu persoalannya. Kembali ke integritas. Pak Mahfud MD (mantan hakim MK) juga dari partai. Kalau tidak begitu, MK tidak dinamis. Kalau hakim MK politisi, dia bisa berartikulasi dengan baik, marwah-nya bisa kelihatan. Beda dengan yang akademisi. Cuma, ada politisi kayak Metromini (sambil tangan kanannya berkelok-kelok). Ha-ha-ha....

Tertarik menjadi hakim MK lagi?
Sudahlah. Saya urusin sosial saja.

Tidak mau kembali ke partai?
Kalau ada kepentingan bangsa, saya harus ambil posisi, ya mungkin.

Sekarang aktif di Syarikat Islam. Mau membangun partai baru mungkin?
Tidak berpartai lagi. Sudah organisasi masyarakat saja untuk menggerakkan ekonomi. Kembali ke khittah.

Mengapa menggerakkan ekonomi?
Pemersatu umat. Umat bersatu di ekonomi. Jadi, ini perlawanan terhadap ketidakadilan sosial. Sekarang ketimpangan lumayan parah. Saya lagi mau bangun infrastrukturnya dulu. Saya mulai dengan sekolah dagang untuk menggerakkan lagi semangat dagang dan hidup mandiri. Saya juga sedang mendorong pembentukan korporasi. Dengan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) juga sedang berkonsultasi untuk membentuk lembaga keuangan mikro syariah.

Tapi gaungnya sepertinya kurang.
Lihat saja lima sampai enam tahun akan datang. Kami akan konsisten di organisasi masyarakat.

Dulu Syarikat Islam sepertinya elitis.
Sekarang merakyat lagi. Syarikat Islam pada dasarnya kerakyatan, makanya dulu pernah disusupi PKI (Partai Komunis Indonesia).

Karena sosialis.
Lebih sosialis. Syarikat Islam merah dulu ada. Lalu diambil garis batas, sekitar 40 persen anggotanya PKI. Mereka sudah terpotong.

Manuver Anda agak zig-zag, dari politik, hukum, lalu ekonomi.
Ha-ha-ha.... Ketiganya memang tidak bisa dipisahkan.

Ingin jadi presiden?
Ha-ha-ha.... Amin. Jalani sajalah. Saya tidak pernah bercita-cita jadi apa pun kok.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.