Rinaldy Arviano Yunardi saat wawancara dengan Beritagar.id di butiknya Jalan Gedong Panjang, Jakarta Utara, Kamis siang (24/5/2018).
Rinaldy Arviano Yunardi saat wawancara dengan Beritagar.id di butiknya Jalan Gedong Panjang, Jakarta Utara, Kamis siang (24/5/2018). Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
BINCANG

Rinaldy Yunardi: Mahkota salib Madonna bukan endorsement

Yung Yung punya idealisme kuat tentang mode: ingin membawa keindahan ke dunia melalui aksesori.

Mula-mula Rinaldy benci atasannya. Ia jengkel karena posisi kerjanya dipindah tiap tiga bulan. Mulai dari bagian debitur, kasir, pajak, bahkan sampai pemasaran. Semua itu ia jalani bertahun-tahun.

“Aku kan cuma lulusan SMA, jadi ya terima saja,” tuturnya mengenang masa lalu ketika bekerja di pabrik ban. Pekerjaan yang sebetulnya kontras dengan profesinya saat ini: desainer aksesori.

Tapi kebencian terhadap atasannya hilang saat ini. Malah yang muncul adalah rasa hutang budi. Gara-gara bosnya itu Rinaldy jadi paham mengurus sebuah perusahaan dari soal pemasaran hingga pajak.

“Enggak disangka, malah jadi bekal buat saya saat berprofesi desainer,” ujar pria bernama tulen Rinaldy Arviano Yunardi ini saat wawancara di butiknya Jalan Gedong Panjang, Jakarta Utara, Kamis siang (24/5/2018).

Menjadi desainer memang keajaiban bagi Rinaldy. Profesi itu tak pernah terpikir saat sekolah. Apalagi ia tak menonjol sebagai siswa. Nilai matematika dan menggambarnya juga buruk. Tapi kalau kerajinan tangan, ia selalu paling rapi.

Nah, saat keluar dari perusahaan ban itu ia melakukan eksperimen yang mengubah total jalan hidupnya. Secara iseng ia membuat tiara dari bahan akrilik. Bahan itu ia rangkai dengan kawat, payet baju dan kristal.

Dalam hitungan bulan, tiara itu jadi dan hasilnya amat bagus. Banyak pujian datang. Hal itu membuat Yung Yung, panggilan akrabnya, terkejut sendiri. "Ternyata aku bisa," katanya dalam hati pada saat itu. Karya pertamanya tersebut masih ia simpan dan ditunjukkan kepada kami saat bertemu.

Cerita selanjutnya sudah bisa ditebak. Namanya harum sebagai desainer aksesori. Selama dua puluhan tahun karyanya memperindah penampilan Titi DJ, Krisdayanti dan banyak lagi. Beberapa tahun belakangan, karyanya telah mendunia.

Aksesorinya dipakai Aaron Kwok, Katy Perry, Taylor Swift, hingga menghiasi sayap beraksen bulu model Devon Windsor dalam gelaran Victoria's Secret Fashion Show. Baru-baru ini karyanya bahkan dikenakan Madonna saat Ratu Pop itu menghadiri Met Gala 2018.

Pelantun Like a Prayer itu berjalan di karpet merah selayaknya biarawati. Dalam balutan gaun hitam rancangan Jean Paul Gaultier, Madonna memadukannya dengan mahkota salib buatan Yung Yung. Kejutan selanjutnya, Christina Aguilera juga memakai sarung tangan hitam buatan dia saat konser pekan lalu.

Pukul 11 lebih sedikit sosok ramping itu masuk dan menyalami kami. Jika Madonna dibuat layaknya biarawati, dandanan Yungyung siang itu layaknya biarawan. Dengan padanan hoodie (sweter dengan topi) dan celana panjang serba hitam, ia tampil gelap gulita. “Gaya hoodies memang berasal dari pengembangan pakaian pastor katolik abad pertengahan,” katanya.

Kepada Heru Triyono dan Wisnu Prasetyo ia cukup murah hati menjawab pertanyaan soal kreativitas dan bagaimana membangun kekaisaran bisnisnya. Di akhir wawancara, Yung Yung mengantar kami keluar pintu dengan rekomendasi nasi padang untuk makan siang. Hamdalah, kami pun berbuka puasa. Berikut perbincangannya:

Rinaldy Arviano Yunardi saat wawancara dengan Beritagar.id di butiknya Jalan Gedong Panjang, Jakarta Utara, Kamis siang (24/5/2018).
Rinaldy Arviano Yunardi saat wawancara dengan Beritagar.id di butiknya Jalan Gedong Panjang, Jakarta Utara, Kamis siang (24/5/2018). | Wisnu Prasetyo /Beritagar.id

Penampilan Madonna di Met Gala dipuji media internasional, semua mata tertuju pada mahkota buatan Anda…
Puji Tuhan. Siapa yang tidak bangga karyanya dipakai legenda. Apalagi Madonna malah minta mahkota itu dan bilang suka. Bahagia banget. Ketika dia minta, ya saya bilang, ambil saja deh.

Bagaimana penilaian Anda terhadap penampilan Madonna yang pakai gaun rancangan Gaultier dan dipadukan dengan mahkota bersalib?
Mahkota itu makin melengkapi keindahan yang sudah Madonna punya. Dia itu fashion icon dan trendsetter pada eranya, bahkan sampai sekarang. Tiap detail aksesorinya selalu menarik. Puji Tuhan kesampaian juga karya saya dipakai Madonna,

Mimpi Anda telah terwujud?
He-he, saya ini fan dia. Dari zaman sekolah di Jakarta saya sudah kagum. Saya punya poster dan kaset-kasetnya. Dulu, cari informasi dia agak sulit, karena majalah dan internet kan susah.

Bukannya Anda tumbuh besar di Medan?
Di Medan aku cuma menumpang lahir. Di sana sampai kelas lima sekolah dasar. Papa dan Mama kan dari Aceh.

Membuatkan mahkota untuk seorang fashion icon jadi puncak karier Anda?
Enggak bisa dibilang puncak ya. Ini merupakan pencapaian saja. Saya ini orangnya selalu ingin berkarya. Berkarya itu bukan untuk dipajang, tapi dikenakan.

Berapa lama Anda membuat mahkota itu?
Empat hari saja.

Tema mahkotanya dari Anda juga?
Bukan, saya dapat permintaan membuat aksesori, kemudian baru temanya keluar. Temanya adalah Heavenly Bodies: Fashion and Catholic Immagination.

Saya kaget pas dapat kabar bahwa mahkota itu untuk dipakai Madonna. Oh my God. Tapi dari pihak Madonna tidak ada petunjuk mau apa dan bagaimana aksesorinya.

Anda tahu mahkota itu akan dipadukan dengan gaun rancangan Paul Gaultier?
Tidak dikabari. Mereka juga enggak spesifik mau aksesori apa. Jadi, saya buat mahkota itu berdasar tema saja. Explore sendiri.

Idenya, saya melihat Madonna itu sebagai queen of pop. Pastinya queen kan identik dengan tiara. Ya saya buat tiara. Kemudian sedari dulu Madonna juga suka tampil dengan salib. Ya saya buat di mahkotanya banyak salib. Begitu.

Pagi pas acara, saya tunggu di depan televisi, dan bangga banget, ternyata dia benar-benar pakai mahkota saya.

“Berkarya itu bukan untuk dipajang, tapi dikenakan”

Yung Yung

Kalau enggak spesifik dan mengikat, bisa saja mahkota Anda tidak dipakai Madonna saat acara?
Betul. Betul banget. Makanya kesempatan ini susah didapat. Jadi, kalau Madonna suka, lalu Jean Paul Gaultier bilang tidak cocok dengan busananya, ya pasti batal.

Kok bisa pas ya mahkota itu menempel di kepala Madonna, Anda mengira-ngira ya ukurannya?
Alhamdulillah, puji Tuhan lagi. Saya bersyukur bisa pas.

Ada kandidat desainer lain enggak yang juga membuatkan aksesori untuk Madonna?
Saya enggak tahu, mungkin banyak pilihan juga sebenarnya mereka. Pasti banyak dong yang mau karyanya dipakai Madonna.

Sebenarnya mahkota itu memakai sistem endorsement atau ada bentuk kerja sama lain dengan pihak Madonna?
Kalau dibilang endorse itu kesannya memaksa ya. Tujuan sistem itu kan memopulerkan produk. Kalau ini kan pihak Madonna yang minta, ya saya kerjakan. Jadi mahkota itu bukan endorse dan saya enggak bayar dan dibayar sama sekali. Malah mahkota itu diminta. Saya bilang ambil saja deh ha-ha.

Jadi bentuk kerja sama dengan artis itu seperti apa?
Yang jelas bukan endorse. Biasanya semua berawal dari pertemanan dan kepercayaan. Soalnya artis itu kan menampilkan karya saya untuk penampilan dia. Namanya saling mendukung.

Karya Anda sampai masuk ke kalangan selebritas, itu bagaimana menembusnya?
Prosesnya panjang. Saya merangkak dari nol. Pernah juga menjual door to door dengan naik ojek. Pernah ditipu, dihina dan ditipu lagi. Tapi kepercayaan dari mulut ke mulut membantu saya dalam berkarya.

Kemudian, bagaimana ceritanya bisa dilirik sama selebritas luar negeri?
Ini berkat sebuah agency PR, Value dan The Clique yang berbasis di Hongkong dan Amerika. Mereka tertarik dengan karya saya sejak lama. Jadi, cara kerja samanya itu begini: saya akan kirim aksesori ke dua negara itu jika ada permintaan. Itu ceritanya.

Rinaldy Arviano Yunardi ini saat wawancara dengan Beritagar.id di butiknya Jalan Gedong Panjang, Jakarta Utara, Kamis siang (24/5/2018).
Rinaldy Arviano Yunardi ini saat wawancara dengan Beritagar.id di butiknya Jalan Gedong Panjang, Jakarta Utara, Kamis siang (24/5/2018). | Wisnu Prasetyo /Beritagar.id

Lebih dari dua dekade berkarya, pernah berpikir jenuh?
Enggak. Saya tetap fokus. Inilah bidangku. Semakin ditantang, semakin saya bergairah. Guru saya adalah teman-teman, guru saya adalah buku-buku, dan mata saya. Tinggal dipancing idenya, maka saya mudah membuat aksesori apa saja. Ini karena terbiasa dan pengalaman, bukan hebat.

Dari aksesori apa penghasilan terbesar dalam bisnis Anda selama ini?
Tetap tiara (mahkota) ya, karena itu memang kreasi saya di awal-awal karier. Hidup saya memang di tiara. Sepatu atau sarung tangan sebenarnya bukan lahan saya, tapi saya suka melakukan banyak hal.

Sejak kecil memang sudah dekat dengan dunia aksesori?
Enggak juga. Keluarga saya sederhana. Saya ini bungsu dari tiga bersaudara. Di sekolah itu saya tidak menonjol, karena tidak pintar matematika atau menggambar. Tapi kalau diminta buat kerajinan tangan saya selalu paling rapi. Itu enggak sadar kayaknya.

Saya pun enggak kuliah. Setelah lulus SMA, saya bekerja di perusahaan ban--di bagian marketing. Tapi tiap tiga bulan posisi saya dipindah sama bos, sehingga saya enggak betah.

Lalu kapan Anda yakin bahwa desainer aksesori menjadi pilihan hidup?
Enggak sama sekali terpikir hal itu, karena terjadi begitu saja. Saat bekerja di perusahaan elektronik milik kakak, saya iseng eksperimen membuat tiara saat istirahat kerja.

Saya buat tiara dari bahan akrilik di belakang pabrik. Bahan itu saya rangkai dengan kawat, payet baju dan kristal. Hasilnya sederhana tapi banyak yang tertarik. Di situlah momen saya percaya bahwa bidang ini adalah masa depan saya.

Next step-nya adalah memilih jadi desainer dengan meninggalkan pekerjaan saat itu?
Itu yang sulit diputuskan. Saya awalnya takut gagal dan kembali lagi bekerja di perusahaan kakak. Kan malu. Tapi karena Papa dan Mama mendukung, saya jadi yakin.

Mama dulu yang ajarkan saya membuat bunga dari kertas krep dan Papa juga ajarkan saya buat tas. Keluarga punya usaha kecil lah. Saya juga suka bantu. Keduanya sudah meninggal. Saya sedih.

Mama itu sangat percaya pada saya dan enggak pernah keras. Dia tidak pernah melarang-larang saya. Kehidupan malam contohnya, seperti clubbing. Dia membolehkan tapi bilang, yang penting tahu diri. Padahal anaknya ini kadang enggak tahu diri. Saya kangen Mama dan Papa.

Pernah mengecewakan keduanya?
Di depan mereka, aku itu ambekan, sering menangis. Minta mainan, permen atau alat-alat sekolah ke mereka. Aku ini kan detail dan harus komplet. Kalau sekolah harus bawa pensil, penggaris, buku, semuanya. Enggak bisa enggak bawa.

Saya juga punya geng clubbing saat sekolah. Kalau pergi itu harus keren dan rapi pakaiannya. Saya pernah ikut lomba dance dan lomba kostum rancangan sendiri, dan saya suka mengerjakan hal-hal seperti itu.

Kekuatan detail itu berguna saat menjadi desainer sekarang ya?
Tapi dulu kan belum sadar. Mungkin Tuhan baru kasih tahu kemampuan ini saat saya sudah siap. Saya mengerjakan sendiri semuanya di awal dan saat ini punya 40-an karyawan.

Saya cinta pekerjaan ini tanpa perhitungan waktu kerja. Baik di siang, pagi atau malam, akan saya kerjakan. Kalau perlu dibawa sampai tidur. Ini passion namanya.

Masih ingat harga jual aksesoris Anda pertama kali berkarier dulu?
He-he. Berapa ya? Sekitar Rp50 ribu sampai Rp70 ribu kali ya. Saya menjual tiara akrilik dan terima juga pesanan custome dari pengantin.

Karya atau koleksi Anda yang harganya paling mahal?
Crown dan lampu. Ada yang sekitar Rp40-an juta. Sementara lampu bisa mencapai Rp50 juta ke atas.

Siapa sih panutan Anda dalam berkarya?
Ya Mama dan Papa, saya juga belajar banyak dari teman-teman desainer. Misalnya almarhum Kim Tong (desainer busana pengantin era 80-an) yang memberi saya inspirasi tentang aksesori tiara.

Oke, dari mana asal nama sapaan Anda, Yung Yung?
Yung adalah panggilan kecil aku. Sebelum jadi Yung yang sekarang, aku dekat dengan orang-orang di bidang make up artist, jasa pelayanan pengantin dan desainer. Dan mereka selalu panggil aku Yung, termasuk Didi (Budiardjo).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR