Kiai Maimoen Zubair atau dikenal Mbah Moen di kediamannya, Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Anwar, Rembang, Jawa Tengah, Kamis (23/5/2019).
Kiai Maimoen Zubair atau dikenal Mbah Moen di kediamannya, Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Anwar, Rembang, Jawa Tengah, Kamis (23/5/2019). Wisnu Agung / Beritagar.id
BINCANG

Mbah Moen: Jangan menentang kehendak bangsa ini

Ia menyerukan perdamaian dan meminta semua pihak tidak memaksakan keinginan kelompok sendiri.

Malam masih muda ketika sosok kiai sepuh itu selesai memimpin salat. Ia dibopong satu santri, yang juga bantu membetulkan letak sandal sang kiai yang belum pas, sampai melekat. Kiai itu jalan perlahan menuju rumahnya, tepat di seberang tempat ibadat.

“Saat ini mbah yai baru selesai muthola’ah (mempelajari) kitab Tanbihul Mughtarrin,” kata salah satu khadim, sebutan santri yang melayani kiai. Sebab itu, tambah si khadim, pintu rumah kiai agak menganga. Itu pertanda ia mau menerima tamu, termasuk kami.

Sosok kiai sepuh itu adalah Maimoen Zubair atau dikenal Mbah Moen. Sosok yang jadi pembicaraan khalayak ketika ia selip lidah saat berdoa dan menolak mengeluarkan fatwa pemilu curang yang diminta oleh seseorang, kemudian viral.

Kami memasuki ruang tamu kediaman Mbah Moen setelah magrib. Di sana sudah banyak tamu. Mereka berjalan sambil jongkok kemudian salim kepada Mbah Moen. Kami pun demikian, sebelum dipersilakan duduk.

Mbah Moen sendiri duduk di kursi yang lebih lebar, yang ada bantal besar untuk bersandar. Ia menyambut kami hanya dengan mengangguk dan bilang, “ente ngapain jauh-jauh dari Jakarta ke sini,” ujar pria 90 tahun itu kepada Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung di kediamannya, Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Anwar, Rembang, Jawa Tengah, Kamis (23/5/2019).

Sosok Mbah Moen, notabene ulama sepuh Nahdlatul Ulama (NU), memang punya pengaruh besar pada tiap kontestasi politik negeri ini. Pengalamannya sebagai ulama dan politisi sejak zaman jebot hingga sekarang begitu diperhitungkan.

Karena itu, tamu-tamunya yang datang pun sejibun, dengan berbagai tujuan. Ada yang sekadar minta doa, minta restu untuk nyalon jadi pejabat, sampai konsultasi politik. “Tapi catat ya, saat ini saya bukan politisi,” katanya.

Dalam percakapan kurang dari satu jam itu Mbah Moen tidak menghindari pertanyaan-pertanyaan kami, meski menjawab dengan singkat. Mulai dari soal fatwa kecurangan pemilu sampai refleksinya terhadap Ramadan kali ini. Berikut perbincangannya:

Kiai Maimoen Zubair atau dikenal Mbah Moen di kediamannya, Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Anwar, Rembang, Jawa Tengah, Kamis (23/5/2019).
Kiai Maimoen Zubair atau dikenal Mbah Moen di kediamannya, Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Anwar, Rembang, Jawa Tengah, Kamis (23/5/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Ada aksi kerusuhan pascapemilu yang terjadi pada Ramadan kali ini. Apa refleksi Mbah tentang itu?
Harusnya Ramadan itu kita sucikan, kita kerjakan amalan-amalan. Kita buat Ramadan ini mulia, jangan sia-siakan.

Ramadan itu jangan dikotori tindakan yang merusak dan membuat keributan terus.

Mbah sudah memprediksi bahwa demonstrasi itu akan diwarnai kericuhan?
Saya bilang, kembali saja kepada keputusan KPU. Kalau enggak menerima, ya ke Mahkamah Konstitusi.

Semoga semua pihak mau membangun kesejukan. Jangan memecah belah kesatuan. Beri ketenangan kepada umat.

Peristiwa itu membuat masyarakat lelah, apalagi melihat kelakuan elite-elite yang justru jadi kompor kegaduhan, bagaimana itu Mbah?
Capek ya iya. Makanya jangan ikut-ikutan kalau ndak mau capek.

Menurut Mbah, cara meredam panasnya suhu politik dan perpecahan ini bagaimana?
Kembali ke PBNU he-he. Yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 (disingkat jadi PBNU).

Ini adalah empat pilar yang bisa menyatukan kita. Empat pilar ini sangat penting keberadaannya.

Tapi sebagian pihak khawatir kesatuan kita terancam akibat polarisasi yang makin tajam ini…
Polarisasi yang bagaimana? Prinsipnya semua pihak itu harus menjadi kesatria, jadi negarawan. Biar beda tetap harus satu. Paham ya?

Sebagai ulama dan politisi yang mengalami dinamika politik zaman Soekarno hingga kini, apa Mbah pernah merasakan polarisasi yang tajam seperti ini dahulu?
Pada awal-awal saya di NU (Nahdlatul Ulama), ada juga polarisasi ideologi. Sekitar 1950-an. Cukup keras ketika itu.

Namanya demokrasi. Biasa. Paham ya? Saat zaman Soeharto kemudian hanya ada tiga partai. Ya kelompok NU dipecah-pecah di PPP.

"Saya sudah ingatkan Rommy. Tuhan itu ada. Jangan musuhan sama kawan."

Mbah Moen

Di usia Mbah yang hampir seabad, setiap ada kontestasi politik, restu Mbah selalu jadi rebutan, banyak yang datang ke Mbah ya…
Ya enggak tahu. Mereka datang saya terima. Asal niatnya baik dan tidak macam-macam.

Seperti saat ini, kalau mempunyai kehendak, jangan memaksa dan merasa segalanya bisa dituruti. Harus menempuh jalan yang baik, jalan yang mengarah ke empat pilar tadi.

Jangan menentang apa yang jadi kehendak bangsa ini.

Mbah ada rencana melakukan pertemuan dengan kedua kubu untuk rekonsiliasi?
Iya bisa saja. Dulu saya juga kumpulkan para kiai di Jakarta ya. Siapa tahu bisa diulang.

Menurut Mbah, apakah Ma’ruf Amin cukup mewakili golongan santri dan kiai?
Ya mewakili. Kalau masih ada yang kecewa ya bagaimana. Saya lebih baik pilih Ma’ruf Amin karena dia itu kiai.

Kalau enggak pilih dia, bagaimana? Kan sama-sama kiai. Walau saya tahu Ma’ruf Amin itu senangnya PKB. PKB itu yang gembosi PPP sampai habis.

Sebagai Ketua Majelis Syariah PPP, bagaimana sikap Mbah ketika Ketua Umum PPP Rommy tersangkut kasus suap?
Itu kesalahan. Rommy kan memusuhi SDA (Suryadharma Ali). Kalau dia sekarang dimusuhi, kan wajar.

Itu ketentuan Tuhan. Paham ya? Saya sudah ingatkan Rommy. Tuhan itu ada. Jangan musuhan sama kawan.

Kiai Maimoen Zubair atau dikenal Mbah Moen di kediamannya, Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Anwar, Rembang, Jawa Tengah, Kamis (23/5/2019).
Kiai Maimoen Zubair atau dikenal Mbah Moen di kediamannya, Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Anwar, Rembang, Jawa Tengah, Kamis (23/5/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Mbah, kenapa dulu akhirnya memutuskan untuk masuk gelanggang politik, dan bergabung dengan PPP?
Saya mulai kecil di NU. Saya itu lihat Pemilu 1955 sampai pemilu Orde Baru. Zaman itu cuma ada tiga partai, salah satunya PPP.

Orang NU ketika itu ya masuk PPP. Itu kenyataan. Karena saat itu dihadapkan dengan tiga partai: nasionalis, agamis atau Golkar.

Apakah dinamika politik identitas saat ini sama dengan Pemilu 1955?
Kalau dinamika jangan tanya saya, sejarah ada kok. Silakan baca.

Siapa sih figur yang paling berpengaruh dalam hidup Mbah sampai saat ini?
Saya sudah tua. Pasti jawabannya adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada orang lain. Kan yang menentukan Tuhan.

Kalau kita diombang-ambing ke sana ke sini, malah jadi enggak karuan.

Maksudnya Mbah, seseorang yang benar-benar jadi panutan Mbah dalam bersikap atau berpolitik?
Semua republikan saya senang.

Tan Malaka?
Ya semuanya. Cuma, saya mulai kecil itu punya pendirian. Jangan fanatik terhadap sesuatu atau kelompok, maka hidup akan aman.

Mbah tidak suka dengan yang fanatik-fanatik?
Dari dulu harusnya diperangi. Kan terlihat mana yang lebih bermanfaat untuk bangsa.

Tapi fanatisme kan memang bisa tumbuh subur di iklim politik seperti saat ini…
Ya enggak tahu. Tunggu saja kalau nanti sudah pelantikan. Semoga ramai-ramai ini sementara. Kan biasa ada yang pro dan kontra.

Sebenarnya seperti apa kehidupan Mbah ketika menjadi santri?
Saya suka dengan kehidupan santri. Tapi sekarang enggak ada santri seperti saya. Bedanya itu saya mengaji, yang lain hanya nyantri, tapi enggak mengaji. Hanya didikan akademis.

Dahulu Mbah berapa lama belajar di Makkah?
Enggak belajar. Dulu saya haji-haji saja. Belajar sedikit di Makkah sana, karena kan dulu haji visanya sampai 1,5 tahun dan naik kapal laut.

Sehingga ulama-ulama di sana kenal saya semua sampai sekarang.

Kalau saya lihat, Mbah lebih banyak menulis buku dengan bahasa Arab, berbeda dengan Gus Mus yang menulis dengan bahasa Indonesia. Kenapa Mbah?
Karena bahasa di surga itu kan bahasa Arab, bahasa Alquran he-he.

Terakhir Mbah, ada permintaan fatwa pemilu curang kepada Mbah yang viral itu, kenapa tidak digubris?
Enggak. Bagi saya, kita tetap harus kembali kepada empat pilar itu saja.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR