Perebut gelar juara All England 2016 untuk kategori ganda campuran Praveen Jordan dan Debby Susanto berpose usai wawancara dengan Beritagar.id di Aroma Sedap Seafood Restaurant Jalan Teuku Cik Ditiro Nomor 43 Menteng Jakarta Pusat, Rabu (30/3/2016).
Perebut gelar juara All England 2016 untuk kategori ganda campuran Praveen Jordan dan Debby Susanto berpose usai wawancara dengan Beritagar.id di Aroma Sedap Seafood Restaurant Jalan Teuku Cik Ditiro Nomor 43 Menteng Jakarta Pusat, Rabu (30/3/2016). Bismo Agung / Beritagar.id

Duet Praveen-Debby: Kami selalu lapar gelar!

Praveen Jordan dan Debby Susanto memiliki satu kesamaan: jatuh cinta dengan bulu tangkis setelah melihat permainan sang ayah.

Praveen Jordan dan Debby Susanto sudah memiliki tiga piala sejak coba diduetkan mulai 2014. Terbaru, di Birmingham, Inggris, Minggu (13/3/2016), mereka menyabet juara ganda campuran di turnamen bulu tangkis tertua di kolong langit: All England.

Pasangan ini sebenarnya tak diunggulkan naik podium, karena awalnya diturunkan hanya sebagai bantalan peraih hattrick All England 2012-2014: Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir.

Sebab itu, kemenangan mereka menjadi salah satu trending topic di Twitter Indonesia--apalagi merupakan satu-satunya wakil Indonesia yang masuk final.

Sebelum dengan Debby, Praveen berpasangan dengan Vita Marissa dan Tiara Rosalia Nuraidah. Pernah pula dengan Didit Juang Indrianto di ganda putra. Sementara Debby pernah berpasangan dengan Muhammad Rijal. "Selama dua tahun, saya dan Praveen mulai klop," kata Debby, memasuki usia 26.

Dalam pertandingan, Debby mengambil peran sebagai menara pandang di dekat net. Seolah mewarisi seniornya, Liliyana Natsir, yang memiliki ketenangan. Sementara Praveen dapat banyak bagian memukul kok dengan jumping smash-nya. "Saya kuat dalam smash," tutur pria berusia 22 ini.

Oleh ibunya, Praveen memang diharapkan tumbuh jadi pria kuat--sebagai anak pertama. Praveen diambil dari nama aktor India yang juga atlet lempar cakram, Praveen Kumar. Dia pemeran karakter Bima dalam serial televisi legendaris Mahabharata, di akhir 80-an.

Bima dikenal sebagai tokoh Pandawa yang kuat, dan menakutkan bagi musuh, tapi memiliki hati lembut. Sama dengan hati Praveen Jordan, yang juga lembut, meski wajahnya sangar. Tapi nyatanya ia suka sekali mendengar lagu-lagu Broery Marantika dan Christine Panjaitan. "Saya suka lagu zaman dulu," kata dia, meledakkan tawanya.

Kini, pasangan ini menjadi kunci bagi Indonesia untuk terus meraih prestasi. Setelah meraih gelar prestisius All England, keduanya diharapkan membuka peluang meraih medali emas di Olimpiade Rio De Janeiro 2016. "Tidak hanya kami, semua nomor juga berpeluang," kata Debby.

Ada senyum dan tawa sesekali dari keduanya saat Heru Triyono dan Hedi Novianto, serta fotografer Bismo Agung dari Beritagar.id menemuinya untuk wawancara di Aroma Sedap Seafood Restaurant Jalan Teuku Cik Ditiro, Nomor 43, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (30/3/2016).

Selama kurang dari sejam Praveen dan Debby duduk bersisian di kursi meladeni setiap pertanyaan kami, sembari mengunyah tahu goreng.

Di leher Praveen tergantung kalung emas berbentuk peluru, dengan dua kancing kemeja paling atas terbuka. Sementara Debby, berpenampilan amat simpel: kemeja tanpa lengan dengan rambut dibiarkan terurai. Berikut petikan wawancaranya:

Perebut gelar juara All England 2016 untuk kategori ganda campuran Praveen Jordan dan Debby Susanto berpose usai wawancara dengan Beritagar.id di Aroma Sedap Seafood Restaurant Jalan Teuku Cik Ditiro Nomor 43 Menteng Jakarta Pusat, Rabu (30/3/2016).
Perebut gelar juara All England 2016 untuk kategori ganda campuran Praveen Jordan dan Debby Susanto berpose usai wawancara dengan Beritagar.id di Aroma Sedap Seafood Restaurant Jalan Teuku Cik Ditiro Nomor 43 Menteng Jakarta Pusat, Rabu (30/3/2016). | Bismo Agung /Beritagar.id

Selamat, telah meraih gelar pertama All England. Bagaimana rasanya?
Praveen Jordan (PJ)
: Senang, tapi All England sekarang memang penuh kejutan.

Debby Susanto (DS): Seperti yang sudah saya bilang, gelar ini adalah salah satu mimpi kami. Tapi, setelah turun dari podium, kami bukan juara lagi, karena harus berpikir untuk turnamen berikutnya.

Dari 10 finalis All England tahun ini, tidak ada pemain atau pasangan dengan status unggulan pertama atau kedua. Mereka sudah rontok sebelum sampai ke babak puncak. Mengapa?
DS
: Kekuatan sudah merata. Siapa saja sekarang bisa juara, tidak hanya pemain Cina dan Korea yang selalu bisa masuk final.

PJ: Karena bulu tangkis di semua negara telah berkembang. Jadi tidak ada jaminan bahwa juara di nomor ganda atau single berasal dari negara tertentu.

Apakah sedari awal turnamen kalian menyangka masuk final dan kemudian juara?

PJ: Yang pasti pelatih memberi kami target masuk semifinal. Dan benar saja kami harus bertemu dengan pasangan peringkat pertama dunia, Zhang Nan dan Zhao Yunlei. Syukurnya kami bisa melewatinya.

DS: Kalau saya tidak memikirkan final, yang penting kasih saja yang terbaik. Di final kami bertemu pasangan Denmark, Joachim Fischer dan Christinna Pedersen, yang juga kami kalahkan di Dubai dengan dua set langsung--sebelumnya. Padahal kalau bicara head to head, mereka masih lebih unggul.

Ketika kami menyaksikan final di babak kedua, Fischer dan Pedersen sempat menyamakan angka menjadi 16-16. Apa yang terjadi?
PJ
: Tenaga kami memang agak terkuras, tapi untungnya pasangan Denmark lebih terkuras lagi, karena salah satu pemainnya bermain rangkap di nomor lain. Sehingga mereka yang justru kelelahan dan sepertinya tegang di saat akhir.

Kalian tidak tegang bermain di final?
PJ
: Kalau pas di final justru enggak terlalu. Malah lebih tegang di semifinal karena melawan pasangan nomor satu dunia. Saya senang dengan dukungan penonton, merasa seperti di rumah.

DS: Di ruang ganti, Koh Herry (Herry Iman Pierngadi, pelatih kepala ganda putra) bilang main enjoy saja. Kita diminta tidak terbebani soal menang atau kalah. Bahkan pas final itu tidak ada omongan teknik sama sekali sebelum bertanding.

Riuhnya suporter Indonesia di Birmingham bikin kalian terkejut?
DS
: Mungkin sebenarnya jumlah mereka (suporter Indonesia) sedikit. Hanya saja, suaranya yang berisik ha-ha.

PJ: Mahasiswa di sana (Inggris) memang banyak. Bahkan sebelum tanding mereka berbaris di luar arena untuk mengucapkan selamat berjuang kepada kami.

Tampaknya Anda (Praveen) bertarung dengan kondisi cedera di bahu kanan, karena tampak dibalut plester cokelat saat final?
PJ: Itu bukan cedera tapi untuk mengurangi rasa sakit saja. Sejak di Prancis terbuka tahun 2015 saya memakai itu, untuk menghalangi cedera.

Selama ini, Indonesia masih bertumpu pada pasangan Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir juga Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan. Dua pasangan ini seolah menjadi kunci untuk terus meraih prestasi. Apakah saat ini kita minim regenerasi?
PJ
: Banyak sebenarnya yang muda bermunculan. Belum mendapat momen saja. Pengurus (PBSI) sekarang juga lebih memberi kesempatan kepada pemain-pemain itu (muda).

DS: Sudah ada perkembangan baik dalam regenerasi. Itu bisa dilihat dari banyaknya pemain muda yang bagus yang ada di semua tingkat kejuaraan nasional. Kuncinya adalah kerja keras.

Apakah PBSI telah mempromosikan kalian berdua menjadi andalan menggantikan Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir?
PJ
: Tidak sama sekali. Ingat, mereka itu sudah tiga kali juara All England lho.

DS: Anggapan itu salah, dan kita juga tidak bisa disama-samakan, karena masih amat jauh. Tolong jangan hanya melihat ketika mereka kalah saja. Tapi lihat sebelumnya.

Tapi belakangan, pecinta bulu tangkis semakin sering melihat pemain Indonesia kalah dan berguguran sebelum masuk perempat final di sebuah kejuaraan dunia. Mengapa itu terjadi?
DS
: Itu namanya proses. Coba kita flash back dengan melihat pasangan Korea yang dulunya kalah terus. Sekarang mereka jadi top, karena bekerja keras dan bangkit dari kekalahan. Kita pun begitu.

Saat latihan, kita ini main habis-habisan, tidak ada yang mau kalah. Jadi tidak bisa melihat pemain saat kalah saja, tapi lihat perjuangan dan prestasi di belakangnya. Jangan menilai cuma saat mereka gagal saja.

PJ: Saya yakin mereka telah memberikan yang terbaik. Dan saya melihat banyak sekali pemain bagus, baik di nomor single atau yang lainnya. Mungkin sekarang lagi eranya ganda. Tapi saya yakin ke depan semua nomor akan bangkit.

Apakah PBSI saat ini memang fokus mengutamakan pasangan ganda?
DS: Saya rasa PBSI melakukan pembinaan secara merata. Tidak ada yang namanya mengutamakan sektor tertentu. Kalau untuk regenerasi ganda campuran memang lumayan banyak. Untuk sektor lain saya tidak tahu.

Kurangnya regenerasi di nomor single belakangan ini menyebabkan prestasi di nomor itu jadi tidak bagus?
DS
: Saya kurang tahu. Sebaiknya Anda tanya sendiri ke sektor itu.

Kalian mengatakan bahwa gelar All England adalah mimpi. Boleh tahu, mimpi apa kalian di malam sebelum juara di keesokan harinya?
PJ
: Entah kenapa di malam itu saya justru ingin pulang kampung ke Bontang (tempat kelahirannya) ha-ha.

DS: Saya tidak bermimpi apa-apa. Hanya sebelum tidur, saya berdoa dan bilang dalam hati bahwa jangan berharap besar karena khawatir justru bermain tidak tenang. Saya menekankan ke diri sendiri bahwa pertandingan besok adalah yang terakhir kali, sehingga bisa menikmati permainan.

Pasangan ganda campuran Indonesia Debby Susanto dan Praveen Jordan merayakan kemenangan pada final ganda campuran All England di Barclaycard Arena, Birmingham, Minggu (13/3/2016).
Pasangan ganda campuran Indonesia Debby Susanto dan Praveen Jordan merayakan kemenangan pada final ganda campuran All England di Barclaycard Arena, Birmingham, Minggu (13/3/2016). | Andrew Boyers /Antara Foto

Bermain ganda membutuhkan kekompakan dan irama antarpemain. Bagaimana kalian bisa mencapai kekompakan itu?
PJ
: Intinya tidak ada yang mendominasi, dan mengutamakan kerjasama tim. Menutupi daerah kosong dengan cepat adalah hal yang wajib dipahami satu sama lain.

DS: Enggak ada kiat khusus. Saya dan Praveen kompak seiring berjalan waktu. Apalagi kami sudah latihan bersama setiap hari, dan bersama juga ketika kalah dan menang dalam sebuah pertandingan. Lama-lama kekompakan itu akan muncul dengan sendirinya.

Sebenarnya waktu yang ideal untuk pasangan ganda menyesuaikan diri satu sama lain berapa lama?
DS
: Menurut saya tidak bisa dipatok berapa lamanya. Seperti saya bilang tadi, kompak akan muncul sendiri, seiring berjalannya waktu. Mungkin di awal masih kurang dapat tik-taknya. Tapi mulai 2015, kami sudah mulai lebih enak dan bisa berkomunikasi dengan baik.

Di turnamen apa yang menjadi pengalaman bertanding paling berkesan untuk kalian berdua?
DS
: Mungkin SEA Games 2015. Di pertandingan itu kami juara dengan poin yang begitu dramatis. Selain soal poin, otot betis kaki saya sudah tertarik di set pertama. Saya tahan sampai pertandingan selesai dan untungnya juara.

PJ: Sama.

Kenapa tidak segera panggil bantuan medis untuk mengatasi cedera itu?
DS
: Kalau saya panggil medis, lawan menjadi tahu keadaan saya dan itu tidak menguntungkan secara mental. Kondisi saya tersebut juga tidak akan menguntungkan buat pasangan saya (Praveen) jika tahu. Karena bisa memecah konsentrasi.

Ketika itu saya berdoa saja dan menahan sakit sampai selesai. Syukurnya juara, sehingga rasa sakitnya berkurang he-he. Saya puas dengan hasilnya.

Apakah kalian sudah puas dengan pencapaian karier kalian saat ini?
PJ
: Belum. Saya bukan tipe orang yang berhenti untuk terus belajar.

DS: Begini. Jadi atlet itu tidak gampang. Harus punya komitmen kuat, karena kita menjalani rutinitas yang sama setiap hari dan itu bertahun-tahun lamanya.

Kita ini tidak ada quality time seperti orang lain untuk keluarga. Tidak ada tanggal merah bagi kami, karena untuk atlet, semua tanggal adalah hitam. Sudah pasti masa muda hilang, dan apapun hasil akhirnya, para atlet sendiri yang memperjuangkan masa depannya, bukan orang lain.

Seberapa sulit perjalanan karir kalian sebelum dipanggil untuk bergabung ke Pelatnas Cipayung sebagai pemain utama?
DS
: Banyak faktor yang menjatuhkan mental saya, kalau tidak kuat, sebelumnya. Bahkan di awal pertama kali masuk Pelatnas, banyak sekali ejekan. Mulai dari badan paling kecil, dianggap remeh dan lain-lain.

Pertama masuk Cipayung itu gap kemampuannya masih jauh dengan pemain yang sudah lebih dulu ada di Pelatnas. Tapi lama-lama bisa menyesuaikan.

PJ: Yang saya ingat, di awal-awal meniti karier, saya sempat sering puasa karena hanya sekali mendapat jatah makan dalam sehari. Bukan kenapa-kenapa, tapi saya tidak mau merepotkan orangtua, karena mereka sudah mendukung total dari awal, dan saya ingin buktikan saya bisa mandiri.

Jadi siapa orang paling berpengaruh terhadap karier kalian berdua?
PJ
: Pastinya keluarga. Mereka selalu mendukung apapun situasinya. Itu yang menjadi bekal keyakinan saya ketika bertanding. Dukungan itu sudah diberikan sejak awal saya serius menggeluti bulu tangkis.

DS: Keluarga. Dukungan mereka tidak pernah berhenti walau kita dalam keadaan terpuruk. Mereka juga tidak pernah menghakimi, dan selalu memberi semangat dan doa.

Sebenarnya kapan kalian mulai mengenal atau bermain bulu tangkis?
PJ
: Ketika usia saya 12 tahun. Awalnya melihat bapak bermain, dan langsung suka. Bapak adalah pelatih pertama saya.

DS: Saya mengenal bulu tangkis lewat papa. Awalnya hanya main-main saja mengikuti papa dan kaka. Kebetulan waktu itu kakak juga bermain bulu tangkis, saya hanya ikut-ikut. Sekitar umur 11 atau 12 baru saya mulai serius di bulu tangkis, sementara kakak saya justru memutuskan melanjutkan sekolah.

Mengapa kalian memilih bulu tangkis sebagai karier?
PJ
: Dulu saya sempat mencoba beberapa olahraga, seperti renang dan sepak bola. Bahkan saya cukup serius bermain bola, sebagai penyerang. Tapi orangtua tidak setuju karena khawatir cedera.

Suatu kali saya dijadwalkan ikut bertanding melawan sekolah lain. Tapi sepatu bola di rumah mendadak hilang. Ternyata sepatu itu dibuang oleh orangtua. Ya semenjak itu saya jadi fokus ke bulu tangkis saja.

DS: Papa saya, yang seorang dokter, memberi pilihan kepada saya. Pilih sekolah atau bulu tangkis. Karena kebetulan malas sekolah, saya lebih memilih bulu tangkis he-he.

Tapi cita-cita awal kalian saat kecil memang jadi atlet bulu tangkis?
DS
: Cita-cita saya banyak. Sebut saja dokter, presiden dan lain-lain. Ya ikut-ikut teman, yang kebanyakan cowok. Saya tidak bermain boneka, melainkan mobil-mobilan, manjat pohon, main kelereng, layangan.

Paling sering jatuh di selokan dan dari tangga. Kaki saya pas kecil tidak ada mulus-mulusnya karena di mana-mana ada bekas kena knalpot di setiap bagian kaki. Bahkan saya suka berkelahi, tapi dengan cowok, bukan cewek. Malas saya kalau cewek, berkelahinya jambak-jambakan ha-ha.

PJ: Kalau saya ingin sekali menjadi tentara, karena dulu suka nonton film perang. Dalam bayangan saya tembak-tembakan itu seru, dan ingin merasakan perang sesungguhnya.

Tapi doa saya terkabul, bedanya perang yang saya jalani sekarang beda versi saja, bukan di medan perang, tapi di lapangan untuk membela negara. Ini semua berkat doa.

Apakah kalian memiliki mantra dan doa atau semacam ritual sebelum bertanding?
DS
: Kalau berdoa ya pasti. Tapi doanya seperti apa? Ya rahasia saya dengan yang di Atas saja.

PJ: Sebelum bertanding saya biasanya mendengarkan lagu rohani. Terakhir, ketika final All England itu, saya mendengarkan lagu Servant Of God, yang dinyanyikan Benny Hinn.

Memangnya apa sih yang terjadi di dalam kepala kalian ketika menghadapi pertandingan final dan mendapati lawan berat?
PJ
: Campur aduk, tapi saya menekankan ke diri sendiri untuk bisa fokus dan berani. Jangan sampai kalah mental.

Kalau kalah, bagaimana caranya untuk bangkit?
PJ
: Jujur memang agak susah untuk bangkit. Tapi saya selalu mencamkan ke diri sendiri bahwa jangan cepat putus asa. Karena setiap kekalahan itu bukan akhir segalanya. Seiring berjalannya waktu, dengan banyaknya latihan dan menghadapi pertandingan selanjutnya, bayangan kekalahan-kekalahan bisa hilang juga.

DS: Jangan terlalu mendengar kata orang lain yang menjatuhkan. Harus percaya diri bahwa kita mampu, dan memandang kekalahan itu sebagai pelajaran agar kita lebih kuat ke depannya.

Jika tidak sedang latihan dan bertanding, apa saja kegiatan kalian?
PJ
: Lebih banyak kumpul dengan keluarga. Atau menyalurkan hobi dengan bermain biliard.

Kalau Debby?
DS
: Kalau tidak latihan saya suka eksperimen masak. Nah, saya suka menyuruh adik mencicipi masakan saya, karena saya sendiri justru tidak berani mencobanya. Jadi adik saya itu adalah korban eksperimen saya ha-ha.

Pasangan ganda campuran Praveen Jordan (kiri) dan Debby Susanto (kanan) serta pelatih Richard Mainaky berpose ketika menerima bonus usai memenangi Kejuaraan All England 2016 di Jakarta, Selasa (22/3/2016). Bakti Olahraga Djarum Foundation menyerahkan bonus Rp500 juta kepada pasangan Praveen/Debby atas prestasi mereka memenangi All England 2016.
Pasangan ganda campuran Praveen Jordan (kiri) dan Debby Susanto (kanan) serta pelatih Richard Mainaky berpose ketika menerima bonus usai memenangi Kejuaraan All England 2016 di Jakarta, Selasa (22/3/2016). Bakti Olahraga Djarum Foundation menyerahkan bonus Rp500 juta kepada pasangan Praveen/Debby atas prestasi mereka memenangi All England 2016. | Wahyu Putro /Antara Foto

Pastinya ketika kalian meraih gelar, maka ada bonus menanti, dan beragam cara dilakukan atlet untuk mengatur keuangannya. Kalau kalian?
PJ
: Harus pintar mengaturnya. Karena seorang atlet tidak akan selamanya bisa terus menang dan mendapat bonus. Saya sudah memiliki bayangan buka usaha di masa depan. Saat ini sedang meriset usaha apa yang pas untuk saya nantinya.

DS: Saya menabungnya untuk masa pensiun, atau dibelikan properti untuk investasi masa depan. Karena kita tidak tahu bagaimana kondisi kita nanti di masa tua.

Di masa depan, kalian berdua tidak memiliki bayangan menjadi pelatih?
DS
: Saya belum berpikir ke sana. Saya juga belum tahu ada jiwa melatih atau enggak. Tidak sembarangan lho untuk bisa melatih, karena harus ada bakat juga.

PJ: Saya belum tahu. Yang terpenting adalah berlatih keras dan mengejar gelar sebanyak-banyaknya.

Bagaimana kalian memelihara asa agar terus semangat untuk mengejar gelar?
DS
: Jangan pernah puas, anggap kemenangan adalah sementara. Selagi masih ada kesempatan kejarlah gelar, dan prestasi sebanyak mungkin.

PJ: Sama. Jangan pernah puas dengan pencapaian yang didapat. Itu yang membuat kami selalu lapar terhadap gelar.

Bicara gelar. Apakah Indonesia memiliki peluang yang baik untuk mengamankan medali di cabang bulu tangkis di Olimpiade 2016 Brazil?
DS
: Saya rasa semua negara masih punya peluang yang sama.

PJ: Semua nomor memiliki peluang. Selagi mau berusaha kuat, saya yakin kita semua bisa mewujudkannya.

Ngomong-ngomong apakah sebagai pasangan ganda di lapangan, kalian berdua berpeluang juga menjadi sepasang kekasih di luar lapangan?
PJ
: Enggak lah ha-ha. Debby dan saya sudah memiliki pasangan masing-masing.

DS: (Tersenyum)

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR