Keterangan Gambar : Susi Susanti berpose depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di sebuah ruko miliknya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis sore (15/12/2016). © Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo

Susi ingin memberantas pencurian umur mulai dari akarnya

Sepasang mata Susi Susanti fokus memandang shuttlecock di tangan kanannya, seperti gaya saat servis. Ia bersandar ke dinding, kemudian berpose di depan kamera. "Shuttlecock-nya menghadap mana?," tanya Susi kepada fotografer. Cekrek!.

Gayanya memandang shuttlecock ketika servis itu memang ikonik. Bahkan pada 1993 cara servis Susi diabadikan fotografer senior Belanda Hans Heus.

Masih melekat di memori orang bagaimana Susi memukul shuttlecock sampai garis belakang--yang memaksa lawan melakukan reli panjang yang jadi kesukaannya.

Gaya servis itu yang turut mengantarnya juara di berbagai turnamen dunia, termasuk emas tunggal putri Olimpiade Barcelona.

"Servis itu harus meyakinkan," ujarnya kepada Fajar WH, Heru Triyono, Sorta Tobing dan Wisnu Agung saat wawancara di sebuah ruko miliknya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis sore (15/12/2016).

Susi memang masih dianggap ratu bulu tangkis Tanah Air. Prestasinya sulit disamai junior-juniornya. Begitu juga prestasinya di sektor bisnis--yang ternyata cukup moncer. "Saya masih belajar bisnis kok he-he," kata perempuan berusia 45 ini.

Ruko empat lantai tempat kami bertemu merupakan showroom atau ruang pamer bisnis yang dirintisnya: raket ASTEC (berasal dari nama Alan-Susi Technology). Bisnis lain Susi adalah pijat olahraga dan sekolah bulu tangkis.

Kini bisnisnya terus berkembang. Ia mengaku menekuninya dengan hasrat, seperti hasratnya pada bulu tangkis. "Bagaimanapun olahraga ini membesarkan nama saya," kata Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PBSI yang baru terpilih tersebut.

Masuknya Susi sebagai Kabid Binpres sebenarnya istimewa. Pasalnya ia menolak tiap permintaan untuk kembali ke PBSI, apakah sebagai pemain, pelatih atau pejabatnya--saat sudah memutuskan pensiun. Alasannya klise: fokus bisnis dan keluarga.

Tapi permintaan Wiranto yang kini menjadi Ketua Umum PBSI kepadanya tak bisa ditolak. "Bantulah merah putih," kata Susi mengutip rayuan Wiranto sebelum ia menyanggupi.

Datangnya Susi ke PBSI memberi harapan baru di tengah terbenamnya prestasi pemain putri. Ia berjanji akan menyusun secara objektif komposisi pelatih dan pemain yang akan menghuni Pelatnas Cipayung. "Asal prestasi bagus maka akan dipertimbangkan," kata dia yang mulai aktif bekerja Januari tahun depan.

Selama satu jam Susi menjawab semua pertanyaan kami tentang rencananya memperbaiki sektor tunggal, transformasi pemain dulu dan sekarang, serta pembinaan bulu tangkis ke depan. Berikut perbincangannya:

Susi Susanti berpose depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di sebuah ruko miliknya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara,  Kamis sore (15/12/2016).
Susi Susanti berpose depan kamera usai wawancara dengan Beritagar.id di sebuah ruko miliknya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis sore (15/12/2016).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Bagaimana ceritanya Anda bisa terpilih menggantikan Rexy Mainaky?
Saya tidak mau dibilang menggantikan. Bahasanya kurang pas, karena kita ini satu keluarga yang sama-sama ingin memperbaiki bulu tangkis. Alasan saya terpilih ya silakan tanya Pak Wiranto (Ketua Umum PBSI).

Apakah sosok Wiranto memengaruhi Anda yang akhirnya menerima tawaran menjadi Kabid Binpres? Karena sebelum-sebelumnya Anda menolak masuk kepengurusan PBSI...
Dulu menolak disebabkan status saya sebagai perempuan dengan tiga anak, ditambah bisnis juga. Kalau sekarang kan anak-anak sudah besar, jadi sudah bisa ditinggalkan. Tinggal anak terakhir yang masih SMP di Indonesia. Sedang kakak-kakaknya kuliah di Australia.

Sebelum masuk kepengurusan PBSI ini Anda sudah mengenal Wiranto secara personal?
Enggak juga. Sudah lama tidak berkomunikasi. Bapak kan sibuk ya. Tapi ketika jadi Panglima TNI di zaman Pak Harto dia datang lho ke pernikahan saya.

Anda menilai Wiranto serius terhadap bulu tangkis?
Saya rasa iya. Buktinya mundur dari partai. Dia pun beberapa kali menyempatkan datang ke pengurus cabang PBSI. Menurut Bapak, PBSI itu tidak condong ke warna merah atau putih, tapi untuk merah putih. Bagi siapapun yang masuk, dedikasinya adalah untuk negara.

Wiranto memang punya pengalaman memimpin organisasi taekwondo dan karate, tapi sosoknya kan jarang muncul di dunia bulu tangkis?
Eh jangan salah. Dia mainnya itu sama Pak Rudy Hartono lho. Jadi lumayan mainnya. Malahan partner bermainnya juga adalah Sultan Brunei (Hassanal Bolkiah). Ketika saya masih diundang Sultan main di Istananya, Sultan mengatakan sering main bulu tangkis sama Pak Wiranto.

Apa pesan Wiranto untuk Kabid Binpres yang baru?
Teruskan yang baik dan perbaiki yang kurang, plus regenerasi. Kami akan buat sistem regenerasi yang berkesinambungan. Pelatnas Pratama dihidupkan lagi. Fokusnya di situ. Agar pelapis siap menerima tongkat estafet dari para senior.

Selama ini tidak ada perhatian terhadap Pelatnas Pratama?
Prinsipnya harus lebih fokus dan keras. Kita sedang mengejar ketertinggalan dari negara lain. Kalau lebih diperhatikan dan dibina, kemudian dilatih lebih ekstra, maka mempercepat regenerasi untuk menggantikan kakak-kakaknya, terlebih nomor putri.

Persoalan regenerasi di sektor putri kan sudah lama terjadi...
Maka itu. Sejak zaman saya bibit di sektor putri memang susah ketimbang putra. Tapi saat itu Indonesia memiliki Yuliani Santosa, Yuni Kartika dan Mia Audina. Bahkan ketika itu ada tujuh pemain yang memiliki kemampuan seimbang dengan Mia.

Masalahnya, karena Mia dianggap potensial, tujuh pemain yang seimbang dengannya tadi dikeluarkan dari Pelatnas. Maksudnya agar fokus pembinaannya. Tapi enggak tahunya Mia dibawa suaminya ke Belanda. Terjadi lah kekosongan satu generasi.

Berat dong mengejar ketertinggalan satu generasi itu?
Semua tugas pasti berat. Tapi tentunya dengan kemauan kuat ditambah dedikasi dan niat baik pasti bisa.

Melihat situasi perbulutangkisan ini Anda tidak gemas dan ingin turun lagi ke lapangan?
Ha-ha enggak. Dulu pas PBSI dipimpin Pak Sutiyoso saya pernah disuruh main lagi. Saya enggak mau. Tapi pas sparring (latih tanding) dengan (Adriyanti) Firdasari dan Maria Kristin saya malah menang. Makanya disuruh main Pak Yos. Ya mungkin yang muda tegang lawan saya. Masa kalah lawan emak-emak. Saya juga tahu diri, cuma bisa setengah set mainnya.

Lawan Anda saja kalah. Yang jadi pertanyaan, letak masalah sektor putri ini ada pada atlet atau pelatihnya?
Banyak faktor. Kalau dari segi atlet, tampaknya mereka itu kurang gigih. Belum main sudah merasa kalah. Bagaimana mau menang. Padahal teknik pemain putri kita bagus.

Coba lihat Lindaweni Fanetri. Dia bisa lho sampai semifinal kejuaraan dunia. Bahkan pernah mengalahkan dua pebulu tangkis terbaik dunia asal Tiongkok, Wang Yihan dan Li Xuerui. Tapi masih belum stabil. Terkadang mengejutkan, tapi terkadang juga terkejut sama dirinya sendiri.

"Badminton itu permainan otak dan feeling. Feeling bagus muncul dari disiplin si atlet mencatat kelemahan dan kelebihan sendiri, serta lawannya"

Susi Susanti

Apakah atlet kesulitan menerapkan strategi pelatih?
Ketika di lapangan yang menentukan adalah pemain, meski sebelumnya ada strategi dari pelatih. Tapi atlet sekarang terkadang bingung mau main dengan strategi apa. Padahal keputusan di lapangan itu diambil dalam hitungan detik--agar bisa antisipasi permainan lawan.

Ketika ditanya tadi main bagaimana? Pemain jawab enggak tahu. Mereka bilang pokoknya ada bola pukul saja. Padahal badminton itu permainan otak dan feeling. Feeling bagus muncul dari disiplin si atlet mencatat kelemahan dan kelebihan sendiri, serta lawannya. Kalau enggak rajin mencatat dan belajar, ya susah.

Artinya disiplin dari si atlet sendiri juga jadi persoalan?
Harus ada pendampingan. Harus. Memang sekarang zamannya serba mudah dengan adanya teknologi. Sehingga adik-adik maunya serba gampang.

Namun ada juga atlet yang latihannya bagus tapi pas bertanding tidak maksimal, pendapat Anda?
Teorinya itu orang bisa karena terbiasa. Kalau pas latihan bagus tapi pas tanding takut kan ada peran pelatih di sana. Kasih motivasi saja dan sebenarnya bisa. Ingat ketika Tim Uber 2008 tidak dianggap? Waktu itu saya memberi motivasi ke para pemain meski mereka diremehkan.

Faktanya justru Tim Uber yang ke final. Tim Thomas yang ditargetkan juara justru kalah di semi final.

Ada tidak bibit pemain putri saat ini yang memiliki teknik dan mental yang sama dengan Anda dulu?
Belum kelihatan ya. Yang agak mirip sih sebetulnya Fitriani. Tapi latihannya harus ekstra nekad agar kaki tangannya lincah dan kuat.

Akan ada perubahan kriteria untuk pemain-pemain yang akan dipanggil Pelatnas nanti?
Sepertinya yang masuk harus di bawah usia 21. Di level Pratama ya usia 15-17, agar terjadi penyegaran pemain. Proses regenerasi penting agar bisa terus melapis senior-seniornya yang sudah jadi.

Sektor mana yang regenerasinya sudah bagus?
Yang pasti sih ganda campuran. Banyak banget pelapisnya. Ganda putra juga lumayan. Di nomor ganda prestasinya sudah terbukti. Tapi saya juga berharap di sektor lainnya pun terjadi hal sama, termasuk sektor putri.

Mungkin Anda dipilih PBSI untuk memperbaiki sektor putri ini?
Mungkin juga ya. Tapi prioritas saya semua sektor. Ada yang belum maksimal juga. Kejuaraan untuk pemain saat ini begitu banyak. Jadi pemain yang di Pelatnas harus siap dan kerja keras dalam berlatih, serta hidup sebagai pemain profesional. Itu yang dituntut.

Apakah tekanan atau tuntutan dari pengurus PBSI kepada atlet di zaman Anda dengan yang sekarang berbeda?
Agak berbeda ya. Dulu juara dua saja dianggap gagal total. Jadi pesan dari pengurus kepada saya itu bukan kamu menang ya. Tapi kamu harus menang ya he-he.

Tapi sekarang persaingan lebih berat, kekuatan lebih merata, termasuk meningkatnya kemampuan atlet-atlet negara Eropa...
Bisa jadi begitu. Jadi masuk final saja dibilang bagus. Ya mungkin tekanan yang sama dengan yang saya dapatkan dulu berada di pundak Tontowi Ahmad (Owi) dan Liliyana Natsir (Butet) saat ini.

Tapi yang muda-muda jangan terlena. Pelan-pelan beban itu akan jadi tanggung jawab mereka. Artinya mereka harus siap ketika akan masuk ke jajaran elit dunia.

Jika tahu betul persoalan bulu tangkis kenapa Anda tidak menyumbang saran dari dulu?
Saya kan sebelumnya staf ahli di PBSI, tapi tidak masuk organik. Tugas saya kasih masukan ke Binpres dan ketua. Tentu yang ambil keputusan atau eksekusi bukan saya.

Tapi ketika posisi eksekusi sekarang ini di tangan saya, pusing juga ha-ha. Tapi saya optimis bisa jika semuanya dilakukan sungguh-sungguh.

Waktu jadi staf ahli banyak saran-saran Anda yang dilaksanakan Binpres atau ketua?
Mmmh begini ya. Masukan itu kan dari banyak orang. Mungkin ada yang diterima dan ada juga yang enggak.

Susi Susanti saat wawancara dengan Beritagar.id di sebuah ruko miliknya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara,  Kamis sore (15/12/2016).
Susi Susanti saat wawancara dengan Beritagar.id di sebuah ruko miliknya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis sore (15/12/2016).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Memasuki 2017 apa target penting PBSI yang akan diincar?
Tentunya prestasi. Yang paling dekat adalah kejuaraan All England dan Sudirman Cup.

Targetnya juara?
Kita tidak muluk-muluk ingin juara, karena tahu kapasitas pemain. Saya bukan dewa yang langsung bimsalabim dan juara. Amin sih ya. Tapi paling tidak ada peningkatan berarti yang nantinya jadi bahan evaluasi.

Saya ingin ada semangat team work dari pengurus, pelatih dan pemain untuk mengembalikan kejayaan bulu tangkis Indonesia.

Apakah sudah menyusun program semacam blue print untuk mewujudkan target-target yang ingin Anda capai?
Saya baru aktif awal tahun nanti. Sekarang masih masa transisi. Masa ini diisi dengan berbagai rapat dan semacamnya. Sekarang, pemain dan pelatih dipulangkan dulu, baru kemudian ada pemanggilan kembali.

Susunan komposisi pelatih dan pemain sedang dibahas?
Kan baru penyusunan pengurus. Jedanya enggak lama kok. Intinya kita tidak akan merugikan pelatih dan juga pemain. Pemanggilan akan dilakukan dalam waktu dekat.

Komposisi yang lama tidak akan dipakai lagi?
Bukan enggak dipakai istilahnya, tapi akan ada evaluasi. Yang bagus dipertahankan dan yang kurang dipertimbangkan.

Saat ini kami masih membahas kuota dulu. Prinsipnya yang berprestasi dan berbakat akan diambil. Yang penting lagi adalah keabsahan umur.

Maksudnya...
Masih ada praktik pencurian umur lho. Jadi umur si pemain dibuat lebih muda agar bisa juara di kejuaraan kelompok umur di bawahnya. Aduh. Ya otomatis kesempatan masuk Pelatnasnya lebih besar. Penyimpangan ini tidak bagus buat pembinaan.

Praktik itu masih ada ya. Biasanya selisih berapa tahun mereka mencuri umurnya?
Banyak banget praktik itu. Mencurinya pun tidak tanggung-tanggung. Bisa tiga tahun sampai empat tahun. Bagaimana mau menang anak usia 10 tahun melawan 14 tahun.

Yang mencurangi itu oknum pengurus atau orang tua si pemain?
Orang tuanya. Jadi akta lahirnya diubah. Modusnya begitu.

Akan ada sanksi buat mereka?
Saya akan suruh mengaku. Kalau mau akan dipertimbangkan, tapi kalau enggak ya silakan keluar.

Masa anak 10 tahun sudah berkumis. Sebetulnya orang tua harus pikir panjang. Tujuannya itu juara dunia bukan juara kelompok umur saja. Percuma kalau mencuri karena akan terseleksi sendiri oleh alam.

Artinya pembinaan dari hulu sampai hilir akan ditata ulang semuanya?
Perbaikan dilakukan bukan cuma di Pelatnas saja. Yang penting juga pembinaan di daerah dan klub. Saya akan buat standardisasi program kepelatihan yang berkelanjutan. Dari mulai usia dini, anak-anak, pemula, remaja dan taruna.

Trennya itu seperti piramida. Waktu kecil bibitnya banyak tapi pas memasuki usia remaja bibit itu beberapa hilang. Sayang kalau ternyata bagus. Jadi harus dipantau terus, termasuk pemain yang di luar Jawa.

Butuh berapa lama bulu tangkis Indonesia bisa bangkit?
Tidak bisa instan. Ya dua atau tiga tahun ke depan saya berharap ada perbaikan dan bisa menelurkan juara-juara baru.

Negara mana saat ini yang perlu diwaspadai Indonesia?
Sekarang peta kekuatan berubah dan semakin merata. Cina sudah tidak dominan lagi. Saat ini muncul Spanyol, kemudian Thailand, juga Jepang dan India. Jepang itu kecil-kecil tapi semangat tandingnya luar biasa.

Kalau tidak ada perubahan juga di Indonesia apakah Anda akan melirik pelatih asing?
Bukannya saya idealis, tapi pelatih Indonesia itu mutunya baik. Buktinya pelatih kita itu banyak diminati negara lain.

Dari kawan-kawan juga saya dengar kalau pelatih Indonesia dikenal all out dalam bekerja. Beda dengan pelatih asing, yang kalau programnya tidak jalan ya sudah ditinggalkan.

Tapi ada keinginan untuk mencoba pelatih asing?
Kuncinya mesti jeli lihat pelatih. Saya dulu ditangani oleh Ibu Liang Chiu Sia, dari Cina. Tapi sekarang sudah warga negara Indonesia. Bagus banget, dan dia yang paling lama melatih saya.

Intinya saya mempersilakan pelatih manapun mengirim biodata kepada saya. Jadi saya bisa lihat siapa pemain yang pernah di bawah asuhannya dan apa saja prestasinya.

Rexy Mainaky menjadi kepala pelatih di Thailand, apakah itu jadi ancaman untuk Indonesia?
Kalau bisa melatih Indonesia sebenarnya lebih bagus dan saya akan senang sekali. Tapi kalau tawaran di luar lebih menarik ya hak masing-masing pelatih dong.

Tidak ada hubungannya dengan persoalan nasionalisme. Kalau di sini tidak memenuhi apa yang diinginkan dan enggak bisa deal ya enggak apa-apa banget.

Memangnya pelatih itu gajinya besar sekali ya...
Ha-ha. Tergantung. Kalau prestasinya oke tentu penghasilannya juga akan mengikuti. Tapi budget kami masuk enggak buat bayar. Kalau di luar memang bayarannya dolar, namun kan harus bayar asuransi, pajak, atau tempat tinggal.

Oh iya, kenapa tidak mencoba menjadikan anak-anak Anda jadi pemain bulu tangkis?
Bakat sih ada. Tapi fighting spirit-nya enggak seperti saya. Mau tanding suka kepanasan, inginnya lapangan yang pakai AC, duh ha-ha.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.