Wregas Bhanuteja, sutradara film Prenjak, yang terpilih sebagai film pendek terbaik di Semaine de la Critique 2016, Cannes--berpose untuk Beritagar.id disela wawancara di Kinosaurus,  Jalan Kemang Raya Nomor 8B, Jakarta Selatan, Jumat (27/5/2016).
Wregas Bhanuteja, sutradara film Prenjak, yang terpilih sebagai film pendek terbaik di Semaine de la Critique 2016, Cannes--berpose untuk Beritagar.id disela wawancara di Kinosaurus, Jalan Kemang Raya Nomor 8B, Jakarta Selatan, Jumat (27/5/2016).

Sutradara Wregas Bhanuteja: Ketelanjangan bukanlah sensasi

Penuturan cerita film melalui gaya realis menurut Wregas adalah menyajikan visual dan suara sesuai kenyataan, termasuk menampilkan gambar kelamin dalam film.

Wregas Bhanuteja menghela napas sebelum akhirnya berdiri dan berjalan ke atas panggung. Ia bingung mau berkata apa karena tak menyangka ketika Prenjak, film buatannya, diumumkan sebagai pemenang di Festival Film Cannes 2016. Di kepalanya tersimpan tanya. "Apa benar ya gue menang?," gumamnya kala itu.

Yang jadi masalah, Wregas tak menyiapkan pidato kemenangan. Justru menyiapkan kata-kata maaf untuk teman-teman di Indonesia karena menduga bakal kalah.

Untungnya pidato berjalan lancar. Di momen itu ia menyampaikan bahwa kemenangannya tersebut terkait dengan tahun lahir dia dan teman-temannya pada tahun monyet (1992).

"Tahun ini adalah tahun keberuntungan kami, yang juga merupakan tahun monyet," ujarnya disambut tepuk tangan penonton.

Pencapaian pria berusia 23 ini jadi yang pertama dalam sejarah keikutsertaan sineas Indonesia di La Semaine de La Critique. Pekan kritikus adalah salah satu festival independen terpenting yang diselenggarakan berbarengan dengan Festival Film Cannes pada setiap Mei.

Film Indonesia yang pernah masuk nominasi di situ cuma Tjut Nja' Dhien (Eros Djarot, 1989) dan Fox Exploits Tigers Might (Lucky Kuswandy, 2014).

Sebenarnya, Wregas bukanlah anak kemarin sore di dunia film. Ia telah terlibat di beberapa film layar lebar, seperti Sokola Rimba dan Ada Apa Dengan Cinta 2.

Film sepanjang 12 menit (Prenjak) itu adalah film ketiga dia yang berlaga di festival internasional. Sebelumnya ada Lembusura di Festival Film Berlin 2015 dan Floating Chopin di Hong Kong Film Festival 2016.

Wregas, lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), membuat film pendek pertamanya ketika masih duduk di kelas 12 di Stella Duce 1 Dagen, Yogyakarta. Judulnya Dagen Van Java, di mana ia berakting sebagai bendahara kelas yang korup.

Pertama kali ia tertarik dengan film adalah dari serial anime Gundam, yang pas dia kecil disiarkan di saluran televisi Indosiar. Waktu itu Wregas mengaku tergila-gila.

Saking terobsesinya dia mengoleksi belasan Gundam di rak dalam kamarnya. "Cita-cita gue itu bukan sutradara, tapi menjadi pembuat robot Gundam," katanya.

Baginya Gundam adalah film yang menawarkan tingkat imajinasi serta unsur fantasi keren. Dari situ Wregas memaknai bahwa ide kreatif macam apapun bisa diterima dan aplikasikan dalam film.

"Film itu menerjemahkan imajinasi ke dalam realita," katanya saat ditemui Heru Triyono, Andi Baso Djaya dan fotografer Jefrie Aries di Kinosaurus, Jalan Kemang Raya Nomor 8B, Jakarta Selatan, Jumat (27/5/2016).

Wajahnya tampak merah dan kantung matanya gelap menggelantung di antara bola mata yang membentuk ceruk. Wregas mengaku masih jetlag karena baru tiba dari Prancis pada Jumat pagi--kemudian langsung mengisi acara di kawasan Senayan, lalu sorenya di Kemang.

Sambil sesekali menyeruput secangkir kopi hitam, ia menerangkan perjalanannya sebagai pembuat film, proses kreatif dan ide-ide gaibnya selama satu jam kepada kami. Simak wawancaranya:

Wregas Bhanuteja, sutradara film Prenjak, yang terpilih sebagai film pendek terbaik di Semaine de la Critique 2016, Cannes, berpose untuk Beritagar.id disela wawancara di Kinosaurus,  Jalan Kemang Raya Nomor 8B, Jakarta Selatan, Jumat (27/5/2016).
Wregas Bhanuteja, sutradara film Prenjak, yang terpilih sebagai film pendek terbaik di Semaine de la Critique 2016, Cannes, berpose untuk Beritagar.id disela wawancara di Kinosaurus, Jalan Kemang Raya Nomor 8B, Jakarta Selatan, Jumat (27/5/2016). | Jefri Aries untuk Beritagar.id

Selamat! Apakah Anda sebelumnya membayangkan film Prenjak bakal diapresiasi sedemikian besar di Cannes?
Sama sekali tidak. Bahkan gue enggak menyiapkan pidato kemenangan. Justru menyiapkan kata-kata maaf untuk teman-teman. Bagi gue menjadi finalis dari 1500 judul film sedunia sudah lebih dari cukup.

Ekspektasi gue juga tidak tinggi mengingat proses pembuatan Prenjak hanya dua pekan dengan segala keterbatasan. Sampai soal kamera pun pinjam dari ayah salah satu kru. Modalnya hanya Rp3 juta.

Kemenangan Anda ini jadi ukuran bahwa film Indonesia patut diperhitungkan di komunitas film internasional?
Sudah pasti. Cannes adalah tujuan gue banget. Semua filmmaker pasti memimpikannya. Kerjaan gue pas kuliah dulu adalah membuka Youtube kemudian mengetik segala hal tentang Cannes.

Gue justru membayangkan di usia 30 baru bisa ke sana. Tapi jalan hidup berkata lain.

Menurut Anda mengapa juri di festival film itu kepincut dengan Prenjak?
Yang gue dengar juri melihat Prenjak memiliki cerita sederhana tapi kuat. Di awal film, gue lihat sendiri mereka (juri) tersenyum melihat perempuan jual sebatang korek Rp10 ribu. Imbalannya pembeli dapat melihat organ intimnya dengan korek tersebut.

Mereka tak kuasa menahan haru setelah melihat pesan di akhir filmnya. Yang jelas, para juri ternyata lebih menilai ke cerita ketimbang kualitas gambar.

Dari mana acuan Anda untuk merekontruksi cerita di film tersebut?
Itu berdasarkan cerita teman sekolah dasar gue di Yogyakarta dua tahun lalu. Dahulu, diceritakan teman gue itu, di alun-alun Yogyakarta ada penjual wedang ronde yang berjualan sebatang korek api seharga Rp1000.

Ternyata mahalnya sebatang korek itu karena si penjual memperlihatkan kemaluannya ke si pembeli di kolong meja.

Bagaimana Anda mendalami karakter pemeran dan cerita dalam film itu jika tidak langsung mengalami?
Melihat kelamin dengan korek api adalah sebuah fenomena. Kisah itu memang ada, dan gue menangkapnya. Ya, pengembangan ceritanya gue buat si pekerja rumah makan yang memperlihatkan kelaminnya, bukan penjual wedang ronde.

Bukankah praktek seperti itu sudah tidak ada lagi di alun-alun atau di sudut-sudut kota Yogyakarta lainnya. Tidak relevan lagi dong...
Memang, karena itu gue ambil metode transaksinya saja. Sisanya ya imajinasi--yang terus membayangi gue selama satu setengah tahun setelah diceritakan teman gue itu.

Butuh berapa lama proses penggarapan film itu sampai akhirnya didaftarkan di Cannes?
Penggarapan dilakukan di tengah proses editing film Ada Apa dengan Cinta 2 Februari lalu. Gue lagi sibuk-sibuknya mengedit gambar--sebagai behind the scene director film itu.

Namun ketika libur seminggu karena Mas Riri Riza sedang fixing sound di Bangkok, gue mudik ke Yogyakarta untuk menggarap Prenjak.

Syuting dilakukan hanya dua hari tanpa pencahayaan, sementara latihan dan reading dilakukan seminggu. Yang main adalah teman-teman SMA gue yang baru pertama kali main film seperti Rosa Winenggar dan Yohanes Budyambara. Pengeditan gue lakukan dalam seminggu untuk mengejar pendaftaran Cannes.

Total proses penggarapan ya dua minggu. Tapi pengembangan ceritanya sudah ada selama 1,5 tahun di kepala gue. Jadi bisa cepat rampung.

Para pemeran tidak protes harus memperlihatkan area genitalnya?
Mereka bilang mau, asalkan bukan alat kelamin mereka. Jadi kelamin itu bukan milik pemeran, melainkan model. Di IKJ ada model fotografi telanjang untuk kepentingan kuliah. Ya gue nego saja biar dapat harga murah. Tapi dengan catatan, nama dia (model) tidak tercantum dalam credit title.

Yang jadi pertanyaan publik kenapa Anda harus menunjukan alat genital secara gamblang, padahal banyak cara lain untuk menyampaikan pesan dari sebuah film?
Film ini benar-benar untuk kesenian. Makanya target pertama adalah festival, sama sekali tidak berniat mendistribusikannya secara komersil untuk bioskop ataupun web.

Kalau pun tidak bisa diputar di Indonesia gue juga tidak masalah.

Tapi Anda tentu tahu jika masuk Lembaga Sensor Film (LSF) pasti gambar kelamin itu disunat, apa ini sekedar sensasi...
Film itu harus menampilkan kodrat kehidupan secara realis, sesuai kenyataan. Jika di film tidak memperlihatkan kelamin, maka maknanya menjadi hilang. Karena itu gue memberikan pengalaman sebenarnya bagaimana melihat alat kelamin dengan korek.

Ketelanjangan yang saya tampilkan di film bukanlah cari sensasi, karena alat kelamin juga jadi simbol hubungan perempuan dan laki-laki. Makanya mesti ada.

Sudah siap jika film ini akan menjadi kontroversi dan ditolak pemutarannya di Indonesia?
Begini, jika sebuah tempat menolak film semacam Prenjak artinya tempat itu belum siap. Gue tetap memandang ketelanjangan itu adalah bagian kehidupan manusia, itu realita. Kevulgaran juga diperlihatkan film pendek lain di Cannes, dan tidak disensor.

Anda berkenan jika film itu disensor, misalnya untuk kepentingan pembelajaran film untuk sineas muda?
Gue bersedia, kenapa tidak? Dan sudah ada juga versi Prenjak yang disensor.

Bukankah itu mengurangi makna film--seperti yang Anda katakan tadi...
Pasti ada perbedaan rasa. Tapi jika penonton lebih nyaman disensor, gue enggak ada masalah, apalagi untuk kepentingan bedah film dan diskusi.

Sebenarnya pesan apa sih yang ingin Anda sampaikan dalam film itu?
Gue rasa penonton bisa mendapat kedalaman pesan yang jauh lebih dalam daripada sekedar genital perempuan yang dipelototi pria. Prinsipnya begini, gue akan tetap menemukan penonton gue sendiri meskipun dilarang. khususnya komunitas internasional. Perkara di Indonesia ada yang suka, itu cuma bonus.

Kemenangan di Cannes jadi justifikasi Anda terhadap suara-suara minor itu?
Indonesia tidak bakal siap. Kalau memang tidak mau memutar ya sudah. Gue pun paham karena orientasi gue juga bukan keuntungan. Gue mencintai sinema, mau belajar banyak, sehingga perkara balik modal atau laku adalah nomor dua. Yang terpenting kami berhasil jadi finalis di Cannes.

Bagaimana Anda melihat kualitas para kompetitor di Cannes?
Bagus-bagus semua. Bayangkan dari 1500 film dikerucutkan jadi 10, pasti yang terbaik yang ada di sana. Film mereka itu keren dan gila.

Ada satu film dari Yunani yang gue prediksi akan menang. Ceritanya tentang ikan paus terdampar di pantai. Jujur agak jiper juga dengan film para finalis. Karena keren-keren banget. Pasti biaya pembuatan film mereka mahal-mahal.

Bicara biaya, sebenarnya siapa yang membiayai Anda dan tim berangkat ke Cannes?
Kami dibiayai dua pihak: Kemendikbud dan Catherine Keng (Corporate Secretary Cinema 21)
Ngomong-ngomong kenapa diberi judul Prenjak, kemudian ada tambahan In the Year of Monkey di belakangnya?
Gue menyukai nama itu dan meletakkannya begitu saja sebagai judul film. Soal monyet, ya karena kami semua, aktor dan kru film, rata-rata lahir tahun 1992. Kan itu tahun monyet, dan kebetulan di tahun monyet juga kami menjadi finalis di Cannes.

Apa arti kemenangan di Cannes, yang pertama kalinya mampu diraih oleh sineas Indonesia?
Prestasi di Cannes cambuk buat gue. Enggak butuh lama untuk bereuforia karena membuat film panjang sudah menanti gue. Semoga tahun depan sudah mulai syuting.

Sudah punya ide...
Belum. Mau istirahat dulu, karena aktivitas gue enggak habis-habis usai syuting AADC2, mengedit, cari dana, Cannes, terus pulang dan langsung jumpa pers, kemudian bedah film. Wah butuh seminggu deh istirahat. Yang jelas gue mendapatkan banyak inspirasi dari Cannes.

Memangnya siapa nama-nama besar yang berhasil Anda temui di Cannes?
Beberapa sutradara berpengaruh, seperti dari Spanyol, yaitu Pedro Almodovar Caballero, dari Amerika ada Jim Jarmusch, kemudian sesama Asia: Park Chan-wook, yang berasal dari Korea Selatan.

Seru banget pokoknya di Cannes. Yang menarik, hampir semua orang di Cannes itu membicarakan film--ketika di bus, di jalan atau di kafe. Padahal usia mereka tidak muda lagi.

Ketika Prenjak diputar di Cannes apakah perwakilan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ikut menyaksikan?
Iya, tapi gue tidak banyak berkomunikasi dengan mereka. Lagipula dari segi waktu repot, karena gue banyak kegiatan di sana. Bahkan dengan Joko Anwar sekalipun gue juga minim komunikasi.

Kalau dari orang film sendiri, siapa yang pertama kali menonton Prenjak dan bagaimana penilaian mereka?
Mas Riri Riza dan Mba Mira Lesmana. Keduanya bilang, statement film Prenjak begitu kuat. Paling kuat di antara film-film yang pernah gue buat. Bagaimanapun juga Mas Riri adalah inspirasi gue dengan karyanya: Gie.

Waktu SMP, film Gie sangat gue idolakan banget. Di jaket jins gue bahkan ada bordiran wajahnya Gie. Film itu keren, dari cerita dan akting pemerannya. Memoar lah!.

Bagaimana Anda bisa berkenalan dengan Riri Riza, salah satu sosok penting di perfilman Indonesia...
Hal itu terjadi dari sebuah kebetulan. Saat SMA gue liburan ke Belitong dan bertemu dia.

Sekian lama berselang, gue bertemu lagi di Salihara pada 2013. Kebetulan gue sedang cari tempat magang, dan langsung tembak saja minta kerjaan ke dia ketika itu. Dia akhirnya mau menerima setelah minta contoh film buatan gue sendiri.

Ya sudah, dari situ gue ikut Mas Riri. Awalnya jadi astrada tiga di film Sokola Rimba. Kemudian jadi astrada dua di Nyanyian Musim Hujan. Tapi ketika AADC2 gue dijadikan behind the scene director.

Apa saja ilmu yang didapat dari Riri Riza untuk bekal pembuatan film panjang yang Anda rencanakan itu...
Gue mengambil pelajaran dari Mas Riri bahwa akting itu detail banget. Misalnya soal mata. Geser sedikit saja saat bicara, itu amat mengganggu.

Produksi juga mesti sehat. Tidak harus sampai subuh untuk syuting. Kalau sponsornya mampu kenapa tidak menjaga kualitas kesehatan para kru--meski biaya akan membengkak.

Wregas Bhanuteja, sutradara film Prenjak, yang terpilih sebagai film pendek terbaik di Semaine de la Critique 2016, Cannes, berpose untuk Beritagar.id disela wawancara di Kinosaurus,  Jalan Kemang Raya Nomor 8B, Jakarta Selatan, Jumat (27/5/2016).
Wregas Bhanuteja, sutradara film Prenjak, yang terpilih sebagai film pendek terbaik di Semaine de la Critique 2016, Cannes, berpose untuk Beritagar.id disela wawancara di Kinosaurus, Jalan Kemang Raya Nomor 8B, Jakarta Selatan, Jumat (27/5/2016). | Jefri Aries untuk Beritagar.id

Kapan Anda mulai tertarik untuk menggarap film?
Gue mulai terlibat film pendek ketika duduk di kelas 12 di Stella Duce 1 Dagen, Yogyakarta. Judulnya Dagen Van Java, di mana gue berakting sebagai bendahara kelas yang korup.

Film menjadi pelarian gue karena saat itu gue enggak bisa ngeband, basket atau ikut olimpiade fisika.

Meski jadi aktor, gue justru lebih cerewet dari si sutradara ha-ha. Mungkin karena dulunya gue pernah ikut teater. Jadi kalau adegannya jelek, bakal enggak nyaman.

Jadi peran gue sudah lebih dari si sutradaranya sendiri he-he.

Menjadi sutradara sudah menjadi cita-cita sejak kecil?
Bukan. Cita-cita gue itu jadi pembuat robot Gundam. Waktu SD gue tergila-gila, bahkan saking terobsesinya, gue mengoleksi belasan robot Gundam di rak dalam kamar.

Bagi gue Gundam adalah film yang menawarkan tingkat imajinasi serta unsur fantasi yang keren. Kalau liburan sudah pasti gue merakit robot di dalam kamar. Malas untuk keluar.

Dari ketertarikan tentang film, akhirnya mencoba menggali apa yang menjadi kesenangan gue. Saat SMA gue bergabung dengan kelompok sinematografi yang kala itu baru terbentuk di sekolah.

Sejak SMA itu Anda mulai aktif membuat film pendek?
Benar. Film pertama gue berjudul Muffler, dibuat pada 2008. Menceritakan kegelisahan pria terhadap bisingnya suara knalpot motor yang kerap melewati rumahnya.

Tanpa diduga film ini masuk 8 besar Festival Film Pendek Tawuran. Sampai sekarang sudah lima film pendek yang gue buat, termasuk Prenjak.

Pada 2016 gue dan teman-teman mendirikan Studio Batu, bukan berisi komunitas film saja. Ada juga komunitas seni rupa, musik, serta sastra.

Di dinding ruang komunitas kami tulis tebal-tebal "Cannes", untuk menjadi pemicu kami sebelum mendaftarkan Prenjak ketika itu. Selanjutnya kami bekerja siang malam. Prenjak adalah salah satu hasil perjuangan gue dan teman-teman.

Bagaimana sebenarnya perjuangan sineas muda di Indonesia seperti Anda?
Wah banyak sekali ceritanya. Semasa kuliah gue pernah buat film pendek dengan biaya Rp9 juta. Cukup mahal untuk ukuran gue.

Film tentang reinkarnasi itu berat dan sok seni. Padahal syuting selama tiga bulan, tapi hasilnya malah tidak bagus.

Pelajaran yang gue ambil adalah buatlah film yang sesuai kata hati. Tidak usah film itu berusaha sok seni dan sastra.

Bagaimana menurut Anda apresiasi masyarakat untuk film pendek di Indonesia?
Semakin meningkat. Penonton memiliki tontonan alternatif selain bioskop. Lagipula film pendek punya kekuatan untuk menyampaikan pesan dalam waktu singkat.

Secara umum, tren film pendek di Indonesia sekarang seperti apa...
Lebih beragam, karena semakin luasnya referensi dari berbagai negara. Pembuatannya juga semakin mudah. Dengan keberadaan kamera DSLR membuat biaya produksi murah--namun dengan hasil maksimal. Jadi gue rasa banyak sineas muda berbakat yang akan bermunculan.

Keluarga setuju dengan pemilihan karir Anda sebagai sineas?
Sebenarnya ibu tidak terlalu mengizinkan di awal. Makanya gue perlu pembuktian. Gue rasa setelah berhasil membuat film pendek yang diterima di berbagai festival internasional, orang tua menjadi lebih mendukung.

Lucunya adik gue bingung kok bisa Prenjak yang dinilainya begitu doang bisa menang di Cannes ha-ha-ha. Adik gue itu jurusan kedokteran di Universitas Indonesia. Dia sama sekali tidak suka seni.

Apa yang membuat Anda berpikir masa depan untuk sineas muda itu cerah?
Ini era informasi dan internet. Sebuah film yang unik dapat menjadi populer seketika itu juga karena internet. Jika lo bisa membuat film dengan passion, dan berhasil menyita perhatian, maka lo akan diakui.

Btw nama Anda unik sekali: Wregas Bhanuteja. Apa artinya?
Wregas itu artinya sehat. Mungkin Bapak Ibu ingin gue tumbuh jadi manusia yang selalu sehat. Kalau arti Bhanuteja adalah sinar matahari. Tidak hanya sekedar sinar, tapi sinar yang masuk melalui celah-celah dedaunan.

CinemAsia Film Festival 2017 Amsterdam - Prenjak (In The Year of Monkey) - Official Trailer /CinemAsia Film Festival
BACA JUGA