Livi Zheng saat ditemui di sebuah restoran kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis sore (29/8/2019).
Livi Zheng saat ditemui di sebuah restoran kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis sore (29/8/2019). Bismo Agung / Beritagar.id
BINCANG

Livi Zheng: Terserah orang mau bilang apa

Meski sedang dihujat, ia tak berusaha menghindar untuk ditanya soal dirinya yang terlalu narsistik dan mengagungkan Hollywood.

Sepertinya Indonesia telah menemukan ratu kontroversi terbarunya: Livi Zheng. Sosoknya disorot bukan cuma karena karier internesyenel-nya yang konon tembus Hollywood. Tapi karena dikaitkan juga dengan ayahnya Gunawan Witjaksono (The Hok Bing) dan latar belakang bisnis keluarganya yang ruwet.

Entah kenapa, menjadi putri The Hok Bing membuat murka banyak orang. Bahkan media. Livi pun bingung disebut omong kosong dan dicitrakan sebagai sutradara yang kariernya ditopang keluarga tajir.

“Silakan kritik film aku. Kalau soal kaya, aku gak bisa milih lahir dari keluarga mana,” katanya kepada Heru Triyono, Ronna Nirmala dan fotografer Bismo Agung saat wawancara di sebuah restoran kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis sore (29/8/2019).

Kontroversi Livi dimulai dari kolom opini media daring. Opini itu ditulis Limawati Sudono, yang merupakan nama palsu. Sejak tulisan Sudono itu, puja-puji tentang pencapaian Livi menjadi ambigu.

Babak selanjutnya, beberapa media online mengupas kehidupan Livi setajam Silet secara simultan dan menghasilkan banyak umpatan. “Beberapa gak akurat. Sudah aku adukan ke Dewan Pers,” ujar perempuan berusia 30 ini.

Sore itu, kami bertemu Livi di Plaza Senayan XXI, tepat pada hari pemutaran perdana film Gundala. Begitu riuh. Sehingga kami pun pindah tempat, mencari lokasi yang terlindung dari keramaian. Idenya: makan malam disambi wawancara.

Namun, Livi menolak untuk makan. Hanya mau minum air putih saja. Ia sempat berang karena tak terima badannya dibilang agak berisi. “Bilang aja gendut. Naik 15 kilo gram nih. Lagi "puasa",” katanya terkekeh. Dus, ia bersedia menjawab pertanyaan apapun sambil terkadang celingak-celinguk dan mengecek ponsel. Berikut perbincangannya:

Livi Zheng saat ditemui di sebuah restoran kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis sore (29/8/2019).
Livi Zheng saat ditemui di sebuah restoran kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis sore (29/8/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Bagaimana lo menyikapi berita beberapa media online dan nyinyiran netizen yang menyudutkan?
Biasa saja. Malah agak merasa lucu di sebagian pemberitaan itu.

Bagian mana yang lucu. Yang lo disebut punya orang tua kaya dan mampu biayai kebutuhan-kebutuhan lo. Mungkin termasuk membiayai film lo?
Tapi kan gue enggak. Gue itu pakai investor yang datang. Tanya saja sendiri ke investornya.

Bikin film kan mahal. Memangnya ada berapa investor yang membiayai film lo?
Ada satu. Profesinya bankir.

Bankir mana?
Amerika. Dia kelahiran Indonesia yang lama tinggal di sana.

Film Bali: Beats of Paradise memakai investor juga, bukannya dibiayai pemerintah?
Aku sering sukarela kok kalau proyek film pemerintah. Kalau Bali: Beats of Paradise itu dapat uang Rp20 miliar dari investor.

Pemerintah malah gak sama sekali keluar uang. Tanya saja Pak Dubes.

Tapi apa benar orang tua lo sama sekali tidak punya andil dalam karier film lo?
Orang tua memang bayarin sekolah. Itu bener. Tapi kalau karier film, saya cari investor sendiri. Saya bertemu pejabat-pejabat juga usaha sendiri.

Misalnya bertemu Pak Jusuf Kalla. Malah orang tua saya enggak pernah ke rumah Pak JK.

Tak ada salahnya juga kalau orang tua turut andil dalam karier kan…
Ya tapi artikel yang keluar belakangan itu enggak akurat. Aku sudah submit ke Dewan Pers karena hal itu.

Yang mana yang tidak akurat?
Nanti saja di Dewan Pers. Banyak banget kalau aku jawab satu-satu. Tunggu aja.

Bagaimana soal lo sebagai putri The Hok Bing yang digambarkan di pemberitaan itu sebagai orang berpengaruh dan kaya. Itu benar?
Kaya kan relatif ya. Film-film saya kan pakai investor. Udah itu aja dulu deh. Tunggu Dewan Pers ya.

Oke. Jadi siapa yang mengadu ke Dewan Pers?
Aku sendiri.

Media mana saja yang lo laporin?
Baru satu sih. Nanti saja aku kasih tahu.

Apa sih yang paling jadi keberatan lo?
Banyak kutipan yang keliru. Kemudian bahas juga identitas yang sudah meninggal (kakeknya, Yoseph Noto Hardjono).

Mungkin, jawaban yang lo berikan gak menyeluruh. Sehingga pengetahuan film lo dianggap standar…
Terserah orang mau bilang apa. Itu kan opini orang mau menulis bagaimana.

Dari segi pendidikan, aku kan S2 di universitas jurusan produksi film di Amerika, University of Southern California.

Itu sekolahnya George Lucas sutradara Star Wars sama Brian Grazer produser A Beautiful Mind. Masuk situ kan gak gampang.

Keluarga lo marah?
Enggak juga sih, karena its not true.

Tapi benar bapak lo adalah pebisnis yang menguasai kawasan Kemayoran he-he?
Aku kirimin resume aja deh nanti. Banyak yang salah soalnya. Soal mama juga salah.

Livi Zheng saat ditemui di sebuah restoran kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis sore (29/8/2019).
Livi Zheng saat ditemui di sebuah restoran kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis sore (29/8/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Yang jadi simpang siur juga adalah perusahaan rumah produksi Sun and Moon Films. Itu pendirinya ibu lo ya, dan lo kerja di situ?
Kalau di Sun and Moon, aku itu founder-nya. Tapi bukan pemiliknya.

Lo kan pernah bilang sebagai pekerja di Sun and Moon, bukan founder. Yang mana yang benar?
Aku pekerja sekaligus founder. Founder sama pemilik dua hal berbeda.

Iya. Kemudian ibu lo yang mendanai perusahaan sekaligus juga sebagai pemiliknya?
Perusahaan berjalan dengan cara funding. Kayak dari bankir yang aku sebut tadi.

Jadi, status ibu lo adalah pemilik?
Semuanya funding. Cek saja ke executive producer Bali: Beats of Paradise. Eh bilang ya kalau aku kedip-kedip.

Kenapa memang?
Gak tahu. Kurang tidur.

Oh oke. Sebenarnya bagaimana awal mula lo menggarap proyek film dari pemerintah?
Mungkin awal mulanya itu dari konsulat. Konsulat waktu itu mau bikin video promosi bikin visa dan paspor. Aku yang diminta bikin.

Dari situ saya diundang jadi pembicara di World Bank Washington DC. Aku ketemu Ibu Sri Mulyani dan Pak Agus Marto.

Selanjutnya aku sering secara sukarela membantu proyek pemerintah. Salah satunya film Amazing Blitar.

Sudah berapa banyak film pemerintah yang lo buat?
Banyak. Kadang juga buat kementerian dan pemprov. Saat ini aku baru menyelesaikan trailer film The Santri bersama PBNU di Jatim.

Menarik dong soal santri. Sudah berapa persen pembuatan film itu?
Baru trailer-nya saja dulu.

Maksudnya. Film itu bikin trailer-nya dulu atau bagaimana?
Iya. Trailer-nya dulu dibuat.

Trailer-nya itu bukan cuplikan-cuplikan dari film yang sudah jadi ya?
Mereka minta trailer-nya dulu. Mungkin untuk promosi.

Oke. Siapa penulis skenarionya?
Imam Pituduh.

Kalau film Sabai Nan Alui sudah sampai mana penggarapannya?
Belum mulai syuting.

Kabarnya kerja sama lo dengan Pusat Film Nasional dan Balai Pustaka ditunda karena isu miring tentang lo?
Aku belum dengar.

"Di Sun and Moon, aku itu founder-nya. Tapi bukan pemiliknya."

Livi Zheng

Banyak yang menganggap lo ini terlalu narsistik dan mengagungkan Hollywood. Misalnya mengklaim Brush with Danger masuk nominasi Oscar?
Film-film aku memang masuk seleksi nominasi Oscar. Bisa dicek langsung.

Tapi itu kan statusnya seleksi administrasi nominasi Oscar. Bukan nominasi Oscar. Hampir semua film bisa kan?
Jadi, seleksi nominasi Oscar itu mesti memenuhi beberapa syarat. Misalnya, harus sudah tayang di bioskop komersil di Amerika. Itu susah, lumayan selektif.

Ya artinya semua film bisa mendaftar seleksi nominasi Oscar itu kan?
Bisa dan gratis. Cuma, memenuhi kriteria gak? Harus tayang di bioskop komersil dan segala macam.

Ulasan The New York Times menyatakan kalau banyak hal aneh terjadi di film Brush with Danger dan dialognya gak orisinal…
Di Amerika, kritik itu biasa banget. Malah jadi kebanggaan buat aku dikritik The New York Times.

Soal karier, apakah benar lo juara karate 26 kali, dan memberi kuliah di 300-an perguruan tinggi. Ada data soal itu?
Aku gak pernah bilang 300. Itu medianya salah. Yang benar 30. Nanti aku kirim data-datanya ya.

Di mana salah satu perguruan tinggi itu?
University of Los Angeles.

Tahun berapa mulai memberi kuliah itu?
Mulai dari tahun 2000 berapa gitu. Aku enggak ingat, tapi datanya ada semua.

Masih muda banget dong. Kira-kira usia berapa itu bisa memberi materi di perguruan tinggi?
Persisnya enggak ingat. Tapi aku punya datanya lengkap sama topiknya.

Livi Zheng saat ditemui di sebuah restoran kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis sore (29/8/2019).
Livi Zheng saat ditemui di sebuah restoran kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis sore (29/8/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Sejauh ini, bagaimana respons penonton Bali: Beats of Paradise?
Bagus ya. Aku kan ingin mempromosikan gamelan dan kebudayaan Indonesia. Tokoh di film itu mengatakan generasi Indonesia mulai meninggalkan gamelan.

Padahal gamelan sudah mendunia banget. Bahkan gamelan dipakai di film Avatar.

Berapa lama produksi film itu?
Setahun lebih sedikit.

Judul sama isi film banyak yang bilang tidak sinkron. Ada juga yang mengatakan lo terlalu narsistik, karena di film itu malah menampilkan kliping-kliping media yang memuji lo?
Boleh saja mengkritik. Buat jadi masukan. Aku open saja sama kritik.

Sebenarnya konsep film tersebut, yang notabene dokumenter, realis atau surealis ya. Kok agak kabur?
Jadi film itu evolve-nya banyak ya. Jadi, ide awal sampai akhirnya itu ya memperkenalkan gamelan dan kebudayaan Indonesia.

Kemudian kita ketemu Judith Hill pas mau mulai syuting. Jadi berubah deh. Awalnya gak ada itu konten di balik pembuatan video Judith.

Tapi biar lebih light, kita coba memasukkannya.

Pengalaman lo cukup panjang di dunia film. Lo sudah terlibat dalam penggarapan serial Laksamana Cheng Ho di usia 15 tahun, bahkan menjadi sutradaranya. Benar?
Artikelnya keliru.

Jadi yang benar usia berapa?
Aku main serial itu tahun 2008. Aku kan lahir tahun 1989. Kalau usia 15 tahun, artinya aku main serial itu pada 2004. Salah itu. Enggak akurat.

Kapan pastinya lo memulai karier film?
Aku mulai main usia 18 dan bukan menjadi sutradara, tapi sebagai pemain. Sebagai sutradara ya dimulai di film Brush with Danger.

Bukannya lo sudah jadi sutradara sebelum film itu. Misalnya film Legend of The East, yang masuk nominasi Madrid International Film Festival 2014?
Jadi begini. Film yang aku sutradarai pertama itu ya layar lebar. Itu adalah Brush with Danger. Kalau sebelumnya saya kan masih mahasiswa.

Ketika itu ingin angkat kisah kerajaan Jawa. Ya ngobrol sama sutradaranya yang asal Thailand. Ya namanya masih kuliah, saya coba submit saja ke festival itu agar lebih banyak yang nonton.

Maksudnya bagaimana. Ya tapi kan festival Madrid itu bodong?
Namanya masih mahasiswa. Ikut-ikut saja. Ada biaya pendaftaran juga ketika itu. Normal banget. Berapa biayanya aku enggak tahu. Sudah lama banget.

Kesannya lo “menjual” film Legend of The East itu yang mendapat penghargaan di Madrid…
Enggak sih, aku selalu ngomong film pertama aku itu Brush with Danger.

Btw, saat ini lo masih bolak-balik ke Amerika ya?
Masih. Kan sebenarnya aku tinggal di Amrik.

Pindah warga negara?
Enggak. Aku pakai visa seniman.

Apa film berikutnya yang akan lo buat?
Sekarang fokus dulu menyelesaikan sound film The Santri.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR