Toto Muryadi atau lebih dikenal Tarzan saat ditemui di kediamannya bilangan Kampung Makassar, Jakarta Timur, Sabtu pagi (27/7/2019)
Toto Muryadi atau lebih dikenal Tarzan saat ditemui di kediamannya bilangan Kampung Makassar, Jakarta Timur, Sabtu pagi (27/7/2019) Wisnu Agung / Beritagar.id
BINCANG

Tarzan Srimulat: Saya pernah dijebak pakai ekstasi

Ia memberi tahu tentang hari terakhirnya bersama Nunung dan bagaimana ia mempersiapkan diri untuk perangi narkoba.

Dalam beberapa hal, dunia Tarzan sama seperti sebelumnya. Ia masih komedian terkenal, bermain film dan beberapa kali terlibat dalam program komedi di televisi.

Namun, dunia komedi yang menghidupinya itu seperti tak sama lagi. Sedang suram. Apalagi setelah rekannya Tri Retno Prayudati (Nunung) ditangkap karena kedapatan pakai sabu baru-baru ini.

Ditangkapnya Nunung menambah daftar panjang anggota Srimulat yang tertangkap karena narkoba. Sebelumnya, ada Doyok, Tessy, Polo dan Gogon. Hal ini memicu kemarahan Tarzan. “Kamu jangan bilang Srimulat sarang narkoba ya. Saya colok mata kamu,” kata Tarzan.

Ia memang sedang tak nyaman dengan persepsi publik terhadap Srimulat. Dengan suara meninggi, Tarzan mengaku tak terima jika ada yang anggap semua personel Srimulat adalah pemadat.

“Bawa sini orangnya. Aku itu ndak tahu Nunung pakai sabu lho,” ujar pria bernama tulen Toto Muryadi ini kepada Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung saat wawancara di kediamannya bilangan Kampung Makassar, Jakarta Timur, Sabtu pagi (27/7/2019).

Dus. Tarzan memang tampak terpukul. Ada momen ia terus mengerutkan kening saat berbincang. Ia berusaha merenungkan hari terakhirnya bersama Nunung sebulan lalu. "Tapi, ndak ada tanda-tanda dia pakai sabu sih ya,” ujarnya.

Pagi itu, nada bicaranya menyentak, kadang tertawa mendadak, dengan sesekali merapikan rambut belah sampingnya yang mirip rambut Agum Gumelar. Kami membahas soal gaya hidup pelawak dan mengapa ia tak mau jadi pemadat selama-lamanya. Berikut percakapannya:

Toto Muryadi atau lebih dikenal Tarzan saat ditemui di kediamannya bilangan Kampung Makassar, Jakarta Timur, Sabtu pagi (27/7/2019)
Toto Muryadi atau lebih dikenal Tarzan saat ditemui di kediamannya bilangan Kampung Makassar, Jakarta Timur, Sabtu pagi (27/7/2019) | Wisnu Agung /Beritagar.id

Banyak anggota Srimulat terjerat narkoba, termasuk Nunung. Sehingga ada yang menyebut Srimulat itu sarang narkoba...
Yang bilang gitu cari sensasi. Di mana pun ada narkoba. Bukan cuma Srimulat. Misalnya anggota dewan, wartawan atau yang lain, kan juga ada yang kena.

Tapi, mengapa Nunung memakainya menjelang usia paruh baya ya?
Tanya langsung ke dia. Saya saja tidak menyangka.

Apakah tuntutan pekerjaan yang mengharuskan pelawak seperti Nunung memakai narkoba?
Bisa saja. Padahal salah. Wong ada cara lain. Jamu gendongan itu minuman menyehatkan. Mungkin bagi dia ada alasan tertentu.

Kalau bisa saja, artinya memakai narkoba itu hal biasa bagi pelawak atau di grup Srimulat?
Itu sudah dibahas kemarin-kemarin. Memakai narkoba itu urusan perorangan, bukan kelompok.

Kalau saya, kegiatan syuting yang lebih dari jam 10 malam, ya saya tolak. Biar apa? Biar saya tetap terjaga kondisi tubuhnya.

Memangnya ada pelawak yang merasa narkoba itu sebagai kebutuhan untuk meningkatkan stamina?
Yang jelas aku ndak begitu. Aku menjaga stamina dengan lari, paling tidak seminggu sekali. Itu penting dan sekarang aku lagi rutin minum obat prostat. Jadi enggak terpikir memakai narkoba.

Benar gak pandangan kalau pelawak butuh memakai sabu itu biar jadi lucu?
Yang butuh biar jadi lucu siapa? Yang butuh kan yang membutuhkan. Mengerti ndak efek narkoba? Kalau enggak mengerti jangan coba-coba. Aku sih enggak butuh.

Di dunia lawak, mudah ya mendapatkan sabu?
Jangan tanya saya. Tanya yang pernah pakai. Orang yang tawari ke saya belum pernah ada. Kalau wine, aku kadang-kadang pernah. Kalau narkoba, saya belum pernah.

Selama puluhan tahun berkarier di dunia hiburan belum pernah sama sekali ditawari narkoba?
Belum pernah. Tapi tertipu pernah.

Maksudnya ditawari narkoba ternyata bukan atau bagaimana?
Enggak begitu. Ceritanya saya sedang main di kafe. Ketika saya ke toilet, teman saya iseng masukin ekstasi ke minuman saya.

Itu teman baik padahal. Ya saya minum saja karena tidak tahu ada ekstasinya. Pas pulang, saya enggak bisa tidur sehari semalam. Melek terus.

Pas lihat kondisi saya, almarhum Leysus bilang, saya kena ekstasi. Saya dijebak lewat minuman ekstasi itu. Saya cari teman saya itu dan saya marahin.

Tahun berapa itu?
Saya lupa. Pokoknya Leysus masih ngontrak di rumah saya.

Toto Muryadi atau lebih dikenal Tarzan saat ditemui di kediamannya bilangan Kampung Makassar, Jakarta Timur, Sabtu pagi (27/7/2019)
Toto Muryadi atau lebih dikenal Tarzan saat ditemui di kediamannya bilangan Kampung Makassar, Jakarta Timur, Sabtu pagi (27/7/2019) | Wisnu Agung /Beritagar.id

Bagaimana kemudian Anda menghindari jebakan-jebakan seperti itu?
Jaga diri dan pintar-pintar bergaul saja. Cara lain ya masuk Granat (Gerakan Nasional Anti Narkotika).

Karena Anda masuk Granat mungkin pada enggak berani menawari Anda narkoba?
Bukan gak berani. Mungkin sudah tahu saya tidak menggunakan. Sama seperti Kadir. Kita itu bergaul kemana-mana. Nyatanya kita aman-aman saja.

Apakah ada tekanan-tekanan dari teman sejawat untuk mencoba narkoba sebagai bentuk pertemanan?
Saya enggak tahu. Bisa jadi seperti rokok. Yang ndak merokok dikatakan tidak laki-laki. Tapi kan kalau ke saya gak mungkin menawarkan.

Kan saya anggota Granat. Jadi, biasanya saya tahu pas belakangan saja. Saat teman-teman diamankan oleh polisi.

Semua orang di Srimulat sudah menduga Nunung selama ini mengonsumsi narkoba?
Enggak tahu. Soalnya pakai sabunya ndak di depan saya. Siapa mengira juga, Nunung yang gemuk begitu memakai sabu.

Kita pun jarang bertemu. Kecuali waktu di Srimulat dulu—saat manggung di Senayan. Tiap hari kumpul di kontrakan.

Saat Anda membesuk Nunung, dia bicara apa?
Dia minta maaf dan menyadari salah. Kalau sudah begini, baru sedih. Saya kasihan, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Harapan saya, semoga Nunung bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. Itu saja.

Kapan terakhir bertemu Nunung sebelum dia ditangkap?
Saat arisan bulan lalu, setelah Lebaran. Nunung datang. Biasanya jarang datang, tapi tetap transfer uangnya karena arisan itu sekalian halal bihalal.

Dia tertawa, bernyanyi, dan ikutan nyawer. Tidak ada tanda-tanda dia pemakai sabu.

Di mata Anda sosok Nunung itu seperti apa. Lebih banyak ceria atau memang sosok yang emosional?
Nunung itu orangnya ceria. Tidak pernah emosional kepada teman-teman. Dia sangat hormat sama yang lebih tua.

Anda dekat dengannya?
Kita semua dekat. Saya punya kenangan sama dia. Lucu dan menyedihkan.

Yang lucu, Nunung itu pernah sama saya buru-buru mau manggung. Nunung dengan cepat memakai celana model cutbray. Tapi kedua kakinya ternyata masuk dalam satu lubang.

Dia marah-marah dan bilang celananya kesempitan. Padahal dia gak lihat kedua kakinya hanya masuk satu lubang. Ha-ha.

Kemudian cerita yang kedua adalah kita berdua naik Mobil Datsun lama dan mogok di tol. Mesinnya pecah. Syukur tidak meledak.

Sedihnya, saya sama Nunung saling menatap dan tetap dalam mobil sampai gerbang tol dengan diderek. Allahu Akbar. Cerita itu gak bisa saya lupakan.

“Satu-satunya jalan menekan peredaran narkoba adalah tiap PH melakukan tes urine kepada setiap artisnya.”

Tarzan

Kenapa kok kesannya sesama anggota Srimulat tidak saling menjaga dari narkoba?
Jangankan teman. Seorang bapak juga banyak yang tidak tahu anaknya kena narkoba. Itu kan menyedihkan.

Apalagi kita yang sudah jarang bertemu. Dan pas bertemu, tidak terlihat tanda-tanda ada yang pakai narkoba juga.

Doyok atau Polo gak pernah sharing pengalaman kepada teman-teman yang lain agar terhindar narkoba?
Tentu pernah. Kita sama-sama menyadari saja soal ini. Polo juga pernah bilang di acara Kompas, kalau pemakai itu harusnya direhabilitasi.

Kalau dipenjara, malah semakin mudah bagi pencandu memakai kembali. Kecuali bandar ya, yang memang harusnya dipenjara.

Nunung itu sudah mencoba narkoba sekitar 20 tahun lalu. Dia gak cerita kepada Anda?
Pas besuk dia bilang. Pernah mencoba sembuh dengan berobat ke beberapa dokter, walau enggak direhab.

Dia sempat berhenti lama sekali. Tapi begitu syuting sinetron stripping, dia kecapekan. Akhirnya menggunakan lagi.

Bagaimana rasanya sih menjalani rutinitas syuting sinetron stripping itu?
Kalau sekarang saya jam 10 malam sudah harus selesai syuting. Saya batasi. Dulu mungkin enggak, karena masih muda.

Saya pernah membintangi sinetron Manusia Bayangan. Syutingnya malam. Berangkat siang, pulang pagi. Terus begitu.

Ketika itu kadang tidur di mobil. Sewa sopir biar bisa istirahat. Alhamdulillah belum pernah sakit gara-gara stripping. Cuma batuk saja dan darah rendah.

Peredaran narkoba di kalangan selebritas ini tetap marak. Terakhir Jefri Nichol. Kenapa menurut Anda?
Sebenarnya ingin menjawab tapi punya risiko tinggi. Tapi ada satu cara untuk menekannya. Coba saja bikin aturan tes urine.

Jadi setiap PH melakukan tes urine kepada setiap artisnya. Saya ngomong begini sebenarnya takut.

Mustahil dilakukan rumah produksi ya?
Sulit. Karena ini industri. Mohon maaf saya bilang begitu. Maafkan bapak PH. Tapi itu satu-satunya jalan.

Anda merasa beruntung dekat dengan militer dan masuk Granat sehingga terhindar dari narkoba?
Dekat dengan siapa itu ada untungnya. Termasuk dengan wartawan. Saya terkenal bukan karena Tarzan, tapi karena wartawan yang menyiarkan.

Dekat dengan kalangan militer ya saya jadi tahu bahaya narkoba, sehingga tahu diri.

Anda salah satu anggota Srimulat yang masih bertahan hingga sekarang di dunia hiburan. Apa resepnya?
Berkat doa sampean.

Oke. Siapa sosok yang jadi panutan Anda dalam berkomedi?
Pertama adalah Pak Bagio. Dia teladan dalam dunia lawak dan rumah tangga. Kalau pelawak saat ini itu Sule dan Andre. Mereka hebat sekali melakukan improvisasi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR