Ridwan Mawang Sanja Irawan saat ditemui di salah satu kafe kawasan Bojong Soang, Kabupaten Bandung, Kamis malam (19/9/2019).
Ridwan Mawang Sanja Irawan saat ditemui di salah satu kafe kawasan Bojong Soang, Kabupaten Bandung, Kamis malam (19/9/2019). Wisnu Agung / Beritagar.id
BINCANG

Mawang: Membawakan lagu itu bagai kenikmatan beronani

Ia mengaku tak sedang memosisikan diri sebagai lelucon publik, meski gayanya telah menabrak pakem seorang musisi.

Saat-saat yang tak biasa dan liar hadir di hidup Mawang belakangan ini. Diserbu permintaan swafoto, tanda tangan, bahkan dijapri gebetan lama. Sosoknya memang telah melambung dari ketenaran lokal menjadi kemasyhuran nasional berkat lagu ciptaannya: ”Kasih Sayang Kepada Orang Tua”.

Terhitung, sejak tulisan ini dibuat, jumlah penonton lagu itu tembus 9,8 juta--di kanal YouTube milik Mawang. Padahal ia "cuma" teriak-teriak tak jelas, seperti gagu. Mirip jeritan Yoko Ono Lennon, seniwati kelahiran Jepang, di beberapa pertunjukannya.

“Terserah, mau tertawa atau garuk kepala karena lagu itu,” kata pria berusia 26 ini kepada Heru Triyono, Andya Dhyaksa dan fotografer Wisnu Agung di salah satu kafe kawasan Bojong Soang, Kabupaten Bandung, Kamis malam (19/9/2019).

Mawang sadar bahwa keabsurdannya itu telah melahirkan kontroversi. Tapi, ia mengaku serius dalam berkarya dan tidak sedang membuat lelucon. Inspirasinya adalah komponis John Cage, pelopor musik eksperimental, yang pernah membuat karya berdurasi 4 menit 33 detik tanpa suara apa pun. Absurd.

Selama ini, karya Mawang memang mencakup tema-tema absurd, humor aneh dan cinta. Sudah 30 lagu ia ciptakan dan terlibat dalam 10 band indi—sebelum akhirnya jadi penyanyi solo. Dari bernyanyi hanya pakai celana dalam sampai menabuh gamelan dengan kepala, sudah ia lakukan. “Saya hanya ingin bebas berekspresi,” ujar Ridwan Mawang Sanja Irawan, nama tulennya.

Malam itu, kami duduk di sudut yang gelap sebuah kafe. Mawang memakai dua jaket tebal dan mirip model iklan sampo kalau dilihat dari belakang—dengan rambut tergerai sampai punggung. Dengan menyandarkan sikunya di meja, ia memesan secangkir kopi Vietnam ditemani robomin: rokok boleh minta.

Dus. Selama satu jam lebih Mawang bicara soal referensinya dalam bermusik dan bagaimana menangani ketenarannya yang mendadak. Berikut tanya jawabnya:

Ridwan Mawang Sanja Irawan saat ditemui di salah satu kafe kawasan Bojong Soang, Kabupaten Bandung, Kamis malam (19/9/2019).
Ridwan Mawang Sanja Irawan saat ditemui di salah satu kafe kawasan Bojong Soang, Kabupaten Bandung, Kamis malam (19/9/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Sepertinya Anda lebih suka membiarkan pendengar putuskan sendiri makna lagu ”Kasih Sayang Kepada Orang Tua” ya?
Prinsipnya, kalau pesan lagu itu sampai, ya sudah. Kalau enggak sampai, ya juga gak apa-apa.

Faktanya sebagian besar orang justru tertawa saat dengar lagu itu…
Saya membuat sesuatu karena saya ingin membuatnya. Gak terbebani respons orang.

Ada yang bilang bangsat, tertawa, sedih, kesal, ya enggak masalah.

Anda bilang, teriak-teriak itu dilakukan karena sayang orang tua tak bisa diungkap kata-kata. Orang tua Anda mengerti lagu itu?
Lagu itu sebenarnya teh dibuat di depan orang tua saya. Tapi, mereka menganggap saya bercanda. Ya sudah. Gak apa-apa. He-he.

