Keterangan Gambar : Penerjemah bahasa Arab untuk Presiden Joko Widodo, Sahrul Murajjab, ketika berbincang dengan Beritagar.id di Kantor Pusat Pendidikan dan Latihan Kementerian Luar Negeri, Jalan Sisingamangaraja Nomor 73, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Kamis (09/03/2017). © Beritagar.id / Bismo Agung

Ia berbicara soal sisi lain Raja Salman dan cerita unik pangeran-pangeran di Timur Tengah.

Bahasa Arab tidak pernah jauh dari kehidupannya. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, ia tidak sekedar melafalkan ayat-ayat kitab suci Al-Quran. Tapi dia mempelajari struktur bahasa tersebut di kampung halamannya, Batang, Jawa Tengah.

Kebiasaan ini berlanjut sampai ia duduk di sekolah menengah pertama. Pagi sampai siang ia akan bersekolah biasa. Lalu siang sampai pukul setengah lima sore ia belajar bahasa Arab. Kultur Nahdlatul Ulama memang sangat kental di kampungnya.

Lanjut ke sekolah menengah atas, ia menempuh pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur. Selama empat tahun bersekolah di sana kemampuannya semakin terasah. Jadi tak heran ketika mendapatkan beasiswa ke Tripoli, Libya, ia memilih jurusan Studi Islam dan Bahasa Arab.

Sahrul Murajjab sebenarnya tidak mau terlalu mengekspos perannya sebagai penerjemah bahasa Arab untuk Presiden Joko Widodo ketika menerima kedatangan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dari Arab Saudi. "Saya ini bukan siapa-siapa," kata pegawai Kementerian Luar Negeri (Kemlu) untuk urusan Afrika itu. Apalagi, ia tidak sendirian menjadi penerjemah. Ada empat orang lainnya yang memberikan kontribusi sama besarnya.

Tapi karena masyarakat kadung penasaran dengan Sang Raja, maka ia memaklumi dirinya pun ikut terseret menjadi incaran awak media. Padahal, ia sebenarnya telah berjumpa Raja Salman pada September 2015, ketika mendampingi Jokowi berkunjung ke tiga negara, termasuk ke Arab Saudi.

Tugasnya sebagai penerjemah ia anggap sekadar pengalaman, bukan pencapaian. Ia senang membantu kelancaran pertemuan bilateral antar pemimpin negara. Apalagi jika hal itu bisa ia ceritakan ke keluarga, anak, dan orang tuanya. "Yang membuat saya bahagia melakukan ini ketika orang tua merasa bangga," ujar laki-laki berusia 38 tahun itu.

Kepada Fajar WH, Sorta Tobing, dan fotografer Bismo Agung, Murajjab memberi kesannya bertemu dengan Raja Salman. Ia juga berkisah soal seorang Pangeran Arab Saudi yang ingin mengkloning Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Tapi ada cerita yang lebih menarik lagi ketika Jokowi disambut oleh Putra Mahkota Uni Emirat Arab Mohamed Bin Zayed AI Nahyan. Seperti apa kisahnya? Simak dalam tulisan dan video berikut ini:

Penerjemah bahasa Arab untuk Presiden Joko Widodo, Sahrul Murajjab, berpose di depan kamera seusai berbincang dengan Beritagar.id di Kantor Pusat Pendidikan dan Latihan Kementerian Luar Negeri, Jalan Sisingamangaraja Nomor 73, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Kamis (09/03/2017).
Penerjemah bahasa Arab untuk Presiden Joko Widodo, Sahrul Murajjab, berpose di depan kamera seusai berbincang dengan Beritagar.id di Kantor Pusat Pendidikan dan Latihan Kementerian Luar Negeri, Jalan Sisingamangaraja Nomor 73, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Kamis (09/03/2017).
© Bismo Agung /Beritagar.id

Bagaimana ceritanya sampai Anda terpilih menjadi penerjemah bahasa Arab untuk Presiden Jokowi?
Latar belakang saya memang bahasa Arab. Sewaktu Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika pada 2015 (di Jakarta dan Bandung), panitianya mencari pegawai Kemlu yang bisa berbahasa Arab.

Banyak pegawai Kemlu yang bisa bahasa itu?
Yang alumni dari Timur Tengah ada belasan orang.

Harus alumni dari sana?
Enggak juga. Tapi kalau bukan alumni dari sana agak susah, dari segi kelancaran berbahasa berbeda. Memang ada satu dan dua orang yang tidak perlu belajar ke Timur Tengah dan lancar berbahasa Arab tapi jarang. Sebaliknya juga ada yang alumni sana tapi kemampuannya tidak memadai.

Anda langsung melamar menjadi penerjemah ketika itu?
Saya ditawari dan menyanggupinya.

Ada berapa orang yang menyanggupi?
Cuma dua orang. Satu lagi dari staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di Irak.

Anda menerjemahkan pembicaraan Jokowi dengan siapa saja?
Hanya dua sampai tiga kali saya menerjemahkan, termasuk dengan Perdana Menteri Mesir (Ibrahim Mahlab).

Setelah itu, ada kunjungan Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi pada September 2015 ke Indonesia. Saya dipanggil bersama Pak Wadud (Abdul Wadud, dikenal sebagai penerjemah sejak zaman Soeharto). Jadi, saya ditandem berdua dengan beliau.

Minggu ketiga September, Pak Jokowi melakukan lawatan ke tiga negara Timur Tengah, yaitu Saudi Arabia, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Alhamdulillah, saya dipanggil lagi.

Jokowi berarti cocok dengan Anda?
Saya enggak tahu. Saya menerima perintah dari Kemlu. Memang kadang dari Istana (Kepresidenan) menelepon saya langsung, tapi saya bilang hanya mengikuti perintah dari tempat saya bekerja.

Bertemu pertama kali dengan Raja Salman pada saat lawatan ke Timur Tengah itu?
Iya, di Arab Saudi.

Saat di Jakarta, dia masih ingat dengan Anda?
Dia bertemu dengan banyak orang jadi lupa kali ya. Ha-ha-ha.... Kebetulan penerjemah yang biasa menemani beliau tidak ikut. Kalau dengan penerjemahnya, saya kenal.

Raja Salman pakai penerjemah sendiri?
Kebetulan selama ada saya, hanya saya sendiri. Tunggal. Bahasa Arab-Indonesia-Arab langsung. Tidak pakai bahasa Inggris. Alhamdulillah, mereka percaya dengan penerjemah kita.

Kalau mendampingi Jokowi, ada yang suka berguyon?
Yang pernah bercanda itu Wakil Putra Mahkota Saudi Mohammad bin Salman Al Saud.

Apa yang beliau katakan?
Anaknya Raja Salman ini mengagumi Bu Menlu (Retno Marsudi). Dia bilang, dalam bahasa Arab, Bu Menlu ini luar biasa dan Pak Presiden (Jokowi) patut bangga memiliki menteri yang energik dan tough. Lalu, dia bilang kalau Saudi punya teknologi mengkloning manusia, maka mereka mau mengkloning Bu Menlu untuk Saudi satu. Ha-ha-ha.... Itu candaan yang saya ingat betul tuh.

Sahrul Murrajab (kedua dari kanan) ketika mendampingi Presiden Joko Widodo melakukan pertemuan empat mata dengan Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud dari Arab Saudi (kedua kiri) di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu (01/03/2017)
Sahrul Murrajab (kedua dari kanan) ketika mendampingi Presiden Joko Widodo melakukan pertemuan empat mata dengan Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud dari Arab Saudi (kedua kiri) di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu (01/03/2017)
© Puspa Perwitasari /ANTARA FOTO

Nah, sewaktu Raja Salman ke Indonesia, ada lima penerjemah yang bertugas. Ada pembagian tugas?
Pasti. Ada yang bertugas di booth kalau pertemuan bilateral. Ada yang bekerja di bandara udara, dan sebagainya.

Pembagiannya berdasarkan apa?
Dari pengalaman dan tingkat keperluan.

Anda dapat tugas di mana?
Saat pertemuan tete-a-tete atau empat mata di Bogor. Pertemuan itu seharusnya berkonsep verandah talks. Jadi, awalnya mau ngobrol santai sambil melihat pepohonan di Istana Bogor. Tapi karena hujan deras, jadi gagal. Panitia akhirnya memindahkan ke ruangan tertutup secara mendadak.

Di pertemuan empat mata saya ikut menerjemahkan, ada Bu Menlu juga. Setelah itu, pertemuan bilateral, saya ikut juga tapi dalam booth. Pada saat konferensi pers Bu Menlu dengan menteri negara hubungan luar negeri, saya menerjemahkan.

Terakhir, saya menerjemahkan untuk Pak JK (Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI) dan Raja Salman di Hotel Raffles. Ketika Raja akan bertolak ke Bali, saya bertugas lagi di bandara.

Ada cerita lucu selama menerjemahkan Raja Salman?
Yang saya ingat, ketika pertemuan tete-a-tete selesai. Kepala Protokol Negara membuka pintu dan mengatakan waktu sudah berakhir, kedua kepala negara akan pindah ke tempat lain.

Raja lalu berkomentar, kalau perkataan kepala protokoler negara itu seperti istri, tidak bisa ditolak permintaannya. Ha-ha-ha.... Jadi, sebenarnya Raja Salman punya sense of humor yang lumayan.

Saat di Hotel Raffles, beliau sempat berguyon juga?
Suasananya cair saja. Dia sempat menyebut kata "saudara-saudara", menirukan Soekarno (Presiden RI yang pertama). Tampaknya Raja Salman mengagumi beliau.

Ada tiga kali yang saya ingat dia menyebut kata itu, dalam bahasa Indonesia ya, saudara-saudara. Pertama kali waktu Pak Jokowi ke Arab Saudi. Raja Salman mengungkapkan kalau mencintai Indonesia, sudah lama ingin ke sana, dan selalu teringat kata "saudara-saudara" itu.

Lebih cair mana, pertemuan Raja Salman dengan Jokowi atau JK?
Kalau saya bandingkan bahaya. Ha-ha-ha....

Menurut Anda, Raja Salman sosok seperti apa?
Beliau pintar dalam berdiplomasi, berkomunikasi dan menghargai tuan rumah. Ketika pertemuan di Bogor kan hujan deras. Tuan rumah pasti kecewa karena acara penyambutan tidak sesuai dengan skenario. Raja Salman mengatakan ke kami, hujan itu pertanda baik. Artinya, ya sudahlah jangan bersedih. Mungkin itu pesannya dan saya catat betul.

Ada kesulitan saat menerjemahkan perkataan Raja Salman?
Karena sudah sepuh beliau bicaranya kurang jelas. Kadang beliau mengungkapkan sesuatu yang saya tidak dengar jelas. Terpaksa petugas yang berada di sampingnya membuat perkataan itu menjadi lebih jelas. Itu terjadi betul ketika dia berada di sini. Tapi waktu kami ke Arab Saudi tidak demikian.

Merasa gugup ketika menerjemahkan perkataan beliau?
Pasti. Makanya jarang orang mau (jadi penerjemah).

Pakai baca doa dulu sebelum bertugas?
Doa biasa. Minta Yang Maha Esa memberi kemudahan dan kelancaran.

Raja Salman mengungkapkan kalau mencintai Indonesia, sudah lama ingin ke sana, dan selalu teringat kata "saudara-saudara" itu.

Sahrul Murajjab

Boleh bawa contekan?
Selalu dikasih demi kesempurnaan penerjemahan kami. Kami diberi bahan-bahannya oleh panitia, meskipun tidak pasti semua ada di situ. Kadang memang pembicaraan berkembang. Tapi outline-nya kami sudah dikasih. Jadi, sebelum acara bisa dipelajari isu apa yang akan dibahas.

Misalnya, dengan Arab Saudi membahas isu kontra terorisme. Istilah-istilah yang keluar kami pelajari dulu. Kadang ada makna benar tapi istilahnya beda, bisa bikin orang yang mendengar tidak nyaman. Contohnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB, saya menyebutnya Persatuan Negara-Negara. Itu artiya benar, tapi tetap keliru dan membuat orang tidak nyaman.

Punya pengalaman buruk saat jadi penerjemah?
Pertama, ketika di Arab Saudi. Waktu itu ada 11-13 pertemuan berturut-turut dari pagi sampai malam. Di salah satu pembicaraan saya lupa satu kosakata. Saya lupa dari bahasa Indonesia ke Arab atau sebaliknya. Saya macet waktu itu. Untung ada Pak Alwi Shihab (utusan khusus Timur Tengah) yang membantu dan mengatakan kata yang bikin saya mandek, yaitu likuiditas.

Kedua, ketika kunjungan Majelis Syuro Arab Saudi ke Indonesia pada pertengahan Februari lalu. Saya keliru menyebut gelar Raja Saudi. Harusnya Khadimul Haramain, pelayan dua kota suci atau masjid suci. Tapi saya keliru menyebutnya Shahibul Haramain, pemilik dua kota suci. Fatal.

Konotasinya jauh berbeda.
Iya, meskipun lebih tinggi pemilik ya. Tapi kata pelayan menunjukkan kerendahan hati. Saya tidak sadar, mungkin juga slip of the tongue. Ada yang menegur soal itu dan saya baru ngeh.

Dari pihak sana tidak protes?
Saya sudah menunggu sebetulnya selama dua hari. Saya pikir mungkin pihak Arab Saudi akan melayangkan complain ke atasan saya. Tapi untungnya tidak. Mereka mungkin memaklumi saya salah ucap. Saya bersyukur kesalahan itu tidak menjadi masalah besar dan dipercaya lagi jadi penerjemah.

Kalau pujian, Jokowi pernah memuji?
Belum pernah. Pak Alwi Shihab yang pernah mengatakan ke saya ahsanta, artinya itu mantep.

Ada tambahan honor kalau jadi penerjemah?
Saya tidak bisa jelasin nih. Ha-ha-ha.... Ada suka dan dukanya lah.

Tapi senang menjadi penerjemah?
Saya merasa ini bagian dari pengalaman, bukan pencapaian yang harus saya banggakan. Memang membantu kelancaran tugas negara. Tapi ya sekedar itu. Sebagai pengalaman, saya senang sekali.

Paling senang ketemu siapa?
Semuanya. Pernah juga menerjemahkan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, dan Emir Qatar. Ada kebanggaan juga dari sisi itu. Saya bahagia bisa menceritakan pengalaman ini ke anak dan cucu nantinya. Yang paling membuat saya senang ketika orang tua merasa bangga.

Di antara petinggi negara yang pernah Anda terjemahkan, yang paling berkesan yang mana?
Dari sisi memperlakukan kunjungan kenegaraan itu yang paling menarik adalah Putra Mahkota Uni Emirat Arab Mohamed Bin Zayed AI Nahyan. Jadi, saat Pak Jokowi sampai di sana, rangkaian mobil sudah siap. Setelah upacara kenegaraan, Si Putra Mahkota menghampiri satu mobil yang besar. Saya tidak tahu mereknya, tapi memang mobil mewah.

Tidak ada sopirnya di dalam mobil itu. Beliau mempersilakan Pak Jokowi masuk ke kursi penumpang depan, lalu Si Putra Mahkota duduk di kursi sopir. Dia nyetir sendiri. Di dalam mobil cuma mereka berdua, tanpa penerjemah. Mungkin mereka pakai bahasa Inggris. Jarak dari bandara ke tempat jamuan makan siang cukup jauh.

Berapa lama perjalanan itu?
Sekitar 15-20 menit. Itu menarik sekali karena saya baru satu kali melihat cara pemimpin memperlakukan kepala negara lain. Dia memang masih muda. Semua orang waktu itu kaget. Jamuan makan siangnya pun bukan di istana, tapi restoran umum.

Tapi dikosongkan restorannya?
Suasananya dibuat natural. Ada orang keluar-masuk. Tapi saya yakin itu orang-orang mereka juga. Restoran itu konon langganan Si Putra Mahkota.

Restoran apa?
Yang disediakan makanan asli sana dan western juga.

Nah, Pak Jokowi dan Si Pangeran ini duduk di meja kotak berhadap-hadapan bersama para pejabat. Mereka berbicara dalam bahasa Inggris.

Loh, terus Anda duduk di mana?
Saya duduk di meja sendiri. Para penerjemah bisa melihat mereka dari samping.

Enggak kerja dong?
Di acara lain saya kerja. Ha-ha-ha....

Nyentrik juga ya pangerannya?
Iya, saya kagum dengan caranya memperlakukan Pak Jokowi. Personal touch-nya lebih mengena.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.