Retno Marsudi di ruang kerjanya, Taman Pejambon, Jakarta Pusat, Selasa (29/1/2019).
Retno Marsudi di ruang kerjanya, Taman Pejambon, Jakarta Pusat, Selasa (29/1/2019). Beritagar.id / Bismo Agung
BINCANG

Retno Marsudi: Benar enggak sih petisi referendum Papua?

Ia merefleksikan perjuangan diplomasinya, memastikan Indonesia berperan aktif dan terus bergerak untuk mewujudkan stabilitas di Timur Tengah, terutama Palestina.

Wajahnya sayu. Matanya kuyu. Ia menatap kami dari balik lensa tipis dan berusaha menutupi kelelahan. “Dari pagi aku belum makan,” kata Retno, menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. “Tapi sudah minum teh sih,” tuturnya. Seolah itu sudah cukup.

Ia beri tahu kami bahwa dirinya baru pulang dari New York dan punya pengumuman penting: belum tidur. Ya, Retno hadir di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang membahas isu perempuan di Timur Tengah dan Afrika selama empat hari. Di forum itu ia pembicara kunci.

Belakangan, sepak terjang Menteri Luar Negeri ke-18 Indonesia ini memang jadi bahan pemberitaan media. Yang paling menonjol adalah menyelesaikan krisis kemanusiaan Rohingya dan membawa Indonesia menduduki kursi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 1 Januari 2019-Desember 2020.

Ia tak dapat menahan haru dan langsung merapatkan kedua tangan di depan wajahnya sebagai tanda gembira—setelah Presiden Majelis Umum PBB Miroslav Lacjak mengumumkan perolehan 144 suara untuk Indonesia dari total 190 negara anggota PBB.

“Deg-degan. Alhamdulillah berhasil,” ujar perempuan berusia 56 ini kepada Heru Triyono, Muammar Fikrie, Bonardo Maulana, Bismo Agung dan Tri Aryono di ruang kerjanya di Taman Pejambon, Jakarta Pusat, Selasa (29/1/2019).

Kami duduk berhadapan di ruang kerjanya. Dia tampak konsentrasi dan tanpa basa-basi, meski kadang membuat lelucon. “Olahraga harus. Kalau enggak, mati lah kita.” Begitu contohnya.

Selama 50 menit ia bicara peran aktif Indonesia dalam isu Palestina, terorisme, juga sedikit soal referendum Papua. Berikut petikan wawancaranya:

Retno Marsudi di ruang kerjanya, Taman Pejambon, Jakarta Pusat, Selasa (29/1/2019).
Retno Marsudi di ruang kerjanya, Taman Pejambon, Jakarta Pusat, Selasa (29/1/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Apakah memenangkan kursi di DK PBB adalah puncak pencapaian tertinggi bagi diplomasi kita?
Saya gak berani bilang tertinggi. At least mandat memenangkan sudah dijalankan. I say thank you kepada tim dan yang lain, misalnya Presiden dan DPR.

Terima kasih karena DPR juga bantu saat melakukan pertemuan dengan parlemen negara lain.

Artinya lobi-lobi tidak hanya dilakukan para diplomat Kemenlu?
Lobi-lobi ini sudah jalan tiga tahun sebelumnya. Begitu saya menjabat, pergerakan lobi sudah langsung masuk gigi empat.

Mulai dari presiden, dpr, sampai dubes melakukan lobi. Tiap saya ke New York juga begitu. Tiga bulan terakhir tidak pernah kendur.

Sebenarnya siapa yang Anda sasar ketika melobi itu. Para pengambil keputusan di PBB atau…
Macam-macam. Saya melobi banyak orang. Mulai dari Menlu-nya, mitra kerja negara dan pemimpin-pemimpin negara lain.

Bagaimana narasi yang disampaikan kepada negara lain, sehingga Indonesia layak menjadi Anggota Tidak Tetap DK PBB?
Disampaikan kepada mereka bahwa kami berkontribusi dalam perdamaian. Dalam diplomasi kemanusiaan, kami jelaskan peran kami sebagai jembatan kalau ada perbedaan.

Kita selalu melakukan politik luar negeri secara konsisten, dengan prinsip universal.

Pada awalnya, negara lain yang dukung Indonesia itu banyak?
Begini. Pada H-10 itu kita berhitung di war room PTRI New York (Perutusan Tetap Republik Indonesia). Di situ kita bikin peta dukungan.

Warna hijau artinya dukung, merah belum, dan kuning mempertimbangkan. Jadi tiap hari kita lobi dan pantau pergerakan warna-warna ini.

Jadi tak bisa dikatakan banyak atau sedikit. Karena cair sekali pergerakannya.

Apa senjata diplomasi Anda untuk meyakinkan negara-negara itu?
Semua tahu duduk di DK PBB tidak mudah. Perlu perjuangan. Dana kita terbatas. Jadi, saya berkampanye menggunakan track record saja.

Kita ini konsisten berkontribusi pada perdamaian dunia dan soal Palestina. Mereka melihat itu. Tapi prosesnya memang bikin deg-degan.

Pada 8 Juni itu, deg-degan saya kayak setengah mati. Dari malam sebelumnya itu enggak tidur. Saya telepon semua menteri luar negeri, untuk lobi.

Ada ketakutan upaya-upaya lobi akan gagal?
Itu untuk memastikan lagi. Pada H-2 semua dubes di luar negeri diminta mendapatkan nomor telepon menteri luar negeri di negara masing-masing.

Kemudian, dewa-dewa, seperti Hassan Kleib, kita turunkan untuk bantu langsung di New York. Dewa-dewa itu dibantu diplomat muda.

Metode konvensional, seperti mengirim nota diplomatik atau resepsi tidak efektif lagi ya?
Kita pakai semua jalur. Tapi orang lebih menghargai ketika bertemu langsung. Makanya semua dewa kita turunkan, plus anak muda.

Seminggu terakhir, gedung PBB di New York itu ada diplomat Indonesia di mana-mana. Di pojok sana sini, semua ada mereka.

"Saya pribadi tidak menerima komunikasi soal Ba'asyir dari negara lain"

Retno Marsudi

Apa sih yang dijanjikan oleh Anda ketika menghubungi para menlu negara lain itu?
Saya bicara rekam jejak Indonesia. Misalnya untuk negara-negara kepulauan kecil. Concern mereka kan mengenai masalah climate change.

Saya janji akan membela kepentingan mereka itu. Nah pemenuhan janji ini yang akan menjadi another record bagi kita ke depannya.

Jadi, kita tidak boleh meninggalkan hal yang jelek untuk penerus kita nanti.

Waktu akan diumumkan Anda yakin Indonesia akan menang?
Ketika itu saya ndremimil. Apa ya artinya. Semacam zikir. Itu adalah waktu yang menyiksa. Tapi saya sudah usaha maksimal dan bicara sama Tuhan:

Now, it’s up to you to decide. I did my part, now it’s your part”.

Dan saat Presiden Majelis Umum PBB Miroslav Lacjak mengumumkan Indonesia dapat 144 suara, wah rasanya badanku enteng, kayak terbang.

Sebenarnya apa keuntungan Indonesia dengan menjadi DK PBB?
Tugas kita sama: jaga perdamaian dunia. Tetapi keputusan soal perdamaian itu kan dibuat di dalam dewan keamanan.

Pada saat kita sudah di dalam, yang kita pikirkan cuma satu, bisa berkontribusi lebih banyak terhadap perdamaian. Contohnya di Palestina.

Di luar DK PBB memangnya tidak bisa mendorong misi perdamaian itu?
Pada saat tidak di dalam, ya ada forumnya memang. Saya tidak mau mengatakan bahwa forum lain lebih rendah, no.

Tetapi, keputusan mengikat itu ada di dalam dewan keamanan. Pada saat di dalam, kita bisa lantang mengatakan keberpihakan kita terhadap Palestina.

Bisa mewujudkan perdamaian itu di Palestina?
Sulit, tetapi bukan berarti kita harus menyerah. Masih ada banyak hal yang bisa kita lakukan.

Aku itu orang Jawa. Orang Jawa memang tampak halus. Tapi kalau sudah punya niat, pokoknya akan dijalani sampai betul-betul mentok, tok, tok, tok.

Retno Marsudi di ruang kerjanya, Taman Pejambon, Jakarta Pusat, Selasa (29/1/2019).
Retno Marsudi di ruang kerjanya, Taman Pejambon, Jakarta Pusat, Selasa (29/1/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Apa tantangan terberat penyelesaian konflik Palestina-Israel ini?
Sekali lagi, situasinya tidak mudah. Sebagian besar anggota dewan keamanan PBB menekankan pentingnya penyelesaian two state solution.

Tapi kita terus galang dukungan untuk Palestina. Posisi Indonesia sangat jelas dan konsisten membela mereka.

Bagaimana dengan isu pembangunan permukiman ilegal di wilayah Palestina oleh Israel?
Itu termasuk isu yang kita bawa dan bahas di forum PBB yang di New York baru-baru ini. Kita intens membela Palestina.

Karena dianggap konsisten, Kemlu Palestina bahkan mengeluarkan rilis khusus yang isinya terimakasih atas dukungan Indonesia. Ini cukup personal.

Saya berpikir, sebelum kita melakukan hubungan yang sifatnya resmi, hubungan pribadi harus dijalin baik.

Saya beruntung, saya memiliki hubungan pribadi yang baik hampir dengan semua menteri luar negeri. Bahkan, dengan yang baru-baru, misalnya menteri luar negeri Bangladesh dan Arab Saudi.

Dalam banyak hal sudah tidak harus melalui secretary to secretary, tapi pakai teks: “can I talk?”, cepat.

Cara diplomasi seperti ini efektif saat hubungan dua negara sedang memanas?
Namanya hubungan, jangankan hubungan antar negara, hubungan suami-istri atau hubungan saudara saja kadang-kadang ada up and down-nya.

Tapi tugas dari diplomat itu kan menjadikan situasi yang seburuk apapun menjadi lebih baik.

Bicara langsung atau via teks begitu, apakah Anda tidak takut bocor?
Ya semua kan sekarang ada risiko ya.

Kan pernah percakapan Menteri Luar Negeri Marise Payne dan Anda via WhatsApp bocor?
Siapa yang bisa menjamin bocor atau tidaknya, tapi seharusnya sih tidak bocor. Yang mana nih?

Yang dengan Marise Payne soal Palestina?
Saya enggak tahu, yang jelas bukan dari saya.

Bagaimana cara Anda berdiplomasi untuk menggalang dukungan dari negara yang tidak pro kemerdekaan Palestina?
Tidak semua negara bisa satu pendapat ya. At least, yang kita upayakan adalah menyampaikan posisi kita di mana dan alasannya. Itu prinsip.

Sebuah negara akan dihormati kalau memiliki prinsip. Hormati prinsip saya, kita akan pahami prinsip kamu, begitu.

Oke. Lalu di mana posisi Indonesia dan peranannya di dunia internasional dalam mengatasi terorisme?
Isu ini sudah jadi concern dunia. Indonesia termasuk yang aktif melawan teroris. Tidak hanya dengan hard power, tapi juga soft power, seperti deradikalisasi.

Kita menyertakan masyarakat dan keluarga mantan teroris untuk sama-sama menyadarkan bahwa teroris itu salah.

Apakah pemberitaan Abu Bakar Ba’asyir merusak diplomasi luar negeri kita?
Saya pribadi tidak menerima komunikasi itu dari negara lain. Karena itu kan…

...terlalu politis?
Enggak. No, no.

Bukan kah isu ini telah memancing reaksi negara lain. Misalnya Australia…
Mungkin berita yang ditangkap pihak luar itu dibebaskan. Detailnya mereka enggak lihat. Setelah detailnya dilihat, mereka jadi paham. Bahwa pembebasan itu ada syarat A,B,C,D.

Kita ini dihormati komitmennya. Kita juga dihargai sekali karena konsisten memberantas teroris.

Bagaimana sikap Indonesia soal petisi referendum kemerdekaan Papua yang diklaim ditandatangani oleh 1,8 juta orang…
Pertanyaan saya, benar enggak? Ada 1,8 juta tanda tangan, benar enggak sih petisi itu? Aku ingin lihat dulu kebenaran itu. Sudah, begitu dulu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR