Keterangan Gambar : Sheila Timothy saat ditemui Beritagar.id di kantor LifeLike Pictures di kawasan Kebon Sirih, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (8/3/2017)

Rumah produksi LifeLike Pictures menggandeng Fox International Productions menggarap film Wiro Sableng yang penuh terobosan baru.

Lebih dari dua dasawarsa sejak terakhir Atin Martino memerankan tokoh pendekar Wiro Sableng dalam film Satria Kapak Tutur Sepuh (1990), salah satu fenomena dalam budaya populer di tanah air itu dihidupkan kembali oleh Sheila Timothy (45).

Melalui rumah produksi LifeLike Pictures yang didirikannya sejak 2008, Lala --sapaan akrab Sheila-- mengadakan syukuran penanda dimulainya penggarapan film Wiro Sableng 212 (Warrior 212) di JS Luwansa Hotel, Karet Kuningan, Jakarta Selatan (9/2/2017).

Agar penggarapan lebih maksimal, LifeLike menggandeng Fox International Productions (anak perusahaan 20th Century Fox) sebagai mitra dengan skema co-production. Artinya, kedua belah pihak membagi rata perihal pendanaan film.

Penasaran ingin mengetahui sejauh mana persiapan menggarap film tersebut, Andi Baso Djaya dan fotografer Wisnu Agung dari Beritagar.id menyambangi kantor LifeLike Pictures di kawasan Kebon Sirih, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (8/3) siang, sekitar pukul 11.00.

Lala bersama timnya sedang berpacu dengan waktu menyelesaikan segala persiapan demi kelancaran proses syuting yang dijadwalkan berlangsung Agustus 2017.

Saat kaki memasuki lantai pertama bangunan kantornya, tampak empat orang sedang latihan bertarung di atas matras biru.

Mereka saling memukul, menendang, dan membanting. "Bukk! Ciaaat!! Brakk!!" Sketsa pertarungan dalam buku cerita silat Wiro Sableng episode "Empat Berewok dari Goa Sanggreng" (diterbitkan Lokajaya Agency, 1970) seolah-olah tervisualisasikan di depan mata.

Ditemani Emira dari MediAN Publicist yang jadi salah satu tim publisis film #WS212 --demikian singkatan proyek film ini biasa tersebutkan di media sosial selain frasa #siapsableng, kami menaiki tangga berbentuk melingkar menuju lantai kedua.

Sembari beringsut dari meja kerjanya yang menempati pojok ruangan, Lala mempersilakan kami ke meja meeting berbentuk persegi panjang. Letak meja itu persis di depan sofa dengan aneka bantal warna-warni dilengkapi televisi yang menempati bagian tengah ruangan.

Di sebelah meja kerja Lala terdapat rak berisi tumpukan buku, barisan action figure --salah satunya tokoh pahlawan super Wonder Woman, dan beberapa piringan hitam rilisan Republic Manufactur Company alias Remaco, perusahaan rekaman yang didirikan Eugene Timothy (1938-2000), ayah Lala.

Celana denim yang sobek pada kedua bagian lutut dengan sepatu kets berbahan kanvas membuat penampilan Lala tampak santai tanpa beban.

"Padahal aslinya sih gue sableng juga mempersiapkan film ini. Ha-ha-ha," kelakarnya sembari menunjukkan tumpukan buku cersil "Wiro Sableng" karya Bastian Tito, ayah Vino G. Bastian yang memerankan tokoh pendekar sakti 212.

Walaupun mengaku jadi sableng --tepatnya mumet-- mengurusi film pertama Wiro Sableng 212, Lala menjawab serius berbagai lontaran pertanyaan, termasuk memberikan info eksklusif kepada kami. Apa itu? Berikut petikan wawancaranya.

Sheila Timothy (kanan) menjelaskan kepada Beritagar.id tentang konsep baru film Wiro Sableng 212 yang membedakannya dengan versi film terdahulu
Sheila Timothy (kanan) menjelaskan kepada Beritagar.id tentang konsep baru film Wiro Sableng 212 yang membedakannya dengan versi film terdahulu
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Bagaimana awalnya mengenal Wiro Sableng?

Awalnya dari sinetron dan lagunya yang ngetop di era 90-an. Zaman itu siapa sih yang enggak tahu Wiro Sableng? Tapi, dulu itu belum tahu detail ceritanya seperti apa. Makanya masih sering tertukar, Wiro itu yang kostumnya hijau (Si Buta dari Gua Hantu, red.) apa yang putih ya?

Karena adik saya, Marsha, menikah sama Vino G. Bastian yang notabene anaknya Bastian Tito, penulis cersil "Wiro Sableng", jadinya sejak tiga tahun lalu kami sudah diskusi tentang film apa yang menarik untuk diproduksi. Vino mengusulkan Wiro Sableng.

Saya sih tertarik, tapi sebagai produser, saya merasa film aksi kalau tidak dikerjakan maksimal dengan bujet besar dan persiapan intens jadinya hanya gitu-gitu saja.

Jadi waktu itu saya putuskan belum deh. LifeLike Pictures belum cukup umur memproduksi Wiro Sableng. Baru setelah film Tabula Rasa (2014) selesai, saya kepikiran lagi sama Wiro Sableng. Akhirnya saya minta Vino memberikan 10 buku pertama.

Setelah saya baca, ternyata seru. Kemudian saya bentuk tim yang isinya lima orang. Tiap Senin masing-masing baca lima buku dan diskusi. Tahapan berikutnya bikin log book untuk mendata semua karakter berikut ciri-ciri fisik mereka, pukulan, jurus, kesaktian, perguruan, hubungan antarkarakter, dan lain sebagainya.

Dari situ saya mulai merasa cerita Wiro Sableng ternyata menarik karena fantasinya luar biasa. Merasa film ini potensial, akhirnya saya mulai menyeriusi niat memproduksi Wiro Sableng. Sayang juga kalau jatuh ke tangan orang lain dan dikerjakan asal-asalan.

Kemudian kami mulai riset, cari tahu pangsa pasarnya. Hasilnya ternyata banyak. Wiro itu punya tiga captive market; pembaca bukunya, penonton film dan sinetronnya, dan anak-anak sekarang yang enggak tahu Wiro Sableng tapi suka dengan film-film superhero.

Pada momen apa LifeLike mengunci proyek ini untuk dibuatkan film?

Setelah melalui proses studi kelayakan tadi, akhir tahun 2015 kami mengunci film ini untuk jadi proyek selanjutnya dari LifeLike.

Tahapan berikutnya adalah menyelesaikan masalah legalitas. Kami harus membeli hak pengadaptasian Wiro Sableng kepada keluarga Bastian Tito. Setelah tahapan itu beres, selanjutnya memikirkan masa depan merek ini, seperti apa model bisnisnya, bujet produksi, mencari investor, dan proses kreatif.

Dari situ kemudian menggandeng Fox International Productions (FIP) bergabung dalam proyek ini?

Menyadari kompleksitas cerita Wiro Sableng, maka pembuatan filmnya harus di atas rata-rata film Indonesia, mulai dari penggunaan anggaran, cerita, dan Computer-generated imagery (CGI).

Saya merasa butuh bantuan dalam arti orang yang lebih ahli di bidangnya. Dan itu harus kerjasama dengan pihak asing. Saya waktu itu mulai membangun koneksi ke banyak negara dengan kemampuan industri film yang sudah lebih maju dari kita, seperti Jepang, Tiongkok, dan Amerika Serikat.

Kalau bicara bujet yang sifatnya relatif, di Indonesia sebenarnya bisa dapat. Hak Kekayaan Intelektual Wiro Sableng sudah sangat terkenal, pasti ada investor yang mau.

Hanya saja saya tidak mau mereka hanya memberikan investasi uang di film ini. Harus ada plus-plusnya atau nilai lebih, mulai dari jaringan, ahli soal struktur cerita, CGI post-production, dan memperluas distribusi pasar film ini nanti.

Kebetulan saya kenal dengan Michael Werner. Dulu dia sempat di Fortissimo Films yang bergerak di bidang agen penjualan film. Tiga tahun lalu saya sudah sempat cerita ketertarikan saya dengan proyek Wiro yang bergenre action fantasy comedy. Ternyata dia juga sangat tertarik.

Awal 2016 pada saat Hong Kong International Film & TV Market (FILMART), Werner mengabari saya kalau sekarang sudah menjadi penasihat FIP. Karena tugasnya mencari beberapa beberapa proyek film di negara-negara Asia Tenggara, saya disuruh menyiapkan presentasi soal Wiro Sableng kepada Thomas Jegeus, President FIP.

Sembari menyiapkan proposal, saya mulai riset tentang Jegues. Ternyata selama menjabat sebagai President FIP beberapa tahun terakhir, dia memberikan lisensi kreatif kepada para sutradara Asia dalam menggarap film. Contohnya Na Hong-jin yang menyutradarai The Wailing (2016).

Menurut saya itu suatu kemewahan. Biasanya studio besar di AS terlalu mendikte, jadinya kita seperti pabrik. Setelah bertemu Jegeus, orangnya sangat menghargai kreativitas mitra kerjanya.

Ini pertama kalinya Lala menulis skenario dalam artinya sebenarnya. Apa alasannya?

Kalau dikatakan menulis skenario untuk pertama kali yang namanya ada dalam credit title memang baru dalam film ini. Alasannya karena saya sudah terlibat sedemikian jauh dengan proyek ini. Ibaratnya saya tahu persis mulai dari buku-bukunya, hingga seperti apa kira-kira penampakan filmnya nanti.

Jadi pada saat draft pertama dituliskan Mas Seno Gumira Ajidarma (penulis naskah film Pendekar Tongkat Emas dan novel silat "Nagabumi", red.), saya juga ikut dalam strukturnya. Saat diskusi saya ikut menulis. Akhirnya saya merasa harus ikut sebagai penulis. Karena semua konsep dan universe-nya Wiro ada di kepala saya.

Film Wiro Sableng melibatkan tiga penulis skenario, selain Seno dan Lala, masuk lagi Tumpal Tampubolon (penulis skenario Tabula Rasa). Bagaimana pembagian kerjanya?

Kalau dalam peraturan penulisan credit title, akan tertulis "Sheila Timothy & Tumpal Tampubolon dan Seno Gumira". Artinya saya bertandem dengan Tumpal menulis naskah, Seno sendirian pada tahapan awal.

Ketika kami tawari, Mas Seno sangat tertarik ikutan karena menurut beliau Wiro Sableng adalah tokoh yang punya keunikan di antara banyak tokoh pendekar fantasi dalam ranah budaya populer Indonesia.

Progres proyek Wiro Sableng sekarang?

Sejak tahun lalu sebenarnya kami sudah mulai mengerjakan persiapan. Hanya belum full team. Mulai Februari 2017 semua departemen turun gunung, ada yang audisi mencari pemain, merinci naskah, mendesain produksi, hingga yang bertugas menciptakan adegan laga. Angga Sasongko sebagai sutradara juga mulai merinci banyak hal. Setiap departemen bersinergi.

Soal jajaran pemain utama, apakah semua sudah aman?

Sejauh ini sudah. Dan kami menganggap semua pemain yang terlibat punya peran penting, termasuk tokoh ibu dan bapaknya (Wiro). Ha-ha-ha.

Sheila Timothy tidak ingin menggandeng investor asing yang hanya bisa memberikan sokongan dana, tapi juga harus bentuk dukungan lain.
Sheila Timothy tidak ingin menggandeng investor asing yang hanya bisa memberikan sokongan dana, tapi juga harus bentuk dukungan lain.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Info eksklusif apa lagi yang bisa Lala bagikan terkait pembuatan film Wiro Sableng?

Soal tipografi angka 212 deh yang sekarang lebih lancip dengan angka "2" pertama dibuat terbalik sehingga saling berhadapan dengan angka "2" kedua yang mengapit angka "1". Alasannya karena secara logika, selain di dada, simbol itu kan ada di telapak tangan kanannya Wiro. Jadi biar setiap dia menghantam penjahat dengan tangannya itu, bekas tanda 212 tidak kelihatan terbalik.

Selain itu, Wiro Sableng versi kami belum pernah ada di sejarah sinema Indonesia dalam hal adegan laga.

Wiro itu bergenre fantasi. Otomatis adegan perkelahiannya akan mengikuti versi novel yang kita tahu sangat spektakuler.

Kalau dari hasil yang saya pelajari, banyak orang belum puas dengan apa yang tersajikan oleh versi sinetron. Era pertengahan 90-an saat sinetron itu diproduksi penerapan teknologinya memang belum terlalu mumpuni.

Yang kita buat sekarang, semua fighting scene adalah kombinasi antara body combat jarak dekat, tapi efek visualnya Indonesia banget.

Seperti apa visual efek adegan laga yang Indonesia banget itu?

Susah untuk saya deskripsikan. Harus nonton filmnya nanti. Tapi kira-kira seperti nonton film Crouching Tiger, Hidden Dragon. Film itu kan banyak adegan pendekar yang berkelahi sambil terbang-terbang, tapi dari gestur yang gemulai mirip wushu sangat menggambarkan Tiongkok. Pun trilogi film Rurouni Kenshin. Itu adegan perkelahiannya Jepang banget.

Bukan hanya penerapan visual efek, desain produksi juga mengakar pada sejarah Indonesia. Hanya akan kami sesuaikan dengan era sekarang. Tidak plek-ketiplek seperti Tutur Tinular atau film-film Wiro Sableng terdahulu. Enggak kayak begitu.

Bagaimana dengan penentuan setting cerita?

Ini juga eksklusif buat Beritagar nih. Setelah baca buku-bukunya Wiro Sableng, saya sebagai kreator cerita memutuskan untuk mengambil setting cerita pada abad ke-16. Tujuannya agar bisa menjadi benang merah dari semesta Wiro Sableng baru yang kami rancang selama kurang lebih setahun. Selain itu untuk memudahkan setiap departemen dalam bekerja.

Wiro Sableng ibarat Warkop DKI versi silat. Sudah jadi milik masyarakat Indonesia, terutama kalangan menengah ke bawah. Ceritanya, terutama unsur komedinya, sengaja dibuat ringan agar mudah dikunyah kalangan penonton tadi. Apakah versi yang baru ini akan setia pada pola tersebut?

Saya sih enggak setuju kalau Wiro Sableng dikatakan hanya konsumsi kalangan menengah ke bawah. Berdasarkan hasil riset kecil-kecilan kami, Wiro disukai dan dicintai bukan hanya sama golongan menengah ke bawah kok.

Mereka yang dulu baca bukunya Wiro, sekarang sudah berada di posisi kelas atas alias golongan A. Jadi, Wiro itu bisa dinikmati semua golongan.

Kenapa Wiro disukai? Bukan karena hanya gaya bercandanya, tapi karena dia tipikal The Boy Next Door. Dia sering mentertawakan dirinya sendiri ketika shit happens, dia juga bisa kalah tidak seperti Superman yang begitu superior misalnya, tapi karena kegigihannya dia selalu bisa mewujudkan cita-citanya.

Sifat-sifat itu kayak orang-orang kita kebanyakan dan menjadikan dia pahlawan di hati para penggemarnya.

Hal-hal seperti itu yang tidak akan kita temukan dalam karakter superhero lain. Perbedaan lainnya, saat kami mulai membangun ceritanya bersama tim dan juga Angga, pada saat berantem, dia enggak cuma melulu berantem, tapi ada cerita dan dramanya.

Jadi pada saat berantem pun dia punya karakter. Film action yang bagus itu punya drama saat adegan perkelahiannya. Dalam film ini, adegan action mencapai 60 persen.

Apa harapan Lala di Hari Film Nasional tahun ini?

Saya mengharapkan supaya kita punya lebih banyak ahli di bidangnya masing-masing, seperti penulis skenario dan sutradara andal, sinematografer dengan tim dan peralatan yang sama canggihnya, kru profesional yang bukan hanya bekerja berdasarkan trial and error tapi sudah tahu persis tugasnya, pascaproduksi, dan punya sistem yang jelas.

Bagaimana dengan kehadiran distributor film-film nasional yang akan memudahkan kerja produser?

Saat ini kita tidak bisa memaksakan distributor harus hadir sekarang. Distributor film akan hadir secara natural jika industrinya sudah semakin maju.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.