Semua orang bebas menilai suatu karya. Berharga bagi kita, belum tentu bagi orang.

Terganggu gak dengan situasi industri musik saat ini, di mana ukurannya adalah banyaknya like di media sosial?
Seperti tadi saya bilang. Saya membuat karya karena ingin membuatnya. Bukan memikirkan efeknya dan pendengarnya kayak bagaimana.

Jadi, siapa sebenarnya para pendengar lagu “absurd” itu?
Banyak. Teman-teman dan followers yang sudah mengenal saya di komunitas Bandung. Mereka tahu karakter saya. Saya kan juga punya band sebelum ini, namanya Embrio Proyexxx.

Band ini lebih absurd. Karena ada karyanya yang isinya cuma pidato tahi tahi tahi saja. Tapi dikemas secara musikal dan kita punya pertanggungjawaban atas karya itu.

Di mana letak ranah musiknya kalau tahi tahi doang?
Tergantung siapa yang lihat dan mendengarkan. Ini kan soal bagaimana ranah musik dilihat sebagai seni pertunjukan.

Ini semacam teater musikal ya?
Bisa dianggap begitu. Pasti ada pro kontra akan hal ini. Padahal di Eropa sudah ramai. Di Yogyakarta juga.

Anda ingin keluar dari konsep bermusik yang mainstream?
Dalam seni enggak ada halal atau haram. Beda dengan tradisi yang sudah ada pakemnya. Misalnya jangan melangkahi gamelan. Nah itu tradisi.

Tapi kalau masuk ranah kreativitas, beda lagi konteksnya, lebih bebas.

Sejauh apa eksplorasi Anda dalam hal kreativitas?
Ya sebatas diri kita. Yang membatasi kan kita. Misalnya, sambil telanjang berani atau enggak? Kalau enggak, ya jangan.

Kalau saya itu pernah cuma pakai kolor doang dan menabuh gamelan pakai kepala saat pertunjukan.

Respons musisi lain terhadap karya Anda?
Ada yang mendukung, ada yang ingin tahu lebih jauh dan ada yang bilang musik bego. Ya gak apa-apa.

Lalu, bagaimana pada akhirnya Anda menentukan warna musik yang Anda usung?
Itu bukan tugas saya. Biar orang lain menilai. Kalau saya klaim sebuah genre, berarti saya stuck dan enggak akan bikin sesuatu yang lain dari itu.

Bukannya identitas dalam bermusik adalah hal penting, sehingga akan diingat orang…
Saya dinamis saja. Kalau ada pernyataan jadilah kamu sebagai diri sendiri, saya juga suka bingung, memang diri saya sendiri itu kayak apa.

Maka itu saya dinamis saja. Karena, sosok saya di hari sekarang dan besok bisa jadi berbeda.

Dalam soal pencapaian bermusik, apa target Anda?
Enggak tahu, mengalir saja. Saya hanya ingin bebas dan merdeka dalam berseni. Indonesia itu sebenarnya sudah dipandang di luar negeri.

Hanya belum terekspos saja oleh media. Beberapa teman komunitas di Bandung bahkan sudah tur Eropa dan Asia.

Siapa sih yang memengaruhi Anda sehingga memiliki pandangan yang “absurd” dalam bermusik?
Ada yang namanya John Cage. Karyanya yang terkenal itu Four Thirty Three. Dalam pertunjukannya dia hanya bawa stopwatch di depan orkestranya. Partiturnya dibuka, tapi tidak ada suara. Kemudian selesai.

Dia ucapkan terima kasih, penonton beri tepuk tangan. Keren banget. Dan John Cage menemukan teori baru bahwa keheningan itu adalah musik.

Oke. Ada yang berpandangan bahwa membawakan musik ya untuk menghibur. Kalau hening, di mana unsur menghiburnya?
Balik lagi kepada pemahaman masing-masing. Musik itu apa? Kalau musik sekadar menghibur saja, enggak beda jauh sama pelacur.

Tapi tidak ada salahnya dengan pandangan itu…
Iya, gak masalah. Kan beda-beda yang didapat. Misalnya, yang dipresentasikan John Cage belum tentu dipahami semua orang.

Anggapan dia, kalau enggak ada kesunyian, enggak bakal ada yang namanya musik.

Ya memang tidak semua orang bisa menikmati karya John Cage. Ada juga orang yang ingin dihibur saja oleh seniman, terlepas dari musikalitasnya…
Menurut saya melacurkan seni gak apa-apa juga. Itu pandangan masing-masing. Pelacuran kan kegiatan paling tua. Dari zaman nabi juga ada.

Ini kan soal bagaimana membuat sesuatu yang bukan apa-apa menjadi sesuatu yang apa-apa. Ada tanggung jawab di karya. Itu yang penting.

Ridwan Mawang Sanja Irawan saat ditemui di salah satu kafe kawasan Bojong Soang, Kabupaten Bandung, Kamis malam (19/9/2019).
Ridwan Mawang Sanja Irawan saat ditemui di salah satu kafe kawasan Bojong Soang, Kabupaten Bandung, Kamis malam (19/9/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Menurut Anda, penikmat musik Indonesia bisa memahami karya John Cage?
Belum tahu juga. Mungkin saja yang menonton John Cage juga bingung dan bilang apaan sih nih anying.

Apakah terkadang Anda merasa seperti onani sendiri saat berkarya dan enggak dipahami orang?
Onani ini butuh syarat dan situasi sih. Kalau lagi mood, ya membawakan lagu itu bagai kenikmatan beronani.

Main gitar dan drum kalau lagi mood, seperti mengesampingkan selera orang. Sama kayak entot, rasanya enggak pernah sama kan. Nah berkarya itu sama kayak begitu.

Setiap lagu Anda dapat membuat Anda sampai merasakan orgasme?
Enggak juga. Membawakan lagu yang sama, sekarang atau besok, pasti beda. Karena mood-nya juga beda.

Coba kamu bawakan lagu yang sama delapan kali sehari. Bosen atuh.

Secara ekonomi, musik eksperimental Anda ini bisa menghasilkan?
Bisa. Asal kita tahu tujuan karya tersebut itu apa.

Btw, tema-tema lagu Anda masih banyak yang soal cinta, jarang kritik sosial atau politik ya?
Saya membagi. Saya punya band yang belum jalan, tapi lagu-lagunya sudah beres.

Personelnya juga belum ada. Ha-ha. Nah band ini lebih ke isu sosial. Pengennya sih personelnya gondrong semua. Tapi susah dapetinnya.

Tidak tertarik menulis lagu tentang KPK saat ini?
Belum ha-ha. Tapi itu ide cemerlang.

“Kalau musik sekadar menghibur saja, enggak beda jauh sama pelacur.”

Mawang

Dengan karakter bermusik Anda ini, pernah gak penampilan Anda dibubarkan massa saat di atas panggung?
Saya pernah dicut saat main di Braga. Itu sekitar tahun 2016 saat manggung dengan Embrio Proyexxx. Kita gak bawa alat musik apa-apa. Cuma modal vokal doang pas datang.

Saat dipanggil mentas, teman-teman malah berputar-putar saja sambil teriak tahi tahi. Penonton kaget, dan kita pun disuruh berhenti.

Tapi dibayar?
Enggak.

Apakah musik eksperimental sudah berkembang di Indonesia, khususnya di Bandung?
Berkembang yah. Tapi Yogyakarta yang jadi acuan. Ya, kalau kiblat seni rupa dan teater kan di Bandung, kalau film ya di IKJ Jakarta, kalau eksperimental ya Yogyakarta.

Selain bermusik, apa hobi Anda selama ini?
Olahraga ya. Tapi jarang juga sebenarnya. Ayah saya itu kan pelatih bola. Kalau main itu posisi saya di bek. Tapi cuma 15 menit, udahan mainnya. Capek. Ha-ha.

Lebih sibuk mengurus rambut yah ha-ha. Berapa lama kira-kira proses keramas rambut panjang Anda itu?
Asli, lama ini keringnya. Kadang kering sendiri saja.

Apa proyek Anda berikutnya?
Saya sedang membuat proyek musik math rock, yang masih belum ada di Indonesia. Ya mencoba menawarkan hal baru saja.

Apakah ada kekhawatiran bahwa ketenaran Anda hanya one hit wonder saja?
Meledak kan juga bukan keinginan saya. Jadi enggak harus pusing.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR