Raja Sapta Oktohari tengah berpose untuk Beritagar.id di ruang rapat KOI, lantai 19 FX Officer Tower, Jakarta Pusat, Jumat (11/10/2019) siang.
Raja Sapta Oktohari tengah berpose untuk Beritagar.id di ruang rapat KOI, lantai 19 FX Officer Tower, Jakarta Pusat, Jumat (11/10/2019) siang. Bismo Agung / Beritagar.id
BINCANG

Raja Sapta Oktohari: Saya ini orang gila

Ia mengatakan Indonesia adalah negara paling layak menyelenggarakan Olimpiade 2032. Kedekatannya dengan orang-orang Kejaksaan agar dia bisa fokus mengurus prestasi olahraga.

"Wawancaranya nggak lama kan?" Itulah kalimat pertama yang meluncur dari mulut Raja Sapta Oktohari saat memulai pembicaraan dengan kami di kantor Komite Olimpiade Indonesia (KOI) di lantai 19 FX Officer Tower, Jakarta Pusat, Jumat (11/10/2019).

Kami pun meminta waktu lebih panjang agar wawancara berlangsung santai. "Nggak bisa, gue sibuk," jawab lelaki berusia 43 tahun tersebut. Toh, pria yang biasa disapa Okto itu hanya seperti menggertak saja. Nyatanya, wawancara berlangsung hampir sejam.

Namun, wajar jika Okto sibuk. Pasalnya, Jumat itu adalah hari pertama ia berkantor di KOI, setelah dua hari sebelumnya terpilih secara aklamasi sebagai ketua umum untuk periode 2019-2023, menggantikan Erick Thohir.

Perjalanan anak dari konglomerat, cum politikus, Oesman Sapta Odang di dunia olahraga tersebut laiknya roket: melesat cepat. Jelang akhir dekade 2000-an, ia mendirikan Mahkota Promotion, promotor olahraga tinju di Indonesia.

Pada 2014, ia memegang kendali Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) untuk periode 2014-2019, yang berlanjut ke periode 2019-2024. Setahun setelah jadi ketua umum ISSI, ia ditunjuk sebagai Vice President Asian Cycling Confederation (ACC) periode 2015-2019.

Pada 2016, ia dipercaya menjadi Chief de Mission (CdM) kontingen Indonesia untuk Olimpiade Rio 2016 di Brasil. Selanjutnya, pada 2018, ia dipercaya penjadi Ketua Komite Asian Para Games (INAPGOC).

"Ini raihan dari aktualisasi kecintaan saya di dunia olahraga. Yang tertinggi, ya jadi ketua NOC (National Olympic Committee) di tiap negara (KOI)," ucap pria yang sebelumnya menggeluti dunia bisnis, mulai dari pakaian, properti, hingga sekuritas tersebut.

Mengenakan kemeja putih-abu dengan celana jin biru tua dan rambut model spike mengkilat, Okto meladeni sejumlah pertanyaan dengan lugas; mulai soal rencana dia sebagai Ketua KOI, hingga kebiasaannya didampingi oleh orang kejaksaan.

Berikut adalah petikan wawancara wartawan Beritagar.id, Andya Dhyaksa, dan pewarta foto, Bismo Agung, dengan Okto.

Raja Sapta Oktohari tengah berpose untuk Beritagar.id di ruang rapat KOI, lantai 19 FX Officer Tower, Jakarta Pusat, Jumat (11/10/2019) siang.
Raja Sapta Oktohari tengah berpose untuk Beritagar.id di ruang rapat KOI, lantai 19 FX Officer Tower, Jakarta Pusat, Jumat (11/10/2019) siang. | Bismo Agung /Beritagar.id

Selamat sebelumnya menjadi Ketum KOI 2019-2023.
Terima kasih. Ini seperti sudah menjadi jalan saya, mulai dari pengurus olahraga DKI hingga nasional (Ketum ISSI) hingga promotor tinju dan Ketua INAPGOC.

Dalam pemilihan, Anda ditunjuk secara aklamasi. Bisa diceritakan prosesnya?
Ya saya dipercaya teman-teman lain untuk memegang posisi yang lebih besar lagi di olaharaga di dalam wadah yang namanya KOI. Saya melihatnya ini merupakan bentuk dari satu semangat para cabang olahraga untuk kebangkitan prestasi Indonesia.

Tapi, calonnya hanya Anda seorang. Seperti tidak ada yang tertarik menjadi Ketum KOI atau?
Saya lihat teman-teman dari semua cabang olahraga sangat antusiasi untuk memperjuangkan kepentingan bersama, bukan kepentingan saya. Sejak awal, saya sudah mengungkapkan soal visi-misi.

Apa itu?
Misi saya mengibarkan bendera Merah-Putih sesering mungkin di ajang-ajang olahraga internasional. Kalau visinya mengembalikan kejayaan olahraga Indonesia.

Maksudnya, zaman sekarang prestasi olahraga kita tidak baik?
Tidak seperti itu. Saat masih masa perjuangan, kita belum punya apa-apa. Tapi prestasi olahraganya baik. Padahal anggaran tidak ada dan fasilitas minim. Sekarang kan sudah lebih dimudahkan semuanya, tapi prestasinya menurun.

Artinya memang prestasi kita nggak sebaik dulu, bukan?
Menurut saya, pasti ada yang salah. Melihat dari situ, kita nggak mau salah-salahan. Salah-salahan itu, di Indonesia, hanya menjadi ajang pecah-belah. Ini yang harus kita eliminir dengan menyamakan persepsi.

Jadi, diagnosa sementara Anda, masalah apa yang menggelayuti olahraga Indonesia dari waktu ke waktu?
Ego sektoral. Itu berlaku bukan hanya dari pemerintah, tapi dari semua kelompok. Bayangkan, ada berapa faksi yang terpecah belah. Saya hanya akan memastikan, dalam kepemimpinan ke depan, kita akan tabrak semua itu.

Anda sudah siap dimusuhi berarti dengan pihak yang tak sejalan?
Saya tidak pernah takut dimusuhi untuk sesuatu yang benar. Dan saya tidak takut berantem juga.

Baik. Anda yakin semua program itu nanti bisa diterima para pengurus olahraga?
Saya yakin. Karena, siapa pun yang menghalangi program kita, entah itu okunum kementerian atau lainnya, berarti tidak mendukung program presiden. Karena sejak awal, program pak Jokowi (Joko Widodo) di periode kedua ini adalah membangun SDM.

Memang program-program Anda apa saja?
Nanti dulu. Kita baru sehari di kantor baru ini. Belum ada serah terima apa-apa. Serah terima baru di ruang sidang aja. Serah terima administrasi kan belum.

Program Anda yang terdekat aja kalau begitu.
Terdekat, program prioritas kita adalah SEA Games 2019 di Filipina. SEA Games itu sebenarnya penting nggak penting, karena regional games. Artinya, gengsi daerah lebih dominan, cabang olahraganya sessuka-sukanya tuan rumah. Sama seperti PON.

Namun, kita perlu SEA Games sebagai ajang olahraga multievent. Ada gengsi regional di sana.

Dalam banyak kesempatan saat mencalonkan diri sebagai Ketua KOI, Anda berkali-kali menyinggung Olimpiade 2032. Apa itu menjadi target utama Anda?
Itu harus jadi target kita semua, bukan saya seorang. Olimpiade 2032 itu untuk kepentingan bangsa dan negara. Tugas dari NOC itu mensosialisasikan semangat-semangat Olimpiade ke penjuru daerah.

Memang Anda merasa Indonesia sudah layak menyelenggarakan ajang sebesar itu?
Bagi saya, Indonesia negara paling layak untuk menyelenggarakan Olimpiade 2032. Tidak ada negara lain yang lebih layak ketimbang Indonesia untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Apa indikatornya sampai Anda bilang sangat layak?
Karena 2032 itu masih panjang. Masih ada Olimpiade Tokyo 2020, Olimpiade Paris 2024, Olimpiade Los Angeles 2028, lalu Olimpiade Indonesia 2032, saya masih sebut Indonesia karena kotanya kita belum tahu.

Jadi alasan layaknya itu bukan karena infrastruktur dan fasilitas olahraga di Indonesia memadai atau hal-hal lainnya?
Kita pernah menjadi tuan rumah Asian Games dan Asian Paragames. Dua-duanya sukses sebagai peserta dan penyelenggara. Nanti kita juga menjadi tuan rumah Piala Dunia Basket (FIBA ​​Basketball World Cup 2023) dan Piala Dunia U-20 (proses bidding).

Sekarang udah waktunya Indonesia menjadi tuan rumah dari hajatan yang lebih besar lagi.

Ok. Batas waktu terakhir untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2032 adalah 2024. Apa yang akan Anda lakukan dalam waktu yang tak lama ini?
Beberapa tahun ini, merupakan tahun-tahun penting ketika Indonesia menuju ke tuan rumah Olimpiade. Indonesia ini belum negara olympians. Ini yang akan jadi semangat kita.

Saya akan presentasi nanti di semua negara-negara lain bahwa semangat Olimpiade adalah menyiarkan semangat olympians untuk negara-negara non-olympians.

Ada beban jika Anda gagal menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah Olimpiade 2032?
Kalau nggak berhasil, minta lagi. Kita akan minta terus. Saya ini pengusaha, mantan Ketua Umum HIPMI. Yang namanya pengusaha harus berjuang. Kalau belum berhasil, ya berusaha lagi.

Jadi target Anda bukan Olimpiade 2032, tapi Olimpiade?
Target saya bukan Olimpiade 2032 atau Olimpiade. Target saya adalah untuk menaikkan bendera Merah-Putih di kejuaraan paling bergengsi. Olimpiade, adalah arena yang paling tertinggi.

"Di Indonesia ada budaya baru yang harus kita hapus. Yaitu, budaya pelit. Jangankan mau nyumbang, tepuk tangan saja tidak mau"

Raja Sapta Oktohari

Mengurus institusi multicabang seperti KOI tak mudah. Kejadian dugaan korupsi dana hibah KONI Asian Games 2018 yang berujung diperiksa KPK contohnya.
Saya tidak ingin berkomentar soal itu.

Bukan. Maksud saya, bagaimana Anda melakukan langkah pencegahannya?
Saya dan teman-teman sudah banyak diskusi soal konsekuensi mengurus olahraga. Yang mengurus olahraga hanya orang-orang gila.

Kenapa? Karena hanya orang gila yang mau mengurus olahraga. Sudah menghabiskan dana, waktu, tenaga, ujung-ujungnya diperiksa. Referensinya, Kemenpora banyak yang ditangkap-tangkapin. KOI, diperiksa dan ditangkepin. KONI juga.

Untuk itu, kita butuh juga pengawalan yang ketat. Supaya kita bisa fokus hanya mengurus prestasinya.

Sepertinya, Anda cukup dekat dengan Kejaksaan. CdM Asian Paragames 2018 adalah Arminsyah, Wakil Jaksa Agung RI. Sekarang, wakil Anda Warih Sadono, Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.
Saya dekat dengan semua. Kenapa pak Arminsyah, karena dia juga gila olahraga. Jadi akhirnya, institusinya mengikuti. Di Kejaksaan kan ada tim TP4 (Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintah dan Pembangunan).

Beberapa suara mengatakan untuk menjaga Anda jika melakukan kesalahan kelak.
Tidak betul itu. Tapi untuk memastikan bahwa proses yang kita lakukan semua sudah betul. Kalau di kami ada yang berbuat salah, ya dia duluan yang ditangkap. Yang nangkep orang kan ada di tempat kita.

Saya bilang ke pak Warih, 'Keberadaan Anda di sini, bukan untuk menghalang-halangi menangkap orang. Justru di tempat kita harus ditangkap duluan'. Namun, kalau bisa dicegah, alangkah baiknya.

Artinya, Anda kini akan merasa aman saat menggunakan uang negara?
Saya pernah menggunakan uang negara hingga Rp1,9 triliun pada saat di INAPGOC. Nyatanya, terjadi efisiensi Sekitar Rp400-500 miliar. Semuanya kita kembaliin. Sejak awal saya bilang, efisiensi ini jangan dianggap sebagai sebuah temuan loh.

Btw, kenapa Anda kini seperti total di dunia olahraga, setelah sebelumnya seorang pebisnis?
Salah satu kepuasan saya adalah Indonesia berprestasi. Saya senang banget Indonesia menang. Anda tahu salah satu yang saya anggap gila dari diri saya itu apa? Saya itu bisa nangis ketika Indonesia menang.

Banyak orang Indonesia yang demikian, bukan Anda saja.
Di Indonesia ada budaya baru yang harus kita hapus. Yaitu, budaya pelit. Jangan kan mau nyumbang, tepuk tangan saja tidak mau. Anda boleh ketawa dengan pernyataan saya, karena Anda tahu saya benar.

Berarti, menurut Anda, jarang orang yang seperti Anda?
Tidak juga. Banyak kok yang gila dengan olahraga, tapi ngumpet-ngumpet. Kalau saya sih, orang gila yang terangan-terangan. Ha ha ha. Tapi gila yang saya maksud, gila positif, loh.

Rekam jejak Anda sudah lengkap, mulai dari pengurus olahraga daerah, ISSI, hingga KOI sekarang. Next target ingin jadi Presiden UCI (Union Cycliste Internationale)?
Saya Wakil Presiden ACC. Di dunia, masih kejauhan lah. Tapi begini, sebetulnya bukan di jabatannya. Jabatan-jabatan itu penting agar kita lebih gampang meraih prestasi Indonesia. Jadi sebagai media saja jabatan itu, eksistensi Indonesia.

Raja Sapta Oktohari tengah berpose untuk Beritagar.id di ruang rapat KOI, lantai 19 FX Officer Tower, Jakarta Pusat, Jumat (11/10/2019) siang.
Raja Sapta Oktohari tengah berpose untuk Beritagar.id di ruang rapat KOI, lantai 19 FX Officer Tower, Jakarta Pusat, Jumat (11/10/2019) siang. | Bismo Agung /Beritagar.id
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR