I Gede Ari Astina alias Jerinx saat ditemui di hotel L’amore, Kerobokan, Bali, Jumat sore (22/2/2019).
 
I Gede Ari Astina alias Jerinx saat ditemui di hotel L’amore, Kerobokan, Bali, Jumat sore (22/2/2019).   Bismo Agung / Beritagar.id
BINCANG

Jerinx: They mess with the wrong person

Ia mengaku senang sekali menghancurkan sesuatu, terutama yang basi, membosankan dan omong kosong.

Azriel Hermansyah menyebutnya bukan manusia, sementara Anji Manji menyebutnya suuzan. Ada juga warganet yang mengejeknya banci bertato atau si mulut emak-emak. “Saya enggak peduli dengan domba-domba itu,” ujar Jerinx (JRX).

Kata-kata JRX di media sosial memang sering memicu polemik. Sarkas dan pedas. Perseteruannya dengan Menteri Susi Pudjiastuti, Via Vallen sampai Anang Hermansyah adalah buah dari sikapnya yang tak segan melawan sesuatu yang ia tak suka.

Jadi, kalau ada jurnalis yang bilang JRX itu saudara kandung kontroversi, rasanya kurang pas. Cocoknya, pria bernama tulen I Gede Ari Astina ini diberi gelar: saudara kandung keributan.

“Apapun julukan itu, kamu ini ke Bali untuk mendengar kebenaran atau menjebak seperti akun gosip?,” tanyanya kepada Heru Triyono dan Bismo Agung di awal pertemuan.

Kami pun menjawab jika kedatangan kami ini hanya ingin bertemu tukang jagal ayam. Ia lantas tertawa.

JRX datang sendiri ke lokasi wawancara di Hotel Lamore, Kerobokan, Jumat sore (22/2/2019). Sebuah perjalanan singkat dari rumah dia di Kuta. Seharusnya. Tapi, rantai sepedanya putus di jalan, sehingga waktu wawancara molor. Janji malam sebelumnya juga batal--karena levernya sakit dan harus ke dokter.

Di dunia nyata, Jerinx jauh dari kesan buas—seperti kicauan-kicauannya di dunia maya. Memang, gaya bicaranya meledak-ledak, bahkan beberapa kali mengacungkan jari tengah.

Namun, ia kerap tertawa dan mau jawab yang paling intim sekalipun. Umpamanya menjelaskan gambar perempuan bugil di lengannya. “Ini tato Anna Coddington, mantan saya,” kata penggebuk drum Superman Is Dead tersebut mesem-mesem.

Sore itu, ia mengenakan kaus lengan buntung, dan sering menggoyang-goyangkan tangannya seperti petinju yang tak sabar. Mirip Ronald Kray dalam film Legend, yang siap berkelahi atau tertawa. Tergantung mana lebih dulu.

Berikut tanya jawab kami dengan JRX seputar huru-hara yang menghinggapinya belakangan:

I Gede Ari Astina alias Jerinx saat ditemui di hotel L'amore, Kerobokan, Bali, Jumat sore (22/2/2019).
I Gede Ari Astina alias Jerinx saat ditemui di hotel L'amore, Kerobokan, Bali, Jumat sore (22/2/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Kenapa terus bersikap agresif dan terkesan intimidatif terhadap pihak Anang?
Saya ndak agresif. Saya justru bikin Anang nyaman waktu ketemu dan banyak mendengarkan. Tapi saya malah dijebak, karena pihak dia bawa lambe turah.

Pertemuan yang semula disepakati tertutup itu malah bocor ya…
Ya, f*ck man. Itu menjebak namanya. Ngapain juga bawa-bawa istri dan akun seperti itu.

Tapi, apakah sudah terkonfirmasi jika pihak Anang yang bawa akun gosip itu?
Kamu lihat sendiri video pertemuan itu ada di lambe turah. Dugaan saya, yang rekam itu yang baju hitam. Dia orang asosiasi manajer musik.

Saya sih awalnya enggak kepikiran ke sana. Maklum, orang Bali gak tahu lambe turah. Kalau di Jakarta mungkin biasa intrik-intrik begitu.

Enggak semua yang di Jakarta. Tidak bisa pukul rata begitu…
Maksudnya untuk kalangan artis kan biasa. Kalau di Bali, publikasi seperti itu kan hampir enggak ada.

Sepertinya Anda makin nyinyir ya dengan menyebut Ashanty adalah petruk di media sosial?
Karena dia (Ashanty) ini lucu. Dia ngobrol sama pemilik Sanur Garage dan bilang kalau JRX itu bukan manusia. Kok bisa ya.

Padahal pemiliknya itu teman saya. Apa dia gak sadar. Ini kan gaya lambe turah. Ya saya post saja: JRX itu bukan manusia, tapi Ashanty adalah Petruk.

Tapi Anda jadi terbawa dalam drama akun-akun gosip itu. Malah kontraproduktif kan jatuhnya?
Begini. Saya sadar akun gosip itu bukan media. Tapi, mereka ini berpengaruh terhadap opini publik.

Informasi salah saja bisa dianggap valid oleh masyarakat karena akun ini. Sehingga bisa dipakai untuk framing, gampang banget.

Tapi, saya ingatkan. They mess with the wrong person. Mereka akan menyesal. Ini lagi panas tolak reklamasi dan RUU Permusikan, tapi mereka kayak gitu. F*ck.

Oke. Musisi terbelah soal isu RUU Permusikan. Ada yang menolak dan ada yang minta revisi. How?
What the f*ck are you talking about. Ada 95 persen pasal bermasalah dan mereka pikir revisi itu gampang dilakukan dalam waktu yang mepet ini.

Kalau bisa tolak, kenapa harus revisi?

Lagi pula Konferensi Meja Potlot sepakat untuk menarik RUU, dan lucunya si Anang duduk paling depan di foto pertemuan itu. What the f*ck. Ha-ha.

Sebenarnya, ada masalah apa Anda dengan Anang. Kok tensinya tinggi terus?
Kalau kamu jadi inisiator, apapun itu, ya tanggung jawab akan itu. Kamu digaji Rp38 juta per bulan pakai duit rakyat.

Kawal gagasan itu. Apa susahnya bikin grup Whatsapp untuk mantau. Update tiap hari. Libatin musisi lain.

Oke dia duduk di dewan. Tapi yang terlibat pembahasan RUU ini bukan cuma dia. Ada musisi lain juga, dan itu banyak…
Tetap saja penggagasnya Anang. Tanpa idenya, drama RUU ini gak akan ada. Musisi enggak akan ribut.

Kami di Bali resah kalau RUU itu jadi undang-undang. Mungkin saja kami tidak bisa dengar lagi lagu-lagu perjuangan tolak reklamasi.

Sebelum huru-hara ini Anda kenal dengan Anang secara personal?
Dulu banget. Dia pernah ajak bikin proyek kompilasi. Cuma saya tolak. Nothing personal. Masalah taste saja.

Tapi, RUU Permusikan ini kan bisa menjamin royalti musisi juga. Satu contohnya adalah kasus Anda dengan Via Vallen…
Saya gak permasalahkan royalti dengan Via Vallen. Tapi lebih kepada pesan lagu itu--yang didedikasikan untuk beberapa tokoh perjuangan.

Soal royalti, kan ada Undang-Undang Hak Cipta. Di-restart saja itu. Singkirkan orang lama yang kaku dan tak bisa kerja.

Anda lihat ada udang di balik batu dalam penyusunan RUU Permusikan ini?
Skemanya hampir mirip Perpres 51 Tahun 2014. Diterbitkan jelang lengser, dan memperbolehkan kawasan Teluk Benoa direklamasi.

SBY pergi begitu saja. Tapi, saya lihat sih Anang tetap ada niat baik untuk musisi. Hanya saja dia enggak tanggung jawab.

Apakah ini tanda musisi gagap berpolitik?
Intinya saya gak suka selebriti berpolitik dan jadi pejabat. Karena enggak ada selebriti yang sukses lakukan perubahan.

Lihat saja Ronald Reagan, ya apalagi Ahmad Dhani.

Enggak lelah mencibir orang lain?
Saya enggak akan pernah capek. Saya benci sama hal yang basi, membosankan dan omong kosong. Saya mau lawan dan hancurkan itu.

Tapi ada yang keberatan dengan cara kritik Anda yang terlalu personal?
I am an easy target untuk mengundang kontroversi kan? Saya bertato, non muslim, ya minoritas lah. Ini yang dimain-mainkan mereka. Sudah stigma.

Apa iya harus menyerang usaha restoran ayam Anang misalnya?
Saya kritik Anang soal gerai ayamnya itu karena dia harusnya fokus kawal RUU Permusikan. Bukan usaha ayamnya.

Bahaya kan kalau gak dikawal. Bahaya juga untuk gerakan Bali Tolak Reklamasi, yang sering sampaikan pesannya dengan lagu. See?

I Gede Ari Astina alias Jerinx saat ditemui di hotel L'amore, Kerobokan, Bali, Jumat sore (22/2/2019).
I Gede Ari Astina alias Jerinx saat ditemui di hotel L'amore, Kerobokan, Bali, Jumat sore (22/2/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Anda masih minat menantang Anang sementara isu RUU ini sudah lewat dan akan didrop. Mau sampai kapan?
Sampai dia minta maaf dan benar-benar batal RUU ini. Saya ini punya DNA Puputan. Pantang berjuang setengah-setengah.

Kalau setengah, bukan berjuang namanya, cuma ingin kelihatan keren saja.

Tanpa sadar, bisa saja Anda menjadi public enemy, enggak khawatir?
Saya terlanjur basah. Sudah pasti saya ada di daftar musuh banyak orang. Termasuk pengusaha dan penguasa.

Tapi, semakin pihak Anang menyudutkan saya, termasuk domba-domba lambe turah dan laskar ayamnya itu, akan semakin terbukti mereka itu salah. Lihat saja.

Sejak kapan Anda berani memosisikan diri terhadap suatu isu?
Jiwa itu tumbuh sejak '97. Ketika saya dekat dengan aktivis-aktivis di Bali. Saya banyak belajar dan terlibat intens ketika demo reformasi '98.

Sampai sekarang jiwa itu terus ada. Organik saja. Mungkin passion saya ada di pergerakan aktivis.

Ayah Anda kan Golkar. Bagian dari Orde Baru. Kok mendemo bagian dari Anda sendiri?
Bener. Makanya saya berulang kali neken beliau untuk punya sikap. Jangan jadi budak partai. Saya kasih masukan begitu. Itu tugas saya sebagai anak.

I Wayan Arjono (Ayahnya) nyaleg di Dapil Sukawati. Anda ikut berkampanye untuk dia?
Saya coba bantu sebisa saya, tanpa harus berhubungan dengan partainya. Ini kesempatan beliau yang terakhir, karena faktor usia.

Semoga dia bisa buat perubahan di dalam sana.

Masih menaruh harapan pada perpolitikan negeri ini?
Untuk jangka panjang iya. Masih. Apalagi banyak anak muda progresif di politik saat ini. Selalu bagus kan untuk punya harapan.

Tapi saya memilih untuk tidak memilih tahun ini. Waktu 2014 itu memilih karena faktor gerakan BTR itu (Bali Tolak Reklamasi).

Maksudnya Anda berharap Perpres 51 Tahun 2014 itu dicabut ya saat memilih lima tahun lalu?
Ya karena Jokowi beberapa kali memberi sinyal akan membatalkan Perpres itu. Tapi ternyata tidak.

Saya bertemu beliau juga seperti enggak ada guna. Sama Jokowi saja masih ragu, apalagi sama yang satunya.

“Sama Jokowi saja masih ragu, apalagi sama yang satunya”

Jerinx

Anda trauma dengan politik?
Saya hanya merasa dibohongi. Padahal kami mendukung dia untuk keselamatan Bali. Fanbase kami hilang 40 persen karena dukungan itu.

Tapi kami enggak menyesal. Ini bukan masalah duit, tapi alam Bali. Politisi akan selalu bilang apapun agar mereka terpilih.

Bobby dan Eka keberatan enggak sih dengan sikap Anda yang cenderung kontroversial ini?
Enggak. Mereka dukung 100 persen apapun itu selama saya bela kebenaran. Kita ini sudah 24 tahun bersama dan lebih dari saudara.

Mereka pasti ingetin kalau saya slip dan berlebihan.

Ada bayangan suatu saat nanti akan masuk ke partai politik--seperti Ayah Anda?
Enggak. Saya enggak mau dikelilingi serigala. Meski tujuan baik, melawan 200 serigala, ya enggak bisa maksimal. Contohnya Ahok.

Kalau ditawari jabatan oleh paslon satu atau dua bagaimana?
Saya kan sudah jadi calon menteri baku hantam pasangan Nurhadi-Aldo. Saya harus setia dong. Ha-ha.

Seandainya jadi presiden, hal pertama apa yang akan Anda lakukan?
Legalkan ganja dan yang kedua hapuskan kolom agama di KTP.

Btw, sikap Anda terlihat begitu keras di medsos. Ingat gak kapan terakhir menangis?
Waktu Via Vallen bilang SID harus terima kasih sama dia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR