Pollycarpus Budihari Priyanto di Gedung Granadi, Jakarta Selatan, Kamis (6/9/2018).
Pollycarpus Budihari Priyanto di Gedung Granadi, Jakarta Selatan, Kamis (6/9/2018). Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
BINCANG

Pollycarpus: Banyak yang mati setelah saya sumpahin

Pollycarpus mengungkap cerita-cerita yang membuatnya jadi terdakwa pembunuhan dan sesuatu yang sangat pribadi.

Siang, kami menyalami tangan Pollycarpus, mantan terpidana kasus pembunuhan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib. Ini adalah jabat tangan pertama kami dalam kira-kira lusinan tahun—meski kami sudah mengenalnya lewat pemberitaan.

Pollycarpus menyambut kami layaknya bro, dengan memanggil kami: bang yang terhormat atau bapak. Kami dan dia duduk mengelilingi meja bundar, membelakangi lukisan Soeharto berukuran besar. Ketika itu, ia memesan air mineral yang dicampur Calcium D Redoxon.

“Ayo dong pesan minum, jangan takut,” kata Pollycarpus kepada Fajar WH, Heru Triyono dan Wisnu Agung di sebuah kafetaria Gedung Granadi, Jakarta Selatan, Kamis (6/9/2018). Kami pun memesan kopi dan air mineral. “Katanya saya pembunuh, kok baik ya menawari minum,” tutur pria berusia 57 ini.

Pollycarpus Budihari Priyanto, nama tulennya, sesungguhnya merupakan pilot senior Garuda Indonesia. Nama Pollycarpus diberikan oleh suster Belanda tempat ia lahir di Solo. Sosoknya mulai disorot ketika ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan Munir. Ia kemudian terbukti meracuni Munir oleh pengadilan, lalu dibui.

Kini, ia berstatus bebas murni, meski telah lebih dulu keluar penjara dengan status bebas bersyarat pada 2014. Status ini membuatnya kembali jadi perbincangan. Ada pihak yang mengkritik, tapi menurut Pollycarpus, ada juga yang memberinya selamat.

Yang jelas, ia tak lagi wajib lapor ke Balai Pemasyarakatan, Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat. Dengan begitu ia mengaku bisa fokus bisnis sapi dan angkutan kargo udara yang sedang ia jalani. “Bukan sibuk di partai lho ya,” ujar bekas asisten direktur PT Gatari Air Service, milik Tommy Soeharto ini.

Selama satu jam lewat, Pollycarpus bicara dengan fasih dan empati. Tanggapannya atas pertanyaan-pertanyaan kami kadang ditangkapnya dengan amarah, tapi juga diselingi tawa. Misalnya soal fleksibilitas pilot di bandara dan Coffee Bean.

Ia mengenakan jas, celana, kaca mata serba hitam dan dasi merah. Mirip gaya MC Hammer. Berikut tanya jawabnya:

Pollycarpus Budihari Priyanto di Gedung Granadi, Jakarta Selatan, Kamis (6/9/2018).
Pollycarpus Budihari Priyanto di Gedung Granadi, Jakarta Selatan, Kamis (6/9/2018). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Bareskrim tengah mencari bukti dan fakta hukum baru kasus kematian Munir…
Ya kalau saya kan sudah dihukum. Dua kali malah untuk kasus sama dan di tempat berbeda. Masa mau dihukum lagi? Kalau ada fakta baru lantas mau apa? Terus, apa artinya putusan (pengadilan) itu untuk saya?

Anda tidak setuju kasus ini diungkap kembali?
Saya follow the river saja. Kalau orang masih penasaran ya silakan dibuktikan. Begitu. Saya sudah seperti ini, mau diapain lagi?

Ya untuk membuka semuanya, beberapa pihak kan menduga ada dalang di balik kasus ini?
Boleh saja, cari saja terus. Tapi kalau mau ungkap, tolong berpikir lagi saja. Anda harus belajar hukum.

Anda bersedia jika dimintai keterangan untuk mengungkap kasus ini?
Lho, apalagi yang diungkap, mau ungkap siapa. Mau memaksa supaya saya bohong. Mau ungkap apanya? Bagaimana sih. Cari bukti baru silakan, tapi jangan saya lagi.

