Indra Sjafri saat ditemui di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Senin malam (4/3/2019).
Indra Sjafri saat ditemui di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Senin malam (4/3/2019). Bismo Agung / Beritagar.id
BINCANG

Indra Sjafri: Jangan coba-coba sok bintang depan saya

Ia merefleksikan malam terbaiknya di Kamboja dan mengecam orang yang memandang Timnas U-22 secara politis.

Ia ingat betul, itu seperti malam yang sama dengan enam tahun lalu. Para pemain mengelilingi bendera merah putih, bermunajat dan yakin kalahkan musuh. “Suasananya mirip final AFF U-19 2013. Kami percaya diri untuk menang, ” tutur Indra.

Instruksinya di ruang ganti kala itu cukup jelas: menyerang dan berjuang. Alhasil, Indonesia main berapi-api dan trengginas. Timnas muda pun keluar sebagai juara Piala AFF U-22. Sama kayak tahun 2013. Tapi di level usia 19.

Meski sudah dua kali angkat trofi, Indra enggan dilanda gembira berlebihan. Apalagi, pasukannya segera menghadapi kualifikasi Piala Asia. Indonesia akan bersaing dengan tuan rumah Vietnam, Brunei Darussalam dan Thailand di Grup K--akhir Maret nanti.

“Tak ada waktu euforia. Kami ini sudah mulai latihan,” kata pria berusia 56 ini kepada tim Beritagar.id saat wawancara, Senin (4/3/2019).

Malam itu ia mencengkeram tangan kami dan menawarkan tempat duduk di salah satu restoran di Hotel Sultan, Jakarta. Kulitnya terlihat cokelat, seperti habis berjemur. Indra memang baru saja beres memimpin latihan.

Tampak juga di sana, masih dengan rambut basah, Hanif Sjahbandi. Ia hendak meninggalkan restoran usai makan malam. Disusul Witan Sulaeman dan pemain lain. Mereka menganggukkan kepala serta menekuk badan ketika memandang Indra.

Indra pun kemudian menembak kami dengan serentet pertanyaan. Padahal kami baru saja duduk. “Ini berapa lama? Tidak panjang kan? Saya mau rapat,” tanya Indra, yang tampil dengan gaya reseleting jaket dibuka.

Nada bicara Indra begitu tegas. Kadang mengangkat-angkat tangan seperti orator, tapi berakhir dengan senyuman ketika sesi foto.

Selama satu jam ia meladeni pertanyaan kami tentang ambisinya melatih Timnas senior, pesan khusus Presiden Joko Widodo dan potensi Marinus Wanewar. Berikut perbincangannya:

Indra Sjafri saat ditemui di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Senin malam (4/3/2019).
Indra Sjafri saat ditemui di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Senin malam (4/3/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Selamat sebelumnya. Diundang ke Istana dan dapat bonus. Apakah Presiden beri pesan khusus?
Intinya, Presiden peduli dengan pelatih lokal. Beliau minta pelatih lokal itu banyak belajar dan cari konsultan.

Menurut Presiden, mereka bisa eksis jika dikasih kesempatan. Benar itu.

Lihat saja. Di Piala AFF, semua peserta pakai pelatih asing. Hanya kita yang lokal dan juara. Tapi masih saja ada orang yang bilang juara ini karena kebetulan.

Anda merasa juara Piala AFF ini pembuktian sekaligus membungkam kritikan seperti itu?
Orang yang paham proses tidak akan bilang begitu (kebetulan). Saya ini melatih dari Timnas U-12, U-16, U-17, U-18, U-19 lalu U-22.

Saya enggak butuh popularitas. Bahkan jika ditawari menangani Timnas senior, saya enggak akan ambil.

Memangnya ada tawaran dari PSSI untuk melatih Timnas senior?
Oh ada. Tapi saya ndak ambil. Saya harus bekerja sesuai kesanggupan. Era Evan Dimas dan Egy Maulana ini naik pelan-pelan ke jenjang senior.

Ketika mereka ada di sana, saya tahu persis siapa yang saya latih dan itu berhubungan dengan kesanggupan saya tadi.

Artinya Anda mau dan ada ambisi…
Ndak sekarang. Saya ndak mau kalau tanpa proses. Saya ndak mau aji mumpung. Tiga hari booming di koran, tiga hari setelahnya hancur.

Saya ingin berjenjang. Dari ketua RT, ketua RW, kemudian kepala desa, bupati dan seterusnya.

Tapi kan dalam prosesnya Anda dua kali dipecat PSSI, bagaimana?
Saya pikir itu dinamika. Saya ndak tahu parameter dipecat itu apa. Tanya saja ke PSSI. Enggak baik kalau dari saya.

Saya hanya minta, ada parameter jelas kenapa pelatih itu dipecat. Jadi jangan berdasarkan perasaan gitu.

Posisi pelatih Timnas sangat rawan terhadap pemecatan ya?
Seharusnya tidak, kalau federasi punya parameter. Misalnya, pelatih dikasih target dan ndak tercapai, ngapain dipertahankan, ya kan?

Pecat saja. Target itu jadi parameter. Tapi kalau enggak ada parameter, akan jadi polemik.

Bagaimana mau bicara parameter jika PSSI-nya dilanda kasus pengaturan skor?
Itu lain permasalahan.

Maksudnya PSSI sedang tidak sehat dalam menjalankan roda organisasinya saat ini…
Pasti ndak (sehat). Pasti terganggu. Tapi jangan berpikir kalau ganti ketua umum kita akan jadi juara dunia.

Enggak ada hubungannya antara prestasi dan ketua umum. Yang ada hubungannya adalah prestasi dan program pembinaan.

Prestasi ini ya efek dari pekerjaan PSSI. Bohong jika bilang bukan. Proses pembinaan dan kompetisi memang sudah mulai bagus.

Anda merasa lebih mudah untuk mencari pemain muda sekarang ini?
Oh iya. Dulu, pada 2013, belum ada kompetisi yang memberi kesempatan mereka main di liga. Sekarang kan lebih baik.

Scouting kami, cuma tinggal lihat kompetisi saja. Banyak yang bagus. Dari segi skil, fisik, kemampuan taktikal dan mental.

Titik lemah terbesar pemain kita itu mental disiplin ya?
Mental disiplin itu bukan harus tidur jam 9 dan ndak boleh main HP. Bicara mental itu lebih kepada pemain harus malu kalau kalah.

Harus ingin jadi yang terbaik dan mau berubah. Kalau jam tidur dan main HP mah kecil banget. Enggak usah diatur.

"Saya minta ke pemain untuk jangan lihat medsos ketika menang. Tetapi saat kalah. Karena kita akan dapat banyak pelajaran dari sana."

Indra Sjafri

Para pemain Anda justru diberi kebebasan untuk menggunakan handphone?
Bukan kebebasan, tapi komitmen. Disiplin itu muncul dari kesadaran. Mereka sudah besar. Tahu kapan main HP dan ndak.

Dan jangan coba-coba sok bintang depan saya. Tim adalah 23 untuk satu dan satu untuk 23.

Apakah pemain muda kita sulit mengendalikan emosi? Yang dalam sorotan itu Marinus Wanewar misalnya?
Ndak ada yang sulit. Itu orang saja bilang dia bermasalah. Nyatanya tidak. Bertemu Presiden saja dia tidak memikirkan pribadi.

Marinus malah bilang bonusnya untuk bikin rumah ibadah. Dia baik dan ada potensi jadi striker hebat. Kalau sisi emosional, semua orang punya sisi itu kan.

Dari awal tampaknya Anda sudah yakin dengan materi pemain di Piala AFF kemarin ya?
Karena banyak pemain yang pernah bekerja dengan saya. Mereka ini berdedikasi dan berkualitas.

Dalam seleksi, banyak juga pemain bagus yang ndak saya pilih. Karena masing-masing pelatih punya style dalam bangun tim.

Anda berani beri kepercayaan kepada pemain belia. Seperti Witan Sulaeman yang baru 17 tahun…
Asal bagus, siapa pun dia, saya mainkan. Witan itu beda lima tahun dari batas usia kompetisi. Jauh umurnya. Tapi dia bisa tunjukkan potensinya dan merepotkan pertahanan lawan.

Di final lawan Thailand, yang merupakan Macan Asia Tenggara, Anda menerapkan strategi khusus?
Kami tidak pernah anggap lawan itu macan. Kami enggak memikirkan lawan berlebihan. Lebih bagus lawan memikirkan kita.

Bagaimana caranya? Bangun tim yang bagus. Kalau kita mikirin lawan terus, kapan mikirin tim kita.

Rotasi pemain adalah bagian strategi Anda?
Tergantung siapa lawan. Ada yang kaget dengan rotasi ini. Pemain ini, kemarin main, sekarang kok enggak.

Makanya jangan terpengaruh pengamat. Kadang mereka tidak tahu soal tim, tapi bicara seperti mimpi. Pintar dia daripada kita. Lihat saja di media sosial.

Tapi saya tidak antikritik. Malah, saya minta ke pemain untuk jangan lihat medsos ketika menang. Tetapi saat kalah. Karena kita akan dapat banyak pelajaran dari sana.

Di bawah Anda, tak ada aturan tertulis untuk pemain saat menggunakan media sosial?
Saya ndak pernah mengatur itu. Yang saya atur adalah menetapkan regulasi handphone. Saya ingin disiplin dari hati. Bukan mengawasi seperti orang di penjara.

Sebenarnya bagaimana memompa mental pemain agar maksimal dalam pertandingan?
Pertama. Jangan merasa bintang. Saya butuh tim, bukan individu. Kedua, beda antara bermain di klub dan Timnas. Di klub itu profesional.

Yang banyak main, bonusnya lebih besar. Ini bela negara. Mau dikasih penghargaan atau dimaki, terserah. Ini soal kebanggaan dan harga diri.

Saya pernah 17 bulan enggak gajian, tapi saya tetap jalan. Di Timnas, jangan diukur dengan uang.

Menurut Anda, apa evaluasi yang harus dilakukan usai Piala AFF ini?
Kalau mau evaluasi, kita harus evaluasi sepak bola Indonesia. Bahwa sepak bola butuh skil iya. Tapi untuk bisa juara ndak bisa simsalabim.

Kita ini juara karena proses. Beberapa pemain kenal sama saya di U-19 lalu. Sehingga bisa menyesuaikan filosofi saya: menyerang dengan passing game.

Filosofi itu sesuai dengan kurikulum pembinaan sepak bola Indonesia dari PSSI?
Harusnya. Maka itu filosofi itu harus nyambung dari junior sampai senior.

Kalau filosofinya menyerang dengan 4-3-3, ya itu harus ada materi khusus 4-3-3 di kurikulum.

Di kampung-kampung itu, pemain sayap kita bagus-bagus. Enggak usah sok-sok Eropa.

Kalau enggak ada pemain sayap? Indonesia bisa main satu striker saja?
Formasi itu yang menentukan pemain. Kalau pemain sayap banyak, ngapain pemain depan sampai dua.

Kalau saya punya satu striker pembunuh ya saya main 4-5-1. Tergantung komposisi pemain.

Anda tidak fanatik terhadap formasi tertentu?
Ndak lah. Jangan dipaksakan. Sayang pemain seperti Andik kalau tidak dimainkan. Goblok banget.

Indra Sjafri saat ditemui di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Senin malam (4/3/2019).
Indra Sjafri saat ditemui di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Senin malam (4/3/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Oke. Bagaimana Anda melihat perkembangan angkatan Evan Dimas Cs.?
Saya agak kecewa. Beberapa pemain hilang. Tapi 70 persennya eksis. Mereka ini dibongkar, tapi ujung-ujungnya masuk lagi Timnas. Kan buang-buang waktu.

Mereka ini pemain bagus. Tapi sekali lagi. Pemain itu jangan sok bintang. Buat saya, pemain dengan sikap begitu, ya game over. Hilang dua, datang delapan.

Bagus tapi jarang dapat kepercayaan pelatih klub untuk bermain, ya percuma…
Ini soal keberanian pelatih. Kalau dikasih kesempatan, anak muda itu potensial. Kalau jarang main, mereka akan terus terdegradasi.

Ditambah lagi banyaknya kehadiran pemain asing. Bagaimana Timnas mau hebat. Itu pelatihnya saja ndak mau pusing.

Anda setuju pemain naturalisasi bisa mendongkrak kekuatan Timnas?
Ndak setuju. Tanya Menpora. Dari dulu saya enggak setuju. Tegas. Saya ingin buktikan anak-anak Indonesia mampu bersaing.

Kan pemain yang Anda panggil, yaitu Ezra Walian adalah pemain naturalisasi?
Ezra itu statusnya sudah warga negara Indonesia. Yang saya maksud itu, selagi saya pegang Timnas, saya tidak akan melakukan naturalisasi. Tidak akan.

Jadi, berapa lama lagi Anda siap untuk melatih Timnas senior?
Namanya proses kan ndak ada ukuran.

Ini adalah tahun politik. Bagaimana Anda menjaga Timnas biar enggak terpapar intrik-intrik politik yang sedang hangat?
Ndak usah lah kaitkan politik dengan bola. Pak Jokowi saja tidak bicara politik saat bertemu.

Tapi ada cerita. Ada yang melarang saya ke Istana. Saya bingung. Masa Presiden ngundang, saya enggak datang.

Ndak dapat duit Rp200 juta kan bodoh banget.

Tapi bagaimana Anda memandang mantan pelatih Timnas Nilmaizar maju di pemilihan calon legislatif 2019?
Perlu ada pelaku bola masuk ke sana. Saya dukung dia. Biar bola jadi perhatian.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR