Aktris Sha Ine Febriyanti berpose untuk Beritagar.id di kawasan Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat siang (23/8/2019).
Aktris Sha Ine Febriyanti berpose untuk Beritagar.id di kawasan Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat siang (23/8/2019). Wisnu Agung / Beritagar.id
BINCANG

Ine Febriyanti: Kita dianggap anjing, lebih hina dari monyet

Ia mengambil peran yang ditunggu-tunggu seumur hidupnya: Nyai Ontosoroh. Sosok fiksi buatan Pramoedya yang menyentuh hati dan bikin berpikir.

Ine duduk di sudut kedai kopi yang sibuk di Bandara Halim. Kaus tipis, celana Aladdin lebar, ia tampak cuek seraya mendorong rambutnya menjauh dari wajahnya sesekali.

“Gue ngerokok dulu ya,” ujarnya sebelum wawancara. Ine lantas membakar rokok buatan Jombang. “Enak nih rokok ST (Sehat Tentrem),” ujarnya terkekeh.

Tak ada perubahan nyata di ruangan rokok itu dengan kehadiran Ine. Tak ada juga yang menjulurkan kepala mereka untuk swafoto atau memang Ine menolak untuk perhatian semacam itu.

Padahal, di tiap penjuru kota, film Bumi Manusia sedang menarik perhatian. Ia pun panen pujian karena memerankan sosok sentral di film itu: Nyai Ontosoroh. Potret perempuan pribumi yang tangguh sekaligus rapuh.

“Gue kan bukan artis terkenal. Main teater doang ha-ha,” katanya berkelakar dengan Heru Triyono, fotografer Wisnu Agung dan Nadya Elliana di sebuah kedai kopi Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat siang (23/8/2019).

Itu meringkas siapa sebenarnya Ine: rendah hati dan suka mencela diri. Tapi, ia memberikan penampilan yang sempurna sebagai orang yang diwawancarai. Hangat dan dipersenjatai pengetahuan akting yang mendalam.

Selama satu jam, Ine menjawab banyak pertanyaan. Dari mulai keputusannya mengambil peran Nyai sampai pembahasan mengepel rumah dan masak tom yum untuk anak-anak dan suaminya.

Siang itu, ia baru kembali dari Lombok atas undangan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)—sebagai pembicara. Selesai kemudian, Ine tertawa-tawa sambil menyibak rambut dan berpose di depan kamera. “Sudah lama gue gak difoto serius,” ujar perempuan 43 tahun ini.

Berikut perbincangannya:

Aktris Sha Ine Febriyanti berpose untuk Beritagar.id di kawasan Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat siang (23/8/2019).
Aktris Sha Ine Febriyanti berpose untuk Beritagar.id di kawasan Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat siang (23/8/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Sebagai Pramis, apakah imajinasi lo tentang sosok Nyai Ontosoroh di film Bumi Manusia sesuai?
Gue merasa yang sesuai jadi Nyai itu Djenar Maesa Ayu. Atau Adinia Wirasti yang sosoknya Jawa banget. Keduanya cocok.

Aku gak bilang kalau aku gak mau peran ini. Tapi kalau ditanya ideal, itu jawaban gue.

Oke. Bagaimana tentang imajinasi lo tadi, sosok Nyai kan anomali yang susah diinterpretasikan?
Imajinasi pembaca, imajinasi penonton, bahkan imajinasi lo tentang Nyai pasti beda-beda.

Film ini gak akan bisa menyenangkan semua orang. Aku tahu, pasti ada yang kecewa, ada juga yang senang.

Puas dengan akting lo sebagai Nyai Ontosoroh?
Kurang puas. Gue selalu begitu. Biar gak stagnan dalam berakting.

Terkait Adinia yang Jawa banget tadi. Apakah maksudnya lo kesulitan memerankan Nyai karena lo Indo?
Sebenarnya aku berkali-kali ikut audisi untuk karakter Nyai ini dan gak dapat. Karena dianggap terlalu Indo.

Nyai ini karakter idaman gue sejak umur 19. Sudah lama ada di benak gue untuk memerankannya.

Saat dapat, gue senang banget. Apalagi gue merasa dekat dengan naskahnya. Tapi gue merasa perlu menyelami perasaan Nyai dan banyak baca buku lagi.

Di antaranya buku Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda.

Apakah pengertian Nyai di buku yang lo baca itu dengan Nyai versi Pram itu ada benang merahnya?
Gue mendapati bahwa ada perspektif yang gak diketahui orang.

Nyai itu, memang kelihatan tegar, tapi sebenarnya sangat takut sebagai pribumi. Karena pribumi saat itu, apa lagi perempuan, diinjak banget.

Kita ini dianggap anjing bahkan, lebih hina dari monyet.

Karena itu ada scene Minke tidak boleh masuk sebuah kafe karena dia disamakan dengan anjing. Penyebutan monyet saja masih bagus.

Jadi, Nyai pada masa kolonial itu semacam selir ya dan lo menyebutnya lonte di beberapa media…
Ya gundik. Kebetulan saja Nyai dapat majikan baik. Dia diajari sampai terdidik. Sebenarnya di masa itu enggak ada perempuan kayak Ontosoroh.

Memang sosoknya fiksi. Gokil memang Pram itu. Dia bikin karya yang begitu pahit.

Lo sudah habis membaca tetralogi Pulau Buru Pram?
Sampai Rumah Kaca sih. Belum selesai. Yang pasti, gue seneng dengan bahasa Pram. Bahasa tua gitu. Enak dibaca.

Ada perdebatan antara lo dan Hanung soal sosok Nyai Ontosoroh?
Beberapa hal ada. Mas Hanung kan senangnya Nyai yang eksplosif. Sementara menurut gue, Nyai itu diam saja orang sudah jiper. Enggak perlu teriak.

Kita selalu diskusi. Sebelum take, gue pasti cari Hanung dulu. Minta stimulus.

Hanung itu jeli banget. Detail. Gak bisa bohong. Fisik gue kan Indo. Jadi gue berusaha keras memunculkan perempuan Jawa. Itu PR banget.

Hanung bilang apa soal lo yang blasteran ini?
Dia gak masalah. Malah gue yang tanya ke dia. “Lo yakin, gue kan Indo. Sementara filmnya itu pergolakan Belanda Indo dan pribumi. Lo pikirin lagi coba”.

Gue bilang begitu ke Hanung. Padahal gue pengen banget peran itu he-he.

Sebenarnya lo kerepotan gak memerankan Nyai, bussiness woman yang tangguh, tapi juga pasrah akan ketidakadilan yang menimpanya…
Sosoknya memang rumit. Mistis. Kuat tapi rapuh, bijaksana tapi dendam. Susah memunculkan perasaan itu pada saat bersamaan. Tapi gue berupaya.

Ada bahan gak dari pengalaman hidup lo yang mirip dengan nasib Nyai?
Bahan bakar pasti ada. Gue pernah kehilangan dan terhina. Tapi ini bagaimana lo mempresentasikan pengalaman pahit lo ke tubuhnya Nyai.

Gue gak mau banyak omong di lokasi. Gue mau fokus. Di lokasi syuting, gue juga dilayani layaknya Nyai. Hampir tiap pagi, gue afirmasi diri, bahwa gue ini Nyai.

Kenyataannya, banyak yang memuji akting lo karena memberi nyawa pada film ini…
Terima kasih untuk itu. Gue juga sampai puasa agar jernih pikiran gue dan lebih pinter sedikit untuk memerankan Nyai ha-ha.

Aktris Sha Ine Febriyanti berpose untuk Beritagar.id di kawasan Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat siang (23/8/2019).
Aktris Sha Ine Febriyanti berpose untuk Beritagar.id di kawasan Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat siang (23/8/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Apa impresi pertama lo saat mengenal Nyai Ontosoroh pada usia 19?
Gue merinding. Karena bahasanya Pram tua, aku bolak-balik tuh halamannya agar mengerti. Namanya masih 19 tahun.

Ketika itu langsung berharap. Kalau ada kesempatan, mau banget memerankan sosok Nyai.

Kapan kesempatan itu datang?
Gak lama setelah baca pertama kali itu. Gue ikut casting Nyai di Petamburan, tempatnya Bengkel Teater Rendra (BTR). Enggak dapat sih. Ya gue baru kuliah itu. Lagi gelisah-gelisahnya.

Pas lo usia 19 artinya masih zaman Orde Baru ya. Masa itu buku-bukunya Pram kan sulit didapat…
Gue lupa buku itu dikasih siapa, tapi gue terima kasih sama yang kasih. Buku itu masih hardcover dan belum ada gambarnya seperti sekarang.

Memang minat untuk membaca karya sastra ketika itu?
Gue itu termasuk orang yang harus memaksakan diri untuk baca. Teman-teman gue bilang, agar gue enggak beloon ha-ha.

Saat itu, memahami Bumi Manusia ya sebatas roman percintaannya saja. Setelah dibaca detail, ternyata Pram ini gila banget.

Gue jadi melihat bentuk penjajahan itu bukan cuma dor dor saja. Di sana ada budaya feodal yang kental. Dan yang lebih prinsip: hak kita dirampas.

Apakah lo pernah dihadapkan pada feodalisme yang sesungguhnya?
Gue sih merasa sudah lewat masa itu. Peristiwa perempuan dijual bapaknya kan amat jarang terjadi saat ini.

Feodalisme kan gak harus perempuan dijual. Misalnya dinasti politik atau istilah priyayi yang masih ada hingga kini…
Ya lihat saja di birokrasi. Orang merasa harus menghargai orang yang punya pangkat kan. Itu problem yang disampaikan Pram dulu.

Makanya Minke keluar dari rumahnya dan mendobrak kultur Jawa yang kaku.

Prasangka rasial ini kan direpresentasikan Pram lewat sosok Minke (monyet). Scene dalam film itu mirip gak sih dengan ujaran rasialisme di Surabaya?
Pas banget memang momennya. Secara implisit kita kok masih ya memandang warna kulit.

Walaupun pikiran kita enggak, tapi kesadaran kita di dalam, jangan-jangan masih memandang hal itu. Diskriminasi rasial sudah seharusnya sih dihentikan.

“Bukan guenya yang main bagus, tapi Nyai Ontosorohnya yang keren.”

Sha Ine Febriyanti

Ada pendapat, Nyai Ontosoroh ini terlalu kuat, sehingga sosok Minke dalam film itu kayak terbanting?
Bukan terbanting. Memang Nyai harus banting orang lain. Jadi, bukan guenya yang main bagus, tapi Nyai Ontosorohnya yang keren.

Kesannya, kurang seimbang gitu antara Nyai dan Minke…
Begini. Nyai itu diam saja orang sudah tersirep. Meski gue enggak mau makan orang, tapi memang harus makan orang di situ.

Minke tenggelam karena Minke usianya 18 tahun. Iqbaal enggak gagal. Ingat, dia itu memerankan remaja. Remaja yang cerdas.

Lo nyaman dengan akting Iqbaal di film itu?
Beberapa hal dia bagus. Sangat bagus. Tapi dia punya beban di setiap scene kan. Itu panjang dan dia punya gradasi emosi yang belum stabil.

Aku sih apresiasi dengan usaha kerasnya memerankan Minke.

Pemilihan Iqbaal ini dianggap sebagai strategi Falcon yang menyasar generasi milenial?
Aku enggak tahu itu strategi atau apa. Yang jelas, efeknya luar biasa kan. Buku Pram di Gramedia saja habis.

Baiknya, film ini mampu ajak anak muda baca sastra yang bagus. Orang juga jadi tahu istilah seharmal (sehari semalam) atau bahasa Belanda.

Film ini kan didominasi bahasa Belanda ya. Pelafalan pemerannya dinilai bagus. Berapa lama belajarnya?
Lumayan. Dari April sampai Agustus. Mama aku kan Belanda. Kalau dia bilang oke, ya aku lega.

Selain bahasa, gue itu harus pakai kebaya dan setagen, terus dikonde tiap hari. Bayangin, Gamplong kan panas banget.

Ada kabar kalau saat syuting lo gak mau bergabung sama pemain lain. Ada juga yang bilang sombong?
Gue sih gak peduli. Itu kan treatment gue untuk dalami karakter. Harus fokus. Gue senang dengan anak-anak muda yang pintar itu. Tidak ada masalah dengan mereka. Mereka itu cerdas.

Kenapa sih lokasi-lokasi di film itu terkesan dipoles sehingga mengurangi kesan realistis?
Ini harusnya Hanung yang jawab. Tapi begini. Kenapa kok warnanya cerah? Ya jangan lihat pada masa itu hitam putih saja. Itu kan persepsi.

Pada masa itu juga ada warna merah dan sebagainya. Itu realistis pada zaman itu. Jangan mengasumsikan zaman itu itu buluk.

Satu lagi. Ada scene pria gemuk yang mengikuti Minke saat naik dokar, namun gak ada kelanjutannya. Orang itu ke mana dan tidak terjelaskan dia suruhan siapa?
Di bukunya pun begitu kan.

Memang. Tapi paling tidak dalam filmnya dijelaskan biar penonton yang bukan pembaca novelnya tidak bingung…
Sebenarnya banyak peristiwa dalam novel tapi gak divisualkan, karena dianggap sudah terwakili.

Tapi ini film. Tidak semua bisa masuk. Awalnya saja enam jam, kemudian diperas jadi tiga jam. Banyak yang bilang, nontonnya tidak terasa. Padahal lama.

Lalu, apa peran lo untuk film berikutnya?
Menunggu yang cocok. Gue ingin main film dengan sutradara yang gak setengah-setengah, baru gue mau.

Lagian gue sibuk urus anak-anak. Harus masakin siomai atau tom yum kesukaan mereka dan suami.

Belum lagi ngepel sama nyapu. Nyai Ontosoroh banget lah gue di rumah.

Kalau sosok Nyai Ontosorohnya saja yang dibuat sekuel filmnya, mau?
Astaga. Itu menarik sih.

Btw kalau sedang jadi “Nyai Ontosoroh” di rumah, bisa merokok juga?
Bisa kok. Asal jangan Vodka he-he.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR