Keterangan Gambar : Rizky Firdaus Wijaksana bergaya di depan kamera usai diwawancara Beritagar.id di sebuah kafe Gandaria City, Jakarta Selatan, Selasa sore (14/2/2017). © Beritagar.id / Andreas Yemmy Martiano

Ketika sebuah materi komedi terdengar jayus dan disampaikan di luar kebiasaan bahkan jadi kontroversi? Simak bagaimana Uus bicara tentang semua itu

Rizky Firdaus Wijaksana (Uus) tak tampak seperti komedian. Dengan tinggi hampir dua meter dan kepala botak dia justru mirip Christian Ronaldo Sitepu, pemain basket klub Satria Muda. "Basket itu sebenarnya mimpi sejak kecil," tutur Uus.

Basket memang pernah jadi bagian hidupnya, bahkan sampai level pekan olahraga daerah. Tapi cedera membuat kariernya tak panjang.

"Tuhan kasih jalan lain, yakni menjadikan gue sebagai komedian," ujarnya ketika wawancara dengan Heru Triyono, Sorta Tobing, Indra Wiguna Rosalia dan fotografer Andreas Yemmy Martiano serta Muhammad Imaduddin, di sebuah kafe Gandaria City, Jakarta Selatan, Selasa sore (14/2/2017).

Pria 26 tahun ini mengaku banyak dipengaruhi Chris Rock, komedian asal Negeri Paman Sam yang kerap mengundang kontroversi. Entah kebetulan atau tidak, Uus pun punya kesamaan itu--dalam hal menarik perhatian publik.

Kontroversi Uus paling baru adalah menulis cuitan soal Rizieq Shihab lewat sebuah gambar yang dia unggah di Twitter. Gambar itu berisi foto sebuah spanduk tentang Rizieq. "Shampo untuk Rizieq. Viralkan! Bantu Rizieq beli shampo!!," tulisnya.

Karena cuitan itu warga Twitter menyerang dia dengan beragam komentar, yang diduga berimbas pada pemecatannya di beberapa program televisi.

Sebelumnya Uus membahas perempuan berhijab, tato, hingga memperlihatkan bagian tubuh istrinya--di akun media sosial miliknya--yang juga berujung dengan kontroversi.

Namun belakangan Uus melunak. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada publik, dengan mendatangi Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait statusnya soal ulama di media sosial. Ia juga akan menghapus cuitannya yang dinilai bikin heboh itu.

Meski lekat dengan kontroversi, fan Uus terus tumbuh. Pengikut di Instagramnya berkembang biak menjadi 800an ribu akun, dari sebelumnya 200 ribuan ketika dia tereliminasi dari Stand Up Comedy KompasTV di musim ketiga.

Sejak dari Kompas itu kariernya menanjak. Mulai bermain film, melawak hingga jadi presenter acara, ia lakoni. Tercatat sejak 2014 ia membintangi film Comic 8 part 1 dan 2, Abdullah dan Takeshi, This Is Cinta serta Hongkong Kasarung dan lain-lain.

Selama satu setengah jam Uus bicara soal karier, materi lawak dan kenapa kerap ofensif terhadap suatu topik, yang sebetulnya cukup tabu. Ia didampingi sang istri Kartika, yang lebih banyak diam, sembari menyantap tahu goreng. Berikut wawancaranya:

Rizky Firdaus Wijaksana bergaya di depan kamera usai diwawancara Beritagar.id di sebuah kafe Gandaria City, Jakarta Selatan, Selasa sore (14/2/2017).
Rizky Firdaus Wijaksana bergaya di depan kamera usai diwawancara Beritagar.id di sebuah kafe Gandaria City, Jakarta Selatan, Selasa sore (14/2/2017).
© Andreas Yemmy Martiano /Beritagar.id

Status di Twitter Anda menuai kontroversi, yang diduga menyudutkan Rizieq Shihab dan ulama, Anda kapok?
Sebenarnya gue cuma mau menyampaikan kalau ulama itu tidak cuma satu. Kenapa juga mereka (netizen) menganggap satu-satunya ulama adalah dia (Rizieq). Coba baca lagi deh status gue.

Kalau status: "Aku kira pulo doang yang gadung. Ternyata ulama juga ada", dimaksudkan untuk Rizieq kan?
Gue enggak mengarah ke Rizieq, karena status lanjutan gue adalah begini: "Emang Rizieq ulama?". Kan itu pertanyaan. Mungkin yang tidak suka dengan gue otaknya enggak sampai untuk bercanda seperti itu.

Tapi kan status: "Shampo untuk Rizieq. Viralkan! Bantu Rizieq beli shampo!!", spesifik menyebut Rizieq?
Ketimbang rambutnya jatuh terus jadi pecah kan baiknya dijaga biar enggak rontok. Memangnya gue salah bilang begitu? Ini bicara persepsi saja. Ketika gue bikin status ya pembaca silakan berpersepsi sendiri. Gue rasa, yang merasa pernyataan gue itu bermasalah adalah tweet bot (robot).

Ketika Anda tahu yang mengomentari status Anda adalah robot, kenapa harus direspons?
Hanya untuk menunjukkan gue itu berada di tengah. Prinsipnya gue enggak berpihak ke siapa-siapa. Karena gue bukan pemilih Ahok, Anies ataupun AHY.

Memangnya siapa yang mengatakan kalau Anda berpihak?
Gue enggak tahu, yang jelas sikap gue bukan didasari keberpihakan. Bicara Islam ya agama yang damai. Sudah titik.

Ketika agama jadi radikal maka rentetannya bakal panjang. Ayo dong grow up. Masa demo yang berisi ibu-ibu dan bapak-bapak mengajak bunuh orang. Yang benar saja. Mau diajarkan apa anak lo nanti kalau kita terus dekat dengan kekerasan.

Isu agama di Pilkada DKI kali ini memang sensitif. Tidak khawatir dengan status-status Anda di media sosial malah jadi tertarik ke ranah politik?
Selama gue masih bisa bersuara yang sifatnya demi kebaikan kenapa enggak? Ingat kebaikan lho ya, bukan demi kebenaran. Kebenaran itu selalu relatif. Yang mutlak, adalah kebaikan. Baik itu mutlak.

Sebagian pihak menganggap Anda suka cari sensasi...
Gampang cari sensasi mah. Ketik Google, ketik sensasi, kemudian cari. Ya kan? Gue rasa hal ini terjadi karena stigma orang ke artis memang sudah jelek, karena banyak gimik yang terjadi di industri hiburan untuk menjadi terkenal.

Dengan membuat kontroversi kan jadi salah satu cara juga agar cepat terkenal, tidak merasa?
Gue sih enggak bisa jual keluarga dan diri gue sendiri untuk dibuat gimik. Apalagi dengan cara kontroversi.

Tapi Anda dekat dengan kontroversi. Beberapa waktu lalu Anda dihujat netizen karena foto vulgar bersama istri. Kenapa hal privat diumbar di media sosial?
Begini, gue itu sering mengunjungi akun Lambe Turah, yang isinya dunia pergosipan di jagat hiburan. Gue cuma mau apa adanya saja di depan publik. Jadi ketimbang dibahas di Lambe Turah ya mending berlaku jujur saja di media sosial sama istri.

Bukannya jadi terkesan mengekspos keluarga sendiri ya?
Gue sih memandang hal itu sebagai jawaban saja terhadap hujatan yang menjelekkan istri gue. Capek juga misalnya menutupi kenyataan dia hamil sebelum menikah. Ya sudah gue share di media sosial untuk kasih inspirasi ke perempuan yang nasibnya sama dengan istri gue di luar sana untuk bangkit lagi.

Persoalannya penyampaian Anda itu terlalu frontal dan vulgar sehingga menimbulkan kehebohan?
Niatnya memang begitu. Gue enggak mau bohong soal istri. Makanya gue bilang ke media kalau anak gue tuh orang timur tapi dibuat dengan gaya barat.

Sudah menghitung konsekuensi gaya frontal Anda, misalnya dengan menyindir ulama. Kan bisa berdampak pada karier dan keluarga?
Gue mah enggak takut. Gue itu enggak bisa fake dengan berpura-pura gak terjadi apa-apa di Jakarta. Kejadiannya ada di depan mata kok. Ada arak-arakan, ada demo, protes dan lain-lain.

Mau enggak mau ya gue komentar. Lo juga kalau ada cewek cakep jalan sama cowoknya yang jelek pasti komentar kan? He-he.

Tidak takut akan dianggap menistakan agama seperti Ahok?
Itu akan jadi masalah. Tapi sampai kapan kita hidup di bawah ketakutan begini--ketika zamannya adalah azab manual dan auto kafir. Yang mereka tebarkan ini ketakutan.

Orang akan diasingkan jika tidak sependapat, kemudian dikafir-kafirkan bahkan direndahkan--sehingga banyak yang takut untuk bersuara.

Anda pakai banyak istilah seperti azab dan kafir, memangnya sejauh apa pelajari agama?
Gue tuh belajar agama sampai pada tahap tidak peduli jika surga neraka itu ada atau enggak. Gue mah tetap Islam. Bodo amat janji surga bertemu dengan 72 bidadari. Maunya ketemu Kartika (istri) saja di sana. Teman gue bilang level pendalaman gue udah sufi ha-ha.

Oh karena itu Anda memilih jurusan Sastra (Inggris) ketika kuliah?
Enggak. Kalau itu gue hanya ingin main basket saja di Unpad. Kebetulan bidang yang gue kuasai adalah bahasa Inggris. Ya sudah masuk ke jurusan itu saja.

Di sana gue lihat orang ateis dan agnostik. Ada juga yang sebaliknya, ada orang yang enggak mau salaman, bahkan sentuhan sekalipun. Ya posisi gue di tengah, meski dulu pernah jadi ateis juga.

Dasarnya Anda apa jadi ateis?
Suatu kali gue penah giat berlatih basket dan puasa Senin Kamis agar jadi juara. Tapi pas pertandingan gue justru cedera dan tabungan gue habis untuk fisioterapi. Daerah yang gue bela enggak mau biayai--sehingga gue sakit hati ke Allah. Mirip lagu Coldplay, yang when you try your best, but you don't succeed.

Tapi setelah tobat gue malah tertawa dan mengerti. Ternyata ketika kita berbuat baik dan bekerja keras jangan berharap akan dibalas baik juga. Tuhan akan memberikan jalan lain untuk kita. Buktinya saat ini gue bisa menjadi komedian.

Berapa lama Anda menjadi ateis?
Enam bulan gue tanpa Tuhan. Disuruh salat enggak mau. Gue bilang Tuhan itu enggak ada. Mirip sinetron hidayah deh he-he.

Rizky Firdaus Wijaksana dan sang istri Kartika bergaya di depan kamera usai diwawancara Beritagar.id di sebuah kafe Gandaria City, Jakarta Selatan, Selasa sore (14/2/2017).
Rizky Firdaus Wijaksana dan sang istri Kartika bergaya di depan kamera usai diwawancara Beritagar.id di sebuah kafe Gandaria City, Jakarta Selatan, Selasa sore (14/2/2017).
© Andreas Yemmy Martiano /Beritagar.id

Ada yang mengatakan kalau Anda terkena star syndrome...
Yang bilang begitu belum paham siapa Uus. Gue tetap seperti dulu. Uang enggak bisa mengubah. Jika diundang manggung (stand up), gue tetap datang dan enggak pernah minta pesawat atau hotel yang mahal kok.

Mungkin yang mengundang jadi sungkan karena Anda sudah jadi presenter di berbagai program televisi...
Televisi memang mengubah pandangan orang. Saat ini gue dipandang sebagai artis bukan seniman. Bayangkan, suatu kali pas gue stand up, penonton barisan depan pada tidur semua. Setelah stand up gue beres mereka ramai-ramai mau foto bareng. Artinya mereka beli tiket bukan ingin mendengarkan materi gue, tapi buat foto doang.

Sebenarnya sudah gue prediksi di industri hiburan ini gue enggak lama. Apalagi beberapa prinsipnya berseberangan dengan gue. Agak susah untuk membuat konsep yang menghibur sekaligus punya nilai.

Jadi tidak akan kembali lagi ke industri hiburan di televisi?
Kalaupun kembali gue maunya dengan teman-teman yang paham siapa gue. Gue mau materi joke gue yang dibilang bodoh tapi buat orang berpikir itu dinikmati orang. Yang jadi kesalahan adalah gue justru dicap orang yang benar-benar bodoh. Bukan berpura-pura bodoh.

Btw karakter pura-pura bodoh ketika di panggung itu memang ide siapa?
Itu karakter pilihan gue. Ketika bicara Panji atau Ernest maka beda lagi karakternya. Materi keduanya pintar-pintar sehingga orang jadi segan untuk menyapa keduanya saat di jalan.

Kalau gue memang suka pelesetan dan joke dualisme makna dari keseharian atau yang sederhana. Didasari materi gue itu maka orang mudah menikmati dan tidak segan untuk menyapa gue, karena merasa tidak ada jarak dengan materi yang gue bawakan.

Bagaimana mau dinikmati kalau materi lawak Anda terkadang tidak dimengerti dan dianggap jayus?
Lawakan gue masih bisa buat tertawa orang. Jika materi joke hari ini enggak lucu, gue akan mencobanya besok. Tidak harus maksa lucu setiap hari. Apalagi dipaksa dengan ngondek.

Sebagai komedian memang harus membuat orang tertawa. Tapi bagaimana mau tertawa jika orang membenci Anda karena rentetan kontroversi yang Anda buat?
Komedi bisa menembus itu. Sama dengan petinju Muhammad Ali. Dia tidak pernah tahu bahwa lewat tinju dia bisa jadi dicintai sedemikian besar, meski sikapnya juga dekat dengan kontroversi.

"Jika materi joke hari ini enggak lucu, gue akan mencobanya besok. Tidak harus maksa lucu setiap hari. Apalagi dipaksa dengan ngondek"

Rizky Firdaus Wijaksana

Apakah konsep dan materi Anda bisa terpakai ketika tampil di sebuah program musik televisi itu (Inbox)?
Sulit mengawinkan idealisme kita dan televisi. Secara finansial memang gue naik, tapi secara value gue turun. Ibaratnya dulu itu Payung Teduh, sekarang ya D'Masiv.

Konsep yang Anda mau tidak bisa dibicarakan dengan tim kreatif?
Di industri ini kita bicara kepentingan. Kepentingan siapa? Ya kepentingan mereka. Setahun gue merasa kesulitan (di Inbox) untuk berkomunikasi. Alibinya mereka harus kerja setiap hari jadi tim kreatif dan terkadang buntu. Tapi dalam pandangan gue kalau materinya tidak mengedukasi dan juga menghibur orang, apa yang mau dicari?

Setahun di program itu lama lho, masa tidak bisa menawarkan konsep lawakan yang sesuai dengan Anda?
Penyesuaiannya memang berat. Apalagi untuk ukuran jokes gue yang terkadang memang tidak bisa diterima. Money can move people, but not me. Meski lumayan penghasilannya, tetap tidak bisa menggerakkan gue bangun setiap pagi.

Gajinya berapa sih dari acara itu?
Per datang gue dibayar Rp3 juta. Total per bulan bisa Rp200 juta lah. Sebab itu, pihak program (Inbox) bilang bahwa artis yang mau masuk ini itu antre. Jadi mungkin gue mesti tahu diri.

Merasa salah jalan ketika ambil tawaran di program musik itu?
Gue enggak bisa menilai barang ini bagus atau enggak sebelum mencoba. Gue juga bukan Tuhan yang bisa bilang kalau gue enggak ambil Inbox hidup gue akan lebih baik. Apapun pilihannya gue tidak pernah menyesal.

Tapi benar Anda dicoret gara-gara cuitan soal Rizieq?
Sebenarnya gue sudah mau cabut dari program itu karena enggak ada perubahan dari materi acaranya. Hanya saja mereka menahan.

Kemudian gue mendadak gue dicut, sehingga orang beropini macam-macam. Kalau memang alasannya karena cuitan ke Rizieq malah melegakan gue, karena itulah yang gue lakukan.

Memangnya materi acara seperti apa yang membuat Anda enggak sreg?
Bayangkan, di sebuah televisi besar, gue digimikin harus pacar-pacaran dengan orang. Materi joke-nya juga dasar banget: nyanyi lagu Balonku dengan vokal diganti huruf E. Belenke ede leme. Ayolah, ini televisi nasional kan? Masa begitu doang.

Harusnya Anda tahu dong segmen penonton program musik itu. Dalam arti gimik dan sandiwara seperti itu kan sudah biasa di dunia showbiz...
Awalnya gue anggap akan bisa menjalaninya, tapi ternyata salah. Gue enggak nyaman digimikin atau digosipin dekat dengan artis mana gitu. Karena itu gue menikahi Kartika biar jauh dari gosip.

Lho, Anda terpaksa menikahi Kartika?
Ha-ha ya enggak. Pada dasarnya gue jenuh bermain-main, maunya serius. Gue memang enggak mau disandiwarain dan mau ngebentengi diri agar kehidupan pribadi gue enggak dibuat gimik.

Jika sudah gerah, apa yang sebenarnya membuat Anda bisa bertahan lama di acara itu?
Karena Andika dan Gading. Gue amat respek dengan dua orang itu. Kenapa? Karena dari awal berkarier hingga sekarang mereka itu enggak ngondek. Nah itu sudah the best banget buat gue.

Bagaimana dengan peran Anda di program lawak (OVJ), diberhentikan juga atau...
Masih syuting sih minggu depan. Jujur, gue sempat dikritik teman-teman (OVJ). Tapi ya enggak apa-apa. Soalnya risiko diambil bersama ketika mau bangun acara itu (OVJ) kembali. Sekarang sedang dibicarakan bagaimana gue keluar secara kekeluargaan atau cari solusi lain.

Jadi sesuai status Anda di Twitter: Fix menganggur?
Gue sedang membuat proyek di Youtube. Mau create something yang enggak mungkin dibuat di televisi.

Tidak menyesal, di televisi uangnya besar lho?
Karena tahu uangnya banyak, gue ikuti saran Pidi Baiq. Gue setuju dengan dia yang balas dendam dengan uang. Dulu, dia dibikin susah sama uang, sekarang giliran sudah ada uang, dia jadi bodo amat (dengan uang).

Nah sikap itu yang mau gue ikuti. Ketika lo punya prinsip, mau lo kaya ataupun miskin, lo adalah orang yang sama.

Tampaknya Anda akan menutup diri dari televisi?
Masih bersedia kok, asal jangan ikuti mau penonton terus, apalagi buka aib orang di depan publik.

Menurut Anda apakah ada program televisi yang mendidik dan disajikan dengan cara yang keren serta menghibur?
Ada, The Tonight Show-nya Jimmy Fallon. Kenapa bagus? Karena dibuat seminggu sekali. Kalau dibuatnya setiap hari, maka jadinya Jimmy Tahi ha-ha.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.