Ketua Umum Viking Persib Club, Heru Joko, saat ditemui di Jalan Belimbing Nomor 13, Bandung, Jawa Barat, Kamis (24/9/2108).
Ketua Umum Viking Persib Club, Heru Joko, saat ditemui di Jalan Belimbing Nomor 13, Bandung, Jawa Barat, Kamis (24/9/2108). Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo
BINCANG

Herru Joko: Cukup, Viking enggak mau perang

Ia meminta Viking menahan diri dari segala bentuk provokasi sambil berharap Persib tak diberi sanksi berlebihan.

Herru Joko merasakan pukulan bertubi-tubi di kepala. Ada juga orang yang mengincar perut dan dadanya. Ia menahan, bereaksi dan membalas pukulan-pukulan itu. Pertarungan tersebut terjadi di luar stadion, dahulu kala, saat ia masih belia.

Ia lupa kalah atau menang saat itu dan enggan menyebut siapa musuhnya. Yang jelas, kisahnya itu merupakan wajah Viking zaman dulu—ketika perkelahian kerap mewarnai tiap pertandingan Persib Bandung. Kini, hooliganisme di tubuh Viking mulai ia lepaskan.

“Kekerasan teh bikin gelisah dan membuat Persib rugi. Kami sudah berubah,” katanya kepada Heru Triyono dan Wisnu Agung saat wawancara di Cafe Belimbing, Bandung, Kamis (27/9/2018).

Semua orang di Bandung tahu banget siapa Herru. Ia adalah Capo Tifoso, bahasa Italia, yang berarti pemimpin suporter. Dalam hal ini Herru adalah pemimpin Viking Persib Club atau disingkat VPC—yang telah berusia 25 pada tahun ini. Seusia Viking itu juga Herru didapuk sebagai Ketua Umum VPC.

Meski dikenal sebagai orang yang dipuja dan dihormati, Herru tetap rendah hati dan berlagak malu-malu. Saat jumpa, ia membungkuk dalam-dalam, tersenyum dan menyapa kami dengan sebutan: Akang. “Maaf telat Kang, habis dari rekonstruksi kasus Haringga,” kata Herru.

Saat ini Herru memang sedang pusing. Oleh banyak pihak Viking dipojokkan karena kematian suporter Persija Jakarta, Haringga Sirilla. Tapi ia tak mau terlalu menanggapi karena sedang berduka dan merasa kemenangan bersejarah Persib atas Persija juga jadi hampa. “Hilang langsung euforia. Semoga sanksinya enggak berat,” tutur pria berusia 48 ini.

Berambut panjang, Herru mengenakan celana cargo, sepatu Converse, dan kaos Avenged Sevenfold—band yang sebenarnya tidak disukainya. Ia duduk di kursi, di seberang meja kami, dan banyak menjawab pertanyaan dengan suara agak serak, yang mungkin disebabkan bersorak di stadion puluhan tahun.

Selama hampir sejam Herru menjelaskan tentang budaya pendukung, hubungan Viking dan The Jakmania, dan bagaimana kecintaan dia terhadap Persib Bandung. Berikut perbincangannya:

Ketua Umum Viking Persib Club, Heru Joko, saat ditemui di Jalan Belimbing Nomor 13, Bandung, Jawa Barat, Kamis (24/9/2108).
Ketua Umum Viking Persib Club, Heru Joko, saat ditemui di Jalan Belimbing Nomor 13, Bandung, Jawa Barat, Kamis (24/9/2108). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Bagaimana ini, kasus kematian yang melibatkan suporter kembali terjadi?
Prihatin dan sedih. Saya kadang ingat terus yang meninggal itu dan mereka yang ditangkap. Padahal kita hanya ingin nonton bola.

Insiden ini apakah ada dalam bayangan Anda sebelumnya, mengingat ini partai besar dan risikonya juga besar?
Kejadian itu? Enggak ada karena kita sudah siap-siap, sudah tertib dan ternyata bisa. Untuk hindari rusuh-rusuh itu kita juga sudah memindahkan dari malam ke sore (jadwal pertandingan).

Ini sudah dibahas dengan polisi dan klub juga. Saya saja teh enggak tahu ada kejadian itu.

Masa tidak ada informasi dari teman-teman di luar stadion atas kejadian itu?
Biasanya kalau ada kejadian teh tahu saya. Tapi kita sudah di dalam ketika kejadian, fokus mau nonton. Sampai rumah saya baru tahu. Kaget. Dikasih tahunya sama anak malahan. Langsung saya telponin teman-teman.

Ya hilang langsung euforia kemenangan bersejarah. Kemenangan yang ditunggu-tunggu selama lima tahun. Hilang gitu aja.

Kejadiannya padahal sekitar pukul 13.00 WIB, ada jeda cukup lama sebelum pertandingan dimulai…
Iya jam satu. Tapi sebagian besar penonton sudah masuk stadion dari jam 11 siang. Sudah pada duduk di dalam. Saya saja tidak dapat tempat duduk. Duduknya di tangga.

Merasa kecolongan?
Iya atuh. Padahal kita sudah menyiapkan semuanya dengan baik dan enggak mau ada kejadian begini. Sebelumnya kita tekankan kalau mau beraksi ya dengan karya. Kalau perang, ya perang karya saja, begitu.

Tapi banyak pihak yang seolah-olah memojokkan Viking atas kejadian ini?
Enggak apa-apa. Karena kejadiannya kan di situ sih ya (GBLA). Kita juga enggak diam atas kejadian ini. Ada evaluasi, ada pengajian untuk Haringga, ya anak-anak semangat untuk berbenah.

Sebenarnya ada enggak sih sweeping di GBLA sebelum pertandingan?
Enggak ada. Kita berkumpul dari semua distrik-distrik (Viking) dan memberi tahu teman-teman bahwa di hari itu kita mau tertib. Kita sepakat untuk beraksi lewat koreografi saja.

Di televisi, Ketua The Jakmania Ferry Indrasjarief bilang ada sweeping
Makanya, kaget juga Om Ferry bilang begitu. Padahal saya mah akrab sama dia. Tapi da enggak ada sweeping. Asli. Saya juga enggak perintahin sweeping, ngapain atuh, dosa. Ferry mah baik orangnya. Mungkin lagi capek dan emosional.

Anda dekat dengan Ferry?
Dekat. Semalam juga tidur di sini Ferry mah da. Saya kenal dia sejak jadi ketua di The Commandos, pendukung Pelita Jaya. Malah dia jemput saya nonton Timnas beberapa kali kalau saya ke Jakarta.

Kedekatan para elite ini tidak bisa berpengaruh ya ke akar rumput?
Lumayan lah, ada pengaruhnya sedikit. Pengurus The Jakmania mah pas kecil-kecilnya juga main sama saya di Bandung. Kayak saudara saja. Sering menginap mereka di sini.

Kultur fan Persija yang berkunjung dan menginap ini tidak turun ya ke generasi-generasi berikutnya?
Enggak ada, enggak diterusin lagi. Kalau yang dulu-dulu sih mengaku kangen terus sama Bandung. Kalau menginap, sampai lama gitu. Sekarang, mungkin karena merasa ada rivalitas jadi sungkan kali.

"Bagi sebagian suporter menyusup itu adalah kepuasan."

Heru Joko

Rivalitas ini seperti berbalut kebencian ya, antarpendukung itu kadang melakukan nyanyian rasis?
Kita sih sudah mengurangi dan ada kemajuan. Sudah enggak banyak. Memang susah untuk meredam nyanyian seperti itu. Susah ngomong sama massa.

Saat pertandingan El Clasico terakhir itu masih tampak ada pesan-pesan kekerasan di sana, misalnya spanduk besar here you die
Saya sudah berusaha meredam yang begitu-begitu. Saya juga minta hentikan nyanyi rasis. Di dalam stadion kan ada beberapa kelompok pendukung. Gitu.

Bukan kita enggak mau hentikan itu. Susah. Harusnya federasi terlibat. Kalau ada lagu rasis ya denda saja dan tidak boleh ada penonton.

Bisa efektif itu, sok cobain. Pasti pada takut. Da nonton Persib mah kebutuhan. Orang lebih baik nonton Persib ketimbang kerja. Bener ini mah saking cinta. Dari dulu sampai sekarang begitu.

Aksi damai The Jakmania dan Viking sering dilakukan, tapi kekerasan tetap saja terjadi, apa kira-kira yang salah?
Maka itu, kita mah da sering ketemu. Kalau The Jakmania dan Viking yang resmi mungkin bisa ditipiskan kekerasan itu, ya karena kita sering ada kegiatan bareng.

Yang pelaku kemarin teh enggak punya kartu, enggak punya tiket, tapi mereka ya Bobotoh. Kasihan gitu. Mereka juga enggak berniat bunuh.

Psikologi massa susah dikendalikan ya jika dalam kondisi emosi?
Pasti. Susah kalau menyangkut orang banyak mah. Apalagi big match.

Dulu, biasa ya The Jakmania dan Viking nonton bersama ketika Persib-Persija bertanding?
Memang pernah saling undang untuk nonton. Misalnya pas delapan besar dulu, kami nonton bersama. Tapi bukan match Persib-Persija.

Misinya ketika itu memang perdamaian. Ya kita sama-sama belajar. Jakmania juga belajar organisasi sama Viking. Malah bikin kaos dan kartu anggotanya di Bandung.

Apa sih yang kira-kira bisa jadi alat pemersatu The Jakmania dan Viking?
Musik bisa, Timnas juga bisa. Tapi pengajian dan doa bersama bisa juga jadi jawaban. Semalam kita adakan pengajian untuk almarhum Haringga, dipimpin sama Ustaz Hanan Attaki di Masjid Pusdai.

Ini bagus untuk pesan perdamaian dari Viking untuk Jakmania. Nanti kita juga undang mereka untuk doa bersama.

Ada resistansi enggak dari Viking karena terus dipojokkan atas kematian Haringga?
Pasti ada. Tapi ya memang kejadiannya di Bandung, pasti Viking yang disorot. Kita mah enggak masalah. Sudah biasa.

Menurut Anda Viking dan The Jakmania bisa benar-benar damai?
Bisa atuh. Di Purwakarta, kedua grass root bisa bersatu. Tapi di media sosial itu kadang saling provokasi. Anak kecil kalau bicara ke orang tua juga enggak punya sopan di medsos. Begitulah. Polisi punya data akun-akun yang sering provokasi.

Ketua Umum Viking Persib Club, Heru Joko, saat ditemui di Jalan Belimbing Nomor 13, Bandung, Jawa Barat, Kamis (24/9/2108).
Ketua Umum Viking Persib Club, Heru Joko, saat ditemui di Jalan Belimbing Nomor 13, Bandung, Jawa Barat, Kamis (24/9/2108). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Sebenarnya kisah terungkapnya penyusup di pertandingan tandang itu sering terjadi ya, tapi kenapa tetap ada yang berani datang?
Bagi sebagian suporter menyusup itu adalah kepuasan. Mereka bisa kasih lihat dirinya ke teman-teman misalnya lewat Instagram. Merasa bangga, dan ya itu untuk kepentingan pribadi saja—karena berhasil lolos.

Apakah menjadi penyusup itu mendapat status tertentu di komunitasnya jika berhasil?
Langsung punya pangkat tersendiri sepertinya. Tapi ya enggak harus menyusup kan, dan harusnya bukan itu yang dikejar.

Kalau Viking terus setia menonton di luar pulau, misalnya ke Makasar, ke Papua atau ke luar kota seperti Malang dan Jakarta, mereka pun akan dianggap suporter militan, tanpa harus mencari-cari pengakuan.

Susah mengontrol penyusup?
Kalau kenal sih masih bisa dikontrol. Kalau enggak kenal ya susah, tahu-tahu jadi korban. Banyak yang begitu. Kan ada juga yang namanya simpatisan, ya susah untuk koordinasi.

Bagaimana efek kematian Haringga untuk Viking yang berada di Jalur Gaza (perbatasan)?
Kasihan juga. Tapi da mereka sudah biasa sih ya. Saya harap tidak terjadi apa-apa.

Kabarnya ada markas Viking di Jalur Gaza yang diserang oleh The Jakmania?
Belum tahu. Viking di sana da ya pasti hati-hati. Mereka siap-siap. Bukan siap-siap perang ya. Sudahi saja lah. Saya mah menyerah. Cukup, Viking enggak mau perang. Ngapain perang saudara mah. Yang penting kan sepak bola itu di lapangan, bukan di luar--malah begini.

Jika Persib terkena sanksi bermain tanpa dukungan penonton bagaimana?
Semoga jangan kelamaan atuh da. Sekarang lagi di atas Persibnya. Kita mau melihat Persib juara.

Maunya Viking?
Semoga hanya dua atau tiga kali sanksinya. Atau cukup jangan pakai atribut saja ke stadion.

Pendekatan sanksi kurang efektif mengurangi kekerasan?
Saya mah inginnya semua pihak sama-sama bergerak. Federasi, suporter, pihak keamanan, klub, semuanya harus berperan. Kampanye damai juga harus terus dilakukan. Nanti kami akan membuat monumen peringatan untuk Haringga di GBLA. Itu untuk mengenang jangan sampai terulang.

Parahnya ada pihak yang mengedit video penganiayaan Haringga dengan memberikan suara-suara takbir dan salawat ya…
Iya itu gila. Kita serahkan ke polisi. Kasihan almarhum.

Apa ada perbedaan antara kultur pendukung sekarang dengan yang dulu?
Dulu mah lebih jujur, eh tapi sekarang juga jujur sih. Tapi sekarang itu soal eksistensi. Kalau dulu ya buat kepuasan sendiri saja. Sekarang itu bisa dibagi ke medsos. Ya sudah zamannya ya.

Anda sudah 25 tahun jadi ketua Viking, tidak bosan ha-ha?
Ada rasa bosan dan capek sih. Dukanya sering jauh dari keluarga. Sukanya ya urus Viking itu informal, jadi santai. Ada yang menawari PNS, saya enggak mau. Sampingan saja bantu-bantu KONI. Saya mah senang da sama olahraga.

Herru Joko tentang sweeping dan mencegah rasisme Viking /Beritagar ID
BACA JUGA