Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Usamah Hisyam saat ditemui di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (5/12/18).
Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Usamah Hisyam saat ditemui di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (5/12/18). Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
BINCANG

Usamah Hisyam: Habib Rizieq pulang sekaligus 'revolusi'

Usamah mengaku tak memiliki masalah dengan pemuka Persaudaraan Alumni (PA) 212, meski telah mundur. Ia pun tak melarang anggota Parmusi ikut reuni 212 pada pekan kemarin.

Begitu duduk, Usamah Hisyam memesan kopi untuk dirinya dan teh panas untuk kami. Alis matanya terangkat, ia tampak semangat. “Nanti Pak Kapolri dan Pak Surya Paloh akan duduk di sana,” kata Usamah sambil mengarahkan pandang ke salah satu sudut kafe. Beberapa orang kemudian berangsur mendekat. Mereka terlibat percakapan.

Sore itu Usamah begitu antusias menerima tamu-tamunya, yang banyak kalangan pengusaha. Mereka hadir di acara penggalangan dana Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi), yang bertema “Malam Dakwah Membangun Umat Madani” di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (5/12/18).

“Penggalangan dana ini untuk membangun manhaj dakwah desa madani,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat Parmusi itu kepada Fajar WH, Heru Triyono, fotografer Wisnu Agung dan Annisa Putri, sebelum wawancara, di lokasi yang sama.

Usamah adalah sosok sentral di Persaudaraan Alumni (PA) 212. Selain sebagai dewan penasihat PA 212, ia merupakan bendahara panitia reuni 212 pada 2017. Sebab itu, saat Usamah memutuskan mundur, publik terkejut, lantaran PA 212 kehilangan sosok yang telah banyak berkontribusi. Lebih-lebih dirinya mundur jelang reuni 212 pekan kemarin.

Mundurnya Usamah sebenarnya dapat penolakan beberapa pemuka PA 212, awalnya. Termasuk Ketua Umum PA 212 Slamet Ma’arif. Slamet meminta Usamah agar membatalkan niatnya untuk keluar. Mereka terlibat diskusi, tapi Usamah kekeh dengan keputusannya. “Ini masalah prinsip,” kata penulis buku Surya Paloh, Sang Ideolog dan SBY Sang Demokrat, ini.

Prinsip itu adalah soal cita-cita PA212 yang dianggap Usamah telah melenceng. Dari mempersatukan umat menjadi gerakan politik praktis.

Kepada kami Usamah blak-blakan bicara soal internal PA 212, pertemuannya dengan Rizieq Shihab di Turki dan kedekatannya dengan Presiden Joko Widodo. Berikut tanya jawabnya:

Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Usamah Hisyam saat ditemui di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (5/12/18).
Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Usamah Hisyam saat ditemui di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (5/12/18). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Anda secara mengejutkan mundur dari Persaudaraan Alumni 212…
Sebenarnya surat pengunduran diri saya tidak diterima oleh Slamet Ma'arif. Beliau kaget. Saya diminta jangan mundur segala macam. Tapi ini masalah prinsip. Mereka tetap jalan enggak apa-apa dan silaturahmi juga tetap terjaga.

Memangnya prinsip apa yang berubah sehingga membuat Anda keberatan?
Pada 2016 konteksnya beda. Kita melawan penista agama. Agendanya adalah membela kalimat Allah, yaitu Al-Maidah 51. Semua unsur partai, ormas, latar pendidikan apapun datang. Enggak ada sekat. Kalau sekarang, sayangnya, disusupi agenda politik.

Tapi jumlah aksi massa 212 minggu lalu tetap banyak juga, apa faktornya menurut Anda?
Saya kira bukan karena agendanya apa, tapi karena kalimat tauhid yang dibakar. Itu kan yang membuat besar? Bukan karena agenda politiknya. Saya juga tidak terkejut yang datang banyak, karena pergerakan-pergerakan di bawah saya tahu betul.

Jadi peserta reuni 212 itu berasal dari mana?
Lebih banyak teman-teman HTI, FPI dan PKS ya. Delapan puluh persen karena bela kalimat tauhid itu. Banyak simpul-simpul yang datang pada reuni 2016 dan 2017, enggak datang kemarin itu. Coba lihat karakter yang datang, kebanyakan bawa keluarga kan. Nah itu karakter PKS dan HTI.

Apakah anggota Parmusi dilarang datang ke reuni itu?
Tidak, ya ketua panitia reuninya kan orang Parmusi juga, si Bernard Abdul Jabar. Bernard ini wakil ketua lembaga dakwah Parmusi. Enggak ada masalah anggota Parmusi datang. Paling 100-150 orang. Tapi laskar Parmusi memang tidak ada yang datang, karena mereka di bawah komando saya semua.

Masa sebagai Ketua Umum Parmusi Anda tidak mengarahkan apa-apa untuk anggota?
Saya bilang jaga independensi ormas ini. Karena mukernas merekomendasikan kader itu untuk memilih figur yang taat ibadah, baik di Pileg atau Pilpres. Itu saja, kita enggak mau ada perpecahan. Selera kan bisa saja beda, antar daerah atau pusat.

Sebenarnya apa bukti konkret dugaan Anda bahwa agenda politik telah menyusup dalam reuni 212 kemarin itu?
Bisa dilihat dari Ijtima Ulama I, yang diarahkan untuk mendukung Prabowo. Padahal itu adalah ijtima ulama, bukan ijtima politisi. Memang Rakornas 212 itu memiliki lima calon, di antaranya Yusril Ihza Mahendra, Tuan Guru Bajang, Habib Rizieq, Prabowo dan Zulkifli Hasan.

Tapi kalau tafsir memilih pemimpin kan, yang muslim kafah atau muslim minimalis. Tentu ini akan dicatat sejarah. Ijtima Ulama di Indonesia pernah memilih pemimpin seorang Prabowo Subianto. Kalau ini ijtima politisi baru pertimbangannya menang kalah. Kalau ijtima ulama ya harus lihat figurnya.

Menurut Anda, Prabowo itu muslim kafah atau minimalis?
Menurut Anda sebagai wartawan? Ya saya persoalannya itu saja. Tidak ada calon lain di luar Prabowo.

"Saya tidak ingin terpancing hiruk pikuk politik dulu. Kita bangun basis dulu, yaitu keumatan".

Usamah Hisyam

Ya kenapa para ulama setuju-setuju saja saat ditentukan untuk mengusung Prabowo?
Karena ini sudah setelan. Terbukti kan ada setelan.

Maksudnya setelan itu bagaimana? Apakah ulama bisa dengan mudah dipengaruhi dalam mengambil keputusan?
Ada satu golongan yang dominan di dalam sana. Nah golongan itu yang mengarahkan ke Prabowo. Orang-orang yang menghendaki Habib Rizieq sebagai calon, dipinggirkan. Padahal kalau memang mau tentara kan ada yang namanya Gatot Nurmantyo.

Yang keberatan memilih Prabowo tidak bisa bersuara?
Ada beberapa. Tapi orang agak susah untuk berbeda arus. Seperti saya yang tiba-tiba keluar dari dewan penasihat 212, kan tidak semua orang berani melakukan itu.

Apakah Anda dicap sebagai pengkhianat juga seperti Kapitra Ampera?
Saya tidak masalah dengan itu. Tapi jangan anggap kebenaran itu hanya ada pada diri sendiri. Karena apa yang kita anggap buruk, belum tentu buruk. Sementara yang kita anggap baik, belum tentu baik. Jadi, Jokowi itu belum tentu buruk, sementara Prabowo yang kita bilang baik, belum tentu baik. Hanya Allah yang tahu.

Jokowi itu baik atau buruk?
Menurut saya baik. Buktinya yang di pemerintahan sekarang kejang-kejang karena susah korupsi.

Tapi isu yang diiangkat selama ini kan Jokowi jauh dengan ulama, bahkan dituduh melakukan kriminalisasi ulama?
Nah, apakah kriminalisasi ulama yang melakukan Jokowi? Itu kan bisa saja terjadi kontra-intelijen. Saya pernah tanya langsung ke Pak Jokowi soal ini. Dia balik tanya ulama mana yang dia kriminalisasi, karena memang beliau enggak mau ikut campur masalah hukum.

Anda dekat dengan Jokowi?
Enggak, tapi perusahaan saya, Obsession Media Group (OMG Group), pernah memberinya award—sebagai the rising star. Dia naik sebagai calon presiden dan kita jadi sering ngobrol.

Saya ini ketua rombongan umrah keluarga Jokowi 2014. Saya memperjuangkan biar dia Islami, makanya saya bawa umrah.

Maksud Anda Jokowi kurang Islami?
Waktu itu kan dituduh PKI segala macam. Saya lihat aslinya enggak. Saya bilang ke Pak Jokowi enggak usah dibantah. Berangkat saja umrah untuk menjawab itu.

Tahun lalu hampir setiap bulan kami bertemu, termasuk membawa ulama ke Bogor itu. Kalau bukan saya yang bawa, mana bisa bertemu.

Ada suara sumbang juga dari PA 212 ketika para ulama itu bertemu Jokowi ya?
Kami sudah koordinasi dengan Habib Rizieq. Malah Habib yang mendorong terjadinya pertemuan itu dalam rangka untuk pemulangan beliau.

Terbukti terbit kan SP3 untuk Habib Rizieq, walau dari pihak teman-teman bilang kalau SP3 itu murni putusan hukum.

Kenapa pada akhirnya Jokowi tidak diundang di reuni 212 kemarin, Anda tahu ceritanya?
Tadinya mau diundang. Bahkan Ustaz Slamet bilang kalau bisa reuni ini ada islah antara Pak Jokowi dan Pak Prabowo serta Habib Rizieq. Jadi islah nasional.

Tapi saya bilang, pemerintah enggak akan mau. Pak Jokowi juga selalu menganggap enggak ada masalah dengan Habib Rizieq, jadi untuk apa islah?

Kapan diputuskan Jokowi tidak jadi diundang?
Seminggu sebelum tanggal 2 Desember itu. Tidak ada pintu masuk ke Istana soalnya, Jokowi tidak merespons. Itu side story-nya.

Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Usamah Hisyam saat ditemui di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (5/12/18).
Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Usamah Hisyam saat ditemui di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (5/12/18). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Yang unik, kenapa massa 212 itu enggak mempermasalahkan Prabowo hargai Australia soal Kedubes di Yerusalem?
Kan kalian wartawan, berpikir saja soal itu. Pasti sudah tahu juga.

Sebagai gerakan politik, reuni 212 rasanya cukup berpengaruh, apakah mereka ini riil pemilih Prabowo?
Bukan massa riil ya, kan ditunggangi politik. Massa itu adalah orang yang protes terhadap pembakaran bendera tauhid. Paham enggak? Bukan untuk mendukung Prabowo. Yang riil itu adalah massa HTI.

Ya bisa jadi massa HTI mendukung Prabowo, sama saja itu massa yang riil kan?
Terpecah juga di dalamnya. Ada yang pilih Prabowo, ada yang lain.

Menurut Anda, apakah majunya Ma'ruf Amin menjadi Cawapres memecah aspirasi massa 212?
Begini, Kiai Ma’ruf adalah orang yang berjasa terhadap aksi 212. Beliau yang membuat fatwa Ahok menista agama, yang kemudian melahirkan GNPF-MUI.

Logikanya, fatwanya saja dibela, masa orangnya enggak. Kan jadi rancu. Saya belum tahu apakah dukungan politik dari massa 212 itu besar atau enggak ke Kiai Ma'ruf.

Ya tanpa Ma’ruf Amin sepertinya massa 212 nyaman-nyaman saja dan tetap banyak yang datang…
Memang enggak ada masalah, kan sudah selesai. Yang jadi masalah adalah kapan kepulangan Habib Rizieq.

Saya sudah meretas jalan kepulangan beliau, di mulai dari reuni 212 Februari waktu itu. Saya yang paling vokal untuk memulangkan Habib. Saya sudah usaha maksimal, termasuk menemui Presiden untuk itu.

Anda bisa berkomunikasi dengan Rizieq Shihab?
Lho, bulan Maret saya ketemu Habib di Turki, bicara berdua. Dia kangen sama Indonesia dan ingin membesarkan pesantrennya di Megamendung. Saya sudah sampaikan itu ke Presiden.

Apa sih persoalannya Rizieq tidak bisa kembali ke Indonesia?
Sampai hari ini saya belum tahu apa persoalannya. Kenapa juga dia enggak pulang-pulang--meski sudah dikasih SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan).

Visa yang dipakai Rizieq bukannya sudah habis Mei lalu?
Bulan Mei-Juni itu sudah ada SP3. Kenapa enggak pulang-pulang? Saya enggak tahu kenapa. Begini, di lingkaran Habib Rizieq ada yang menganggap saya ini mendesak Habib Rizieq pulang untuk dijebak. Padahal enggak, saya memang ingin dia pulang agar clear.

Kalau mereka (lingkaran Rizieq), menganggapnya lebih baik Habib enggak usah pulang. Pulangnya nanti saja menjelang Pilpres, sekaligus revolusi. Ada yang berkeinginan seperti itu.

Maksudnya revolusi itu seperti apa?
Pokoknya mau pulang itu ribut revolusi, nah ini kan repot. Jadi ada tarik menarik di lingkaran Habib Rizieq, tetapi Habib Rizieq sendiri bersama saya. Kalau takut dijebak, kan bisa berontak, malah bisa lebih besar dari aksi 212 pada 2016 kemarin.

Saat Anda bertemu Rizieq di Turki, sebenarnya apa yang dia inginkan?
Ya mau balik, ingin banget. Makanya saya diutus beliau untuk mengusahakan itu. Tapi saya malah dianggap pengkhianat segala macam.

Apakah ada rencana Parmusi akan menjadi partai lagi?
Banyak suara seperti itu. Tapi saya tak ingin terpancing hiruk pikuk politik. Kita bangun basis dulu saja, yaitu keumatan.

Usamah Hisyam soal tarik menarik kepentingan PA 212 /Beritagar ID
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR