Pandji Pragiwaksono saat ditemui di di Pizza Marzano Kemang, Jakarta, Selasa malam (9/4/2019).
Pandji Pragiwaksono saat ditemui di di Pizza Marzano Kemang, Jakarta, Selasa malam (9/4/2019). Wisnu Agung / Beritagar.id
BINCANG

Pandji Pragiwaksono: Gue dikutuk dekat dengan kegaduhan

Ia terkejut lawakan kucing di pertunjukannya mengundang kontroversi. Tapi dirinya tak kapok dan akan tetap menyampaikan hal-hal lucu bertema sensitif, seperti sosial dan politik.

Materi komedi Pandji Pragiwaksono yang menggigit lagi-lagi melahirkan kontroversi. Jika sebelumnya Pandji dicibir soal ganja, gay atau toa masjid, kini ia berurusan dengan pencinta hewan, karena menyebut kucing sebagai hewan gembel.

Guyonan kucing itu disampaikannya saat World Tour Jakarta 2019 yang diunggah di channel Youtube-nya. Para pengecam, salah satunya Garda Satwa Indonesia, menganggap materi Pandji tak layak. Mereka khawatir publik bakal mengikuti pandangan dia terhadap kucing.

Alhasil, unggahan awal video berjudul “Pandji Benci Hewan Gembel” sudah diganti menjadi “Pandji dan Cicak Ninja”—beserta respons Pandji atas kontroversi ini.

“Gue sih enggak bisa minta maaf atas joke gue ya. Tapi minta maaf atas kegaduhan yang terjadi,” ujar Pandji saat wawancara dengan Heru Triyono, Fernando Avi dan fotografer Wisnu Agung di Pizza Marzano Kemang, Jakarta, Selasa malam (9/4/2019).

Malam itu ia tampil mengejutkan: memakai sweter merah jambu dipadu jin biru. Mungkin sedang masa puber kedua—karena tiba-tiba ketakutan saat membelai rambutnya yang mulai botak. “Duh keturunan bokap nih gue ha-ha,” tuturnya.

Sambil meneguk kopi dan terkikik-kikik, pria berusia 39 ini bicara panjang lebar soal materi humor dan bagaimana keyakinan politiknya saat ini. Berikut percakapan kami, yang diedit dan diringkas untuk kejelasan:

Pandji Pragiwaksono berpose di Pizza Marzano Kemang, Jakarta, Selasa malam (9/4/2019).
Pandji Pragiwaksono berpose di Pizza Marzano Kemang, Jakarta, Selasa malam (9/4/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Protes keras datang dari Garda Satwa Indonesia (GSI). Apa sebenarnya yang paling dipersoalkan mereka?
Mereka enggak masalahin soal joke-nya. Tapi pada penggunaan kata yang dikhawatirkan meligitimasi orang untuk ikutan benci kucing.

Ada di joke gue kata-kata benci sampai hati. Ada juga perilaku gue yang gak mau kasih makan kucing saat di atas panggung.

Nah keberatan itu mereka (GSI) sampaikan ke gue dalam pertemuan—sebelum wawancara ini.

Surat terbuka GSI untuk lo adalah menuntut permintaan maaf. Apakah lo melakukannya saat pertemuan itu?
Gue gak bisa minta maaf atas joke gue. Karena joke itu enggak salah. Orang yang salah tangkap. Tapi, gue minta maaf atas kegaduhan yang terjadi.

Mereka memahami dan menerima penjelasan lo tersebut?
Mereka mengerti. Karena, risiko tersinggung dari joke-joke gue akan selalu ada. Masa iya tiap kali orang salah tangkap, gue harus minta maaf.

Ketika lo minta maaf atas kegaduhan itu, artinya lo memang merasa salah?
Poin utamanya bukan itu. Gue enggak peduli siapa benar siapa salah. Gue peduli atas kegaduhannya.

Gue kasihan sama followers gue. Lagi bicara bola, malah muncul bahasan kucing.

Gue minta maaf bukan cuma ke GSI, tapi kepada orang yang terpapar kegaduhan ini.

Tapi kayaknya lo gerah juga dengan situasi ini. Lewat Instagram, lo bilang, di negara ini cuma boleh bercanda tentang tumbuhan saja…
Ya itu kan hanya sebatas bercanda.

Lo merasa enggak materi komedi lo jadi terbatas karena kejadian ini, kayak jadi banyak larangan…
Enggak sih. Komika itu bisa bicara apapun. Yang mesti berubah itu bukan materinya. Tapi cara orang menunjukkan ketersinggungannya.

Jadi, kalau lo tersinggung, ya gue gak bisa menahan lo untuk tersinggung. Tapi boleh dong lo menunjukkan ketersinggungan itu tanpa caci maki.

Dan enggak sampai juga doain rejeki orang hilang atau bawa-bawa keluarga segala. Kan bisa.

Maksudnya komika di Indonesia masih leluasa untuk membuat materi yang kritis?
Komedian di Indonesia bebas ngomong apapun. Bebas. Tapi harus tanggung jawab. Jangan kabur. Gue itu enggak ada batasan ngomong.

Tapi gue selalu mencontohkan kalau gue akan bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa atas materi gue. Ya seperti soal kucing ini.

Apakah lo sudah memprediksi materi lawakan kucing itu akan jadi kontroversi?
Sama sekali enggak. Gue kan biasa bicara agama, masjid, LGBT, regulasi prostitusi, ganja, dan hal sensitif lain.

Jadi asumsi gue, ya enggak menyangka materi kucing ini akan jadi masalah.

Lo punya pengalaman buruk ya saat dulu memelihara kucing atau ketika bersentuhan dengan kucing?
Gue enggak pernah pelihara kucing. Tipe keluarga gue bukan memelihara hewan.

Gue sama istri itu percaya takdir hewan itu tidak dipelihara, terkecuali kucing dan anjing ya. Tapi kedua hewan itu kami gak pelihara karena rumah kami kecil.

Alergi terhadap kucing?
Justru kucing-kucing yang gue sebut gembel itu nongkrongnya, ngencingnya dan bercintanya di rumah gue. Malah tidurnya di atas mobil gue ha-ha.

Jadi, di rumah gue itu ada kucing yang gue kasih nama Koba, karakter kera di film “Rise the Planet of the Apes”.

Soalnya dia kayak habis kena siksa gitu. Nah si Koba ini nongkrongnya di rumah gue. Jadi realitanya ya rumah gue adalah tempat nongkrong kucing.

Materi tentang kucing itu adalah pengalaman pribadi lo?
Itu hasil ngobrol-ngobrol dengan seorang cat lover juga. Banyak inspirasi datang dari dia. Kalau joke-nya banyak dari pengalaman gue sendiri.

Seperti lagi makan, kemudian makanannya diminta kucing. Pas gue kasih, si kucing kabur dan datang lagi bawa rombongan.

Tapi ketika ada kalimat benci sampai ke hati kepada kucing, itu benar-benar bakal berefek besar menurut lo?
Begini. Yang mereka (GSI) takutkan itu adalah rantai dari kata benci itu yang kemudian bisa jadi menyiksa, kemudian membunuh.

Itu yang mereka lihat. Gue sih memahami perjuangan mereka menyelamatkan kucing.

Makanya, kita akan bikin kampanye untuk meningkatkan kesadaran orang agar mau adopsi kucing dari shelter-shelter. Rencananya bikin konten edukasi.

Ketika lo sudah minta maaf atas kegaduhan, apakah mereka tetap minta video tentang kucing itu ditarik dari Youtube?
Enggak sih. Semua sudah didiskusikan dengan baik. Mereka (GSI) paham setelah gue jelaskan juga.

Jangan-jangan apapun materinya, asal lo yang bawakan akan terjadi kegaduhan he-he…
Ha-ha. Kutukan gue kali ya dekat dengan kegaduhan.

Pandji Pragiwaksono berpose di Pizza Marzano Kemang, Jakarta, Selasa malam (9/4/2019).
Pandji Pragiwaksono berpose di Pizza Marzano Kemang, Jakarta, Selasa malam (9/4/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Apakah seorang komika memiliki sisi kompromi atas situasi. Misalnya menghindari isu politik karena musim kampanye?
Enggak ada. Gue saja kemarin bikin road show, namanya Septictank, yang isinya 100 persen politik. Dua capres gue sebut.

Presiden lain juga gue sebut. Padahal suasananya kayak begini. Biasa saja.

Tapi Septictank kan lo enggak unggah di Youtube? Takut dikira mengajak atau memang sensitif banget?
Gue enggak publikasi memang salah satunya karena sensitif. Enggak semua materi bisa cocok ditaro di Youtube.

Kita harus pintar-pintar juga membaca penonton panggung dan penonton Youtube. Harus cocok pada tempatnya.

Susah juga ya merumuskan ide agar materi seorang komika tidak melahirkan kontroversi…
Kalau lo serius jadi pelawak ya susah. Pakde Indro bilang ke gue. Pelawak itu serius untuk enggak serius.

Niat gue sih cuma ingin membuat orang tertawa. Enggak ada niat mengubah Indonesia atau mengangkat nilai-nilai luhur.

Tapi bikin tertawanya itu bukan sampah dari komedi sampah ya.

Enggak lelah sering dihujat karena materi stand up lo?
Gue selalu bilang. Komedi itu melelahkan. Kecuali di atas panggungnya. Gue menemukan kebahagiaan di atas sana.

Semua kelelahan naik pesawat, bikin materi, bahkan temen gue sampai ada yang kumat epilepsinya, semua terbayar di atas panggung.

Banyak yang menuding kalau lo mengampanyekan golput. Itu dihujat juga kan. Bagaimana pendapat lo?
Gue sih saat ini sudah ngincer akan pilih paslon yang mana. Tapi tergantung situasi ya. Bisa saja tiba-tiba salah satunya bilang apa dan itu menenangkan hati gue untuk memilih dia. Masih bisa berubah pilihan gue.

“Terus terang gue ragu gue akan golput”

Pandji Pragiwaksono

Apa sih yang kurang dari kedua calon presiden ini sehingga lo sulit memutuskan pilihan?
Gue tipe orang yang melihat gagasan. Gue juga melihat beban di belakang masing-masing calon.

Lo kan memilih bukan karena lo suka atau enggak suka. Tapi lihat isu dan gagasan yang dia bawa. Nah itu yang sedang gue cari dan gali.

Jika pencarian itu belum ketemu, bisa jadi lo akan golput?
Terus terang gue ragu gue akan golput. Tapi gue membela hak orang untuk golput. Orang suka salah tangkap soal mereka.

Kasihan mereka dianggap pengecut dan enggak punya pendirian. Orang bingung kok dibilang pengecut. Ya Allah.

Bahkan golput itu disebut yaitu bodoh, benalu, dan psycho-freak kan?
Pokoknya segala macam sebutannya. Ya bagi gue sih sekarang belum saatnya golput. Golput itu kalau kedua pilihan itu sama-sama bangsat.

Misalnya satunya itu Kim Jong Un, satunya lagi Donald Trump. Nah itu baru lo golput.

Andai saja Anies Baswedan yang maju menjadi capres, tentu Anda tidak bingung kan untuk memilih?
He-he. Gue agak bersyukur sih dia enggak maju. Karena gue gak tahu cara membela dia nantinya.

Gue bilang sama mas Anies. Mas, gue dukung lo untuk jadi gubernur ya bukan capres.

Gue bilang juga kalau memilih dia jadi gubernur itu bukan untuk batu loncatan dia menjadi presiden. Gitu. Gue rasa dia paham.

Dia akan maju tahun 2024 nanti?
Masih panjang itu. Masih random juga situasinya.

Btw Anies itu cenderung mendukung siapa ya pada Pilpres ini?
Setahu gue sih enggak jelas ha-ha. Ya semua orang kan ditemenin dan disamperin sama dia. Bagaimana coba?

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR