Tri Rismaharini berpose di depan kamera di kantor Wali Kota Surabaya, Jalan Taman Surya, Surabaya, Senin siang (12/8/2019)
Tri Rismaharini berpose di depan kamera di kantor Wali Kota Surabaya, Jalan Taman Surya, Surabaya, Senin siang (12/8/2019) Wisnu Agung / Beritagar.id
BINCANG

Risma: Saya menang pemilu kalau dipilih anak-anak

Meski cedera kaki belum pulih dan pekerjaan makin menumpuk, ia masih bisa terkikik untuk bicara tentang Anies Baswedan dan hair dryer untuk Dr. Martens kesayangannya.

Pukul 12.00 WIB. Wali kota memanggil tiga staf ke ruang kerjanya. Mereka tampak seperti murid bolos yang dipanggil menemui kepala sekolah: hanya mengangguk dan menunduk. Kemudian sang wali tampak memeriksa dokumen. Berbicara. Lalu mengintip ke layar monitor CCTV sebesar layar bioskop di tembok ruangannya.

Suasananya seperti tak bersahabat. Hening. Namun langsung pecah ketika ia menceritakan tendon kakinya yang robek dan sepatu Dr. Martens yang dibelinya di New York—diikuti tawa.

“Sepatu ini terapi penyembuhan tendon aku. Jadi harus tebal pakai sepatunya he-he,” kata Tri Rismaharini sambil mengangkat-angkat sepatunya.

Risma tampak lebih bugar usai masuk rumah sakit beberapa waktu lalu. Hanya saja langkahnya masih tertatih saat memeriksa tanaman di halaman kantornya. Cedera kaki itu jua yang menyebabkan ia terkadang menggunakan kursi roda.

“Saya kan harus tetap melayani warga,” kata perempuan berusia 57 ini ketika wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung di kantor Wali Kota Surabaya, Jalan Taman Surya, Surabaya, Senin siang (12/8/2019)

Kantornya berjarak satu jam dari Bandara Juanda. Perjalanan ke sana membuat Anda seperti lewat hutan dengan pemandangan pohon-pohon besar. “Pohon itu salah satu warisan aku di sini (Surabaya),” kata Risma, yang telah menjabat wali kota selama 9 tahun.

Risma memang berada di tahun terakhir masa jabatannya yang kedua dan terakhir sebagai wali kota. Situasi ini membuatnya jadi percakapan nasional—karena terus dikaitkan dengan isu pencalonannya di pilkada, pilpres, bahkan kabinet Joko Widodo berikutnya.

Selama berbulan-bulan desas-desus itu beredar, yang kemudian diikuti dengan kejutan: Risma ditunjuk jadi Ketua Bidang Kebudayaan DPP PDI Perjuangan. Sejak itu Risma secara rutin disorot sebagai bintang politik dan dicari-cari media.

Dus. Sepanjang satu jam lewat, Risma menjawab banyak pertanyaan di sebuah kursi besar dengan bantalan cokelat layaknya di kerajaan. Suaranya kadang kecil, kadang cempreng, dengan dialek Surabayan yang pekat.

Berikut percakapannya, yang telah diedit dan diringkas untuk kejelasan:

Tri Rismaharini berpose di depan kamera di halaman  kantor Wali Kota Surabaya, Jalan Taman Surya, Surabaya, Senin siang (12/8/2019)
Tri Rismaharini berpose di depan kamera di halaman kantor Wali Kota Surabaya, Jalan Taman Surya, Surabaya, Senin siang (12/8/2019) | Wisnu Agung /Beritagar.id

Sebenarnya apa cerita di balik penunjukan Anda sebagai Ketua DPP PDIP Bidang Kebudayaan?
Lah awalnya aku malah ndak tahu. Tiba-tiba ada yang telepon aku untuk ikut pelantikan jam 10 di Bali.

Padahal pada jam 8 aku sedang bongkar sekolah di Surabaya. Saat itu spontan saja mengiyakan (jabatan itu) dan kenapa enggak, pikir saya.

Masa Anda enggak sempat diskusi dengan siapapun sebelum terima jabatan penting itu?
Enggak ada. Wong aku lagi bongkar sekolah kok yo.

Memangnya siapa yang menghubungi Anda?
Yang pertama Mas Prananda. Yang kedua Mbak Puan. Itu teleponannya sambil tunjuk-tunjuk tangan mengarahkan pembongkaran.

Intinya mereka menyampaikan amanah Ibu (Mega) soal jabatan itu. Saya jawab, iya saja, spontan.

Apa pesan Megawati kepada Anda mengenai bidang kebudayaan yang akan Anda pimpin?
Aku ndak bertemu (Megawati). Maksudnya belum. Aku jarang pegang telepon. Apalagi mantau media sosial.

Aku lebih banyak pegang HT (handy talky), karena itu alat komunikasi yang aku pakai sehari-hari.

Tidak begitu suka dengan media sosial?
Aku punya media sosial. Grup bentuknya. Tapi itu untuk kerja. Di situ enggak boleh ucapkan selamat ulang tahun.

Kalau ada, aku marah. Isinya cuma untuk melaporkan pekerjaan saja. Ada grup camat, lurah atau kepala dinas.

Dua jabatan sekaligus ini bisa membuat pekerjaan Anda di Surabaya terbengkalai dong?
Aku bersyukur. Surabaya ini seluruhnya sudah pakai elektronik operasionalnya. Jadi saya bisa disposisi dari manapun.

Saya bisa pantau semua kondisi kota lewat iPad. Dari mulai soal pelayanan, kebijakan, sampai penyemprotan tanaman.

Rapat DPP PDI Perjuangan kan biasanya rutin tiap minggu. Dengan begitu akan menambah pekerjaan Anda.

Bukankah itu juga bisa memperburuk kondisi kesehatan Anda?
Aku bisa pakai kursi roda, sehingga bisa tetap jalan kemana-mana. Mungkin yang dorong aja agak ngomel.

Aku sih bisa ya, ndak melihat itu sebagai hambatan. Beliau-beliau juga tahu kalau aku kerja. Kalau lagi repot di Surabaya, ya ndak bisa ikut.

Apa sih penyebab kondisi Anda drop lalu masuk rumah sakit saat itu?
Kecapekan. Aku dari Cina, ke Prancis, kemudian ke Palu. Di Palu, saya ikut bantu bangun pasar, sentra PKL dan kembali jam 12 malam.

Paginya, melihat utara Surabaya kotor, jadi turun lagi ke lapangan. Tiba-tiba lemas. Oksigen ke otak kurang. Ya akhirnya masuk rumah sakit.

Tendon robek saat pantau banjir tahun lalu itu sudah sembuh?
Yang jelas, salat sudah bisa duduk. Kalau jalan jauh memang masih goyah. Makanya kadang pakai kursi roda.

Aku itu takut sama anak-anak yang suka menyerbu aku. Dorong-dorong.

Jadi bukan aku ndak bisa jalan sama sekali. Tapi pilih kursi roda juga karena faktor keamanan tadi. Agar pas diserbu anak-anak tidak jatuh.

Tapi kenapa sepatunya harus Dr. Martens, trendi banget. Memang suka?
He-he. Aku pakai Docmart karena butuh untuk kestabilan saat berdiri dan jalan. Terapis cedera kaki aku yang sarankan. Sepatunya harus tebal.

Supaya kalau kena kerikil, tidak terasa. Kebetulan aku punya Docmart.

Sering pakai Dr. Martens ke mana?
Kalau ke luar negeri pas musim dingin. Aku kan cukup sering ke luar. Tapi Docmart aku yang lama itu kegedean ternyata. Jadi beli baru.

Nah, kalau cuma punya satu, terus masuk got atau sungai kan repot. Malamnya harus di hair dryer gitu untuk besoknya bisa dipakai lagi.

Ya akhirnya beli di New York saat menjadi pembicara PBB di sana. Pas lagi diskon 50 persen. Aku beli yang hitam dan yang putih.

Oke. Apa yang ada dalam bayangan Anda ketika menduduki jabatan sebagai ketua kebudayaan?
Konsep ya. Budaya itu jangan bicara tarian saja. Kalau dalam kepala aku, kebudayaan ini bisa jadi strategi.

Jadi kebudayaan itu sebagai alat merajut anak bangsa. Surabaya sudah memulainya. Ketika gempa Lombok, kita bawa 10 anak ke sana.

Mereka main dengan anak-anak korban. Bersihkan sekolah, dan banyak lagi. Dari situ tumbuh kepedulian antar anak dan bisa saling belajar budaya juga.

Tri Rismaharini berpose di depan kamera di kantor Wali Kota Surabaya, Jalan Taman Surya, Surabaya, Senin siang (12/8/2019)
Tri Rismaharini berpose di depan kamera di kantor Wali Kota Surabaya, Jalan Taman Surya, Surabaya, Senin siang (12/8/2019) | Wisnu Agung /Beritagar.id

Dalam beberapa momen, Anda pernah berseberangan dengan partai, bahkan ingin mengundurkan diri, terkesan apolitis. Tapi sekarang malah jadi ketua dpp?
Itu proses. Aku pikir Tuhan memberi kepercayaan ini melalui tangan ketua umum ya. Selama aku bisa bantu kenapa enggak.

Tuhan sudah menakdirkan saya di situ. Wong nyawa saya saja kalau Tuhan mau ambil, aku juga ndak bisa cegah kan.

Aku melihat, politik itu kan alat untuk perubahan. Aku bisa buat perubahan dengan kebijakan. Misalnya sekolah gratis dan pengelolaan sampah.

Alat itu kan skalanya bisa jadi lebih besar. Misalnya Anda jadi gubernur. Tentu bisa melakukan perubahan lebih besar lagi…
Aku dapat amanah bidang kebudayaan. Kalau kepala daerah, itu hal berbeda. Aku takut membayangkannya.

Karena, aku bisa buat surat yang berdampak penderitaan atau kesenangan untuk orang. Ini berat. Mandat Tuhan lho diberikan kepada kita.

Bagaimana jika banyak yang mendukung dan berharap Anda menjadi Gubernur Jakarta?
Tuhan akan atur semua. Aku tidak berani meminta. Ini selalu saya ucapkan sejak zaman dulu kala.

Baik. Sebagai kepala daerah yang juga arsitek, kadang-kadang gemes ndak lihat kondisi Jakarta?
Aku tidak punya wewenang apapun di situ. Meski pernah, saat terjebak macet di Jakarta, aku itu mau turun dan mengatur lalu lintas he-he.

Pas mau turun, stafku bilang, “bu bu ini Jakarta bukan Surabaya”. Saya bilang, oh iya he-he.

Saat itu macet parah?
Iya. Angkot ngetem dan motornya dishub ada yang halangi jalan. Nah di sini aku mau minta maaf ke dishub itu.

Karena aku bilang ke dia bahwa motornya juga yang bikin macet. Debat sebentar dan dia sepertinya kenal saya.

Terus, dia pindahkan motornya dan jalan jadi lancar. Saya minta maaf ya ke orang dishub itu kalau baca ini. Kadang aku enggak sadar ada di wilayah mana.

Mulai ada sinyal-sinyal Anda mau ke Jakarta sepertinya he-he?
Itu spontan saja. Karena di mana-mana saya begitu. Suka keluar mobil. Di Papua, pas aku turun, anak-anak itu pasti samperin.

Karena saya bawa bola dan buku. Anak-anak entah kenapa, suka sama saya. Padahal saya juga suka marah-marah depan mereka. Bukannya takut malah samperin.

"Biar saja (cuitan Marco). Kalau tidak benar, yang balas itu Tuhan kok".

Tri Rismaharini

Sebenarnya, kenapa sih sering emosi dan meledak-ledak?
Yang dilihat pas galak saja, mungkin. Aku tuh marah kalau sudah keterlaluan dan menyangkut orang banyak.

Kalau ada apa-apa sama warga, aku ndak bisa ampuni diriku. Jangan sampai masyarakat menderita karena kepala dinasku tidak mengerti.

Itu kewajiban aku mengingatkan mereka.

Karakter galak ini sejak dari muda?
Pas jadi kepala dinas. Marahnya sama staf. Karena staf itu kebangeten. Kalau dia dibiarkan itu bahaya untuk warga Surabaya.

Sebagian pihak bilang gaya tegas Anda ini cocok untuk memimpin Jakarta?
Aku enggak bisa ngomong cocok atau ndak ya. Itu kan amanah. Bagi aku, politik itu alat menyejahterakan.

Surabaya memang enggak punya kapasitas keuangan seperti DKI, tapi saya coba terus bagaimana warga Surabaya jadi sejahtera.

Berada di tahun terakhir masa jabatan Anda yang kedua dan terakhir sebagai wali kota, banyak partai yang pedekate?
Partai opo he-he.

Ketua Fraksi NasDem Bestari Barus kan terang-terangan ingin memboyong Anda ke Jakarta?
Enggak lah. Saya ini mantan dinas kebersihan. Tahu betapa beratnya atasi sampah. Termasuk persoalan sampah di Jakarta.

Jadi, siapapun yang tanya soal sampah, ya aku jawab. Mau itu kepala daerah, dewan atau siapapun.

Anda merasa dibentur-benturkan dengan Anies Baswedan soal isu sampah ini?
Aku enggak tahu ya. Enggak pernah baca soal itu he-he.

Anda seperti khawatir jika bicara tentang Anies dan Jakarta. Takut dianggap ambisius?
Begini. Orang tanya, aku yo jawab. Sekarang aku jawab kan. Aku bisa saja bohong. Tapi Tuhan enggak bisa aku bohongin.

Jadi silakan saja orang mau tuduh aku punya ambisi, silakan. Tapi aku percaya jabatan wali kota, gubernur, presiden, itu tak boleh diminta, tapi diamanatkan.

Bagi Anda, ukuran untuk mengiyakan sebuah amanat itu seperti apa?
Kalau saya sudah ndak bisa menolak lagi. Itu namanya takdir. Prinsipnya, aku enggak mau sombong dan minta jabatan.

Merasa tersinggung dengan cuitan Marco Kusumawijaya, yang menyerang pribadi dan anak Anda?
Biar saja (cuitan Marco). Kalau tidak benar, yang balas itu Tuhan kok. Kalau aku marah ke dia, dia ini tahu ndak apa yang aku pikirkan.

Aku itu membayangkan jadi gubernur saja enggak. Apa dia tahu?

Tapi apakah pernah Anda membayangkan Pilpres 2024?
Ha-ha. Kalau pemilunya yang memilih anak-anak, saya sudah pasti menang.

Jadi akan maju?
Ha-ha. Yang memilih anak-anak ya.

Btw, siapa sebenarnya yang menjadi idola Anda selama ini?
Tukang sapu. Aku sangat menghormati mereka.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR