Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) Ignatius Indro saat ditemui di Out The Box, Jatibening, Bekasi, Kamis sore (12/9/2019).
Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) Ignatius Indro saat ditemui di Out The Box, Jatibening, Bekasi, Kamis sore (12/9/2019). Wisnu Agung / Beritagar.id
BINCANG

Ignatius Indro: Simon McMnemy belum layak dan aneh

Ia ingin menghancurkan stereotip bahwa suporter fanatik itu fasis dan juga mendesak reformasi PSSI di segala lini.

Kamis malam (5/9/2019) adalah momen yang buruk bagi Indro. Sudah Timnas kalah, kerusuhan pun meletus di Gelora Bung Karno (GBK)—saat pertandingan kualifikasi piala dunia Vs. Malaysia berlangsung. “Gue gak habis pikir,” ujar Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) ini.

Konfrontasi antarpendukung bahkan tak terbatas di dalam stadion. Di luar, saat pendukung Malaysia hendak masuk atau keluar stadion, tensi panas juga terjadi. Buntutnya, seratusan suporter Malaysia terkurung di stadion usai pertandingan--karena situasi tak aman.

Pertandingan berikutnya, Indro dan ribuan pendukung lain tetap datang ke GBK. Tapi, atmosfer sudah berubah pascakalah dari Malaysia. Indro merasa pendukung Timnas begitu datar, bahkan apatis. Kebisingan baru terjadi ketika Thailand sudah unggul 3-0 atas Indonesia.

“Itu pun sorakan huu untuk pemain Indonesia. Ini puncak kekecewaan,” kata Indro saat ditemui Heru Triyono dan Wisnu Agung di Out The Box, Jatibening, Bekasi, Kamis sore (12/9/2019).

Kritik keras terhadap pendukung Timnas pun berdatangan. Ancaman denda atau larangan suporter datang ke stadion nyata mengancam. Isu ini diikuti pertengkaran publik soal buruknya permainan Timnas di bawah asuhan Simon McMenemy. “Strategi Simon itu aneh,” ujar pria berusia 40 ini.

Sore itu, kami duduk bersebelahan menghadap matahari yang lagi kemerah-merahan. Ditemani kopi hitam, Indro mengemukakan pendapatnya soal Timnas dan suporter yang masih identik dengan kekerasan. Inilah yang dia katakan:

Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) Ignatius Indro saat ditemui di Out The Box, Jatibening, Bekasi, Kamis sore (12/9/2019).
Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) Ignatius Indro saat ditemui di Out The Box, Jatibening, Bekasi, Kamis sore (12/9/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Bagaimana sudut pandang suporter melihat dua pertandingan Timnas di kualifikasi piala dunia ini?
Kacau banget. Simon ini belum layak melatih Timnas. Agak aneh pilihan-pilihan pemainnya. Misalnya, kenapa Riko Simanjuntak tidak dipanggil. Padahal dia punya daya jelajah yang baik.

Tapi tiap pelatih punya strategi untuk disesuaikan dengan pemainnya. Siapapun tidak bisa intervensi…
Betul. Para suporter tahu itu. Tapi suporter juga heran dengan yang terjadi di lapangan. Misalnya pergantian pemain.

Beto, yang sudah berumur 38 tidak diganti ketika sudah letih. Saat korner, semua pemain bertahan, tidak ada strategi serangan balik.

Harusnya bisa seperti Liverpool yang menaruh Mohamed Salah di depan, digantung.

Rasanya serangan balik Indonesia juga tidak ampuh. Apalagi pada dua pertandingan itu hanya mengandalkan bola panjang. Ya kan?
Andik sebenarnya punya kecepatan dan kemampuan untuk mengacak-acak pertahanan lawan.

Itu harusnya dimanfaatkan Simon. Cuma kan enggak. Apakah kualitas Simon cuma segitu atau dia belum kenal karakter pemain Indonesia.

Waktu di bawah Luis Milla penguasaan bola masih baik. Sentuhan pendek dan permainan sayap jadi andalan. Kenapa sekarang mandek?
Kayaknya warisan Luis Milla ini hilang. Dalam hal ini, suporter melihat PSSI lah yang salah. Milla pelatih yang bagus dan kita miss management sehingga gak bisa bayar Milla.

Padahal bisa saja minta bayarin sponsor kalau PSSI punya trust.

Duit dari mana. PSSI itu harus bayar Rp2 miliar tiap bulan untuk Milla dan asistennya…
Kita banyak kok sponsor-sponsor. Shopee saja bisa bayar C. Ronaldo. Ya kan? Hanya saja perusahaan-perusahaan itu sudah kehilangan trust terhadap PSSI.

Apalagi ada kasus match fixing dan 17 pengurus PSSI jadi tersangka.

Menurut Anda, kenapa ekspektasi terhadap Simon McMnemy begitu tinggi dari para suporter?
Tentu tinggi. Soalnya banyak pemain yang di U-23 mainnya bagus. Kok di tingkat senior jadi berantakan.

Sebut saja Evan Dimas dan Saddil Ramdani. Pemain naturalisasi sebenarnya juga bagus. Kenapa mengecewakan ya di bawah Simon.

Simon menegaskan bahwa dirinya masih layak menangani Timnas. Dia tutup kuping terhadap kritik?
Bisa jadi iya kalau lihat statement-nya itu. Dia anggap dirinya layak. Ya artinya mau mempertahankan diri saja. Tutup kuping dengan kritik.

Jadi, apa yang dituntut oleh suporter Timnas Indonesia atas keadaan ini?
Pertama adalah revolusi PSSI. Mau gak mau. Orang-orang lama sudah cukup lah. Ganti semua orang yang pernah terlibat masa lalu.

Ganti dengan orang baru yang punya integritas. Bikin kompetisi tingkatan umur seperti yang dilakukan Kompas, Suratin atau Liga Santri.

Kemudian buat payung hukum untuk suporter agar tidak ada lagi kejadian saat melawan Malaysia kemarin.

Suporter belum menjadi perhatian bagi pemerintah?
Kita itu di undang-undang olahraga hanya disebut penonton. Ya, cuma sebatas penonton. Tapi edukasinya, bagaimana?

Edukasi untuk suporter itu isu lama dan hasilnya kan gak ada meski dibuat kongres beberapa kali?
Tapi tetap perlu edukasi itu. Minimal ada satu hal yang tertanam di kepala suporter. Yaitu ada hal yang lebih besar dibanding rivalitas sepak bola, dan itu adalah masalah kemanusiaan.

Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) Ignatius Indro saat ditemui di Out The Box, Jatibening, Bekasi, Kamis sore (12/9/2019).
Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) Ignatius Indro saat ditemui di Out The Box, Jatibening, Bekasi, Kamis sore (12/9/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Cukup sulit membangun kultur sepak bola yang bebas dari kekerasan. Di Italia dan Inggris pun masih terjadi juga kekerasan antarsuporter…
Lo lihat film Green Streets Holligans, di mana fan West Ham nurunin celana di depan fan Millwall? Ya itu gak masalah.

Tapi kalau yel-yel atau chant dibalas dengan kekerasan, baru jadi masalah, karena pada akhirnya akan timbul korban.

Tergantung pendekatannya. Sulit kalau diksinya adalah edukasi. Di luar sana, ultras itu ada yang ideologinya memuja fasisme. Ini kan realita, bagaimana?
Sebenarnya ultras dan hooliganisme itu gak melulu kekerasan kok. Bisa saja lo lebih kreatif dalam hal koreografi atau chant.

Isinya kasar gak masaah, asal jangan mengedepankan kekerasan. Itu saja.

Rivalitas kita dengan Ultras Malaya kan sudah mengakar. Berawal dari isu politik kedua negara pada tahun 1950-an…
Sebenarnya kalau melihat sejarah, banyak yang gak masuk akal juga soal rivalitas. Contoh saja dalam negeri.

Misalnya suporter Persib dan Persija. Sejak kapan rivalitas itu?

Sejarahnya itu pada era 60-an kedua klub ini malah sering tukeran pemain. Biasa saja. Apa yang dipermasalahkan sekarang?

Mungkin bukan pada tataran klub, tapi suporternya. Banyak korban berjatuhan dari rivalitas kedua suporter itu. Sehingga dendam terus terpelihara?
Rivalitas ini kan ada sejak kuis Siapa Berani dulu. Berantem gara-gara itu. Ini kan belum lama kejadiannya dan bisa diusut. Lakukan saja investigasi.

Menurut Anda, kenapa investigasi tidak dilakukan?
Saya sih curiganya untuk menanamkan fanatisme. Banyak pihak yang mengambil keuntungan di sana. Penjualan tiket atau merchandise misalnya.

Tapi kan fanatisme terhadap sepak bola seperti keniscayaan. Kalau tidak ya garing…
Fanatisme oke. Tapi jangan berlebihan dan tetap mengutamakan kemanusiaan. Apapun namanya, kalau sudah kekerasan, menurut saya ya salah.

Oke. Bagaimana idealnya suporter fanatik yang seharusnya jika chant-nya harus sopan dan tidak boleh mengeluarkan chant hinaan?
Menurut saya chant keras itu oke, asal jangan pukul saja.

Selama ini mungkin pendekatan PSSI atau pemerintah terhadap suporter terlalu formal sehingga tidak menyentuh akar rumput?
Mungkin juga. Sebab itu harus ada payung hukum untuk suporter. Jadi klub gak bisa diam saja sama suporternya.

Jangan ada korban, baru minta maaf dan yang disalahkan suporter lagi.

Target maksimal kita adalah suporter punya saham di klub, sehingga suporter akan merasa rugi sendiri kalau klubnya terpuruk.

Apalagi kalau mereka kena hukuman. Otomatis nilai sahamnya turun kan.

“Target maksimal kita adalah suporter punya saham di klub, sehingga suporter akan merasa rugi sendiri kalau klubnya terpuruk”.

Ignatius Indro

Konfrontasi dengan Ultras Malaya di GBK jadi tonggak awal momentum perbaikan suporter?
Sudah seharusnya. Kita akan dorong reformasi PSSI dan payung hukum suporter. PSTI juga beberapa kali mengunjungi suporter yang sedang berkonflik.

Kebanyakan jawabannya adalah mereka hanya ikut-ikut teman. Gak ada yang ideologis.

Memangnya kalau ideologi dari PSTI itu apa?
Kita itu kemanusiaan. Ini lebih besar dari rivalitas sepak bola itu sendiri.

Kalau lambang-lambangnya saja sudah kekerasan, bukan lambang budaya, memang susah. Tapi harus dimulai.

Menyamakan persepsi yang susah ya?
Hal itu jadi tugas seluruh stakeholder sepak bola untuk menerangkan segala sesuatunya. Termasuk PSSI.

Apa PSSI dipercaya suporter? Urus pemain saja dipertanyakan, apalagi suporter…
Nah itu dia. Harusnya perubahan ya dimulai dari PSSI. Cek saja pemain asing di Indonesia itu punya izin kerja apa enggak.

Saya yakin kurang dari 10 persen yang punya izin. Selebihnya visa turis.

Kalau unsur PSTI itu berasal dari mana saja?
Kita terbuka. Sebagian besar itu teman-teman Ansor sejak berdiri 2012. Unsur lain adalah Pemuda Pancasila. Tapi itu atas nama individu, bukan organisasi.

Menurut Anda, Presiden Jokowi serius gak sih sama sepak bola?
Saya kira serius. Cuma takut diangap intervensi saja sama FIFA. Mungkin dia menunggu dibentuknya badan untuk percepatan dan perbaikan sepak bola dulu.

Beliau kan akan buat badan itu, yang melibatkan delapan kementerian.

Anda setuju jika Mochamad Iriawan alias Iwan Bule jadi Ketua Umum PSSI?
Kita gak mau terjebak sama figur. Kita soroti kemampuannya saja. Memenuhi syarat atau enggak.

**-**

Menanggapi desakan mundur, Simon McMenemy menegaskan bahwa dirinya masih layak untuk menangani Timnas. Pelatih asal Skotlandia itu merasa percaya diri dengan kemampuan yang dimilikinya meski beberapa kali hasilnya tidak sesuai harapan.

Asisten pelatih Simon, Yeyen Tumena, tidak merespons ketika dikonfirmasi soal desakan mundur terhadap Simon dan peluang Timnas di kualifikasi piala dunia kali ini. Pesan Whatsapp dan sambungan telepon dari Beritagar.id tidak dijawab mantan pemain Timnas itu.

**-**

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR