Keterangan Gambar : Rina Emilda usai wawancara dengan Beritagar.id di kediamannya, kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Rabu siang (2/8/2017). © Beritagar.id / Bismo Agung Sukarno

Rina Emilda mengaku percaya kepada Presiden, namun meragukan polisi bisa ungkap kasus suaminya.

Dua orang pria sumasi duduk sambil merokok. Mereka dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang bertugas jaga di depan rumah Novel Baswedan di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Rabu siang (2/8/2017).

Di dalam rumah, Rina Emilda, istri Novel, sedang menyusui si bungsu Umar, 7 bulan, dan mengepak beberapa barang. "Tadi sekalian mengemas baju-baju pesanan butik," kata Rina kepada Fajar WH, Heru Triyono, fotografer Bismo Agung dan Radha Akhsyin saat akan mulai wawancara di ruang tamu.

Ruang tamu itu layaknya toko. Ada maneken, kaca besar dan contoh-contoh baju muslim yang didesain sendiri oleh Rina. Karena terbatasnya lahan, ia dan Novel menyulap ruang tamu sebagai display butik--yang bernama Emilda Boutique. "Sejak 2011 (butik) mulai berjalan," ujarnya.

Butik itu tetap beroperasi kendati Rina belakangan sibuk. Dia harus urus tiga anaknya dan bolak-balik ke Singapura untuk menjenguk suaminya yang masih proses pengobatan--pascateror serangan air keras. Dua anak Rina yang lain belajar di pesantren.

Menurutnya, tak terhitung teror yang sudah suaminya terima. Dimulai sejak Novel bertugas di Bengkulu, masih sebagai polisi. Waktu itu rumahnya digeruduk beberapa preman. Kini, selain terhadap Novel, teror juga mengintai anak-anaknya. "Anak kedua dan ketiga saya diikuti saat pergi ke Indomaret," kata Rina.

Selama satu jam, bekas mahasiswa akuntan di Universitas Surabaya ini mengurai kejanggalan yang dirasakannya dalam kasus sang suami. Dia juga mengisahkan teror demi teror yang dialami dan kilas balik pertemuan dia dengan Novel kepada kami.

Dalam wawancara, Rina selalu memamerkan senyumnya berkali-kali, sejak awal pertemuan. Perbincangan sempat berhenti sejenak saat Novel mendadak menelepon. "Abi minta dibawain buku," ujar Rina--berbaju panjang hitam yang menutup seluruh tubuhnya.

Rina Emilda, usai wawancara dengan Beritagar.id di kediamannya, kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Rabu siang (2/8/2017).
Rina Emilda, usai wawancara dengan Beritagar.id di kediamannya, kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Rabu siang (2/8/2017).
© Bismo Agung Sukarno /Beritagar.id

Sudah empat bulan polisi berkutat dengan penyelidikan kasus suami Anda...
Dia (Novel) tetap belum yakin kalau polisi bekerja sendiri. Apalagi (polisi) baru mengeluarkan sketsa setelah empat bulan kejadian, itu kan janggal. Enggak semestinya begitu. Semakin sketsa lama dibuat, semakin susah mencari keberadaan orangnya di mana.

Anda berharap agar dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk kasus ini, bukan hanya dari polisi?
Kalau tim gabungan sudah dibentuk, Insya Allah saya optimis.

Kenapa tidak percaya saja kepada polisi untuk menyelesaikannya?
Karena yang terjadi kan (penyelidikan) sudah empat bulan, sketsa saja baru ada. Itu enggak optimal.

Presiden sudah jelas perintahkan Kapolri untuk ungkap kasus ini...
Kalau dengan Presiden kita percaya ya. Dia sudah memberi perhatian. Hanya yang melaksanakannya ini, yang menurut keluarga masih belum optimal.

Sketsa juga baru jadi belakangan. Keluarga kecewa dan kurang optimis kalau kasusnya masih ditangani polisi. Keluarga ingin ada TGPF.

Menurut Anda sketsa buatan polisi itu sama dengan sosok yang terekam pada CCTV?
Begini. Menurut dia (Novel) pembuatan sketsa sampai empat bulan itu enggak normal. Kalau soal CCTV, yang saya lihat sih perawakannya (pelaku) saja, enggak lihat muka. Saya juga enggak di tempat, yang lihat justru mba (asisten rumah tangga) saya. Sore ini dia dipanggil lagi oleh polisi.

Asisten rumah tangga Anda melihat sosok yang diduga pelaku ini?
Yang menemui orang (sosok diduga pelaku) itu kan soalnya dia--saat ke rumah. Mba beberapa kali dipanggil polisi, cuma panggilan biasa saja. Itu pun dipanggilnya saat Ramadan, yang berarti dua bulan setelah kejadian. Sebelumnya enggak pernah.

Bagaimana dengan sketsa wajah yang dibuat Koran Tempo?
Sudah mirip kata Mba.

Anda pernah diberitahu sosok yang diduga pelaku itu oleh Novel?
Kita bicara banyak hal. Cuma kalau untuk urusan yang detail, saya juga enggak mau tahu. Dan, kalau seumpamanya disampaikan (ke media,) ya akan jadi bagaimana juga.

Apakah ada kecurigaan dengan sosok atau kelompok tertentu yang ingin mencelakai Novel?
Tentang siapanya saya enggak bisa bahas. Cuma, secara pribadi, suami saya enggak punya musuh dalam pekerjaannya.

Tetapi dari pekerjaan Novel sudah pasti berisiko memiliki musuh?
He-he, iya.

Dari sejarahnya juga kan Novel sering diteror saat memimpin sejumlah kasus besar...
Ya dari anak-anak belum bisa baca berita, sampai mereka baca berita sendiri soal itu (teror). Yang ramai banget adalah ketika Abi (panggilan Rina ke Novel) dijemput dari rumah, anak-anak mulai mengikuti.

Dari situ ada pertanyaan-pertanyaan terus (dari anak-anak). Tetapi ke sini-sininya mereka sudah mulai mengerti.

Terornya semakin intens ketika Novel di KPK?
Ya mulai 2012 itu.

Seingat Anda apa teror yang paling berat dialami Novel dan keluarga?
Sebelum kasus ini ya saat dia dijemput Bareskrim. Itu membuat keluarga shock. Karena infonya itu, mereka (polisi) akan menjemput Novel dalam keadaan hidup atau mati. Bayangkan, berapa banyak orang yang datang dengan seragam lengkap waktu itu.

Sampai dia dibawa ke Bengkulu, kemudian ditahan. Kalau dipikir, penahanan itu enggak masuk akal, makanya Pak Novel tetap tersenyum. Dia bilang, kalau semua dipikir positif, maka semuanya jadi positif.

Novel terpukul ketika sempat dipenjara?
Masuk penjara itu dinilainya malah pengalaman berkesan. Karena ia bertemu dengan napi teroris yang menurutnya kuat iman dan tauhidnya. Novel sempat diberi masukan oleh napi itu. Intinya kalau merasa benar harus tetap maju, jangan sekali-kali mundur.

Dia begitu idealis ya dalam melakukan pekerjaannya?
Memang karakter beraninya itu bukan ujuk-ujuk pas di KPK saja. Ketika masih polisi juga begitu. Dari awal orangnya suka perlawanan ha-ha.

Apakah sekarang-sekarang ini Anda mendapat teror juga?
Enggak, alhamdulillah. Tapi anak saya yang nomor dua dan tiga diikuti orang ketika beli sesuatu di Indomaret dekat rumah. Saya sampaikan ke suami dan suami melapor ke kantor (KPK)--sehingga diberikan pengawalan setiap hari di sini (rumah).

Anda dan anak-anak dapat pengawalan penuh dari KPK?
Hanya ketika berangkat dan pulang sekolah untuk antar jemput. Awalnya kami anggap tak perlu dan sempat enggak ada. Namun setelah ada laporan itu (diikuti), langsung diadakan lagi pengawalannya. Jumlahnya dua orang, dengan satu sopir.

Rina Emilda, usai wawancara dengan Beritagar.id di kediamannya, kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Rabu siang (2/8/2017).
Rina Emilda, usai wawancara dengan Beritagar.id di kediamannya, kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Rabu siang (2/8/2017).
© Bismo Agung Sukarno /Beritagar.id

Dengan rentetan teror itu apakah pihak keluarga enggak takut?
Novel itu orangnya teguh. Sehingga kita jadi ikutan teguh. Kalau menurut dia pekerjaannya adalah benar, ya sudah bismillah. Yang lain-lainnya adalah takdir. Menurut dia (Novel) risiko pekerjaan pasti ada. Bahkan tidur saja ada risikonya.

Kalau keluarga besar Anda, yang notabene keluarga Polri, bagaimana melihat kasus ini?
Ya sudah tahu jalan dan pekerjaan masing-masing. Mereka enggak yang bagaimana.

Masih aktif semua ya di polisi?
Ayah saya sudah pensiun, kakak ipar dan adik ipar masih aktif. Pak Novel pun punya adik perempuan yang menikahnya dengan polisi. Sementara Pak Novel kan yang malah pensiun dini.

Ketika Anda di Jakarta, siapa dari keluarga yang standby jaga Novel di Singapura?
Dari keluarga ada Taufik (kakak Novel). Nanti ada juga mertua saya yang jaga di sana. Kalau enggak ada yang jaga, sulit juga bagi Abi untuk melakukan tetes mata.

Perlu pendampingan--karena mata yang kiri masih perlu dirawat memakai obat tetes. Selain itu, mata yang kiri juga banyak memakai obat anti inflamasi, anti infeksi dan macam-macam--seperti steroid.

Mata yang kanan sudah bisa melihat?
Belum, pemulihannya padahal sudah 90 persen. Hanya saja enggak sejalan dengan penglihatannya yang masih kabur. Seperti luka terbuka dan ada jaringan tumbuh di mata itu--jadi agak blur pandangannya.

Mata yang kanan juga harus dikasih obat tetes agar enggak kering. Sementara yang kiri sudah berlapis katarak dan korneanya sudah rusak. Problem mata kiri itu berat dan masih banyak.

Yang sebelah kanan enggak akan dioperasi lagi?
Kasus utamanya tinggal yang kiri. Kalau kanan dokternya cukup optimis. Lukanya tinggal dua mili (meter) saja, yang menutupi matanya itu. Keputusan akan operasi lagi Kamis ini (3/8/2017).

Menurut dokter, berapa persen peluang kesembuhan Novel?
Dokter enggak memberi janji sembuh, tapi akan diupayakan matanya itu kembali normal. Operasi pemasangan membran sel (baby skin) itu enggak sesuai harapan. Jadi enggak ada jaminan. Cuma diupayakan maksimal untuk sembuh.

Lalu bagaimana dengan biaya pengobatan?
Yang biayai Kepresidenan. Info awalnya sampai sembuh. Kalau KPK kan sekadar asuransi tapi levelnya lokal dalam negeri. Mereka enggak ada budget lebih untuk pengobatan yang seperti ini.

Mahal kah biayanya, sampai butuh biaya ratusan juta atau miliaran...
Yang berat itu untuk biaya rawat jalan yang tiga bulan kemarin. Operasi juga mahal. Soal biayanya saya enggak tahu. Sehari bisa sampai Rp8 juta. Yang jelas, dari kantor (KPK), tiap tiga hari sekali ada yang deposit untuk biaya di sana.

“Suami saya enggak marah dan membenci pelakunya, tapi berharap polisi bisa ungkap siapa dia”

Rina Emilda Baswedan

Pascateror, apakah Novel mengalami trauma psikologis? Kalau di depan media kan dia terlihat tegar, apa berbeda ketika curhat dengan Anda...
Dia memang begitu. Enggak pernah mengeluh. Biasa saja katanya. Ya, menurutnya sudah takdir, sudahlah. Dia juga enggak marah dan membenci pelaku, tapi berharap polisi bisa ungkap siapa dia. Kalau tidak dibuka akan bahaya sekali.

Kenapa sekarang sepertinya terus melayani permintaan media untuk berbicara, padahal dulu Anda jarang banget tampil...
Awalnya banyak yang menanyakan kabar. Sekadar itu saja. Saya enggak bisa menolak soalnya Mas Novel itu banyak berhubungan baik dengan orang lain, baik itu dari pegawai KPK, tetangga, sampai media. Dia juga bukan orang tertutup. Hubungannya dengan media atau yang lain bukan soal pekerjaan lagi, tetapi lebih dari itu.

Boleh tahu bagaimana Anda dahulu bertemu dengan Novel Baswedan?
Saya kenal saat masih SMA di Sidoarjo. Ketika itu Novel masih perwira pertama (PAMA). Ia lulus tahun 1998 kemudian penugasan di Mojokerto. Kebetulan Abang Ipar saya satu letting (teman seangkatan) dengan dia. Satu asrama juga.

Ketika saya mengunjungi asrama Abang Ipar, kita kenalan. Besoknya Novel langsung ke rumah, kemudian terus berlanjut hingga menikah pada 2003. Padahal saya masih belum selesai kuliah akuntansi di Universitas Surabaya.

Saat Novel lagi sakit begini, Anda masih suka membuatkan dia makanan kesukaannya: roti canai?
Oh he-he. Mau ya? Itu makanan yang dia suka kalau malam. Di Singapura itu dia lagi kepengen nasi briyani dan mandhi.

Apakah kasus teror Novel ini mengganggu bisnis butik Anda...
Mesti bagi waktu saja. Kalau menghambat sih enggak. Dari awal kan cuma boleh kerja di rumah dan yang utama adalah keluarga. Saya juga enggak punya target (penjualan) yang banyak.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.