Bukan Anda saja, bisa jadi ada orang lain juga dimintai keterangan, dikonfrontasi begitu…
Ya sudah, kalau saya dipanggil, saya akan datang, enak kan? Kalau ada aliran (sumber) lain, ya itu saja. Jangan saya terus dan jangan mengganggu pekerjaan saya. Waktu saya enggak banyak. Paham ya?

Memangnya apa saja aktivitas Anda setelah bebas?
Saya sedang bisnis impor sapi dan angkutan kargo udara. Sudah ada izin 10 ribu ekor. Kalau Anda mau meninjau, boleh. Tapi bukan punya saya. Saya hanya bantu mengelola.

Bisnis sapi itu bidang yang Anda kuasai ya?
Ha-ha. Semuanya kan ada proses belajarnya. Bisnis ini isinya gede. Bikin kandang itu enggak cukup Rp50 miliar. Prinsip saya safety, regularity, convert, economy, revenue. Saya juga dapat tawaran dari teman di Vietnam untuk mengelola maskapai penerbangan. Janjinya sih ada 30 unit Airbus A32. Total semua asetnya seratus triliun lebih.

Sudah tidak lagi sebagai asisten direktur di PT Gatari Air Service milik Tommy Soeharto?Statusnya sih masih di sana, tapi saya sudah enggak aktif. Saya banyak pekerjaan lain dan sudah ganti kepengurusan juga.

Anda menjadi kader Partai Berkarya besutan Tommy kan sekarang?
Enggak, saya enggak tertarik politik. Saya orang profesional. Saya sudah declare juga sebelumnya di acara Mata Najwa soal itu.

Kenapa Sekjen Partai Berkarya bilang Anda adalah pengurus partai, bahkan disebut sebagai koordinator pemenangan partai di Maluku…
Kamu pernah lihat saya ke Maluku? Kalau pernah siapa yang ongkosin, di mana kotanya? Klarifikasi dong.

Yang jelas, beberapa media sudah memberitakan Anda sebagai pengurus Partai Berkarya…
Asal-usulnya begini. Suatu hari, saya janjian sama teman. Dia ketua asosiasi pilot helikopter. Di tengah jalan, hujan lebat, sehingga kami ganti meeting point-nya. Jadinya di kantor Berkarya di Antasari. Di kantor itu ada mi Aceh. Saya makan di situ, ngobrol, dan setelah mau pulang, ada wartawan melihat saya di situ. Ya itu ceritanya.

Masa wartawannya enggak bertanya Anda sedang apa di kantor Berkarya?
Saya sih ditanya; “Pak Polly di sini?” Ya di sini itu apa, di sini itu ngapain, kan di sini itu hanya makan. Saya didaftar memang, tapi enggak pernah ikut. Kan yang daftar banyak, orang daerah juga didaftar.

Boleh dicek apakah saya ikut kegiatan partai atau tidak. Kartu anggota saja tidak punya, masa dibilang koordinator pemenangan di Maluku.

Tapi Anda pernah tinggal di Maluku?
Saya itu dari kecil di Papua, enggak pernah ke Maluku. Dari SD sampai SMA saya di Papua. Solo hanya menumpang lahir. Hidup saya mengembara, enggak sama orang tua. Ayah saya di Jawa. Dia tentara angkatan darat, tapi dulunya angkatan laut.

Di Papua Anda tinggal sama saudara?
Semua saudara, enggak ada musuh. Saya di sana tinggal di asrama, namanya taruna bakti.

Saya penasaran, apa sebenarnya arti nama Pollycarpus itu, pemberian ayah?
Begini. Kata Ibu, pas melahirkan saya itu beliau pendarahan terus, lahirnya susah. Saat itu saya dirawat sama suster Belanda. Oleh suster itu saya dikasih nama Pollycarpus, yang artinya banyak yang menuai. Polly itu banyak dan carpus itu ruas jari. Ya apalah arti sebuah nama. Dinamain bejo saja saya terima ha-ha.

Karena anak tentara, Anda aktif di FKPPI (Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan TNI/Polri Indonesia) ya?
Itu baru belakangan, dulu enggak pernah aktif. Yang jelas motivasi saya adalah bantu sebisanya. Di FKPPI Tangerang Selatan saya sebagai penasihat.

Anda tahu dan kenal Tommy Soeharto di FKPPI?
Ya tahu, kita rakyat dan dia anak presiden kan? Ha-ha. Bagaimana caranya enggak tahu.

Selama di PT Gatari Air Service Anda aktif berkomunikasi dengan Tommy?
Enggak. Ya komunikasi kan dengan siapa saja, termasuk orang-orang di sana. Koordinasi paling sebulan sekali. Beliau kan juga sibuk, urusannya banyak banget.

Kenapa kok keluar dari Gatari?
Saya enggak keluar, saya hanya enggak aktif—karena izin usahanya sementara dibekukan dulu.

Pollycarpus Budihari Priyanto di Gedung Granadi, Jakarta Selatan, Kamis (6/9/2018).
Pollycarpus Budihari Priyanto di Gedung Granadi, Jakarta Selatan, Kamis (6/9/2018). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Sebenarnya bagaimana penerimaan masyarakat terhadap Anda, notabene Anda bekas napi kasus pembunuhan Munir?
Saya malah disambut. Bahkan dibuatkan pesta ketika saya bebas. Ada Mbah Surip dan beberapa seniman membuatkan saya lukisan berjudul Kambing Hitam. Pas bebas murni banyak yang mengucapkan selamat kepada saya. Malah ada yang foto bareng.

Mungkin karena saya banyak melakukan banyak hal di penjara. Mulai dari mengajar Pramuka, membuat peti jenazah, sampai menggagas ide fakultas hukum Cipinang.

Anda kok seperti menikmati kehidupan di dalam penjara?
Siapa yang menikmati penjara? Di penjara kok nikmat. Nikmat dari mana. Yang penting itu hidup berguna bagi orang lain. Selagi hidup jadilah manusia hidup dalam kehidupan, jangan hidup dalam kematian dan jangan mati dalam kehidupan.

Apakah sulit menghapus stigma yang melekat terhadap Anda, yang dicap sebagai pembunuh Munir?
Kapan saya bunuh Munir? Siapa yang melihat? Bisa buktikan? Ini adalah jalan hidup. Kalau dibilang saya dikorbankan, ya saya dikorbankan.

Saya fight saja, bukan fine ya. Ayo makan (menawari makan). Katanya saya pembunuh. Pembunuh kok baik, menawari makan. Jangan takut. Kalau takut sama saya berarti merasa bersalah.

Setelah bebas murni, Anda merasa terlepas dari beban?
Enggak ada itu beban. Dari dulu saya enggak salah. Beban apa? Saya cuma beban karena meninggalkan keluarga.

Ya bagaimanapun pengadilan telah memvonis Anda bersalah…
Bisa buktikan ke saya? Apa buktinya? Kalau masuk ke kandang macan, saya ini selamat, Anda pasti yang dimakan. Kenapa? Macan saja kasihan lihat saya. Aduh orang ini sudah enggak salah, tapi dipenjara. Nah, ayo sekarang buktikan dengan ke kandang macan? Bercanda ha-ha.

Dari dokumen Kontras, polisi menyatakan ada saksi yang melihat pertemuan Munir dengan Anda di Changi?
Jangan mengarang. Catat benar-benar. Jangan apa yang saya ucapkan beda dengan yang ditulis. Hati-hati lho dosa. Saya enggak perlu membalas, tapi Anda punya turunan.

Keberatannya di mana keterangan tadi?
Terutama pertemuan di Coffee Bean. Itu enggak ada. Jangan merugikan orang.

Jadi yang benar bagaimana?
Pemberitaan itu enggak benar. Zaman dulu enggak bisa saya bela, sudah kalah semuanya. Mau saya bilang apa, tulisannya jadi beda. Karma, hati-hati. Tapi saya enggak takut.

Apakah Anda melihat ada suatu grand design di balik kasus ini, sehingga Anda dirugikan?
Saya enggak tahu. Apa pihak asing atau orang kita. Begini ya, dulu ada pemberitaan, misalnya perubahan jadwal penerbangan.

Padahal masalah refresh schedule itu adalah wajar dan biasa. Tapi itu dibesar-besarkan. Kalau Anda pilot, katakanlah besok mau terbang ke Australia, tapi mendadak hari ini harus terbang ke Singapura, ya wajar dan Anda bisa digeser, begitu.

Dalam hitungan jam saja bisa berubah?
Ya, dan harus stand by. Ada regulasinya. Kalau liburnya dua minggu dan sudah menjalani seminggu, ya boleh perusahaan meminta terbang. Kecuali baru istirahat lima jam di rumah, itu enggak boleh.

Anda libur ketika itu?
Libur dan diharuskan terbang. Ada pesawat rusak di Singapura dan saya mesti inspeksi. Tapi saya enggak bertemu Munir di pesawat. Bagaimana bisa bertemu, saya di atas dan dia di bawah. Boeing kan tingkat. Bagaimana coba ngeracun, enggak nyambung.

Cerita ada pertemuan dengan Munir di Coffee Bean itu bagaimana…
Saya transit di Changi, tapi enggak bertemu, itu rekayasa. Saya enggak bisa membela diri ketika itu. Pokoknya ditangkap, disidang dan divonis masuk penjara. Bagaimana mau bertemu, wong saya di lantai dua, Munir di lantai tiga. Masa saya balik lagi ke atas. Kalau sudah keluar, masuknya susah.

Saat transit memangnya ada pembedaan tempat makan atau istirahat antara penumpang dan pilot?
Saya enggak tahu. saya enggak pernah transit dan bercampur dengan penumpang. Pilot juga enggak bisa keluyuran. Bohong kalau saya dibilang bertemu dengan Ongen.

"Kalau takut sama saya berarti merasa bersalah"

Pollycarpus

Akses pilot kan biasanya agak fleksibel di suatu bandara?
Anda mengarahkan saya untuk fleksibel? Jangan merekayasa. Kotor pikiran Anda, itu yang membentuk opini. Ya enggak mungkin saya keluyuran.

Bisa saja keluyuran cari oleh-oleh atau apa?
Ngapain saya cari oleh-oleh, sambil bunuh? Hah? Ingat saya sumpahin Anda tujuh turunan kalau menuduh. Berani enggak? Banyak yang mati setelah saya sumpahin. Pokoknya setelah sampai di Changi ya saya ke hotel. Ayo, dengan hormat, pesan minum. Aman. Kalau mules, jangan menuduh saya ya ha-ha.

Tapi pengadilan membuktikan Munir diracuni arsenik lewat mi goreng yang membuat Anda divonis bersalah…
Saya jalani ketika itu, inkrah ya kan. Saya ajukan kasasi, kemudian bebas. Saya keluar 2007, tapi 2008 diperiksa ulang dan malah divonis 20 tahun. Kasusnya di Coffee Bean itu. Ada Ongen yang bersaksi. Ceritanya itu, dia sampai terkencing-kencing ditekan. Di sidang, BAP-nya juga cabut.

Pollycarpus, Mi goreng Aceh dan suster Belanda /Beritagar ID

Anda kenal dengan Ongen?
Itu kerjaan wartawan ya yang bilang saya kenal. Jangan dihapus.

Sebenarnya begini. Lihat saja hasil otopsi Belanda dan Amerika. Munir itu kena racun 8 jam sebelum meninggal. Sementara otopsi Amerika 9 jam. Penerbangan Singapura ke Amsterdam itu 12 jam 25 menit.

Kita pakai hasil otopsi Amerika misalnya. Artinya kan racun diberikan pada 1 jam 25 menit setelah dari Singapura. Tapi pengadilan tiba-tiba memperlihatkan kejadian ada di Singapura. Sedangkan saya tadi keluar pesawat, ke custom, imigrasi, bus, dan langsung hotel.

Tapi ada fakta pengadilan yang memperlihatkan komunikasi Anda dengan Muchdi PR…
Fakta apa? Itu juga enggak jelas. Berapa detik komunikasinya? 10 detik kan. Apakah Munir mati karena telepon? Apa munir mati karena komunikasi? Hitungan detik itu mau ngomong apa. Kita simulasikan saja. Coba. (Pollycarpus mencoba hubungi salah satu nomor telepon dari kami dan berkomunikasi).

Ya kalau dalam hitungan detik Anda bisa saja bilang: sudah…
Sudah dalam arti apa? Sudah makan? Sudah apa? Anda ahli hukum bukan?

Saya wartawan…
Kalau begitu tanya orang hukum, Munir matinya kenapa. Apa karena telepon?

Pengadilan yang menentukan. Apakah Anda kenal dengan Muchdi PR?
Enggak.

Kalau almarhum Munir?
Enggak. Itu kerjaan teman-teman (wartawan) Anda saja. Jangan diedit.

Sepertinya gaya Anda ini cocok jadi politisi?
Saya orang profesional, lebih tertarik kerja yang nyata.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR