Keterangan Gambar : Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Juri Ardiantoro yang terpilih menjadi Ketua KPU Definitif menggantikan Husni Kamil Manik berpose untuk Beritagar.id di Gedung KPU, Jalan Imam Bonjol Nomor 29, Menteng, Jakarta, Jumat (22/7/2016). © Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo

Juri memandang pesan singkat berisi teror adalah hal biasa. Ia tidak takut karena lembaganya berorientasi kepada profesionalitas dan integritas.

Bocah itu menyelam di sungai. Tak lama kemudian menyembul dengan sekop kaleng di tangan yang telah berisi pasir. Dialah Juri Ardiantoro 30-an tahun silam saat bergelut dengan derasnya Sungai Kamal, Brebes, sebagai penambang pasir.

Juri kecil berangkat ke sungai sepulang sekolah sampai menjelang mentari bersembunyi. Hampir tiap hari ia menantang derasnya sungai, dan baru berhenti kala hujan.

Ia terlahir dari keluarga sederhana. Ayah dan ibunya buta huruf, bahkan tak bisa tanda tangan. "Kalau dalam terminologi proletar mungkin kami ada di bawahnya lagi: lumpenproletariat," kata anak ke lima dari enam bersaudara ini menggambarkan kondisi ekonomi keluarganya.

Saat itu ia melakoni apa saja demi mendapat uang, mulai dari memelihara kambing, bantu panen padi, hingga memikul pasir. Ibaratnya, lanjut dia, dirinya biasa memikul pekerjaan berisiko besar. "Bahaya lho jika air bah datang," kisahnya.

Kini si penambang pasir ini memikul lagi pekerjaan yang juga berisiko besar. Pekan lalu ia resmi dipilih menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI melalui musyawarah mufakat.

Mantan Ketua KPU Provinsi DKI Jakarta periode 2008 - 2013 ini menggantikan posisi Ketua KPU Husni Kamil Manik, yang meninggal dunia karena sakit. Juri, yang sebelumnya adalah komisioner, akan memimpin lembaga tersebut selama 8 bulan ke depan.

Tugas besar sudah menantinya. Paling tidak ada dua. Yang pertama adalah menetapkan rancangan Peraturan KPU yang belum ditandatangani dan dikonsultasikan ke dewan.

Peraturan KPU ini genting, karena akan digunakan sebagai dasar penyelenggaraan Pilkada 2017, yang akan digelar di 101 daerah.

Tugas kedua adalah masalah anggaran. Komisi pemilu meminta tambahan uang sebesar Rp1,025 triliun di tengah seretnya duit pemerintah. Tambahan anggaran ini rencananya dipakai untuk pilkada serentak 2017 dan pilkada serentak 2018 yang rangkaiannya dilakukan sejak 2017.

Juri sendiri berharap di waktu yang tersisa ini agenda-agenda yang disepakati segera dituntaskan. "Kami (komisioner) selalu bertekad untuk membuat pemilu jadi lebih baik lagi," katanya saat wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung Prasetyo di ruang kerjanya, Lantai II Gedung KPU, Jalan Imam Bonjol Nomor 29, Menteng, Jakarta, Jumat (22/7/2016).

Pagi itu terdapat tumpukan berkas dan buku-buku di atas meja kerjanya. Di seberangnya ada satu set sofa, dengan rak dinding berisi buku baru yang masih bersampul plastik dan lama.

Selama satu jam ia menjawab rumor seputar wafatnya sang ketua, agenda KPU ke depan dan masa kecilnya sebagai pemikul pasir. Berikut petikan wawancara dengan pria berusia 43 ini:

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Juri Ardiantoro yang terpilih menjadi Ketua KPU Definitif menggantikan Husni Kamil Manik saat diwawancara Beritagar.id di ruang kerjanya, Lantai II Gedung KPU, Jalan Imam Bonjol Nomor 29, Menteng, Jakarta, Jumat (22/7/2016).
Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Juri Ardiantoro yang terpilih menjadi Ketua KPU Definitif menggantikan Husni Kamil Manik saat diwawancara Beritagar.id di ruang kerjanya, Lantai II Gedung KPU, Jalan Imam Bonjol Nomor 29, Menteng, Jakarta, Jumat (22/7/2016).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Kepergian almarhum Husni Kamil Manik masih menyisakan rasa penasaran beberapa kalangan...
Dari pihak keluarga dan rumah sakit sudah clear dan jelas menerangkan soal sebab dari meninggalnya Pak Husni. Beliau meninggal semata-mata karena sakit.

Maaf, ada rumor miring yang menduga beliau meninggal akibat diracun?
Keterangan dari dokter sudah valid. Pak Husni mengidap diabetes. Sesaat sebelum meninggal telah terjadi infeksi sistemik di tubuhnya. Hal itu yang kemudian jadi sebab meninggalnya beliau, karena infeksinya telah menyebar.

Apakah para komisioner KPU awalnya menilai ada kejanggalan dalam kematian Husni?
Tak ada keraguan dari kami juga pihak rumah sakit dan keluarga. Dari cerita keluarganya juga didapati tidak ada yang patut dicurigai di luar kewajaran.

Spekulasi berkembang ketika ada wacana permintaan audit forensik data KPU pada pelaksanaan Pemilihan Presiden 2014. Adakah korelasinya?
Dari internal KPU sudah tegas menyatakan tidak ada yang ditutupi. Kami juga tak pernah melakukan kecurangan untuk memenangkan seseorang di pemilu. Sehingga kalau ada orang yang mau mengaitkan meninggalnya Pak Husni karena upaya kesengajaan, maka bagi kami itu tidak berdasar. Tidak nyambung gitu lho.

Tapi eskalasi sosial politik Pilpres ketika itu amat panas...
Memang, tapi kami yakin tidak mungkin ada orang yang mau melakukan tindakan seperti itu atas dasar hasil pemilu. Karena sama sekali tidak ada hal yang perlu dicurigai.

Lagipula pihak-pihak yang menyebar rumor dan spekulasi itu juga sudah minta maaf dan datang ke keluarga Pak Husni. Bahkan mereka datang di hari kedua, ketiga dan saat tahlilan ke rumah.

Anda sendiri tahu bahwa almarhum selama ini sedang berjuang melawan penyakit diabetesnya?
Saya tahu dia menderita penyakit gula sejak lama. Tapi tetap saja terkejut dengan kepergiannya, karena tidak ada tanda-tanda serius dari perkembangan penyakitnya.

Beliau jarang berbagi soal penyakit yang dideritanya?
Pak Husni agak tertutup soal sakitnya itu, dan kami tidak melihat adanya gejala buruk.

Sebelum meninggal, apa percapakan terakhir Anda dengan Husni?
Obrolan biasa saja. Ketika itu kami masih sama-sama di kantor, hari terakhir sebelum libur Lebaran. Ya, saling menanyakan soal kesehatan. Dia tampak tidak fit, tapi kami masih beberapa kali bertemu di masjid dekat rumah. Kebetulan kediaman kami berdekatan.

Nah saat itu Pak Husni mengatakan kepada saya alhamdulillah kakinya yang sakit telah membaik. Jelang libur kami berpisah untuk urusan masing-masing.

Sempat menemuinya sebelum meninggal di rumah sakit...
Saya tidak tahu pas Lebaran beliau masuk rumah sakit. Untungnya saya belum mudik, sehingga bisa sempat menuntaskan kewajiban sesama muslim terhadap orang yang meninggal. Saya baru mudik di hari berikutnya.

Apakah KPU sebagai lembaga penyelenggara pemilu sering mendapat teror?
Kami sudah antisipasi berbagai potensi teror kepada KPU sejak awal. Cara paling gampang adalah publik tahu apa yang dikerjakan KPU. Jadi prinsip kami adalah keterbukaan.

Sedari tempat pemungutan suara, kemudian lewat PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) dan juga PPS (Panitia Pemungutan Suara), semua data diketahui orang. Bahkan seluruh proses pembuatan peraturan KPU dibuka dan diuji publik--yang bisa dilihat di situs resmi KPU.

Ada jaminan kecurangan tidak dilakukan oleh KPU?
Begini. Rekrutmen petugas kami saja sedemikian terbuka. Jika orang masih saja curiga saya tidak tahu deh alasannya apa. Yang jelas intimidasi dan intervensi tetap tidak akan bisa memengaruhi keputusan kami, termasuk hasil pemilu.

Sejauh apa teror dan intimidasi yang pernah Anda terima?
Kalau pesan singkat begitu (teror) adalah hal biasa. Di dalam politik yang terbuka seperti sekarang, pesan singkat liar yang kita terima kan mudah ditemui. Tapi kami tidak takut karena KPU berorientasi kepada profesionalitas dan integritas.

Anda tidak khawatir dengan adanya teror itu...
Kami sadar betul situasi itu sangat mungkin terjadi. Tapi ya mau bagaimana? Keterbukaan politik saat ini luar biasa. Yang pasti kami tetap waspada akan potensi-potensi teror yang mengarah kepada KPU.

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Juri Ardiantoro yang terpilih menjadi Ketua KPU Definitif menggantikan Husni Kamil Manik, saat diwawancara Beritagar.id di ruang kerjanya, Lantai II Gedung KPU, Jalan Imam Bonjol Nomor 29, Menteng, Jakarta, Jumat (22/7/2016).
Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Juri Ardiantoro yang terpilih menjadi Ketua KPU Definitif menggantikan Husni Kamil Manik, saat diwawancara Beritagar.id di ruang kerjanya, Lantai II Gedung KPU, Jalan Imam Bonjol Nomor 29, Menteng, Jakarta, Jumat (22/7/2016).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Bagaimana anggota KPU memosisikan diri agar netral dalam politik, tapi tetap bisa berhubungan baik dengan peserta pemilu?
Selama ini kami berlaku adil terhadap seluruh partai dan juga terbuka. Hal itu yang membuat partai apresiasi. Sehingga hubungan kami dengan mereka sangat baik.

Dari sisi anggota, kami berkomitmen menyelesaikan jabatan sampai akhir. Artinya tidak ada yang akan keluar, apalagi ke partai sebelum masa jabatan selesai.

Jadi jika pun ada tawaran posisi menarik di partai akan ditolak?
Selama masih menjabat maka harus komitmen untuk tidak menerima.

Lembaga ini tidak mau lagi ada komisioner yang berhenti di tengah jalan dan masuk partai politik?
Ya.

Ada keharusan menolak jika komisoner KPU mendapat undangan pertemuan partai?
Untuk undangan-undangan partai yang berpotensi membuat kami tidak netral, maka kami tidak akan hadiri. Kecuali memang undangan itu terkait pelatihan atau pendidikan politik, baru boleh kami hadiri.

Anda sendiri pernah ditawari posisi yang menggiurkan oleh sebuah partai?
Secara pribadi saya belum pernah ada yang menawari. Kalau pun ada maka saya akan jawab tidak. Lagi pula, kami, para komisioner itu, sudah solid dan saling percaya.

Meski saya jadi ketua, keputusan tetap berprinsip pada kolektif kolegial, di mana pengambilan keputusan berdasarkan kesepakatan bersama melalui musyawarah.

Ketika Husni wafat bagaimana dinamika di internal KPU dalam memilih penggantinya?
Sistem KPU sudah berjalan ketika menghadapi situasi seperti itu. Jadi ya biasa saja. Tidak ada dinamika yang bagaimana.

Karena mekanismenya, saat seorang ketua meninggal, maka otomatis kepemimpinan itu dipegang oleh Plt (pelaksana tugas). Jika ketua pergi keluar Jakarta lebih dari satu hari juga harus ada Plt yang menggantikannya.

Apakah ada perdebatan tajam saat proses pemilihan ketua?
Tidak ada perdebatan dan drama. Masing-masing saling bicara dan mengemukakan pandangan pribadi. Kemudian disepakati salah satu dari kami jadi ketua definitif.

Masa jabatan Anda hanya 8 bulan. Apa fokus Anda selama sisa jabatan sebagai ketua itu...
Di samping memelihara ritme kerja, ya melanjutkan apa-apa yang menjadi target dan tugas KPU. Misalnya mempersiapkan pelaksanaan pilkada serentak pada 2017 di 101 daerah.

Bagaimana dengan peraturan KPU tentang pilkada, sudah final dan dikonsultasikan ke DPR?
Peraturan KPU itu belum ditandatangani. Segera akan kami tuntaskan setelah dilakukan uji publik. Draft-nya nanti akan dikonsultasikan ke DPR dan pemerintah, sebelum kemudian ditetapkan.

Persoalan anggaran juga sedang dibahas. Termasuk membangun strategi penggunaan teknologi informasi dalam pemilu. Kami sudah membentuk tim ahli untuk mengkaji kemungkinan pemilu memakai teknologi informasi pada pemilu 2019 nanti. Roadmap-nya sudah dibuat, terlepas akan dipakai atau tidak, tapi kajiannya sudah dilakukan.

Anda terbebani dengan jabatan ketua ini?
Enggak. Karena KPU bekerja dalam prinsip kolektif kolegial--seperti yang saya katakan tadi. Jadi tidak bisa seorang komisioner dan ketua mengambil keputusan sendiri untuk hal yang strategis, apalagi menyangkut kebijakan institusi. Semua keputusan dilakukan dan dilaksanakan bersama.

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Juri Ardiantoro yang terpilih menjadi Ketua KPU Definitif menggantikan Husni Kamil Manik berpose untuk Beritagar.id di Gedung KPU, Jalan Imam Bonjol Nomor 29, Menteng, Jakarta, Jumat (22/7/2016).
Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Juri Ardiantoro yang terpilih menjadi Ketua KPU Definitif menggantikan Husni Kamil Manik berpose untuk Beritagar.id di Gedung KPU, Jalan Imam Bonjol Nomor 29, Menteng, Jakarta, Jumat (22/7/2016).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Mundur ke belakang, dari guru, lalu aktivis pemantau pemilu, kemudian menjadi ketua KPU. Pernah membayangkan ini sebelumnya?
Tidak ada runutan seperti itu dalam bayangan saya ketika kecil. Cita-cita terbesar saya cuma lulus sekolah dasar agar bisa tulis dan baca. Itu saja sudah lebih hebat dari orangtua saya yang buta huruf.

Bagaimana ceritanya Anda yang berasal dari keluarga tidak terdidik namun memiliki gelar pendidikan yang baik, bahkan sampai doktor?
Tidak bisa baca tulis bukan berarti tidak melek wawasan. Nenek buyut saya sebenarnya berpendidikan di zaman Belanda. Yang jadi masalah, setelah lulus mereka bekerja untuk penjajah. Sebab itu keluarga tidak membolehkan mereka sekolah lagi, karena dilarang bekerja dengan orang kafir he-he.

Keturunan nenek buyut saya itu tidak sekolah karena kecewa dengan sistem yang ada saat itu. Menurut saya juga kebijaksanaan dalam hidup tidak selalu berasal dari sekolah formal. Pengajian di desa, seperti yang diikuti oleh orangtua saya, juga bisa melahirkan itu--meski kami tidak berkecukupan.

Anda membantu orangtua untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari?
Tentu, kalau dalam terminologi proletar mungkin kami ada di bawahnya lagi: lumpenproletariat. Ketika itu saya membantu penghasilan orangtua dengan memelihara kambing, membantu panen padi orang dan menambang pasir. Saat kecil saya jago menyelam sekian meter di bawah arus Sungai Kamal untuk ambil pasir.

Hobi saya ketika kecil adalah baca dan tulis, meski hobi nakal juga, seperti tawuran dan lainnya. Tapi satu yang saya hindari: minuman keras. Uniknya, teman kecil saya sekarang ini juga bekerja di KPU.

Dia adalah teman duduk saya pas SMP--yang sering pinjamkan saya uang untuk jajan. Kalau ingin mengenang masa kecil, dia saya panggil ke sini dan, kemudian tertawa bersama.

Kapan terbentuk pola pikir kritis yang menjadikan Anda sebagai aktivis pemantau pemilu?
Ketika kuliah di Jakarta. Saya aktif di organisasi, semacam gerakan ekstraparlementer (luar parlemen), pers mahasiswa dan lain-lain. Saat kuliah sarjana suka menulis soal pemilu, dan selanjutnya tesis serta desertasi saya juga soal pemilu.

Dengan rumor miring atas wafatnya Pak Husni apakah orangtua khawatir?
Untungnya mereka tidak bisa baca he-he. Jadi tidak terlalu paham pemberitaan. Saya hanya minta doakan saja dan pesan keluarga adalah hati-hati.

Masih ada waktu untuk keluarga setelah menjabat sebagai Ketua KPU...
Meski sibuk juga di Sabtu dan Minggu saya usahakan pas libur main sama anak, juga mengantarnya sekolah. Itu tidak akan saya tinggalkan. Bahkan meski anak saya sudah bisa mandi sendiri, saya tetap mandikan kalau waktu sedang lowong.

Usai 8 bulan menjabat, setelah itu akan ke mana, partai atau menjadi akademisi?
Saya belum tahu akan ke mana. Tapi yang pasti saya masih tercatat sebagai dosen, mengurus beberapa yayasan dan ormas, jadi tidak nganggur meski tidak digaji he-he.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.