Novel Baswedan usai wawancara dengan Beritagar.id di rumahnya Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis malam (4/4/2018).
Novel Baswedan usai wawancara dengan Beritagar.id di rumahnya Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis malam (4/4/2018). Bismo Agung / Beritagar.id
BINCANG

Novel Baswedan: Saya diminta diam dulu saat Pemilu

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini dapat ancaman pembunuhan pascateror air keras. Hal itu tak membuatnya takut bersuara, meski sadar saat ini merupakan musim kampanye.

Sudah dua tahun ia menyesuaikan diri dengan penglihatan tak normal: mata kanan untuk melihat jauh dan mata kiri untuk membaca. Itu pun berkabut, sehingga ia tak bisa lagi mengendarai sepeda motor.

Awalnya, mata kiri yang sepenuhnya putih itu tak bisa lihat sama sekali. Tapi, cangkok kornea yang diambil dari gusinya pada 2018, bikin matanya sedikit pulih. Sementara mata kanannya divonis plus empat.

Penyesuaian hidup tersebut diakui Novel sulit dilakukan, sekaligus menyakitkan. Meski ikhlas kasusnya tak terungkap, ia menyayangkan jika negara membiarkan pelaku penyiraman bebas berkeliaran.

“Saya tidak akan biarkan orang jahat menang. KPK enggak boleh takut,” kata penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini saat wawancara di rumahnya Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis malam (4/4/2018).

Malam itu, Novel baru saja pulang kerja. Tampak Umar, si anak bungsu (2), bergelendotan terus kepadanya. Umar mengajak main dan minta dipangku. Ia tertawa melihat ulah Umar—sembari menyantap cumi hitam dan telur dadar sebagai menu makan malam.

Kepada Yandi Mohamad, Heru Triyono, Muammar Fikrie dan fotografer Bismo Agung serta Fernando Avi, ia merefleksikan kasusnya yang mandek dua tahun—tepat 11 April nanti. Sekali, suara Rina Emilda, istri Novel, memutus obrolan kami. Ia datang membawa nampan berisi kroket hangat. “Ayo dicoba, enak lho,” kata Rina.

Berikut perbincangan kami dengan Novel tentang permainan yang terjadi di balik kasusnya, penyusup KPK dan Partai Gerindra:

Novel Baswedan usai wawancara dengan Beritagar.id di rumahnya Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis malam (4/4/2018).
Novel Baswedan usai wawancara dengan Beritagar.id di rumahnya Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis malam (4/4/2018). | Novel Baswedan /Beritagar.id

Dua tahun, polisi belum bisa menangkap orang yang menyiram Anda. Anda masih yakin polisi bisa menangkapnya?
Semakin lama, saya menyadari pengungkapan tak dilakukan sungguh-sungguh. Padahal saya sudah beri keterangan sebanyak-banyaknya kepada penyidik sejak awal kejadian.

Kemudian, sekitar 3 bulan kasus berjalan, ada seorang senior polisi bilang, kasus ini tidak akan diungkap.

Apakah ini terkait dengan ucapan Anda yang menduga ada keterlibatan jenderal polisi dalam kasus ini?
Saya menduga kuat ada jenderal polisi terlibat. Saya tekankan, penyerangan ini bukan masalah pribadi, tapi terkait saya sebagai penyidik KPK.

Oleh karena itu saya melapor Komnas HAM. Dan Komnas HAM mendapat fakta ada abuse of process dalam kasus ini. Fakta itu terkumpul dalam sebuah rekomendasi.

Apa indikasi abuse of process itu?
Contoh saja. Sidik jari pelaku di gelas itu sudah dihapus sempurna. Bahkan sidik jari di tempat botol air keras itu enggak tahu kabarnya bagaimana.

Lalu, CCTV tempat di mana pelaku melintas juga tidak diambil.

Jadi Anda tidak percaya dengan penyidik yang menangani kasus ini?
Sulit percaya. Enggak masuk akal kalau dibilang penyidik sungguh-sungguh. Percaya dengan itu, sama seperti percaya takhayul.

Polisi sempat bilang Anda tidak kooperatif terkait penyelidikan yang menimpa Anda?
Enggak ada informasi dan bukti yang enggak saya berikan. Saya kooperatif menyampaikan itu.

Saya malah minta semua tetangga-tetangga saya memberikan keterangan sebagai saksi, tapi mereka mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan.

Bagaimana dengan rekomendasi Komnas HAM itu, apakah sudah ada follow up?
Yang jelas rekomendasi sudah disampaikan kepada Presiden dan Kapolri. Yang menarik, rekomendasi bukan hanya menyatakan adanya abuse of process, tapi juga mengamanatkan membentuk tim gabungan.

Ya Polri sudah membentuk tim khusus itu kan…
Memang. Anehnya tim itu berisi tim penyelidik dan penyidik yang menurut investigasi Komnas HAM dinyatakan abuse of process.

Pertanyaannya, tim gabungan ini mau melakukan apa? Apakah tim ini disuruh memeriksa dirinya sendiri kalau abuse of process atau tidak? Menurut saya ini membingungkan.

Sudah dibentuk tim dan sedang dalam proses penyidikan. Apalagi yang Anda inginkan?
Transparansi. Tunjuk orang yang tidak hanya dari internal polisi saja. Buka diri untuk kalangan yang bisa bantu investigasi dengan objektif dan profesional.

Kalau mau melindungi KPK, Presiden harusnya juga bentuk tim pencari fakta yang isinya orang-orang profesional dan independen, tidak tersandera kepentingan politik dan berpihak.

Menurut Anda, ada kekhawatiran apa jika tim pencari fakta dibentuk?
Saya berpikir, seandainya Bapak Presiden berani bentuk tim itu ya enggak ada risikonya. Risikonya ya skandal di balik penyerangan ini terungkap. Itu risikonya. Risiko ini kan suatu hal yang baik.

Bagaimana analisa Anda soal skandal di balik teror itu?
Saya melihat seperti ada yang koordinir untuk menyerang KPK. Kalau teror itu diungkap, maka itu jadi hal menarik. Berani-beraninya bandit itu melawan negara. Mau sampai kapan.

Di banyak kesempatan, Anda terus menagih pengungkapan teror dan mempertanyakan komitmen pemerintah. Anda kecewa?
Saya sangat kecewa. Mulai dari kesal, prihatin, sampai kasihan. Kok pejabat kita sebegitu takutnya sama penjahat.

Orang ini menyerang aparatur negara yang bertugas kan. Menurut saya ketakutan itu berlebihan dan tidak boleh terjadi.

Siapa yang takut?
Pertanyaan bagus. Saya menduga pimpinan Polri takut dan saya meyakini Presiden juga takut. Sudah tahu ada serangan terhadap KPK, tapi tidak dibuka.

Kenapa kok enggak mau bentuk tim. Selain takut, kira-kira alasan apa lagi. Saya tidak menemukan jawabannya.

Bagaimana kalau jawabannya itu adalah pertimbangan stabilitas politik?
Ya makanya jangan berpolitik dengan cara yang jahat. Kita jadi enggak stabil.

Anda melihat adanya komitmen dari kedua calon presiden untuk menuntaskan kasus Anda?
Kalau menjawab itu saya khawatir masuk ke dalam jeratan politik.

Ada harapan dari kedua paslon itu?
Saya dengar Pak Prabowo menyampaikan itu. Saya mengapresiasi. Saya berharap juga Pak Jokowi menyampaikannya sebagai calon presiden.

Tapi beliau sebagai Presiden, saya mendesak untuk bersikap real, yaitu dengan bentuk tim. Semoga beberapa hari ke depan beliau menyampaikan itu.

Kalau tidak?
Ya ada apa kalau tidak? Tentunya kita berharap siapapun pemimpin negara kita adalah orang yang tidak terbelenggu dengan ketakutan.

Presiden kan telah memerintahkan kepada Kapolri untuk mengungkap kasus ini?
Seharusnya saya percaya, cuman

Memangnya kalau ganti presiden akan ada harapan?
Saya enggak ingin berspekulasi ya. Entar saya dibilang orang Gerindra ha-ha.

Bagaimana dengan tuduhan bahwa Anda berafiliasi dengan Gerindra?
Saya bersuara malah diisukan aneh-aneh. Kalau kemudian pas dengan Pemilu, ya justru saat ini waktu yang tepat untuk mendesak.

Kok malah diminta Pemilu harus diam dulu. Ada apa ini.

Ada yang menghalangi Anda?
Secara enggak langsung ada. Kalau saya sebut namanya nanti ribut.

Novel Baswedan usai wawancara dengan Beritagar.id di rumahnya Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis malam (4/4/2018).
Novel Baswedan usai wawancara dengan Beritagar.id di rumahnya Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis malam (4/4/2018). | Bismo Agung /Beritagar.id

Nuansa politik jadi tidak terhindarkan dari suara-suara Anda saat ini, namanya jelang pemilihan…
Saya akan tetap bersuara meski sekarang masa kampanye. Tentu saya berkepentingan menyuarakan, kenapa? Saat kampanye biasanya para kandidat akan berjanji. Karena itu saya mendesak agar masing-masing calon menyampaikan komitmennya.

Anda pernah pada titik pasrah saja jika pelaku penyiraman tidak kunjung tertangkap?
Ndak boleh pasrah. Tapi saya ikhlas dengan kejadian ini dan memaafkan pelakunya. Saya tidak mau terbelenggu dengan kemarahan terus.

Tapi, walau memaafkan, bukan berarti memaklumi. Ini harus diungkap. Kalau tidak, orang ini akan makin berani meneror. Kalau ini terjadi, maka negara kalah dengan mafia dan gangster itu.

Pascateror penyiraman air keras, ada ancaman lagi kepada Anda?
Saya beberapa kali mendapatkannya. Dibilang mau dibunuh, mau dihabisi, ditembak dan lain-lain. Cuma semua itu tidak membuat saya takut, walaupun harus tetap waspada.

Seberapa besar pengaruhnya teror terhadap Anda ini untuk KPK?
Pasti sangat besar. Bahkan beberapa pegawai KPK trauma. Ingat, serangan ini bukan kepada saya saja. Tapi juga kepada pimpinan KPK.

Tapi saya meyakini, kasus itu juga tidak akan diungkap. Ini konyol. Apa mau menunggu ada orang KPK dibunuh atau bagaimana?

Saya selalu bicara kepada kawan-kawan KPK untuk jangan takut. Makanya tiap teror harus diungkap. Itu upaya paling baik, sehingga KPK merasa dilindungi.

Anda merasa dan percaya pimpinan KPK ada di belakang Anda?
Saya berharap pimpinan bisa lebih berani bersikap. Harusnya mereka dukung ya, toh mereka juga jadi korban. Saya yakin pimpinan KPK dalam keadaan diancam juga.

Maksudnya selama ini pimpinan KPK kurang berani?
Sebagai manusia ya bisa jadi takut, karena mereka juga mungkin diancam—walau secara pribadi saya tidak akan memaklumi ketakutan itu.

Jika mau jadi pimpinan KPK, ya tidak boleh takut. Kalau masih takut jangan jadi pimpinan KPK.

Bagaimana mau mengungkap sebuah kasus kalau pimpinan saja takut?
Faktanya begitu. Kita semua tidak ingin kekonyolan itu terus terjadi. Tapi upaya menakut-nakuti itu kan terus dilakukan.

Tentunya, di KPK terus saling menguatkan. Kita ini solid, dan saya berharap, pemerintah tidak abai.

Jangan hanya bicara antikorupsi. Kita tidak perlu pemimpin yang hanya bicara, namun harus bersikap tegas.

"“Mau jadi pimpinan KPK tidak boleh takut. Kalau masih takut ya jangan jadi pimpinan KPK”

Novel Baswedan

Sebegitu masifnya ya upaya pelemahan terhadap KPK?
Sekarang kondisi KPK yang paling parah. Saya belum bisa katakan apa-apa. Nanti pada saatnya teman-teman KPK akan membukanya ke publik.

Pada sisi apa paling parahnya?
Sayangnya saya belum bisa ungkap semua. Pokoknya tiap mau melakukan OTT (Operasi Tangkap Tangan) itu butuh perjuangan keras, karena sering bocor. Penyusup luar biasa terang-terangan.

Termasuk OTT Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Rommy)?
Saya tidak bisa cerita itu.

Omong-omong, bagaimana proses pemulihan mata Anda?
Dua atau tiga bulan sekali saya ke Singapura. Saya harus potong benjolan mata kiri saya yang tumbuh secara berkala.

Mata kiri ini buat baca. Kalau kanan untuk melihat jauh.

Masih dikawal ya dari KPK, bahkan ada bedeng depan rumah Anda. Kalau gak terungkap juga, bisa jadi rumah permanen itu he-he…
Saya juga enggak enak dikawal sebenarnya he-he.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR