Mouly Surya lebih senang membiarkan pemain berimajinasi untuk menangkap karakter dari tokoh yang diperankannya
Mouly Surya lebih senang membiarkan pemain berimajinasi untuk menangkap karakter dari tokoh yang diperankannya Beritagar.id / Indra Rosalia

Mouly Surya: Marlina adalah pandangan saya tentang kehidupan

Lewat film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, sineas Mouly Surya ingin memperlihatkan tokoh perempuan menghadapi persoalan hidup yang ekstrem.

"Silakan masuk. Mbak Mouly sudah menunggu," ujar Dita Kurnia, publisis film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, menyambut kedatangan Beritagar.id di kantor Cinesurya, kawasan Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (22/9/2017).

Andi Baso Djaya, fotografer Indra Rosalia, dan videografer Livia Kristianti menemui Mouly --sapaan akrab Nursita Mouly Surya-- berselang sepekan usai penyelenggaraan Toronto International Film Festival ke-42 di Toronto, Kanada.

Film Marlina tayang perdana di jaringan bioskop tanah air mulai 16 November 2017 dengan jatah 62 layar. Hingga sepekan berselang, menurut catatan filmindonesia.or.id, jumlah tiket film tersebut terjual 75.942 lembar.

Sebelum pulang kampung ke Indonesia, Marlina berkeliling banyak festival film internasional, mulai dari Toronto International Film Festival, hingga ajang prestisius Cannes Film Festival di kategori Director's Forthnight.

"Saya punya teman lama orang Prancis. Dia yakin suatu saat saya bakal tembus ke Cannes, tapi terkejut karena saya bisa sampai secepat ini," kata Mouly (37).

Dari hasil perjalanannya, Marlina membawa pulang sejumlah penghargaan. Terbaru adalah meraih "Grand Prize" alias penghargaan tertinggi di Tokyo FILMex International Film Festival, Jepang (19-27/11). Turut menang pula di acara yang sama film The Seen and Unseen arahan Kamila Andini yang juga asal Indonesia.

Dengan model rambut side swept bangs alias poni samping menutupi jidat bagian kanan, Mouly ternyata sosok yang supel dan doyan terbahak. Tiada kesan untuk membatas-batasi seperti yang biasa dilakukan sebagian orang dengan refleks menutupi mulutnya untuk mengerem.

Peraih Piala Citra sebagai sutradara terbaik di Festival Film Indonesia 2008 ini berbagi cerita tentang banyak hal. Berikut kutipannya.

Mouly Surya tidak pernah menempatkan tokoh perempuan dalam film arahannya  sebagai korban yang selalu menunggu pertolongan laki-laki agar bisa selamat
Mouly Surya tidak pernah menempatkan tokoh perempuan dalam film arahannya sebagai korban yang selalu menunggu pertolongan laki-laki agar bisa selamat | Indra Rosalia /Beritagar.id

Bagaimana awal terlibat membuat film?
Waktu kuliah di Swinburne University, Melbourne, Australia. Program S1 saya sebenarnya sastra dan media. Kebetulan punya teman namanya Paulus alias Cuple. Kami waktu itu lagi online chatting. Karena dia tahu saya anak sastra, diajak ikut membantu bikin skrip film berdurasi sekitar 60 menit.

Lalu, apa yang membuat Anda memutuskan serius menekuni film?
Awalnya hanya terdorong rasa penasaran. Kemudian saya merasa tertantang dan ingin lebih mendalami dengan sekolah film di Bond University, Queensland.

Soalnya agak jarang sih saya merasakan hal demikian. Walaupun saya senang belajar, tapi tidak pernah memaksakan diri.

Misalnya ketika saya mencoba menulis, ternyata hasilnya setiap kali mencoba selalu membaik dari sebelumnya. Kalau merasakan hal seperti itu biasanya saya tertantang untuk terus mencoba sembari memperbaiki.

Tapi ada juga yang sudah berusaha saya coba, tapi hasilnya hopeless banget, seperti memasak, main musik, atau menggambar. Ha-ha-ha.

Tiga film yang telah Anda sutradarai, protagonisnya selalu perempuan. Ada alasan khusus?
Itu saya lakukan secara enggak sadar sih. Mungkin karena saya memang lebih pengin protagonisnya tokoh perempuan. Setelah saya ngejejerin poster tiga film saya, baru akhirnya saya sadar, "Kok cewek semua ya?" Ha-ha-ha.

Maksudnya enggak menutup kemungkinan juga saya bikin film dengan laki-laki sebagai tokoh utama.

Yang pasti karakter perempuan dalam film-film saya tidak pernah ditempatkan seperti damsel in distress yang menunggu pertolongan laki-laki, terus ending-nya seorang perempuan yang bermain menjadi korban. Saya sangat menghindari itu.

Mungkin secara enggak sadar mengambil keputusan tersebut karena latar belakang saya dan saya juga seorang perempuan.

Semua masalah yang tampil dalam film saya selalu sangat personal. Menyangkut pandangan saya soal kehidupan, cerita, dan apa yang lagi pengin saya bahas pada saat itu. Begitu juga film Marlina.

Gagasan apa yang ingin disampaikan dalam film Marlina?
Sebenarnya film Marlina menggambarkan upaya bertahan hidup seorang perempuan dari situasi yang sangat ekstrem. Bagaimana perempuan trying to fight ketimbang dia trying to live with them. Kurang lebih sih begitu. Dan ini bisa berlaku banget di mana-mana.

Kebiasaan Anda menggunakan lebih banyak teknik pengambilan gambar yang lebar (wide shot) membuat keindahan Sumba Timur terekam dengan baik
Selain untuk alasan itu, ada maksud lain juga terkait teknis. Sebenarnya di Marlina enggak ada pergerakan kamera sama sekali untuk mengakomodir kebutuhan shot yang lebih lebar.

Kalau shot terlalu dekat, otomatis harus mengkoreksi frame (bingkai gambar, red) yang menyebabkan pergerakan.

Pemilihan wide shot memungkinkan kami punya gambar cenderung lebih lebar, bahkan untuk adegan yang bukan landskap. Ini memberikan ruang gerak kepada pemain sehingga kami enggak harus mengoreksi frame.

Ketidakgerakan kamera ini cukup menantang karena dinamika filmnya sangat bergantung pada hasil editing dan pergerakan para pemain.

Akhirnya ada unsur klasik dari film-film lama, terutama film-film Jepang, yang kami dapatkan. Film-film Jepang kan punya keklasikan yang khas. Saya coba mencapai itu juga dalam film Marlina.

Mouly Surya sedang mengatur posisi pemain di tengah lokasi syuting film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak
Mouly Surya sedang mengatur posisi pemain di tengah lokasi syuting film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak | Cinesurya

Banyak kritikus film di luar negeri menyematkan genre "Satay Western" untuk film Marlina. Memangnya sekoboy apa Marlina ini?
Sekoboy apa ya? Ha-ha-ha. Mungkin karena film koboy itu kerap bicara tentang kebaikan melawan kejahatan, atau kealpaan dan ketiadaan sistem, selain pemandangan berupa daerah tandus dengan banyak pohon kaktus.

Di film ini memang ada elemen-elemen seperti itu. Kenapa? Karena landskap Sumba Timur ini keringnya seperti Texas di Amerika Serikat yang sering muncul dalam film koboy. Banyak sabana. Menurut saya sangat menarik.

Ketika saya baca story outline dari Mas Garin Nugroho, di situ tema utamanya kekerasan yang terjadi di Sumba. Tapi sebenarnya juga bisa terjadi di kampung-kampung lain.

Maksudnya sebagai orang Indonesia kita sangat familiar dengan kekerasan-kekerasan seperti ini. Terus dari situ saya coba memosisikan diri sebagai anak kota, bukannya mencoba sok terlalu paham soal bagaimana rasanya hidup di kampung.

Saya malah ingin kekerasan kampung ini bertalian dengan kita yang tinggal di kota dan buat dunia internasional. Bagaimana caranya? Ya dengan menggunakan elemen-elemen genre western tadi itu.

Apa unsur yang ada dalam sinopsis awal dari Garin Nugroho yang tetap dipertahankan dalam film ini?
Pembabakannya. Meskipun awalnya ada tiga babak ditambah prolog dan epilog. Saya hanya mengubah sedikit saja. Tapi pembabakannya dan juga premis awalnya sama sekali tidak berubah.

Ketika mengembangkan naskah film ini, apakah memang sudah terbayang Marsha Timothy yang memerankan Marlina?
Saya sudah lama kenal Chaca (panggilan Marsha). Sejak jadi asisten sutradara Rako Prijanto dalam film Merah itu Cinta (2006).

Waktu itu saya yang mengaudisi Chaca. Kenal awalnya dari situ. Saya dan Rama Adi (produser dan suami Mouly, red.) kemudian sepakat melakukan penjajakan dengan Chaca. Kami ajak ketemuan. Cuma waktu itu saya juga belum menentukan karena masih ingin melihat seperti apa perkembangan film ini.

Saya juga sempat memberitahu Chaca bahwa kami kemungkinan akan menawarkan peran ini kepada aktris lain. Pada akhirnya kami tidak pernah mengaudisi pemain lain untuk peran ini.

Proses casting-nya Chaca juga tidak ada kamera atau dia mencoba jadi Marlina. Kami benar-benar cuma mengobrol doang.

Dengan obrolan itu saya ingin melihat sejauh apa dia tertarik dengan peran ini. Karena yang paling penting dari seorang aktor menurut saya adalah seberapa besar keinginan mereka terhadap sebuah peran. Selama obrolan kami, Chaca menunjukkan itu.

Apakah Sumba ikut menjadi karakter penting dalam film ini?
Itu sih sudah pasti. Karena Sumba jadi tempat berlangsungnya cerita. Walaupun ada hal-hal yang saya tambahkan dan kurangi untuk dramatisasi.

Tujuannya agar kota ini believable untuk Marlina, walaupun nanti orang akan mengatakan Sumba yang asli tidak seperti dalam film ini.

Saya memang sengaja menjadikan ini sebagai Sumba-nya Marlina yang western. Pun demikian, esensi Sumba seperti truk yang jadi transportasi umum di sana dan tradisi menyimpan mayat tetap saya masukkan. Hanya saja tidak kami elaborasi kepada penonton.

Film saya tidak pernah menempatkan tokoh perempuan dalam kesulitan yang  hanya menunggu pertolongan laki-laki, terus ending-nya menjadi korban

Mouly Surya (sutradara film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak)

Ketika menyutradarai, apakah lebih senang memberikan banyak kebebasan untuk aktor atau menerapkan batasan?
Oh nanya rahasia dapur nih ceritanya? Ha-ha-ha. Mengarahkan pemain itu... (Mouly terdiam beberapa saat) memang sulit untuk orang yang pertama kali menjadi sutradara. Metode yang saya gunakan mungkin sifatnya hanya khusus berlaku buat saya.

Soalnya karakter setiap sutradara pasti berbeda-beda. Saya pernah baca sebuah artikel, Robert Redford saat menjadi sutradara enggak pernah bicara apa-apa sama aktornya.

Ia diam dan membiarkan aktornya berimajinasi sendiri. Teknik itu mungkin hanya berlaku untuk dia. Karena ketika mau menerapkan metode yang sama, kita harus lihat mentalitas pemain-pemain yang terlibat dalam memberikan respons.

Saat menyutradarai, saya mencoba lebih banyak mendengarkan. Orang kan enggak suka kalau disuruh-suruh. Makanya saya juga tidak pernah memerintahkan pemain saya harus begini dan begitu.

Sebisa mungkin saya tidak memberikan terlalu banyak informasi. Lebih senang membiarkan pemain berimajinasi untuk menangkap karakter dari tokoh yang diperankannya.

Lagi pula tugas sebagai sutradara membuat saya memikirkan banyak hal. Sebagai contoh, saya tidak cuma fokus memikirkan Novi atau Marlina doang agar bisa tampil bagus di layar sebagai karakter. Biarkan mereka sendiri yang menyuntikkan sesuatu dalam karakter yang diperankannya.

Saya mencoba untuk mengobservasi dan mendengarkan, juga mencoba mengarahkan tanpa merasa mereka diarahkan. Kalau misalnya ada hal-hal yang spesifik mengganggu, saya akan memberi tahu mereka.

Dalam film Marlina, berapa persen kebebasan itu Anda berikan?
Hmmm... Saya juga agak bingung menjelaskan soal kebebasan. Maksud saya kebebasan berkarya itu ilusi sih. Bukan hanya buat saya sebagai sutradara, tapi juga kepada pemain.

Karena bagaimana pun ketika sudah ada dalam satu frame atau satu dunia yang sengaja dibentuk, kebebasanmu akan sangat intens atau spesifik.

Jadi kalau mau dibilang kebebasan 100 persen, bisa juga. Tapi kalo di sisi lain dibilang kebebasan 0 persen, ya enggak salah juga. Tergantung bagaimana cara kita melihatnya. Berat banget kayaknya omongan ini. Ha-ha-ha.

Apa ada film yang sangat berkesan bagi Anda?
Filmnya Stanley Kubrick yang berjudul Barry Lyndon. Saya menontonnya saat kuliah film. Selesai menonton, saya bilang ingin bikin film seperti itu. Sebuah film yang unik. Makanya hingga sekarang saya tidak pernah lupa.

Setelah Marlina, akan memilih beristirahat atau langsung menggarap Bad Poetry sebagai proyek film selanjutnya?
Proyek yang itu belum sih. Dimasukkan ke peti dulu. Tidak tahu kapan keluarnya. Mungkin juga malah enggak keluar.

Saya sih pasti ingin bikin film lain lagi, tapi belum tahu kapan. Kita lihat saja respons untuk Marlina seperti apa. Ha-ha-ha.

Mouly Surya 7 Fakta Film Marlina /Beritagar ID
BACA JUGA