Keterangan Gambar : Kevin Sanjaya Sukamuljo (kiri) dan Marcus Fernaldi Gideon berpose di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (23/3/2017). © Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo

Kevin/Marcus terkesan cuek, bahkan dingin, saat berada di luar lapangan. Sementara di dalam lapangan, mereka berapi-api.

Kabar bagus mampir melalui layanan pesan singkat WhatsApp awal pekan lalu. "Silakan mas, Kevin/Marcus bisa diwawancarai hari Kamis (23/3/2017)," ujar Deri Destanto, media officer Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) yang mengurus jadwal wawancara para pemain bulu tangkis Indonesia, kepada Beritagar.id.

Deri tidak lupa membubuhi keterangan bahwa wawancara bisa dilakukan selama satu jam, pukul 11-12 WIB. Namun Deri juga mengingatkan, "Jadwal (latihannya) padat, persiapan ke India Open."

Kevin/Marcus yang termaksud di atas adalah sang juara ganda putra All England 2017 dan kini pasangan putra nomor satu di dunia, Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon. Beritagar.id pun menemuinya sesuai jadwal yang disediakan.

Kevin dengan ramah menyambut Hedi Novianto dan fotografer Wisnu Agung Prasetyo saat tiba di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur. Pemain berusia 21 tahun ini memegang satu kotak vitamin di tangan kirinya.

"Kevin lagi nggak enak badan," kata Deri memberi informasi. Tak lama, Marcus hadir. Tali sepatu dibiarkan tergerai karena dia baru selesai latihan tahap pertama.

Kesan cuek, lebih tepat lagi "dingin", terlihat pada dua anak muda ini. Tak ada tanda betapa mereka adalah juara All England yang bila tampil di lapangan cukup berapi-api.

"Mental juang memang salah satu keunggulan mereka," ujar pelatih Herry IP setelah anak asuhnya mengalahkan pasangan Tiongkok Li Junhui/Liu Yuchen 21-19 dan 21-14 dalam partai final All England 2017 di Birmingham, Inggris, 12 Maret lalu.

Namun kesan kamuflase juga tak bisa ditolak. Apa yang nampak bisa ditebak bukan gambaran asli.

Misalnya dalam urusan target bertanding. Saat menjalani laga awal All England 2017, Kevin/Marcus sempat mengatakan tak punya target.

"Sebenarnya ada target, semua atlet pasti punya target (ketika main di sebuah turnamen). Cuma kami tidak terang-terangan mengungkapkannya, tidak jadi beban pikiran juga," kata Marcus, 26 tahun, pemain kelahiran Jakarta.

Kevin dan Marcus sebenarnya baru dua tahun berpasangan. Kevin pada awalnya justru pemain tunggal putra saat masih yunior dan ditarik menjadi pemain ganda oleh PB Djarum yang membinanya.

Sementara Marcus sempat mengundurkan diri dari pelatnas pada 2013. Penyebabnya samar-samar dan tidak terkonfirmasi. Kemudian Marcus berpasangan dengan Markis Kido mulai September 2003 dan tak lama kemudian menjuarai Prancis Open serta Indonesia Masters.

Marcus mengatakan Kido banyak memberi masukan. "Kido banyak memberi bantuan sehingga kami masih bisa menduduki posisi delapan dunia meski di luar pelatnas," tukas Marcus yang enggan menjawab apa masalah yang memicunya meninggalkan pelatnas.

Lantaran tetap berprestasi, Marcus ditarik kembali ke pelatnas PBSI dan dipasang dengan Kevin hingga kini. Meski masih seumur jagung berpasangan, mereka tak pernah kalah apabila berhasil lolos hingga final sebuah turnamen.

Sebelum menjuarai All England 2017; Kevin/Marcus merajai Taipei Masters 2015, Malaysia Masters 2015, India Open 2016, dan Australia Open 2016.

Saat tulisan ini dibuat, Senin (27/3), Kevin/Marcus sudah berada di New Delhi untuk mempertahankan gelar juara ganda putra India Open yang berlangsung mulai 28 Maret hingga 2 April 2017.

Christian Hadinata, legenda ganda putra Indonesia yang kini melatih pemain muda di PB Djarum, mengatakan bahwa Kevin/Marcus adalah titisan pasangan Candra Wijaya/Sigit Budiarto.

Pasangan dimaksud itu adalah peraih medali emas Olimpiade 2000 dan juara All England 1999. Menurut Christian, Kevin seperti Sigit yang jeli dan punya pukulan tak terduga. Sementara Marcus dinilai mirip Chandra yang lugas dan keras.

"Ya salah satu idola saya memang mas Sigit," kata Kevin, anak muda asal Banyuwangi (Jawa Timur), dalam acara pemberian bonus dari PB Djarum di Jakarta pada Rabu (22/3). Sigit yang kebetulan hadir dalam acara itu adalah pelatih Kevin saat masih yunior.

Marcus Gideon (kiri) dan Kevin Sanjaya Sukamuljo mengangkat trofi juara ganda putra All England 2017 di Barclaycard Arena, Birmingham, Inggris, Minggu (12/3/2017).
Marcus Gideon (kiri) dan Kevin Sanjaya Sukamuljo mengangkat trofi juara ganda putra All England 2017 di Barclaycard Arena, Birmingham, Inggris, Minggu (12/3/2017).
© Rui Vieira /AP Photo

Berikut ini petikan wawancara dengan mereka di tengah segala keterbatasan karena Kevin sedang tidak fit dan Marcus ternyata harus segera kembali berlatih. Wawancara berlangsung tak lebih dari 15 menit.

Ini sedang persiapan untuk India Open?
Marcus Gideon (MG): Iya, agendanya padat setelah All England.

Seberapa besar peluang ketemu lagi dengan sesama ganda putra Indonesia di final India Open?
Kevin Sanjaya (KS): Ya mungkin saja selama semuanya sama-sama menang terus.

(Pada final ganda putra India Open 2016, Kevin/Marcus mengalahkan rekan di pelatnas Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi 21-17 dan 21-13).

Bagaimana bila bertemu lagi dengan pasangan Malaysia yang tak mau bersalaman (dengan Kevin) di semifinal India Open 2016?
KS: Ya nggak masalah.

(Selepas dikalahkan Kevin/Marcus pada semifinal India Open 2016, pemain Malaysia Tan Wee Kiong enggan menyalami Kevin).

Sebenarnya apa masalahnya?
KS:
Apa ya waktu itu, cuma masalah servis.
MG: Iya, biasalah panas pas main. Setelah main ya nggak ada apa-apa (lagi).

Siapa lawan terberat di India Open?
MG:
Siapa ya, semua berat. Babak pertama kami langsung ketemu pasangan Taiwan (Chen Hung Ling/Chi-Lin Wang) yang cukup berkualitas. Saya belum lihat undiannya.

Sekarang kalian latihan cukup intensif. Ini demi tampil di turnamen super series? Ada perbedaan intensitas latihan untuk turun di super series atau turnamen di bawahnya? MG: Tidak ada perbedaan, sama saja. Soalnya kami kan di sini terus (Cipayung), di pelatnas. Ya latihan terus.

Biasanya pemain ganda putra bisa bikin lawan takut sebelum masuk lapangan jika punya keterampilan smes yang kencang. Namun kalian justru tidak terlihat berbahaya, postur juga tidak tinggi besar. Apakah ini salah satu kunci keberhasilan di lapangan, kalian terkesan diremehkan?
MG:
Sekarang susah ya, kami tak mungkin diremehkan lagi karena sudah nomor satu dunia.

Waktu di All England kemarin kalian bilang tak punya target, tapi berhasil juara. Apa resepnya?
KS:
Sebenarnya target (pribadi) ada, cuma kami tidak bilang-bilang. Tak mungkin main di sebuah turnamen tanpa target.

Bagaimana itu praktiknya? Ada target tapi kalian bilang tanpa target?
MG:
Jumlah kejuaraan sangat banyak, jadi kami tak berpikir terlalu jauh. Kami pikirkan satu per satu.

Ke depan misalnya ada India Open, Indonesia Open, dan Malaysia Open. Kami hanya berjuang sebaik mungkin, kalau waktunya juara ya juara. Bila gagal juara ya belajar lagi. Kami tetap harus belajar meski sudah di atas.

Kalian punya keunggulan pada bola depan dan servis. Apakah itu memang dipelajari untuk dijadikan senjata unggulan?
KS:
Sebenarnya semua pemain punya kehebatan dan kelemahan masing-masing. Bila bicara bola depan, ada beberapa lawan yang juga pintar bola depan. Jadi, semuanya tergantung di lapangan. Pintar-pintarnya kita.

Bagaimana dengan pasangan Denmark yang kalian kalahkan di semifinal All England 2017?
MG:
Sebenarnya mereka hebat, rapi juga bola depannya.

Lalu apa kunci mengalahkan mereka? Mental?
MG:
Ya kami lebih siap dan fokus. Bola-bola kami pada masa krusial tidak gampang mati, tidak mudah bikin salah.

Susi Susanti (Kepala Bidang Pembinaan PBSI) dan pelatih Herry IP mengatakan mental juang kalian adalah salah satu senjata. Ada komentar?
KS: Kami ini satu tujuan, punya tekad, mau berusaha semaksimal mungkin.

Urusan menang-kalah ya nomor dua. Yang penting kami sudah bermain yang terbaik. Jadi kalau kalah ya tetap puas karena sudah maksimal.

Ada kritik dari mantan pemain bahwa pemain generasi sekarang tidak terlampau menyesal ketika kalah. Benarkah begitu?
MG: Apakah itu artinya harus menangis? Kalau sudah kejadian buat apa lagi, ya dinikmati saja.
KS: Selama kami sudah melakukan yang terbaik, apa yang mau disesali. Berarti kemampuannya memang begitu.

Berarti kami harus latihan lagi. Kecuali kami ketika di lapangan tidak bermain maksimal, pasti menyesal karena semua kemampuan tidak bisa keluar.

Marcus Gideon (kiri) melatih permainan depan di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (23/3/2017).
Marcus Gideon (kiri) melatih permainan depan di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (23/3/2017).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Kevin, Anda mengatakan suasana di All England mirip Istora Senayan. Benarkah? Padahal suporter Indonesia yang hadir sekitar seratus orang.

KS: Ya memang ramai, mungkin suporter non-Indonesia juga ikut teriak. Yang jelas suasananya memang ramai apabila Indonesia main.

Apa kesan menjadi juara All England?
MG: Senang sekali, ya tapi setelah itu sama saja (dengan juara di turnamen lain). All England-nya juga sudah lewat.

Apakah punya beban setelah menjuarai All England dan kini menjadi ganda putra nomor satu di dunia?
MG:
Saya pribadi nggak merasa ada beban, saya juga nggak pernah memikirkan soal status juara.

Ada program khusus dari pelatih setelah kalian menjuarai All England dan menduduki posisi satu dunia?
MG:
Nggak ada, pelatih tak pernah membedakan pemain. Semua pemain di pelatnas punya kualitas.

Saingan terberat di nomor ganda putra sekarang siapa?
KS:
Semua berat.
MG: Sekarang sama saja, tinggal soal rezeki dan keberuntungan (untuk jadi juara).

Karena prestasi terbaru, kalian sekarang dijadikan salah satu andalan Indonesia. Merasa punya beban? Karena kemarin di All England, Praveen Jordan/Debby Susanto yang dijadikan tumpuan juara justru tersingkir di babak pertama.
MG:
Ya kalau saya berusaha yang terbaik saja. Kalah nggak apa-apa, masih hidup ini. Mau bagaimana lagi.

Ngomong-ngomong, kalian kalau ikut turnamen di luar negeri apa kegiatan di luar lapangan?
KS:
Ya cuma istirahat.

Tidak jalan-jalan? Apalagi kalau misalnya tersisih di babak pertama?
MG:
Ya kalau tempatnya bagus jalan-jalan juga. Tapi kalau tempatnya seperti India ya paling di hotel saja.

Bagaimana menjaga mood selama pelatnas?
MG:
Ya dinikmati saja, nggak perlu mengeluh. Sama seperti mas menjalani pekerjaan saja.

Kalian merasa kehilangan kehidupan muda karena memilih menjadi atlet?
MG:
Saya biasa saja karena Sabtu-Minggu masih libur dan turnamen pun cuma dua kali dalam sebulan.
KS: Itu risiko, sudah menjadi pilihan hidup pribadi. Sebenarnya memang masih bisa pergi pada akhir pekan, ya tidak sebebas anak muda biasanya.

Tapi mereka juga tidak bisa punya prestasi seperti kami he-he-he.

Catatan redaksi: Artikel ini didukung Garuda Indonesia.
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.