Keterangan Gambar : I Gede Ari Astina atau biasa disapa Jerinx berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di Rumble Empire, gerai busana miliknya, Jalan Teuku Umar, Denpasar, Bali, Kamis malam (20/4/2017). © Beritagar.id / Anton Muhajir

Jerinx menolak lagunya dipakai kampanye karena tak mau solidaritasnya untuk Kendeng terganggu

I Gede Ari Astina telat sejam dari rencana wawancara. Ia baru nongol ketika pusat tata surya tak tampak lagi di langit Bali, tepatnya pukul tujuh malam, Kamis (20/4/2017).

Dirinya tiba dengan singlet hitam, celana pendek, kaos kaki sebetis dan sneaker. Singlet itu bertuliskan huruf kapital: KUTA ROCK CITY.

"Untuk ingatkan lagi bahwa Kuta itu kota rock," kata Jerinx, panggilan akrabnya, kepada kontributor Beritagar.id Anton Muhajir di Rumble Empire, gerai busana miliknya, Jalan Teuku Umar, Denpasar.

Jerinx, yang menghemat sapaannya jadi tiga huruf JRX, memang lahir dan besar di Kuta, jantung pariwisata Bali. Di Kuta juga, Jerinx bersama I Made Putra Budi Sartika alias Bobby dan I Made Eka Arsana, membentuk Superman is Dead (SID), band punk rock, 22 tahun silam.

Sebagai band punk, menurut Jerinx, mereka terbiasa mengangkat isu sosial dan lingkungan. "Esensi punk rock adalah melawan kecenderungan umum," ujarnya. Penabuh drum ini juga punya band sampingan. Namanya Devildice--di mana ia jadi gitaris dan biduan.

Perlawanan ala Jerink dan bandnya itu konsisten dilakukan hingga saat ini.

Bulan lalu, sebagai contoh, ia menolak permintaan tim media Presiden Joko Widodo ketika lagu SID Jadilah Legenda, hendak dijadikan lagu kampanye program #JokowiMenjawab. "Bagaimana mau jadi legenda kalau tidak berani melawan cukong," kritik Jerinx kepada Jokowi.

Pria berusia 40 ini memang dikenal kritis. Sikapnya itu terekam empat tahun belakangan, yang tak henti berkampanye menolak reklamasi bersama Forum Masyarakat Bali Tolak Reklamasi (ForBali) dan juga memihak kepada petani Kendeng soal semen.

Ia tak peduli sikapnya itu mengharuskannya berhadapan dengan PT Tirta Wahana Bali Internasional, pemegang hak reklamasi Teluk Benoa--anak usaha Artha Graha milik Tomy Winata. "Saya enggak takut."

Karena aksinya terus berlanjut, Jerinx sempat diteror dengan air keras. Bahkan undangan manggung untuk SID juga jadi berkurang di awal-awal pergerakan. "Tapi sekarang sudah stabil," tuturnya.

Selama satu jam, ditemani gerimis, ia sudi menjawab pertanyaan-pertanyaan Beritagar.id soal reklamasi, perlawanannya terhadap fasisme dan juga sikap OutSIDer--basis fan SID.

Sebagai tambahan, wawancara kembali dilakukan lewat sambungan telepon pada Jumat sore (12/5/2017) oleh Heru Triyono. Berikut perbincangannya:

Gede Ari Astina atau biasa disapa Jerinx berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di Rumble Empire, gerai busana miliknya, Jalan Teuku Umar, Denpasar, Bali, Kamis malam (20/4/2017).
Gede Ari Astina atau biasa disapa Jerinx berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di Rumble Empire, gerai busana miliknya, Jalan Teuku Umar, Denpasar, Bali, Kamis malam (20/4/2017).
© Anton Muhajir /Beritagar.id

Secara mengejutkan Superman is Dead menolak permintaan Istana yang ingin memakai lagu Jadilah Legenda...
Kami putuskan tolak karena Presiden Jokowi masih bergeming sikapnya soal Kendeng maupun reklamasi Bali. Bahkan jika dibayar Rp1 miliar pun kami akan tetap menolak.

Pihak Istana sudah menyebut angka untuk memakai lagu itu?
Mereka belum bicara harga, tapi saya yakin kalau SID minta berapapun tak akan jadi masalah, karena lagu itu memang gagah soalnya ha-ha.

Sedari awal Anda diberitahu kalau lagu itu akan dipakai kampanye program #JokowiMenjawab?
Saya sudah tahu. Begini, tim sosial media beliau mengontak Dodik, manajer SID, pada 22 Maret 2017. Mereka kontak siang dan minta jawaban malam. Kami berembuk dan minta masukan beberapa aktivis dan kawan. Waktu itu kasus semen di Kendeng lagi hangat.

Jawaban ke Istana adalah tidak, karena kami tak ingin keberpihakan pada petani Kendeng terganggu karena pemakaian lagu itu oleh Istana. Rasanya tidak adil.

Maksudnya Anda menolak karena tidak sepaham dengan sikap Presiden tentang masalah Kendeng?
Intinya bagaimana mau jadi legenda kalau tidak berani lawan cukong. Seharusnya Presiden bisa bersikap yang membuat rakyatnya merasa nyaman dan terlindungi. Baik itu soal Kendeng maupun reklamasi Teluk Benoa.

Pernah menyatakan langsung ke Presiden soal kekecewaan Anda itu?
Saya sudah sampaikan di media sosial. Tapi tidak tahu sih beliau baca atau tidak.

Tapi kan Anda pernah bertemu Presiden, tidak langsung saja menyampaikan kekecewaan itu?
Sekali saja. Kalau bertemu lagi pasti saya sampaikan hal yang sama dan mempertanyakan sikapnya.

Saya juga akan kejar dan tekan terus sampai dia mencabut Perpres Nomor 5 tahun 2014 (yang mengubah status kawasan Teluk Benoa sehingga boleh direklamasi).

Padahal Anda kan pendukung Jokowi ketika pemilihan presiden 2014, kenapa sekarang seperti berbalik...
Iya. Tapi enggak dukung-dukung banget. Harapan saya, dia itu bisa batalkan reklamasi. Sayang, hingga sekarang belum ada kejelasan sikap darinya.

Sebagai pendukung yang turut andil memenangkan dia, mengkritiknya adalah hak saya. Asal kritik dengan cara sehat.

Anda sudah coba lewat jalur Gubernur Bali Mangku Pastika untuk membatalkan reklamasi itu?
Dulu kami pernah temui gubernur. Kami bekerja keras menemui beliau, hingga dia mau mengundang kami di mesimakrama (pertemuan rutin di wantilan DPRD Bali). Tapi akhirnya cuma diajak foto bersama. Setelah itu disebar seolah-olah dia dekat dengan seniman atau apalah.

Memangnya ketika bertemu Jokowi dua tahun lalu itu Anda belum dapatkan jawaban yang memuaskan ya?
Sama saja. Kami makan siang bersama, besoknya kami masuk di berita Sahabat Jokowi dan disebut sebagai Sahabat Jokowi di berita itu.

Padahal saya ke Istana bukan untuk memperlihatkan dukungan kepada dia, tapi justru ingin menekan dia. Saya mewakili masyarakat Bali penolak reklamasi berusaha menyampaikan aspirasi saja.

Bagaimana respons Jokowi saat Anda sampaikan aspirasi itu?
Cukup baik. Bahkan kami sudah berikan data juga ke dia lewat Abdi Slank. Presiden bilang kalau ke Jakarta tolong kasih tahu dirinya.

Tetapi, tiap kali kami kasih tahu sedang di Jakarta, asistennya selalu bilang Presiden tidak bisa. Sudah 2,5 tahun belum ada respons lagi dari Presiden.

Menurut Anda kenapa Presiden belum merespons...
Saya lihat dia takut entah sama siapa. Mungkin dia masih disandera oleh banyak kepentingan.

Takut sama siapa kira-kira?
Sudah sama-sama tahu lah. Yang jelas sama yang punya kepentingan reklamasi itu.

Apakah Presiden Jokowi pernah janji kepada Anda untuk membatalkan reklamasi Teluk Benoa?
Saat bertemu itu Presiden bilang pernah membatalkan dua proyek besar yang berdampak jelek pada lingkungan. Karena penjelasannya itu, saya menangkap secara tersirat kalau Presiden berpihak pada kita.

Ada rencana bertemu lagi dengan Jokowi?
Belum tahu.

Bagaimana dengan pihak PT Tirta Wahana Bali Internasional, sebagai pemegang hak reklamasi Teluk Benoa, Anda pernah coba diskusi dengan mereka?
Belum ada usaha ke sana. Tetapi dulu SID pernah ditawari jadi duta mangrove oleh mereka. Karena sibuk rekaman, tawaran itu ya tidak kami terima.

Anda optimis Jokowi berani membatalkan Perpres Nomor 5 tahun 2014 itu?
Masih 50-50 ya. Saya berpandangan ada harapan dari sosok Presiden Jokowi asalkan kita konsisten menyuarakan tolak reklamasi. Jangan pernah bosan.

Menyesal pernah mendukung Jokowi?
Tidak sama sekali. Saya cuma merasa berhak mengkritiknya karena SID punya andil menjadikan Jokowi sebagai presiden.

I Gede Ari Astina atau biasa disapa Jerinx berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di Rumble Empire, gerai busana miliknya, Jalan Teuku Umar, Denpasar, Bali, Kamis malam (20/4/2017).
I Gede Ari Astina atau biasa disapa Jerinx berpose di depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di Rumble Empire, gerai busana miliknya, Jalan Teuku Umar, Denpasar, Bali, Kamis malam (20/4/2017).
© Anton Muhajir /Beritagar.id

Tapi bagaimanapun Presiden Jokowi masih jadi OutSIDer kan he-he...
Secara politis, sejak wali kota, dia sering menyebut nama band dengan basis massa besar. Dia memang suka musik keras.

Kalau tak salah, dalam tiap wawancara, dia selalu menyebut band Slank, SID dan Burgerkill. Setelah itu baru menyebut band-band luar.

Namun, setelah ditolak permintaannya memakai lagu kami, dia cuma sebut Slank dan Burgerkill. Sementara SID enggak disebut saat wawancara ha-ha.

Anda menilai Jokowi mulai ambil jarak dengan SID?
Saya lebih senang begitu. Namanya manusia tetap perlu dikontrol meski dia adalah Presiden.

Saya ingin bangun oposisi sehat, oposisi kesatria. Tidak pakai isu agama, fitnah, komunis dan semacamnya.

Peran oposisi itu bukannya cukup dijalankan oleh partai politik saja...
Daya tekan parpol dan seniman beda. Kalau politisi bisa jadi mau ketika diajak kompromi, karena terbiasa dua kaki.

Beda dengan seniman, yang percaya kebaikan harus berpihak pada manusia. Seniman juga idealnya tidak punya agenda politik. Lebih dari itu, seniman adalah harapan terakhir manusia.

Dengan sikap kritis Anda ini tak khawatir SID dicap buruk karena terkesan menentang Pemerintah?
Saya pribadi tak khawatir. Grafik manggung SID pun stabil, cenderung naik bahkan meski sikap kami kritis.

Jujur saja, saya tidak tutup mata atas keberhasilan Presiden membangun, tapi kami tak mau mendukung semua kebijakannya. Presiden kan juga perlu dikritisi.

Kalau boleh tahu sejak kapan Anda mulai kritis seperti ini?
Ketika SMP dan SMA sih enggak. Saya mulai kritis ketika kuliah. Saya pernah menulis surat pembaca untuk Bali Post sebagai bentuk protes rencana pembangunan jembatan Jawa-Bali.

Kemudian sejak ngeband saya manfaatkan lirik-lirik lagu sebagai media untuk menyampaikan sikap saya ke para pendengar.

Pernah mendapat teror karena kerasnya Anda menolak reklamasi?
Ada percobaan penyiraman air keras beberapa waktu lalu kepada saya. Tetapi salah sasaran. Dulu juga pernah aparat datang ke tempat usaha. Mungkin mau mengintimidasi.

Ya, enggak takut sih meski fitnah juga datang beberapa kali. Seperti ketika saya digosipkan gay he-he.

Apakah karakter kritis Anda ini ada kalanya menyebabkan perdebatan di dalam band SID sendiri? Misalnya soal reklamasi...
Dari awal kami sudah saling memahami karakter masing-masing. Tentu saja menolak reklamasi adalah sikap kami bersama.

Sejak awal SID dibentuk, niatnya memang terus mengangkat isu sosial dan lingkungan?
Esensi punk rock adalah memberontak, dan memberontak itu dilakukan dengan melawan kecenderungan. Pada 2004-2005, yang saya lihat di masyarakat adalah kecenderungan tidak peduli dengan sampah.

Nah, saya ingin lawan ketidakpedulian itu karena itulah esensi punk rock: melawan kecenderungan umum, terutama yang merugikan. Yang jelas sih, tujuan awal perlawanannya adalah mengubah diri sendiri dan teman-teman terdekat jadi lebih baik.

Sebenarnya kenapa Anda begitu keras mendorong reklamasi Teluk Benoa dibatalkan?
Sederhana jawabnya. Kemacetan di Bali selatan itu sudah mirip Jakarta. Beban manusia dan kendaraan di jalan sudah tidak manusiawi lagi. Itu amat mengganggu. Tidak usah banyak teori.

Kerusakan lingkungan akibat reklamasi pun juga mengkhawatirkan. Efek abrasi kan begitu destruktif.

Tapi di sisi lain pulau reklamasi bisa menjadi daya tarik wisata baru...
Begini saja, atasi dulu macet di Bali Selatan. Kalau sudah lancar, baru bicara pengembangan pariwisata Bali yang baik. Bukan cuma bangun fasilitas-fasilitas megah di atas pulau reklamasi.

Bagaimana gerakan Forum Masyarakat Bali Tolak Reklamasi (ForBali) terkini, apakah masih masif menyuarakan penolakan?
Masih tarik menarik sebenarnya. Yang jelas, kami gerilya terus dan berharap masyarakat tidak pecah konsentrasinya. Ini sudah empat tahun berjalan.

Di sisi lain OutSIDer tetap selalu ada pada tiap aksi. Demonya juga makin bagus dan ramai.

"Esensi punk adalah memberontak, dan memberontak itu dilakukan dengan melawan kecenderungan"

Jerinx

Masyarakat Bali merasa reklamasi bukan solusi bagi wilayah mereka?
Masyarakat Bali itu lama memendam perasaan diperlakukan tidak adil. Gerakan ini adalah akumulasi, mulai dari persoalan (reklamasi) Serangan, Garuda Wisnu Kencana (GWK) dan mega-mega proyek lain di Bali yang janjikan ini itu, tapi masyarakat tak dapat apa-apa ujungnya

Perlawanan ini muncul dari rasa tersisih di tanah sendiri. Merasa terasing di tanah sendiri. Merasa turis di tanah sendiri. Semua diluapkan semua dalam pergerakan.

Tentunya isu penolakan reklamasi ini bisa jadi jualan para cagub di Bali nantinya ya...
Oh sangat. Tapi kami sudah pasang batas bahwa kami tidak akan mau dijadikan kampanye politik cagub siapapun. Lagi pula tak ada cagub Bali juga yang tegas menolak reklamasi.

Mungkin lebih laku bicara politik identitas yang dijual dalam Pilkada, misalnya isu agama...
Itulah, ketika kebusukan dibungkus pakai agama orang akan percaya bahwa itu kebaikan.

Karena, kalau sudah dibungkus agama, yang jelek pun juga dibilang bagus. Agak mengkhawatirkan memang persoalan fundamentalis ini.

Di beberapa kesempatan Anda kok kerap mengkritik Front Pembela Islam (FPI), apa pernah ada masalah dengan mereka?
Tidak. Kalau ancaman sih sering dari kelompok fundamentalis. Misalnya, mereka membuat selebaran berupa foto pistol dan pisau yang isinya ancaman untuk kami. Mereka mengaku sudah menunggu di sebuah kota--tempat kami konser.

Tapi pas saya tunggu kedatangan mereka, faktanya enggak ada dan aman-aman saja. Padahal saya tantang mereka yang mengancam untuk datang.

Sengaja menantang?
Saya hanya ingin tunjukkan bahwa kita tidak takut sama fasisme.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.