Hendardi saat ditemui di kantornya, Setara Institute, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat sore (12/7/2019).
Hendardi saat ditemui di kantornya, Setara Institute, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat sore (12/7/2019). Wisnu Agung / Beritagar.id
BINCANG

Hendardi: Jangan suuzan terhadap Jenderal Iriawan

Ia mengendus adanya unsur politik dalam kasus Novel. Dugaan itu mirip ketika dirinya hendak mengungkap kasus Munir, yang pelakunya berhenti di Pollycarpus.

“Apakah terdengar suaranya,” dia bertanya kepada kami. Kemudian mengetuk-ngetuk mikrofon, memeriksa alat itu aktif atau tidak. Tapi tampaknya gerakan itu juga dimaksudkan untuk pertanyaan lanjutan. “Apakah terdengar ada keraguan soal integritas saya ya?,” dia bertanya lagi.

Hendardi sepertinya cukup kesal. Pekerjaannya di Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus Novel Baswedan diragukan sebagian pihak. Padahal jam tidurnya berkurang karena kerap kerja hingga larut. Itu belum ditambah tugasnya menyeleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Selama enam bulan ia dan tim bekerja kumpulkan bukti. Tim itu berisi 65 orang. Lima puluh dua di antaranya unsur polisi, 6 dari KPK dan 7 dari luar kepolisian—yang disebut pakar. Hasil kerja tim itu sudah di tangan Kapolri Tito Karnavian, dan rencananya akan dirilis dalam waktu dekat.

“Makin tua malah makin sibuk nih saya,” ujar pria berusia 61 ini saat wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung di kantornya, Setara Institute, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat sore (12/7/2019).

Sore itu, matanya agak berair. Tampak pucat. Ia mengenakan kemeja hitam dan membiarkan janggutnya tumbuh menjadi putih. Tiap dinding di ruang kerjanya dipenuhi catatan, buku dan foto-fotonya bersama sejumlah tokoh. Di antaranya Tito Karnavian.

Selama satu jam ia meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan saya. Di antaranya soal sejauh apa perannya di TGPF dan motif politik di balik kasus Novel itu. Berikut percakapannya:

Hendardi saat ditemui di kantornya, Setara Institute, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat sore (12/7/2019).
Hendardi saat ditemui di kantornya, Setara Institute, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat sore (12/7/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Apa sih kendala yang menghambat terungkapnya kasus Novel Baswedan?
Maksudnya yang mana dan kapan ini? Sewaktu kami sudah mulai bekerja atau sebelumnya?

Ya pengungkapan kasus Novel oleh polisi. Artinya kan sejak 2017 kasus ini menemui jalan buntu?
Begini. Beberapa pihak bilang, polisi cepat saat ungkap kasus teroris. Tapi ingat, tiap kasus itu punya karakter sendiri, termasuk tingkat kesulitannya.

Jadi, enggak bisa disamakan antara kasus satu dengan yang lain. Contoh, mahasiswa tenggelam di danau UI. Itu kan juga belum terungkap.

Ini kan soal harapan. Publik berharap besar pelaku penyerangan terungkap?
Saya juga gak mau berbangga dengan kasus yang belum terungkap. Harus tetap diungkap.

Saya cuma ingin gambarkan. Di tengah pagi buta, ada orang disiram air keras menggunakan motor dan pelaku memakai helm.

Video CCTV yang ada pun sudah kami sita dan gambarnya enggak bagus. Sudah kami cek semuanya.

Ini menunjukkan kami ini serius dan tidak malas-malasan saat bekerja. Tunggu saja nanti hasilnya.

Benarkah ada keterlibatan jenderal polisi di balik aksi tersebut?
TGPF itu dibentuk untuk ungkap peristiwa, termasuk motifnya. Tugas kedua kami menghadapi opini yang diarahkan pada sesuatu yang tak ada buktinya.

Misalnya, opini adanya jenderal di balik aksi itu. Nah, itu opini tanpa bukti. Padahal tim ini pencari fakta, bukan pencari sensasi, apalagi fantasi.

Oke. Jika bicara fakta, apakah ditemukan aktor intelektualnya?
Tunggu saja. Yang jelas tim ini mencari fakta dan petunjuk yang ada. Itu landasan kami untuk menulis laporan dan rekomendasi kepada Kapolri.

Apa rekomendasinya, apakah akan ada kejutan saat dirilis ke publik nantinya?
Enggak perlu kejutan-kejutan. Buat apa. Saya ini sudah biasa berkecimpung di tim pencari fakta. Tugas saya mencari fakta, bukan buat kejutan.

Soalnya beberapa kali Novel sering menyatakan ada dugaan jenderal polisi terlibat…
Jawabannya disampaikan nanti. Tapi bicara jenderal yang dimaksud Novel, tolong beri kami petunjuk. Biar kami kejar.

Sewaktu memeriksa Novel sebagai saksi, Anda tidak minta petunjuk atau bukti soal jenderal itu?
Prinsipnya, kalau dikasih, ya kami kejar. Sehingga tidak jadi isu yang bergulir terus tapi tidak jelas.

Di satu sisi, demi hak asasi, kasus ini harus diungkap. Tapi saya gak mau mengorbankan orang lain, termasuk jenderal, tanpa bukti.

Novel kan menyatakan telah membeberkan nama perwira polisi yang diduga terlibat ke TGPF?
Ada. Dia memberi indikasi.

Sekian lama bersuara, masa Novel hanya memberi indikasi bukan bukti-bukti?
Indikasi pun berguna. Enggak gampang dalam kasus seperti ini. Kecuali pelakunya tertangkap tangan. Kalau ada petunjuk kan bisa kami telusuri.

Berapa lama Novel ketika itu diperiksa?
Saya ingat pada 26 Juni. Sekitar dua jam dan itu dilakukan di KPK. Agar Novel nyaman dan bisa didampingi pengacara. Ketika itu wadah pegawai KPK juga hadir.

Hendardi saat ditemui di kantornya, Setara Institute, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat sore (12/7/2019).
Hendardi saat ditemui di kantornya, Setara Institute, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat sore (12/7/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Anda kan berpengalaman di TPF kasus Munir dan kerusuhan Mei ’98, apakah kasus Novel ini cukup berat untuk diungkap?
Semua tim pencari fakta itu berat. Gak ada yang mudah. Ketika saya di TPF Munir atau di TPF Freddy Budiman, semua punya karakter sendiri-sendiri.

Semua pun berlangsung dalam dinamika politik yang berbeda-beda. Makanya, jadi lebih berat, karena ada usaha mempolitisir kasus ini.

Publik digiring seolah-olah polisi itu enggak benar.

Wajar publik mengkritisi kan, faktanya sampai sekarang kasusnya pun belum terungkap?
Begini. Saya punya temuan menarik. Ketika subuh Novel disiram air keras, tapi di hari yang sama, pada jam 10 pagi sudah ada media online yang menuntut dibentuknya TGPF. Aneh.

Padahal kasusnya baru subuh terjadi. Artinya ada usaha untuk mendorong menjadi isu politik.

Bukannya bagus. Mungkin maksudnya agar kasus ini dapat perhatian khusus, karena high profile kan?
Di satu sisi bagus. Tapi di sisi lain ada usaha politis yang terjadi. Kan subuh baru terjadi. Motifnya saja belum tahu, tapi sudah minta dibentuk TGPF.

Seperti ada upaya untuk tidak percaya pada polisi.

Munculnya motif politik ini jadi bikin ribet?
Makanya, saya katakan, ada hambatan-hambatan politis dalam kasus ini. Seperti kasus Munir misalnya. Agak mirip.

Tapi kita bisa bawa Polycarpus sampai ke penjara ketika itu. Dan dia memang bersalah, sebagai pelaku lapangan.

Sayang, ke atasnya lagi tidak bisa. Artinya apa? Ada hambatan politik. Bukan hambatan hukum sebetulnya.

Hal itu juga akan terjadi pada kasus Novel menurut Anda?
Sejak semula saya katakan ada hambatan politis. Karena ada pengembangan opini secara sengaja untuk tidak percaya dengan polisi.

Kita ini gak bisa suuzan sama polisi. Kami juga bukan orang sembarangan yang mau ditunjuk masuk tim dan mempertaruhkan reputasi.

Tapi beberapa pihak meragukan TGPF ini bisa menuntaskan kasus Novel. Bagaimana?
Ini soal integritas. Saya bangun integritas ini bukan setahun dua tahun. Puluhan tahun bahkan. Kami akan berusaha semaksimal mungkin.

Ada yang meragukan independensi Anda, karena Anda kan penasihat Kapolri…
Saya kira itu meremehkan ya. Betul saya penasihat ahli Kapolri. Tapi penasihat itu bukan lembaga yang masuk struktur. Ini semacam think tank bagi Kapolri.

Bukan berarti integritas itu sesuatu yang sirna begitu saya menjadi penasihat Kapolri.

Harus dijawab kepada publik juga sejauh apa Anda menjamin independensi itu?
Begini. Saya ini punya posisi tawar yang tidak bisa didikte atau diharuskan mengikuti maunya pihak tertentu.

Kami pun leluasa memeriksa saksi, bahkan tanpa polisi. Itu sebagai gambaran bahwa kami juga diberi ruang untuk menelusuri petunjuk. Bukan gosip.

Bagaimana mulanya petunjuk itu berujung pada pemeriksaan Jenderal Iriawan?
Saya kan bilang, kami tidak bekerja atas dasar gosip. Kalau ada petunjuknya, seperti Jenderal Iriawan, ya karena memang ada petunjuknya.

Apa petunjuknya?
Ada petunjuk kalau dia berhubungan dengan Novel. Bukan petunjuk baru dan bukan dugaan tindak pidana. Tapi hubungan dia dengan Novel saat menjabat Kapolda.

Karena sebelum terjadi penyiraman, Novel datang ke Polda Metro.

Opini publik seperti terbentuk kalau Jenderal Iriawan ini terlibat?
Pak Iriawan itu berkunjung ke Novel sebelum dan sesudah kejadian. Membicarakan keamanan sekitar rumahnya. Jadi tidak serta merta dia terlibat.

Pak Iriawan itu diperiksa TGPF sebagai saksi ketika dia menjabat sebagai kapolda.

Apa saja komunikasi Jenderal Iriawan dengan Novel saat itu?
Nanti kami beberkan. Tapi bukan berarti kami tuding dia adalah terduga, apalagi tersangka. Opini ini bisa menggiring orang kemana-mana.

Saat Novel diperiksa, apakah dia juga menjelaskan pertemuannya dengan Jenderal Iriawan?
Kami tanya kok. Kan Novel yang menyatakan bertemu awalnya. Kami mengkonfirmasi saja keterangan dari mereka.

Ada keterangan yang kontradiksi di antara mereka berdua?
Kalaupun ada, kami kan punya saksi yang kami gali juga keterangannya. Makanya saya gak mau orang bilang jenderal itu terlibat kalau enggak ada petunjuknya.

Kapolri tidak memberi arahan atau petunjuk?
Enggak. Dari awal dia percaya sama tim. Dasarnya kita kan penyelidikan polisi, laporan Komnas HAM, Kompolnas dan Ombudsman.

Itu jadi dasar kami. Jadi, kami periksa betul tiap petunjuk. Jangan suuzan dulu terhadap jenderal. Dalam hal ini Jenderal Iriawan.

“Kami periksa Jenderal Iriawan bukan berarti kami tuding dia adalah terduga, apalagi tersangka”

Hendardi

Sebenarnya, bagaimana sosok Novel Baswedan di mata Anda?
Saya tidak berminat mengomentari pribadi orang. Tapi saya kira dia orang baik.

Ya siapapun yang diperlakukan keji seperti itu, tugas kita semua mengungkap dan membelanya. Polisi kan sudah bekerja menelusuri kasusnya.

Polisi serius mengungkap kasus Novel?
Sangat serius. Saya katakan mereka ini profesional. Tapi tiap kasus punya tingkat kesulitan masing-masing.

Tapi ada dugaan polisi menghapus sidik jari penyerang Novel di alat bukti?
Hal itu nanti kami jawab. Termasuk juga tuduhan terhadap jenderal, nanti juga kami jawab saat rilis kepada publik.

Kalau Anda bilang tidak ada kejutan yang akan diumumkan, lalu apa yang nanti disampaikan?
Nanti saja lihat.

Oke. Novel itu bukan pertama kali dapat ancaman. Apakah TGPF tidak menelusuri ancaman-ancaman sebelumnya itu sebagai petunjuk?
Polisi sudah menelusuri itu dan melihat hubungan-hubungannya. Nanti kami jawab.

Menegaskan yang tadi. Apakah Anda merasa kasus ini kental dengan aroma politik?
Pasti ada korelasi. Kasus seperti ini kan semacam mainan politik. Tapi saya bodo amat. Enggak mau pusing. Urusan kami mencari fakta.

Maksudnya mainan politik?
Bisa saja untuk mendiskreditkan Kapolri atau Presiden. Tapi lagi-lagi, saya enggak mau pusing. Tugas saya adalah ungkap peristiwa ini.

Apakah kasus Novel ada sangkut pautnya dengan perpecahan di KPK. Antara kubu Taliban dengan Polisi India?
Ha-ha. Saya bukan tim pencari gosip.

Fix ya tak akan ada tersangka saat pengumuman nanti?
Tunggu tanggal mainnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR