Hillary Brigitta Lasut berpose depan kamera usai wawancara di hotel Shangri-La, Jakarta, Jumat sore (4/10/2019).
Hillary Brigitta Lasut berpose depan kamera usai wawancara di hotel Shangri-La, Jakarta, Jumat sore (4/10/2019). Wisnu Agung / Beritagar.id
BINCANG

Hillary Brigitta: DPR itu kayak 'taman kanak-kanak'

Ia tak suka disebut anak hasil dinasti politik, karena merasa menjadi anggota dewan dengan cara demokratis.

Berjalan bersama Hillary seperti bepergian dengan selebriti. Ia berhenti untuk permintaan selfie, melambaikan tangan pada stafnya yang bejibun dan salaman dengan memperlihatkan giginya yang rapi.

Sejumlah tamu di hotel Shangri-La Jakarta, tempat kami wawancara, tampak bingung melihat Hillary--yang tengah jadi sensasi. Sosoknya memang mencuri perhatian publik di acara pelantikan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI, Selasa lalu (1/10/2019).

Hilly, sapaan perempuan berusia 23 ini, didaulat menjadi yang termuda di antara 575 anggota parlemen lain. Ia pun langsung diminta memimpin sidang paripurna—mewakili unsur dewan yang termuda.

“Aku sih gak tegang, jadi diri sendiri aja,” kata Hilly, yang meraih 70.345 suara dari dapil Sulawesi Utara pada Pemilu 2019 ini.

Pertanyaan untuknya, apakah menjadi sensasi membuatnya besar kepala dan menyanyikan “Salah Apa Aku” ciptaan band ILIR 7 di kamar mandi? “Enggak,” katanya tertawa. Lulusan magister hukum di Washington University ini lebih doyan lagunya Billie Eilish dan Cardi B.

“Yang judulnya Bad Guy sama Bodak Yellow,” tuturnya.

Beberapa tahun yang lalu, Hilly hanya seorang supervisor di Lippo Mall Puri. Kini, ia tercatat sebagai anggota dewan yang cukup tajir. Dikutip dari Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Hilly memiliki harta sebanyak Rp9,131 miliar.

“Itu karena rumah papa dan mama, termasuk perusahaan mereka, atas nama aku,” ujarnya kepada Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung saat wawancara di hotel Shangri-La, Jakarta, Jumat sore (4/10/2019).

Sore itu, Hilly terlambat dua jam. Ia minta maaf dan mengakui bahwa bagian tersulit dari peran barunya saat ini adalah mengatur kegiatan. Hari itu saja ia menerima tujuh media untuk wawancara. “Pusing nih ha-ha,” ujarnya.

Selama 50 menit kami duduk semeja dekat jendela restoran hotel. Dibalut setelan blazer garis-garis dan legging hitam, ia bicara blak-blakan, mulai dari kekayaan orang tua hingga soal Papua. Berikut tanya jawabnya:

Hillary Brigitta Lasut berpose depan kamera usai wawancara di hotel Shangri-La, Jakarta, Jumat sore (4/10/2019).
Hillary Brigitta Lasut berpose depan kamera usai wawancara di hotel Shangri-La, Jakarta, Jumat sore (4/10/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Anda menikmati jadi sosok yang diperhatikan publik?
Gak juga ya. Ini karena masih heboh aja. Setelah sidang kemarin, masih ada permintaan wawancara. Entar juga calm down.

Saat ini belum ada pembagian komisi dan aku di kantor gak ngapa-ngapain juga.

Kabarnya Anda berharap ditempatkan di komisi hukum?
Aku sudah hampir pasti di komisi tiga. Kan sesuai background pendidikan. Jadi mereka (Fraksi Nasdem) meminta aku untuk ngoceh-ngoceh di komisi itu he-he.

Oke. Bagaimana rasanya ngoceh-ngoceh saat memimpin sidang paripurna kemarin, gugup?
He-he. Tegang sih enggak. Tapi benar aja tuh saat Gus Dur bilang kalau terkadang parlemen itu kayak taman kanak-kanak.

Wajar sih, mungkin mereka semangat mau tampil dan menyampaikan aspirasi juga kan.

Apakah atmosfer sidang paripurna wakil rakyat itu sesuai ekspektasi Anda?
Enggak. Aku pikir sidangnya akan teratur. Enggak ada yang marah-marah dan interupsi. Karena kan pimpinan MPR sudah 10 ya. Semua sudah diakomodir kepentingannya.

Ya, sebagai anak muda, aku kurang ngerti cara berpikir mereka. Dan aku gak berharap ngerti juga sih.

Masih merasa culture shock untuk beradaptasi?
Mungkin. Tapi ini gak bisa dibilang kultur juga. Banyak dewan yang bagus di sana. Tapi ada saja yang ngagetin.

Misalnya rapat membahas jadwal doang, tapi ada saja yang marah-marah. Sehingga di masyarakat terbentuk opini kalau DPR itu bicara dulu baru berpikir.

Padahal, kalau mau efektif, setelah memilih Ketua MPR, besoknya bisa langsung fokus ke pembagian komisi dan kerja untuk masyarakat.

Anda ingin menyampaikan kalau wakil rakyat ini tidak sensitif terhadap keadaan sekarang. Banyak demonstrasi di mana-mana…
Kalau demonstrasi mulai pakai kekerasan, aku curiga itu bukan murni dari masyarakat.

Mahasiswa itu idealis lho dan berpendidikan. Tidak mungkin pakai kekerasan. Pas aku keluar DPR saat demo itu, mobil aku diamuk massa. Hampir kacanya retak dan pintunya mau dibuka paksa. Keadaannya kacau.

Ini mobil Anda yang Datsun Go?
Bukan. Tapi mobil papa. Kan tergantung ganjil genap. Biar bisa tetap jalan. Mobilnya itu merek Alphard 2008. Harganya lebih murah dari Datsun Go.

Ya, sebagai nasrani, aku berdoa minta ampun atas dosa aku di dalam mobil itu.

Kenapa tidak turun dan temui saja para mahasiswa itu?
Nah aku gak yakin itu mahasiswa. Masa mahasiswa melempari emak-emak di gerbong kereta sampai hancur.

Anda menduga demonstrasi itu ditunggangi?
Bisa saja dan justru bukan membela kepentingan rakyat. Tega-teganya mereka membuat Indonesia terpecah dan membuat perang sesama warga Indonesia.

Kalau bukan kepentingan rakyat, kepentingan apa kira-kira yang mereka bawa dalam unjuk rasa itu?
Ada banyak hal kan. Contoh saja Papua. Pihak asing dicurigai ingin Indonesia pecah. Aku ini bicara tentang oknum-oknum yang enggak suka dan ingin menggagalkan pelantikan Presiden.

Soal isu UU KPK yang baru, kan sebenarnya bisa dengan jalan judicial review, yang menurut aku lebih bermartabat.

Desakan menerbitkan Perppu ini kan menguat lantaran kritik publik terhadap revisi UU KPK seperti diabaikan…
Pemerintah gak boleh terlalu cepat ambil tindakan. Harus dilihat siapa yang demonstrasi.

Masa sampai gerbong kereta yang gak ada hubungannya dengan DPR, tiba-tiba dihancurin. Aku yakin itu bukan murni mahasiswa.

Mahasiswa sudah klarifikasi soal ditunggangi itu dan meminta pemerintah lebih responsif terhadap tuntutannya. Stand position Anda?
Paling benar ya ke MK. Mahasiswa enggak boleh apatis terhadap lembaga negara dan harus memakai cara-cara yang terhormat.

Politisi-politisi itu enggak akan bisa hargai kita sebagai anak muda kalau cara yang kita pakai malah merugikan masyarakat.

Politisi seniornya, seperti Imam Nahrawi misalnya, kan malah tersandung kasus korupsi, apa yang mau dihargai?
Kan ada juga yang enggak. Kalau sudah skeptis dan gak percaya sama mereka dan lembaga negara, kacau nanti negara ini. Tinggal menunggu saja kita dijajah lagi.

Padahal saat ini Indonesia tuh enggak kompleks banget masalahnya seperti Hongkong—contohnya.

Fokus kita itu harusnya jaga persatuan NKRI. Para pahlawan sudah mengorbankan nyawanya untuk persatukan Indonesia. Kok sekarang malah dipecah.

Bagaimana bisa menuntut persatuan ketika banyak korban meninggal di Papua?
Meninggal karena apa dulu?

Amnesty International menyebut warga sipil di Papua meninggal akibat tindakan represif kepolisian dan militer…
Dugaan aku sih ada campur tangan luar negeri. Masyarakat harus jeli melihatnya.

Saat ini itu seperti ada kesempatan untuk separatis memprovokasi sehingga Indonesia menjadi pecah.

Hillary Brigitta Lasut berpose depan kamera usai wawancara di hotel Shangri-La, Jakarta, Jumat sore (4/10/2019).
Hillary Brigitta Lasut berpose depan kamera usai wawancara di hotel Shangri-La, Jakarta, Jumat sore (4/10/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Sebagai representasi generasi Z, bagaimana Anda melihat kesadaran politik mereka?
Aku melihat mereka itu melek politiknya kasuistik saja. Ketika ada kontroversi, mereka baru ikut terlibat.

Sedikit banget ada yang mau ikut terlibat dan mengawal aspirasi masyarakat--dari bawah.

Memangnya Anda sudah terlibat sejak lama ya di dunia politik?
Aku belum pernah hidup di luar dunia politik. Kan orang tua aku politisi.

Tapi begini. Ketika ada anak ikuti jejak bapaknya jadi dokter, maka semua bangga. Begitu juga ketika seorang anak yang mengikuti bapaknya jadi polisi. Semua juga bangga.

Nah, ketika aku maju dan ingin jadi politisi, eh dibilangnya politik dinasti. Itu enggak adil banget. He-he.

Bahkan Anda sempat disebut-sebut sebagai anak maling ya?
Itu dia. Ketika aku jadi anggota DPR, malah ada yang bilang politik dinasti lah, mau nyolong bareng-bareng lah.

Tapi itu risiko dunia politik. Prinsip aku, silakan kalian berkata apa, aku enggak punya energi meladeni netizen jahat.

Btw, nama Hillary Brigitta Lasut ini terinspirasi dari Hillary Clinton?
Iya. Serius itu. Papa dan mama menyukai sikap Hillary saat Bill Clinton sedang masa sukar. Ketika itu kan dia kedapatan selingkuh.

Dan, yang membuat masyarakat masih simpati kepada dia ya sosok Hillary ini, yang selalu mendukung suaminya.

Karier politik Anda terinspirasi orang tua?
Aku melihat mereka sebagai contoh. Dulu, papa jadi bupati termuda di usianya, mama juga begitu. Eh tiba-tiba aku sekarang jadi DPR termuda.

Saat mereka aktif, aku selalu ambil rapor sendiri di sekolah. Mereka gak bisa datang karena sibuk. Aku hidup sama pembantu, tapi aku tahu mereka menyayangi aku.

Kenapa enggak tinggal bersama mereka?
Kan keduanya memimpin di dua daerah berbeda. Satu di Talaud, satu di Minahasa Tenggara. Jauh banget, dan jaraknya berjam-jam.

Aku kan harus sekolah di Manado. Karena sekolah bagus ya adanya di sana.

Boleh tahu modal Anda sebagai calon legislator ketika kampanye?
Gue bisa bilang bahwa gue gak pakai modal. Semua sumbangan masyarakat. Mereka itu tahu papa dan mama lama jadi bupati dan amat aktif di bidang pendidikan.

Anak asuh papa dan mama saja ada 70 ribu anak. Jadi saat aku mencalonkan diri, banyak banget yang bantu.

Tapi kan bapak Anda sempat tersandung kasus korupsi di periode keduanya sebagai bupati. Bukannya itu mencoreng namanya?
Papa gak bersalah. Itu bentuk kriminalisasi. Papa waktu itu sedang calonkan diri jadi gubernur dan ditahan atas kasus korupsi.

Dia itu dijegal, seperti Ahok—yang ditahan saat menjadi cagub Jakarta.

Aset keluarga waktu itu banyak disita. Kita mulai kembali dari nol. Sebab itu mobil yang aku pakai ya Datsun Go.

Itu nyicil sendiri dan aku juga sempat kerja di Lippo Mall Puri menjadi supervisor. Untungnya aku dapat beasiswa di UPH (Universitas Pelita Harapan).

Kalau ekonomi terganggu, kok di LHKPN, Anda tercatat memiliki harta Rp9,131 miliar, dari mana harta itu?
Keluarga aku itu mengadopsi banyak anak dan mereka khawatir ke depannya jangan sampai ada permasalahan.

Akhirnya semua aset atas nama aku. Mulai dari rumah papa dan usaha mama. Semua atas nama aku.

Ya aku transparan saja. Bahkan, gelang, tas, sampai cincin dari mantan pacar aku masukin LHKPN.

Siapa mantan pacarnya?
Ha-ha. Ada deh.

Bagaimana strategi Anda bisa mengalahkan Benny Mamoto di dapil Sulut itu?
Sebenarnya gak menyangka. Aku juga kaget dan aneh. Tapi aku memang datangi daerah terpencil dan memakai media untuk sosialisasi kegiatan aku.

Aku punya tim berisi 15 orang dan semua digaji UMR Manado. Syukurnya menang.

Kalau di Jakarta, menyesuaikan gaji UMR Jakarta dong. Uang dari mana itu?
Kan nanti dikasih jatah TA atau tenaga ahli. Dan sebenarnya itu saya menduplikasi kesuksesan Alexandria Ocasio-Cortez, politisi Amerika.

Semua cara kampanye Cortez aku copy paste. Misalnya dalam bekerja. Dia itu terbuka perlihatkan agenda kerjanya ke masyarakat.

Sehingga bisa dikritik ketika agendanya itu tidak sesuai.

Terakhir. Bisa dijelaskan seberapa mahal outfit Anda?
Ha-ha. Malu. Aku kan bukan Atta Halilintar. Tapi oke, ini sneakers aku merek Cina. Harganya Rp400 ribu. Legging ini merek Cotton On. Harganya Rp180 ribu.

Blazer aku ini mereknya Pull&Bear. Harganya Rp500 ribu dan jam Hegner ini beli di pesawat Rp3 juta. Sudah. He-he.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR