Novel Baswedan saat wawancara di rumahnya, Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat malam (19/7/2019).
Novel Baswedan saat wawancara di rumahnya, Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat malam (19/7/2019). Wisnu Agung / Beritagar.id
BINCANG

Novel Baswedan: Mereka tahu siapa pelakunya

Ia merasa berang dan terkadang geregetan ingin menyelidiki sendiri kasus dua tahun silam itu.

Ini adalah kisah yang sebagian besar dari kita sudah tahu: Novel Baswedan disiram air keras dan matanya rusak. Kini, setelah operasi beberapa kali, mata Novel belum kunjung pulih. Sama dengan kasusnya, yang belum kunjung ada kemajuan.

“Kalau ikuti perasaan, saya sebenarnya sangat marah,” kata penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini.

Kasus Novel memang masih teka-teki. Alih-alih tambah terang, kini malah jadi tambah saru. Novel, yang notabene korban, justru dituding melampaui kewenangannya sebagai penyidik KPK.

Pernyataan itu disuarakan tim gabungan bentukan polisi pekan lalu. Selain menyampaikan motif di balik kasus Novel, mereka juga merekomendasi pembentukan tim (lagi)--untuk menindaklanjuti temuan yang ada.

“Pernyataan mereka soal melampaui batas kewenangan itu mengolok-olok saya,” ujar Novel saat wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung di rumahnya Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat malam (19/7/2019).

Novel pun mengaku kecewa, meski Presiden Joko Widodo sudah merespons soal kasusnya. Presiden memberi waktu tiga bulan bagi tim teknis untuk ungkap kasus ini.

Tapi, Novel tak mau terlalu ngarep, karena merasa sudah tahu hasilnya akan bagaimana. “Bisa jadi seperti kasus Munir,” kata pria berusia 42 tersebut.

Selama hampir dua jam Novel bicara ditemani teh jahe. Seperti biasa, nada bicaranya datar, meski sedang jengkel atas pernyataan tim gabungan itu. Namun, ia langsung mesem-mesem saat ditanya kasus buku merah yang diduga melibatkan petinggi negara. Berikut perbincangannya:

Novel Baswedan saat wawancara di rumahnya, Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat malam (19/7/2019).
Novel Baswedan saat wawancara di rumahnya, Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat malam (19/7/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Presiden Jokowi beri waktu tiga bulan bagi Kapolri untuk ungkap pelaku. Sesuai harapan Anda?
Menurut saya itu berlarut-larut. Tim gabungan kan sudah kerja enam bulan. Kemudian malah merekomendasi pembentukan tim lagi.

Tim teknis ini apa bedanya dengan penyidik polisi.

Maksud Anda lebih urgensi membentuk tim gabungan yang independen, langsung di bawah presiden. Begitu?
Iya. Tapi begini lah. Tim gabungan itu terlalu lama bekerja dan gagal. Kalau dikatakan ini kasus sulit, juga enggak tepat.

Kan ada saksi dan ada bukti. Buktinya pun banyak. Begitu juga saksinya.

Pelaku pembunuhan mahasiswa UI di danau juga belum ditemukan. Artinya ada juga kasus yang sulit diungkap kan?
Dalam kasus itu siapa saksinya? Gak ada. Pada kasus saya, ada lebih dari lima orang yang melihat pelaku. Tidak bisa dibandingkan.

Tapi kasus pembacokan anak polisi di Pasar Minggu juga belum terungkap. Saksinya ada. Bagaimana?
Saya gak tahu kasusnya. Tapi coba sorot pembunuhan Khashoggi di Turki, yang diduga melibatkan pejabat di suatu negara. Itu menarik.

Investigator Turki sigap memeriksa TKP. Rekaman CCTV dicek dan menangkap pelaku lapangan. Ndak berkutat pada pelaku intelektual dan motifnya saja.

Menurut tim gabungan, beberapa rekaman CCTV tidak jelas. Sidik jari juga kurang sempurna. Sehingga sulit identifikasi pelakunya…
Soal CCTV dan sidik jari pernah disampaikan ke Komnas HAM. Komnas menduga ada abuse of process dalam penyelidikan kasus saya.

Tapi hal itu seperti tidak menarik bagi tim gabungan untuk memeriksanya.

Jadi, jangan gara-gara abuse of process itu, kemudian dengan enaknya mengatakan kasus ini sulit. Jangan begitu.

Kalau Anda menduga ada abuse of process oleh polisi, tim gabungan juga menduga Anda melakukan excessive use of power. Anda merasa melampaui batas kewenangan?
Yang dimaksud melampaui kewenangan itu apa. Harusnya mereka menggali fakta. Tidak penting kata-kata tadi untuk mengungkap suatu kasus.

Itu hanya untuk memprovokasi dan mengolok-olok saya saja.

Apakah Anda merasa jika teror air keras itu terkait enam kasus besar yang Anda tangani?
Bisa saja. Tapi fokus saja menangkap pelaku lapangan. Baru bicara motif. Tentang enam kasus itu, masih ada satu kasus yang tidak mereka sampaikan.

Yaitu kasus impor daging yang ada skandal buku merahnya. Kenapa kasus itu enggak disebutkan?

Yang Anda baca, kenapa mereka tidak menyebutkan kasus buku merah itu?
Saya menduga ada conflict of interest.

Karena aliran dana suapnya diduga mengalir ke Kapolri?
Sebenarnya saya ndak tertarik bicara motif. Tangkap saja dulu pelaku lapangan, baru bicara motif. Agar tidak keruh.

Yang saya mau ingatkan. Ketika dikatakan terkait enam kasus, saya kira kurang ya. Kasus buku merah harusnya disebut juga.

Anda selalu bilang ada jenderal yang diduga terlibat. Saat diperiksa tim gabungan, Anda sampaikan juga?
Yang jelas saya diminta mengatakan semua yang saya ketahui. Terkait dugaan, motif, termasuk siapa aktor intelektual.

Bisa saja saya katakan semua. Tapi itu tidak membuat terang perkara. Street crime itu dimulai dari TKP. Kalau dari motif, saya khawatir kasusnya jadi kabur.

Katanya Anda mengajukan syarat yang berat kepada tim gabungan saat dimintai petunjuk?
Saya hanya minta agar polisi juga ungkap kasus kekerasan yang menimpa karyawan KPK yang lain. Itu saja.

Anda juga meminta syarat pembentukan TGPF oleh presiden?
Enggak. Idealnya memang di bawah presiden. Tapi saya enggak ajukan itu sebagai syarat.

Saya kira, meminta polisi ungkap kasus kekerasan terhadap penyidik KPK yang lain tidaklah berlebihan.

Artinya saat diperiksa tim gabungan, masih ada informasi yang Anda simpan?
Saya ini berpikir. Apakah ketika saya katakan semuanya bisa bantu pengungkapan? Gak juga kan.

Tapi kenapa kok dikejar-kejar terus. Jangan-jangan ada orang yang ingin menghapus jejaknya--atas dasar informasi dari saya.

Memangnya, pertanyaan apa dari tim gabungan yang enggak Anda jawab?
Semuanya saya jawab.

Novel Baswedan saat wawancara di rumahnya, Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat malam (19/7/2019).
Novel Baswedan saat wawancara di rumahnya, Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat malam (19/7/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Apakah pernah merasa geregetan untuk menyelidiki kasus Anda sendiri?
He-he, iya. Kalau libatkan perasaan, saya ini marah dan jengkel. Tapi saya tahu, bekerja memberantas korupsi itu menimbulkan risiko.

Saya harus siap dengan segala risiko. Buktinya, saya kerja kembali dan ungkap beberapa perkara serius.

Saya enggak mau jatuh dan dikerjain perasaan. Kalau saya jatuh, tujuan pelaku penyerangan saya itu jadi tercapai.

Anda pernah mengatakan kepada saya hendak mundur dan ingin berdakwah saja. Pada titik ini Anda berpikir begitu?
Seandainya negara tidak berminat lagi memberantas korupsi, tentu saya akan ambil aktivitas yang lebih penting.

Tapi masa iya negara tega berhenti berantas korupsi. Saya kira Pak Jokowi bukan orang yang akan mengambil kebijakan seperti itu.

Presiden Jokowi bisa diharapkan untuk bisa mengungkap kasus Anda?
Pemimpin negara ini kan Pak Jokowi. Beliau punya tanggung jawab untuk itu. Kalau tidak berharap sama presiden, mau sama siapa lagi.

Kalau kasus ini tidak diungkap juga, kan memalukan.

Anda bisa bayangkan. Aparatur negara, sedang bekerja, kemudian diteror. Habis itu diolok-olok oleh tim gabungan.

Sepertinya Anda amat tersinggung dengan kata-kata excessive use of power yang diucapkan mereka ya?
Justru itu, kenapa kok saya disalahkan. Kasarnya, ada orang dirampok di jalan, kemudian orang itu dibilangin polisi untuk di rumah saja, jangan kemana-mana.

Premisnya, penyebab perampokan itu karena orang itu keluar rumah. Masa begitu. Kan enggak sopan.

Anda curiga ada konflik kepentingan dalam tim gabungan?
Saya duga sih mereka tahu siapa pelakunya. Semoga bisa diungkap. Apalagi Pak Jokowi sudah bicara. Saya apresiasi dengan Presiden karena komentar soal ini.

Di dalam tim gabungan itu kan ada lima orang KPK. Apakah keberadaan mereka tak bisa mendorong untuk ungkap pelaku?
Mereka enggak dilibatkan aktif. Cuma ikut rapat satu kali. Mestinya sih melibatkan tokoh-tokoh nasional agar lebih independen dan terbuka.

Tapi enggak jaminan juga kasus Anda akan terungkap dengan keterlibatan tokoh-tokoh itu?
Ini bukan perkara sulit. Tinggal masalah keberanian.

“Masa iya negara tega berhenti berantas korupsi. Saya kira Pak Jokowi bukan orang yang akan mengambil kebijakan seperti itu.”

Novel Baswedan

Mungkin gak kasus Anda ada kaitannya dengan isu polisi India dan polisi Taliban di tubuh KPK?
Isu itu dibuat-buat. Siapapun yang katakan itu, ucapannya amat tidak pantas. Seperti mengolok-olok.

Mengatakan penyidik KPK dengan sebutan polisi India adalah suatu penghinaan.

Apa respons teman-teman di KPK terkait rilis tim gabungan bentukan polisi itu?
Yang waras sih marah semua. Yang enggak waras ya enggak peduli.

Anda berminat datang jika mendapat undangan Pak Jokowi untuk bertemu?
Tentunya. Tapi saya paham beliau sibuk. Ya seandainya ada kesempatan, tentu dengan senang hati saya akan datang.

Jokowi, sebagai presiden terpilih, apakah sesuai dengan pilihan Anda saat pemilu he-he?
He-he. Rahasia dong.

Btw, ada ancaman yang datang lagi kepada Anda?
Baru saja. Saya diancam dibunuh oleh petinggi yang anak buahnya saya periksa.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR