Keterangan Gambar : Benny Prawira, Pendiri dan Ketua Koordinator Into The Light, berpose usai berbincang dengan Beritagar.id, di Café de Manila, FX Sudirman, Jakarta, Rabu (26/7). © Beritagar.id / Andreas Yemmy Martiano

Benny Prawira bersama komunitas Into The Light berusaha menjadi "teman curhat" bagi mereka yang dilanda depresi, sebagai usaha untuk mencegah bunuh diri.

Medio 2012, Benny Prawira mendapati fakta, tiap pekan ada pemberitaan kasus bunuh diri di media daring. Bahkan, pemberitaan bunuh diri bisa muncul saban hari ketika mencapai puncak.

Ia pun gelisah dan mulai memandang kecenderungan bunuh diri serta depresi sebagai perkara serius. "Ada juga beberapa kejadian di sekitar saya. Beberapa teman-teman mengaku pengen mati," ujarnya.

Setahun kemudian, Benny dan empat rekannya menggagas seminar pencegahan bunuh diri bertajuk "Into The Light". Kala itu, Benny baru berusia 24 dan masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Psikologi di Universitas Bunda Mulia, Jakarta.

Kepanitaan tengah giat mempromosikan seminar, tatkala satu pesan masuk ke akun media sosial mereka. Seorang remaja yang berdomisili di luar Jawa mengirim pesan tentang riwayat depresi serta percobaan bunuh diri yang menimpanya.

"Pesan itu bikin kami berpikir: mesti ada layanan pencegahan bunuh diri, enggak bisa kalau seminar doank," kata Benny.

Into The Light pun berkembang menjadi komunitas yang mendorong kesadaran masyarakat mengenai pencegahan bunuh diri. Belakangan, mereka juga menggelar pendampingan sebaya untuk membantu orang keluar dari rasa depresi sekaligus mencegah bunuh diri.

Nama mereka sering terdengar beberapa pekan terakhir--menyusul maraknya kasus bunuh diri. Media menempatkan Into The Light sebagai rujukan, beriring alpanya pusat layanan pencegahan bunuh diri (500-454) milik Kementerian Kesehatan.

Pun, Benny dan rekan-rekannya jadi sering diminta berpendapat dalam kasus bunuh diri, mulai dari peristiwa tewasnya bintang rock Chester Bennington, hingga kejadian yang mengambil nyawa dua perempuan bersaudara di Bandung.

Seperti pada Rabu malam (26/7), Benny tampak sibuk menjawab pertanyaan tiga jurnalis di Cafe de Manila, FX Sudirman, Jakarta. Di tengah wawancara, ia sesekali mengetik di layar ponsel demi membalas pesan pewarta lain. Tatkala tanya-jawab usai, ia pun masih harus menjawab telepon dari media lain.

Lepas menutup telepon, pria berkacamata itu bergegas menyapa Muammar Fikrie dan fotografer Andreas Yemmy Martiano dari Beritagar.id. Kami pun mulai bercakap-cakap di satu sudut Cafe de Manila.

Benny, yang mengenakan baju hangat berwarna jambon, bertutur bak periset yang tengah mempresentasikan fenomena spesialisasinya. Ia cakap menerangkan situasi depresi dan kecenderungan bunuh diri; melempar kritik atas model pemberitaan media dan percakapan warganet; memberi catatan atas data kasus bunuh diri di Indonesia.

Ia memang tengah fokus mendalami Suicidology, bidang ilmu yang mempelajari perilaku dan pencegahan bunuh diri. Ketertarikan itu membawanya bergabung sebagai Youth Advisory Board di National Center for The Prevention of Youth Suicide, sebuah lembaga asal Amerika Serikat yang fokus pada pencegahan bunuh diri di kalangan remaja.

Pria berusia 28 itu menjalankan tugas sebagai Kepala Koordinator Into The Light di sela kesibukan mengejar gelar magister bidang Psikologi Sosial Kesehatan di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta. "Di Into The Light semuanya sukarela, baik tenaga atau biaya. Anggotanya ada yang kerja, ada yang kuliah," katanya.

Selama wawancara, Benny didampingi pegiat Into The Light lainnya, Venny Asyita (28) dan Listiyani (28). Sesekali, Listiyani menimpali pertanyaan Beritagar.id dalam kapasitasnya sebagai penyintas depresi berkecenderungan bunuh diri.

Benny Prawira, ketika bercakap-cakap dengan Beritagar.id di Cafe de Manila, FX Sudirman, Jakarta, Rabu (26/7).
Benny Prawira, ketika bercakap-cakap dengan Beritagar.id di Cafe de Manila, FX Sudirman, Jakarta, Rabu (26/7).
© Andreas Yemmy Martiano /Beritagar.id

Bisa ceritakan kegiatan Into The Light?
Salah satu program Into The Light adalah pendampingan sebaya melalui email (pendampingan.itl@gmail.com), untuk mereka yang butuh informasi atau bercerita soal depresi dan kecenderungan bunuh diri. Itu rutin dilakukan Senin-Sabtu, pukul 21.00-23.00 WIB.

Kami juga terus berbagi informasi seputar kesehatan jiwa lewat media sosial. Dua tahun terakhir, kami bikin pelatihan pendampingan serta advokasi seputar masalah kejiwaan dan kecenderungan bunuh diri. Program riset juga jalan.

Bagaimana model pendampingan lewat email itu?
Mulanya, kami mengindentifikasi sejak kapan seseorang punya kecenderungan bunuh diri. Lalu, kami ajarkan cara supaya dirinya aman dan mencari sumber dukungan.

Beberapa orang yang menghubungi kami cukup aman, tak perlu ke psikolog atau psikiater. Namun kebanyakan memang butuh dirujuk. Tugas kami semacam teman curhat, pendengar, dan perantara ke psikolog atau psikiater yang tepat.

Sudah berapa banyak orang yang didampingi Into The Light?
Sampai Juni 2017, sekitar 150 orang yang reach out (menghubungi) kami.

Semuanya punya riwayat percobaan bunuh diri?
Ada yang punya riwayat percobaan atau sekadar pemikiran bunuh diri. Namun, dari total orang yang menghubungi, hanya 12 persen yang mengaku "berencana bunuh diri". Masih banyak yang enggan menceritakan masalah mereka, karena stigma terhadap bunuh diri.

Stigma macam apa yang Anda maksud?
Stigma itu macam-macam. Misal, dikaitkan dengan agama (masuk neraka, berdosa), disebut enggak bermoral, dibilang lemah, dan sebagainya.

Paling sering terjadi ketika seseorang putus cinta dan bilang mau bunuh diri. Biasanya, orang lain ketawa mendengarnya. Itu menganggap remeh luka orang. Seolah-olah semua sama, padahal kekuatan dan kerentanan tiap individu berbeda.

Apa faktor yang menyebabkan seseorang bunuh diri?
Ada tiga faktor dalam kemunculan bunuh diri. Faktor biologis, dipengaruhi genetik dan hormon, membuat kecenderungan bunuh diri bisa diwariskan.

Selanjutnya, faktor sosial, misal seorang individu yang punya riwayat pengalaman kekerasan, traumatis, atau kehilangan lingkungan sosial. Lalu ada faktor psikologis, yang menyangkut kejiwaan dan kepribadian.

Ketiganya tumpang tindih, dan sulit mencari faktor tunggal.

Situasi kejiwaan macam apa yang melanda orang dengan kecenderungan bunuh diri?
Ada tiga aspek yang terkunci ketika seseorang depresi dan suicidal. Pertama, terkunci masa depannya yang dianggap suram. Kedua, terkunci dengan lingkungan. Orang-orang di sekitarnya dianggap kejam dan tak peduli. Bila orang lain peduli, ia malah menganggap dirinya sebagai beban, tidak berguna, atau lebih baik hilang, itu yang ketiga.

Ketidakseimbangan kimiawi otak dan psikologi membentuk tiga pemikiran negatif itu. Alhasil, bunuh diri terjadi dalam situasi tidak rasional--otak tak terkendali--yang membuat seseorang terkunci untuk lari dari rasa sakit, tanpa bisa melihat pilihan lain.

Listiyani: Dalam kondisi suicidal, semua logika tertutup, yang saya pikirkan hanya bagaimana cara untuk menghilang. Saya merasa enggak kuat, capek, dan sakit. Saat itu yang ada dalam pikiran hanya "cara untuk kabur dari rasa sakit".

Bila menghadapi orang dengan kecenderungan bunuh diri, apa yang sebaiknya dilakukan?
Di Into The Light, kami selalu bertanya, "Apa yang bikin seseorang dengan kecenderungan bunuh diri itu bertahan (tujuan hidup)?". Itu yang terus menerus kami gali dan ingatkan. Hal itu akan membuatnya survive (atau menunda) hari demi hari, sampai punya keberanian ke psikolog atau psikiater untuk mengatasi akar depresi.

Listiyani: Saya melakukan postponed (menunda). Ketika ingin mengakhiri hidup, saya berpikir tentang caranya. Namun, saya terus menunda menemukannya. Saya tunda besok, minggu depan, bulan depan. Hingga akhirnya sadar: saya tak sendiri dalam hidup. Saya pun berpikir, untuk tidak kalah lagi.

Apakah Into The Light memberi rujukan ke pemuka agama dalam pendampingan?
Kalau rujukan kami langsung ke profesional kesehatan jiwa. Terus terang, kami agak susah menemukan pemuka agama yang tidak judgemental (menghakimi) orang-orang dengan kecenderungan bunuh diri.

Namun, kami juga bekerja sama dengan beberapa kelompok agama, misal Sekolah Tinggi Teologi Jakarta dan beberapa wihara. Prinsipnya, kami ingin pegiat keagamaan menahan asumsi mereka terlebih dahulu dan mendengar masalah-masalah yang dialami orang berkecenderungan bunuh diri.

Listiyani: Kalau pengalaman saya, ketika sedang down, orang tua memanggil ustaz. Lantas, saya diceramahi. Saya enggak suka, malah makin emosi. Namun ketika ke profesional, saya jadi tahu apa yang terjadi. Jadi tahu bahwa mental saya lagi terganggu dan harus bangkit lagi.

Merujuk data kepolisian (2010-2015), angka bunuh diri di Indonesia berkisar antara 600-900 kasus bunuh diri per tahun. Punya komentar soal itu?
Masalahnya, kita enggak punya sistem pencatatan bunuh diri yang terintegrasi. Data bunuh diri itu datang dari polisi. Nah, ada enggak penggabungan dengan data di rumah sakit atau puskesmas? Belum lagi, di Indonesia, bunuh diri sering dianggap aib.

Angka bunuh diri pasti lebih besar daripada yang tercatat, sebab banyak yang tidak terlaporkan.

Lantas, berapa taksiran kasus bunuh diri di Indonesia?
Sulit membuat taksiran. Namun, WHO mencatat, pada 2012 ada 9.105 kematian bunuh diri di Indonesia. Itu hanya kematian, belum percobaan dan pemikiran bunuh diri.

Satu catatan, menurut WHO, kecenderungan bunuh diri kerap menimpa anak muda. Dalam rentang usia 15-29, bunuh diri adalah penyebab kematian terbesar kedua di dunia.

Bagaimana Anda melihat penyebaran video peristiwa bunuh diri di media sosial?
Dalam satu kasus bunuh diri, ada 4-8 orang terdekat yang terpapar duka--lingkaran lebih besar bisa mencapai 20-30 orang. Silakan bayangkan, satu kematian yang memapari sekian orang, lalu di-viral-kan dan dicemooh netizen. Bagaimana orang-orang itu melewati proses berduka?

Penyebaran video juga memicu emosi negatif. Orang yang sehat bisa terjangkit emosi itu bila terlalu eksplisit. Pun, ada beberapa orang yang bisa trauma karena penyebarannya.

Orang yang depresi juga bisa mengikuti cara-cara penyelesaian rasa sakit seperti dalam video. Kita seolah meningkatkan risiko kematian seseorang dengan menyebar video itu.

Maksud Anda media sosial menularkan bunuh diri?
Bunuh diri itu memang menular karena ada kerentanan. Media sosial bisa mempercepat penularannya ketika disalahgunakan. Seorang yang depresi menjadi rentan ketika terpapar kasus bunuh diri terlalu detail. Atau bila mendapati asumsi-asumsi penyebab bunuh diri yang mirip dengannya--copycat suicide.

Bunuh diri di kalangan selebriti, konon cepat menular...
Selebriti punya relasi spesial dengan fans--bahkan, bisa seperti orang pacaran. Jika hubungan itu terputus karena bunuh diri, bisa memicu emosi mendalam dari penggemar.

Jangan heran ketika Marilyn Monroe, Robin Williams, atau Chester Bennington bunuh diri, turut terjadi penularan kepada penggemarnya. Saat kematian Chester Bennington, Into The Light menerima keluhan dari lima orang yang mengaku depresi dan "terinspirasi".

Media jadi serba salah ketika ada selebriti yang bunuh diri, perlu diberitakan tetapi berisiko mendorong penularan...
Dalam pemberitaan kasus bunuh diri selebriti sering muncul kesan glorifikasi. Ini sulit dihindari, tetapi bisa disiasati dengan cara penulisan tertentu.

Misalnya, headline (judul) yang tak bombastis--tanpa menyebut kata "bunuh diri". Dalam artikel silakan disebut soal itu, tetapi enggak usah jelaskan modusnya. Perlu juga menambahkan informasi soal situasi depresi dalam kacamata sains. Lalu, sebutkan kontak pusat layanan pencegahan bunuh diri.

Bila non-selebriti, anjuran yang sama berlaku?
Lebih kurang sama. Masyarakat hanya butuh artikel yang menerangkan bahwa ada kasus bunuh diri. Modusnya tak perlu detail. Identitas korban sebaiknya disembunyikan.

Jangan lempar asumsi soal pemicu kematian, misalnya menulis judul "Si A bunuh diri karena putus cinta". Itu bukan fakta, hanya asumsi. Karena yang paling tahu penyebab bunuh diri adalah korban yang sudah meninggal.

Jangan sampai pemberitaan ikut menebar stigma. Please, hentikan stigma dan glorifikasi bunuh diri.

Kementerian Kesehatan menutup pusat layanan pencegahan bunuh diri (500-454). Apakah layanan itu memang tak dibutuhkan atau tak efektif?
Kemarin (25/6), Into The Light bisa pecah rekor--beriring ramainya kasus bunuh diri--dengan menerima 35 aduan dalam sehari. Angka itu menunjukkan bahwa national hotline masih dibutuhkan.

Kalau alasan penutupannya karena pengaduan rendah, mestinya bisa dievaluasi. Mungkin butuh sosialisasi lebih giat.

Apakah jumlah tenaga profesional kejiwaan di Indonesia cukup memadai?
Kebanyakan psikolog dan psikiater masih terpusat di Jawa, serta tak merata di Sumatera, Kalimantan, Bali, dan area lain.

Bagaimana dengan layanan BPJS-Kesehatan, sudah membantu masalah kesehatan jiwa?
BPJS-Kesehatan sudah cover obat-obat dan layanan kesehatan jiwa. Namun ada beberapa kebijakan yang kontroversial. Misal, ketika seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau self harm (melukai diri), BPJS-Kesehatan tak mau menanggung, karena dianggap sebagai sakit yang disengaja.

Konon, hal ini masih jadi pertimbangan untuk masuk dalam tanggungan BPJS-Kesehatan.

Sering terpapar kasus dan informasi bunuh diri, pernahkah Anda merasakan dorongan mengakhiri hidup?
Pernah. Biasanya karena lelah dengan pendampingan yang banyak. Kalau sudah terpapar, mood saya bisa down. Untuk mengatasi, saya coba mengalihkan dengan telepon kawan, atau bikin posting lucu di media sosial.

Saya juga berusaha untuk ingat: menjaga diri sendiri adalah hal terpenting.

Bila Anda membutuhkan informasi terkait depresi atau ingin berbicara tentang isu kesehatan mental lainnya, Anda bisa mengontak komunitas 'Into the light' untuk mendapat pendampingan lewat email (pendampingan.itl@gmail.com) atau melalui Facebook, Twitter, dan Instagram.
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.