Keterangan Gambar : Ulus Pirmawan saat berpose di lahan buncis kenya unggulannya di Lembang, Jawa Barat, Selasa (31/10). © Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo

Ketekunan Ulus bertani dan berbagi ilmu membuat Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia, atau FAO, memberi penghargaan ia sebagai Petani Teladan se-Asia-Pasifik.

Ulus Pirmawan, 43 tahun, jelas tahu cara menjamu tamu.

Meski cuma sempat menerima awak Beritagar.id di beranda rumahnya nan sejuk di kawasan Cibodas, Bandung Barat, dia sudi menghamparkan isi lemari makanan ke meja bundar.

"Sok ini dicoba. Singkong asli sini. Organik," katanya kepada Bonardo Maulana, Fajar W.H., dan fotografer Wisnu Agung Prasetyo, Selasa (31/10) sambil mengangsurkan lodong berisi keripik singkong dengan aksen bernyanyi khas bahasa Sunda.

Saat wawancara berlangsung pun, lelaki yang melabeli diri sebagai pengusaha tani itu beberapa kali menunjukkan kehangatan komunal. Tak cuma aktif menyapa orang-orang lewat di muka kediamannya, dia juga tak sungkan membalas panggilan telepon--setelah meminta permisi kepada para tamu.

"Halo. Likum,"
"Wa 'alaikum salam, Pak (Ulus). Nuju di manten, yeuh?"
"Nuju di bumi, Juragan!"
"Aduh, meuni nyantai, yeuh?"
"Nyantai atuh. Beres, kanggo cabe?"
"Iyeu, Pak, tos persiapan naon, Pak, ayeuna?"
"Kanggo cabe abdi oge. Ameng kadieu diantos ayeuna".

Setelah menutup percakapan, Ulus menjelaskan identitas lawan bicara di telepon selulernya. Menurut dia, bukan cuma petani Bandung saja yang acap kali meminta solusi atas masalah tertentu, tapi juga juru tanam dari provinsi lain dan negara tetangga seperti Malaysia dan Timor Leste.

Kemurahan hatinya dalam berbagi pengalaman dan pengetahuan bertani ikut mengangkat kesejahteraan warga Desa Suntenjaya, Lembang, Jawa Barat, sejumlah desa sekitar, dan daerah lain.

"Alhamdulillah di sini mah aman. Jangankan tanaman, kendaraan pun aman. Bahkan habis panen. Kenapa aman? Karena mungkin kesejahteraan masyarakat di sini sudah bagus. Dampak dari mana itu? Ya pertanian," kata pelopor Kelompok Tani Wargi Pangupay tersebut.

Sikap istikamah dalam berbagi itu memantik Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia, atau FAO, untuk memberikan penghargaan kepada Ulus di Thailand pada 16 Oktober. Dia dianggap berhasil memperkenalkan sistem produksi sayur-mayur nan inovatif.

"Dengan hanya berbekal ijazah SD, (Ulus) menjadi contoh gemilang tentang bagaimana inovasi, hasrat, dan ketetapan hati mampu menuai hasil terbaik--bahkan di tangan petani kecil," begitu pernyataan FAO lewat laman resminya.

Sembari menyelipkan kata "Alhamdulillah" di nyaris tiap perkataan, pria beranak tiga itu menjawab pelbagai pertanyaan kami selama lebih dari dua jam. Selain itu, dia pun mengajak kami menyusuri lahan pertanian garapan kelompok tani desanya di lanskap perbukitan nan pastoral.

Ulus Pirmawan ketika berpose untuk Beritagar.id dengan latar depan lahan pertanian garapan kelompok tani desanya di Lembang, Jawa Barat, Selasa (31/10).
Ulus Pirmawan ketika berpose untuk Beritagar.id dengan latar depan lahan pertanian garapan kelompok tani desanya di Lembang, Jawa Barat, Selasa (31/10).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Kenapa mau jadi petani?Orang tua petani. Nanam tomat, buncis, kentang. Dari SD udah tahu tentang cara bertani. Sebenarnya saya punya cita-cita jadi guru agama. Dulu di sini tak ada masjid. Kita berguru dari orang Tasik (-malaya) tentang ilmu agama di rumah. Alhamdulillah, gitu kan?

Lulus SD didaftarkan ke sekolah kursus menjahit. Enam bulan beres. Bahkan di tempat kursus itu diangkat jadi guru dan digaji. Cuma, kecil.

Akhirnya lulus dari situ, bertani lagi.

Rumah yang sekarang ditempati dibeli Rp1,7 juta dari hasil penjualan tomat yang ditanam di tanah orang tua yang luasnya 100 tumbak. (satu tumbak kira-kira 14 meter persegi).

Terus?
1993, menikah. Udah pede. Udah bisa usaha.

Hasil kebun orang tua dan petani lain dijual ke Kramat Jati. Buncis super. Dulu di sini cuma ada satu bandar khusus untuk buncis.

Enggak ada adu harga. Lalu memutuskan untuk mengirim sendiri ke Jakarta.

Langsung begitu?
Sebelumnya, tomat dari sini selalu dikirim ke Cibeureum. Di sana, dikasih tahu, "udah, Kang, langsung aja kirim buncis ke (Pasar Induk) Kramat Jati". Ada itu MG namanya.

Kita ikut ke sana. Pakai kijang panther. Karena pengin tahu. Datang ke sana, modelnya lapak-lapak begitu. Tapi, eh malah di sana dicuekin. Biasanya dikasih minum, tapi malah enggak.

Lalu, main ke lapak sebelah. Los E. Bener-bener ngurusin buncis semua. Ke Pak Emen. (Nama tokonya) PD. EI, Emen dan Injang. Itu nama orang. "Ya udah, kirim aja," kata dia. Dia orang Bandung juga. Ngobrol-ngobrol, ternyata masih ada ikatan saudara.

Besoknya, langsung kirim ke sana. Namanya, buncis antik. Dipasang itu di karung (sebagai label). Waktu itu belum ada HP. Kalau mau tahu harga harus nelepon di Maribaya, tempat pariwisata.

Mereka kasih harga bagus?
Kalau tengkulak di sini belanja Rp600, kita selalu kasih lebih ke petani (di Kramat Jati bisa Rp750). Kita ambil keuntungan Rp150. Belum ongkos kirim, bayar yang kerja.

Tengkulak yang di sini pun akhirnya bangkrut. Enggak kuat nyaingin kita. Petani jadi raja juga akhirnya.

Alhamdulillah. Udah (tengkulak) berhenti, kita masuk ke ekspor. Itu tahun 1995. Supplier ekspor untuk ke Singapura.

Tanamannya apa?
Buncis.

Dari berapa desa?
Barang tiga ton, super, harus mengumpulkan barang 6-7 ton sehari. Petani dari sekecamatan Lembang. Sampai ke Subang belinya. Tiap hari (harus mengumpulkan sebegitu) sampai tahun 2000.

Apa kendala terbesar untuk ekspor?
Petani belum bisa menjaga kontinuitas pengiriman. Banyak yang mengikuti jenis sayuran yang sedang ramai aja.

Kalau di kita tidak, karena tanaman lain buat tanaman seling saja.

Persyaratan ekspor sebenarnya enggak susah. Kualitas kita udah punya standar. kontinuitas bisa diprogramkan. Yang paling sulit yang kita enggak bisa menembus dengan bersaing adalah harga. Kita enggak bisa menekan harga.

Di satu sisi, petani harus untung. Tapi, di sisi lain, biaya pengiriman mahal. Per kilogram paling murah ongkos pengiriman Rp9.800. Pernah saya dikasih Rp7.800. Mungkin karena saya petani biasa.

Yang Kramat Jati ditinggalkan?
Kita kirim ke Kramat Jati yang reject karena yang bagus diambil sama pengusaha ekspor.

Di situ saya belajar. Ngasih arahan ke petani: kalau harga mau tinggi, cara panen harus rapi, jangan ada ulat, yang bengkok dibuang.

Dulu harga Rp4000. Kita bisa kasih ke petani Rp3000. Sekarang harga super flat di Rp8000.

Selain ekspor dan Kramat Jati, ke mana lagi?
Toko Tani Indonesia Center (TTIC). Per hari minimal sekitar Rp9 juta, maksimal Rp15 juta sampai Rp16 juta. Rata-rata di Rp12 juta, per hari.

Lahan pertanian di Desa Suntenjaya, Lembang, Jawa Barat.
Lahan pertanian di Desa Suntenjaya, Lembang, Jawa Barat.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Untuk ekspor masih buncis super?
2010 beralih ke buncis baby. Singapura minta satu ton sehari.

Dulu sebenarnya ada buncis tegak dari Prancis. Masuk 2007. Dikuasai petani besar. Tapi, Alhamdulillah, buncis itu tidak diterima di pasar Singapura karena keras.

Kita juga 2010 diminta coba tanam buncis kenya. Harga benih Rp600 ribu per kilogram. Buyer kita yang bawa. Beli dari Afrika. Padahal yang biasa, Rp10 ribu - Rp15 ribu. Kita beli lima kilogram. Pertumbuhan bagus.

Kita sering diajarkan melakukan pembenihan oleh orang dari Unpad (Universitas Padjadjaran). Mereka bilang bisa (dikembangkan sendiri). Terus dibagikan ke petani. Kemudian, kita bisa jual Rp100 ribu per kilogram kepada anggota. Satu kilogram bisa untuk 50 tumbak.

Masa tanamnya bagaimana?
Masa panen dua bulan. 45 hari waktu tanam sudah bisa dipanen. Orang lain ada yang tujuh hari sudah habis (dipanen).

Kalau di sini, per kilogram benih menghasilkan 70 kilogram. Satu hektare, rata-rata 13 kilogram benih.

Sekali panen per hari dalam satu hektare, 500-700 kilogram. Kalau butuh 1,5 ton, cuma butuh tiga hektare.

Produktivitas tertinggi di 20 hari pertama. Sekitar 10 hari kemudian menurun. Jarak masa tanam 20 hari.

Kenapa pilih buncis?
Karena padat karya. Tiap hari dipanen. Paling lama selang sehari. Kita secara tidak langsung sudah membuka lapangan pekerjaan. Tapi sekarang banyak yang sudah punya lahan. Mereka juga sudah bisa menyesuaikan gimana kemampuan tenaga mereka, untuk berapa kilogram panen.

Sekarang sulit mendapatkan buruh tani karena rata-rata udah jadi pengusaha tani. Jadi juragan semua. Cari 15 orang aja susah banget.

Bisa cerita tentang Kelompok Tani Wargi Pangupay?
Itu di sini. Dulu tahun 2005 terbentuk Kelompok Tani Baby French. Itu ada buat jaga kontinuitas (pengiriman hasil bumi). Bisa memasok sampai dua ton (buncis) baby. Waktu itu juga kita lagi punya teknologi baru, plastik mulsa.

Sekarang ada Baby French, Baby French Farmers Group--itu saya--dan Family Farm.

Tapi, meski satu kampung, tidak saling menjatuhkan. Satu hamparan (lahan), ada yang masuk ke saya, ada yang ke Baby French, ada yang ke Family Farm.

Masing-masing kelompok ada buyer ekspornya sendiri. Sehari 1,5 ton. Negara tujuan sama: Singapura.

Apa enggak bentrok?
Saya yang mengatur pasarnya.

Harga untuk ekspor bagaimana?
Baby di tingkat petani bisa Rp13 ribu. Kalau dijual di lokal lebih tinggi, bisa Rp17 ribu-Rp20 ribu. Tapi, penyerapannya enggak banyak.

Kapan Baby French Farmers Group terbentuk?
2010, itu setelah ada permasalahan keluarga dan saya pecah. Tahun itu juga bikin Baby French Farmers Group.

Padahal, dengan istri pertama itu, kita sudah punya pick-up lima. Punya Strada Triton setelah jual Grand Vitara.

Perceraian itu bikin saya balik ke nol. Nol besar. Tapi, karena itu, 2011 saya jadi cuma mikirin gali ilmu terus di pertanian.

(Pada 2011, tiga komoditas pertanian Ulus--buncis, brokoli, kyuri--mendapatkan sertifikasi Prima 3 dari Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat)

2012 awal, balik lagi ngolah tanah. Nyangkul sendiri. Terus, saya pinjam ke BJB Rp25 juta. Lima tahun kemudian saya udah bisa bangun rumah empat lantai. Alhamdulillah.

Seorang petani penggarap lahan di Desa Suntenjaya, Lembang, Jawa Barat, Selasa (31/10/2017).
Seorang petani penggarap lahan di Desa Suntenjaya, Lembang, Jawa Barat, Selasa (31/10/2017).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Anggota banyak?
2000 sampai 2005 punya buruh tani lebih dari 100 orang. Saya bilang, "kalian ini kerja di sini itu belajar. Tapi, belajar yang dibayar. Tidak menutup kemungkinan, kalian buka lahan sendiri".

Maksudnya belajar?
Segala sesuatu yang kita aplikasikan tidak ada yang kita ditutupi, selalu dibuka.

Oh, ya. Sertifikasi penting enggak?
Sertifikasi tanaman itu sebenarnya membiasakan SOP ke petani.

Pemerintah sebenarnya mencerdaskan petani, mengubah mindset petani. Pelajaran ini mungkin kalau kuliah butuh berapa tahun. Tapi, ini tiga hari sudah bisa paham.

Masalahnya, petani malas mencatat. Contohnya RAB (Rencana Anggaran Biaya) aja. Padahal, sertifikasi ini pengaruh banget buat produk kita di pasar.

Bisa cerita tentang penghargaan dari FAO tempo hari?
Kita enggak ada bayangan untuk dapat penghargaan dari PBB. Bulan Agustus akhir, diminta biodata oleh Biro Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Pertanian untuk penghargaan FAO.

Lalu saya dapat email untuk kepentingan asuransi keberangkatan ke Bangkok, Thailand.

Penilaian terbesar dari segi apa?
Ramah lingkungan, berhasil memangkas rantai pasokan.

Pertanian ramah lingkungan penting, ya?
Pertanian ramah lingkungan mewariskan lahan pertanian untuk anak-cucu semakin subur dengan adanya kita mengurangi pestisida kimia atau pupuk kimia.

Makanya saya selalu bilang, kenapa sih pemerintah selalu subsidi pupuk. Justru saya malah setujulah setop subsidi.

Maksudnya?
Seandainya satu petani dikasih lima ekor kambing aja. Itu luar biasa. 1,5 atau dua tahun udah jadi 16 itungannya juga. 16 ekor. Betina empat, pejantan satu.

Menguntungkan pengusaha tani, karena ada nilai tambah baik dari kotoran atau kambingnya. Pemerintah juga pas hari raya besar mungkin motong satu atau dua enggak pengaruh.

Kotoran hewan apa yang lebih bagus?

Yang jadi ukuran atau patokan bagus atau tidaknya kotoran itu sistem pengolahannya. Kalau sistem pengolahannya bagus, hasilnya bagus. Kalau tidak, bakal rusak.

Dapat dari sini semua?
Kita dapat pupuk kandang dari luar daerah sini. Makanya kita sebenarnya butuh ternak. Setop subsidi.

Sebenernya gini. Kan kadang bingung ya kita juga. Program pemerintah untuk menjadikan sektor pertanian kita itu jadi go-organic.

Justru kalau kita mau meningkatkan, istilahnya ya menuju pertanian yang ramah lingkungan, subsidinya itu potong, jangan ada.

Lalu, subsidinya diapakan?
Dialihfungsikan ke teknologi pertanian. Contoh, bantulah petani untuk mempermudah pengolahan lahan. Kita tahun 2014 dapat cultivator . Satu kelompok tani dapat satu. Lumayan itu kan tiga tahun kita enggak usah dikasih lagi.

Misalnya dari 100 tumbak lahan, kalau kita cangkul dari petani langsung, buruh tani itu membutuhkan sekitar 20 orang. Itu baru beres.

Dengan cultivator, dua orang sehari beres. Maksimal dua hari. Bisa mempercepat waktu program tanam.

Sudah begitu, kalau sektor pertanian ditunjang dengan peternakan, enggak usah beli pupuk.

Biasa kalau beli pupuk ke luar, bisa satu karungnya Rp 10.000 sampai Rp 12.000.

Pupuk kandang, ya. Tapi, karena kita punya, dihasilkan dari kotoran ternak kita yang ada di kebun, itu sangat membantu.

Jadi untuk 100 tumbak aja, itu Rp 100 juta. Pupuk sama apa itu, per tahun.

Kita mupuk di sini mah cuma sekali ya setahun. Nah dengan adanya ternak ini, uang yang jadi pupuk itu, jadi masuk ke kantong lagi.

Limbah sayuran bisa buat pakan ternak

Dalam jangka pendek: budidaya ramah lingkungan demi sayur sehat sehingga pemakaian pupuk kimia atau pestisida tidak banyak. Masih di ambang batas. Kita punya sertifikat, hasil tes residu sudah ada selalu lolos.

Masalahnya, kalau kirim ke Singapura, ketat minta ampun. Tiap hari dites. Kalau melebihi batas, diklaim pakai pita merah, enggak bisa dipasarkan.

Di kita urea udah enggak dipakai. Penyemprotan pasti. Karena tanaman umur di atas satu bulan pasti ada serangan hama penyakit. Tapi, enggak kayak di daerah lain yang dua atau tiga hari sekali (mengaplikasikan pestisida).

Jepang aja belum organik semua, karena dikejar produksi. Bisa organik, tapi untuk umur tanaman di bawah satu bulan.

Lahan pertanian di kawasan Desa Suntenjaya, Lembang, Jawa Barat, Selasa (31/10/2017).
Lahan pertanian di kawasan Desa Suntenjaya, Lembang, Jawa Barat, Selasa (31/10/2017).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Pernah ke Jepang?
Ke Jepang studi banding bareng dengan wakil kabupaten, provinsi, dan pusat tahun 2014.

Setelah pulang dari jepang, kita di sini dibina oleh JICA. Kemarin waktu percobaan di brokoli, mereka angkat jempol. Hasilnya melebihi dari harapan. Kita itu ngikutin SOP Jepang.

Ada contoh daerah yang berhasil menerapkan keahlian Anda?
Sumedang jadi daerah yang pernah kita tangani dan sukses.

Dulu awalnya di situ belum ada plastik mulsa. Sebelum pengolahan lahan, saya diundang ke sana. Pas sampai di sana, satu petak sudah dikerjakan. Lalu, saya berikan pola saya. Hasil yang pakai pola saya jauh berbeda.

Kita pun ramu kotoran untuk menggenjot hasil di sana waktu itu.

Apa mimpi selanjutnya?
Ada badan usaha milik petani. Jadi bisa memproduksi dengan harga pasar yang jelas. Petani sudah tidak harus memikirkan harga.

Pemerintah selama ini bukan cuek. Tapi, masalahnya kalau banjir produksi, harga jadi turun.

Harusnya pemerintah ngukur kemampuan penyerapan pasar. Misal di bandung, kebutuhan cabe berapa ton. Di daerah lain juga pasokannya berdasarkan kebutuhan. Dibagi per wilayah, bagi ke kawasan. Enggak bakalan ada harga yang jatuh.

Misal, cabe keriting. Rp15 ribu ke petani, kalau hitungan saya petani sudah untung.

Tapi, kalau sampai Rp7000, pemerintah juga enggak bisa apa-apa. kalau sampai Rp35 ribu atau Rp40 ribu, pemerintah teriak.

Di sini generasi muda masih ada yang mau jadi petani?
Alhamdulillah. Kita ada binaan pemuda tani. Petani-petani muda direkrut oleh karang taruna untuk dilatih. Asal bisa paham faktor budidaya dan pemasaran, bisa jalan terus.

Memang, anak-anak dari kecil harus diperkenalkan ke pertanian supaya nantinya bisa mencintai tanaman.

Terus, kita penginnya ada edukasi pertanian terpadu dari mulai SMP supaya bisa lebih paham kalau jenis tanaman ini namanya ini. (Ini terinspirasi dari mahasiswa yang menyangka brokoli sebagai buncis).

Ketersedian lahannya bagaimana?
Di sini lahan berkurang paling untuk bikin rumah sendiri aja. Apalagi, Perhutani membebaskan lahan di bawah pohon pinus untuk ditanami.

Jadi petani masih menjanjikan?
Kita setoran untuk kendaraan sebulan bisa hampir Rp9 juta. Tapi, Alhamdulillah, bisa nutup. Dari kurang 3 hektare lahan.

Kira-kira per bulan Rp15 juta bisa masuklah. Semua petani di sini bisa begitu.

Sektor pertanian tidak akan pernah mati selama manusia masih hidup di dunia ini.

Omong-omong, suka pakai akik juga?
Ha-ha-ha. Ini blue sapphire. (Ulus menunjukkan jari tergigit cincin). Dari orang tua. Katanya, "nih kamu pegang ini". Dipakai sejak nikah. Yang satunya ini dari orang kementerian.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.