Keterangan Gambar : Valentino Simanjuntak ketika ditemui di Studio 1 Indosiar, Daan Mogot, Jakarta Barat, Jumat (22/9/2017). © Beritagar.id / Wisnu Agung

Ia memandang presenter bola itu berjalan menuju persimpangan: jika terlalu banyak bicara itu mengganggu, tapi jika terlalu diam justru akan hampa.

Jeritan-jeritan Valentino 'Jebreeet' Simanjuntak mungkin tercatat sejarah sebagai komentar bola paling ikonik. Seperti heading sang mantan yang tak mengena di hati, kelok sembilan Messi, hingga gratifikasi umpan. Kata-kata itu keluar di Piala AFF U-18 tempo hari.

Setelah empat tahun absen di pertandingan Timnas, Valentino akhirnya kembali menggedor telinga penggila bola. Ocehannya menemani Egy Maulana Cs beraksi. Sayang, dengan segala umpan yang menembus lambung, hati dan jantung pertahanan lawan, Timnas hanya menempati posisi tiga.

Piala AFF U-18 Myanmar memang mengangkat kembali nama Valentino. Diksi yang keluar dari mulutnya jadi tren dunia maya. Ada yang senang, ada yang tergangggu, ada juga yang menyebutnya lebay.

"Gue saja geli sendiri dengar playback ocehan-ocehan itu he-he," kata Valentino saat wawancara dengan Heru Triyono, Kania Luthfiani dan fotografer Wisnu Agung di Studio 1 Indosiar, Daan Mogot, Jakarta Barat, Jumat (22/9/2017).

Keriuhan 'Jebret' sebenarnya dimulai 2013, ketika Evan Dimas Cs tampil di Piala AFF U-19. Tetapi, setelah itu, Valentino seperti berlari antar kota antar provinsi, alias lenyap. "Intinya gue sudah enggak bisa siaran di televisi itu lagi," ujar Si Jebret.

Inspirasi kata jebret berdasar pengalamannya saat kecil. Waktu main bola di kampungnya, Srengseng Sawah, kata jebret kerap terucap. "Kalau kita tendang kencang, istilahnya kan jebret."

Fantasi masa kecil Valentino memang menjadi pemain bola. Kenangan masa itu benar-benar didominasi sepak bola. Bahkan namanya pun terinspirasi dari striker Italia 1980-an: Paolo Rossi. Tetapi entah kenapa sang ayah justru menamakannya Valentino. "Jauh ya? Mungkin bokap tahunya nama orang Italia ya Valentino," tuturnya.

Ia mengaku tidak punya ambisi besar menjadi komentator--meski pas kecil rela menghabiskan waktu berjam-jam menyaksikan Bung Ropan (Ronny Pangemanan). Ia ingat betul bagaimana Ropan memprediksi pertandingan dengan suara berat dan tebal di televisi. "Ropan adalah idola," kata Valentino.

Di balik ketenarannya kini, mungkin banyak orang belum tahu sisi lain hidupnya. Misalnya, ia dilarang keras jadi pemain bola oleh orang tua. Valentino juga pernah luntang-luntung tanpa pekerjaan selama separuh tahun.

Selain hal tadi, kepada Beritagar.id, ia juga bahas pentingnya bersikap jujur dalam berkomentar, serta bagaimana memakai diksi yang bikin pecah jika mikrofon sedang di tangan.

Sore itu, Valentino memakai rompi hitam dan gelang besi di tangan kiri. Sedang rambutnya disisir klimis ke belakang, menyerupai Choky Sitohang, tapi versi kelam. Berikut petikan wawancaranya:

Valentino Simanjuntak ketika ditemui di Studio 1 Indosiar, Daan Mogot, Jakarta Barat, Jumat (22/9/2017).
Valentino Simanjuntak ketika ditemui di Studio 1 Indosiar, Daan Mogot, Jakarta Barat, Jumat (22/9/2017).
© Wisnu Agung

Anda memang ingin membentuk image sebagai presenter yang lebay?
Gue itu jadi presenter sejak 2006--setelah dapat kesempatan casting . Kenapa jadi presenter? Karena gue suka bola dan suka banyak omong.

Gue dipercaya di sana (sebuah stasiun televisi) untuk jadi presenter sampai 2010. Kemudian, pada 2013 gue diminta dengan gaya begitu (lebay). Awalnya ya gue tolak.

Karena gaya lebay itu bukan karakter Anda?
Dari 2006 kan gue bawain acara bola dengan elegan. Sudah terbiasa begitu. Tetapi akhirnya gue coba gaya (lebay) itu, eh justru meledak.

Gaya itu ternyata menyentuh masyarakat. Ya itu soal pilihan saja. Ketika masyarakat merespons dengan gaya gue yang seperti itu, malah jadi image yang melekat.

Apakah gaya Anda membawakan acara seperti itu menyalahi gaya presenter bola?
Faktanya gue malah dapat banyak kesempatan. Bahwa kemudian image gue berbeda dengan presenter lain, kenapa enggak?

Gue pikir enggak semua orang bisa begitu. Lihat saja bagaimana baiknya komentator tarkam dalam membawakan pertandingan.

Ada penonton yang senang dengan kata-kata Anda, tapi ada juga yang terganggu, bagaimana?Gue dengar sih begitu. Mungkin jeleknya pas suasana tegang, malah membuat penonton jadi tertawa.

Lucunya, ketika Timnas tampil kurang menyerang, ocehan Anda juga ikut berkurang...
Hal itu memang bagian dari plan. Gue akan begitu (lebay) jika Indonesia yang menyerang.

Seberapa sulitkah tetap objektif saat berkomentar untuk tim favorit Anda?
Ada perlakukan berbeda untuk Timnas. Kalau waktu bawain Piala Presiden, gue harus adil. Kalau enggak, bisa sensitif penonton. Makanya, jargon yang gue pakai untuk klub beda, tidak berpihak kayak Timnas.

Jadi, kalau Persib main, gue banyak ambil jargon dari Sunda. Kalau Padang main, gue pakai bahasa Padang. Kalau pas Malang main, gue pakai bahasa Ngalam, dibalik-balik, dan hal ini ternyata kena ke orang daerah. Mereka senang, karena frekuensinya jadi sama.

Awalnya itu kan Anda mengaku menolak bawakan acara dengan gaya lebay, artinya ada keterpaksaan?
Pada 2013 gue memang terpaksa (lebay). Sebab gue juga geli sendiri dengarnya. Saat itu belum ada yang bela gue. Gue seperti melawan dunia. Bahkan gue bilang ke pengkritik, jangankan dia, gue saja yang dengar playback-nya geli, malah gue mute saja sekalian.

Tetapi kan karakter Anda dalam keseharian juga ngocol. Menjadi lebay pasti bukan jadi masalah...
Kalau ngocol sejak dulu. Secara teknik, membawakan dengan gaya begitu, enggak masalah. Tetapi secara branding, gue saat itu ingin bergaya elegan.

Secara, gue tujuh tahun bawain liga-liga Eropa. Enggak pernah bawain liga Indonesia, apalagi Timnas.

Sebenarnya bagaimana ide awal untuk memunculkan gaya lebay itu ke penonton televisi?
Tim produksi melihat Timnas U-19 ini biasa-biasa saja. Enggak menarik perhatian orang. Makanya mereka disuruh cari cara yang bisa menarik perhatian. Akhirnya dibikin ramai, dengan menambahkan jargon jebret.

Begitu jebret meledak, selanjutnya semakin ramai. Yang ramai sekarang kan julukan untuk pemain. Misalnya, Egy kelok sembilan, ada Rafli Santri, ada menteri perhubungan, menteri pertahanan, bahkan ada yang dijuluki pelari antar kota antar provinsi. Ternyata pemain senang dijuluki begitu.

Gaya menjuluki pemain ini mirip sekali dengan komentator tarkam?
Betul, memang kiblatnya tarkam. Tapi yang banyak orang enggak tahu, di negara lain pun juga ramai. Lihat saja komentator bola Arab, latin dan Spanyol. Mereka ramai sekali.

Jadi formulanya bagaimana biar si presenter bola itu benar-benar dekat dengan penonton?
Gunakan istilah baru dan perbanyak kata punch line (mengagetkan) yang bikin geregetan penonton. Seperti orang nonton di rumah saja, kan lepas komentarnya. Nah, gaya nonton di rumah itu gue keluarin di televisi. Jatuhnya jadi ngocol.

Punch line ini penting sekali ya sebagai presenter?
Sangat. Kebetulan saya juga mengajar komika soal punch line itu. Presenter juga harus banyak bertanya dan riset.

Butuh berapa jam riset yang Anda lakukan sebelum pertandingan?
Tergantung ya. Yang pasti harus cepat. Pertandingan Timnas kan sehari istirahat, besok siaran lagi. Paling tidak, sehari sebelum pertandingan, kita sudah punya kata-kata apa yang bakal mau dipakai di hari H.

Valentino Simanjuntak ketika ditemui di Studio 1 Indosiar, Daan Mogot, Jakarta Barat, Jumat (22/9/2017).
Valentino Simanjuntak ketika ditemui di Studio 1 Indosiar, Daan Mogot, Jakarta Barat, Jumat (22/9/2017).
© Wisnu Agung

Apakah sulit memisahkan profesi Anda sebagai presenter dan juga sebagai pengacara. Jangan-jangan karakter jebretnya terbawa ketika beracara...
Malah bisa jadi simpel ya. Dengan gaya jebret itu akan mudah dicerna orang. Tetapi waktunya serius ya serius. Mungkin pada akhirnya ada momen punch line. Itu untuk cairkan suasana saja. Tapi kalau gue serius terus, jiwa gue yang ngocol kasihan juga sih, dia bisa hilang.

Sekarang kan sudah ada panggungnya buat hobi ngocol itu...
Makanya, biar orang tahu kalau memang sebenarnya karakter gue ini nyablak. Sejak kecil, ketika gue bercita-cita jadi pemain bola, gue itu sudah ngocol. Sayang cita-cita itu tidak disetujui orang tua.

Karena sepak bola dinilai tidak menjanjikan?
Orang Batak itu pendidikan nomor satu. Atlet dianggap bukan profesi yang pas. Tetapi gue tetap coba menyalurkan hobi dengan memilih sekolah yang sepak bolanya bagus dan aktif. Sampai kuliah di Unpad pun, gue identik dengan sepak bola. Gila bola banget lah pokoknya.

Kalau di lapangan, posisi Anda memangnya apa?
Gue itu playmaker. Sempat berubah fungsi jadi breaker. Jadi, seiring dengan pertambahan badan gue, akhirnya gue menjadi tukang tabrak alias gelandang penimba sumur.

Sebelumnya gue sangat-sangat Xavi dan Pirlo sekali kalau main. Ha-ha. Boleh nanti di kroscek yang sudah sering terima umpan-umpan manja gue.

Orang tua melarang Anda jadi pemain, apakah karena mereka tidak menyukai sepak bola?
Hobi juga sebenarnya. Gue lahir itu pas Piala Dunia 1982. Bokap suka Italia saat itu. Idola dia adalah Paolo Rossi. Cuma, entah bagaimana, nama gue kok jadi Valentino. Padahal bokap bilang inspirasinya dari Rossi. Mungkin tahunya nama orang Italia ya Valentino.

Mereka cukup keras ya soal pendidikan?
Kalau jadi atlet itu intinya enggak dapat restu. Bokap setujunya gue jadi insinyur awalnya. Tetapi karena gue masuknya IPS, jadi enggak bisa. Harapan dia, kalau enggak jadi pengacara, ya hakim atau jaksa.

Ketika awal-awal terjun ke dunia seni dan hiburan, apakah masih nyaman bekerja sebagai pengacara?
Gue dulu pernah resign dari kantor firma hukum. Tetapi gue tetap bilang berangkat kerja ke orang rumah. Lucunya uang di kantong enggak cukup untuk sampai kantor. Jadilah gue luntang-luntung di jalanan.

Masa itu berat. Tapi pelan-pelan gue bangkit. Gue ambil kursus, terus kerja juga di radio. Mulai 2006, gue jadi presenter bola dan meledak pada 2013. Tetapi gue justru distop di grup (televisi) itu.

Gue enggak tahu alasannya. Mungkin karena gue aktif di APPI (Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia) saat itu, makanya gue punya banyak halangan di televisi.

Mungkin kepentingan Anda di APPI itu mengganggu stasiun televisi tersebut...
Bisa jadi. Saat itu gue berjuang di televisi lain. Gue dipanggil beberapa televisi, jadi bintang tamu, ikut acara-acara serabutan dan segala macam.

Momen paling berdarahnya adalah saat membuat jebret TV. Itu adalah momen di mana gue berpikir di industri ini lo enggak pernah tahu, besok itu masih siaran atau enggak. Jebret TV masih jalan sampai sekarang, monetize-nya sudah mulai ada, sponsor pun mulai masuk.

Anda masih sakit hati dengan keputusan stasiun televisi itu?
Setelah membuat Jebret TV gue malah jadi lebih dewasa melihat persoalan itu. Gue memaklumi, karena itulah industri televisi.

Yang jelas, gue merasa beruntung bisa comeback lagi di Timnas--setelah empat tahun berselang. Gue jadi presenter untuk Timnas itu pada 2013.

Selama menghilang dari pertandingan Timnas di televisi, beredar kemana saja?
Gue pergi ke stadion. Setiap Timnas main gue pasti datang ke stadion. Mau di kota mana pun, sambil gue bawa tim vlog, gue syuting bersama dengan para suporter. Mereka begitu welcome, gue jadi akrab dengan banyak komunitas suporter.

Jadi, kalau ada yang meragukan kebolaan gue, gue sangat terbuka untuk diskusi terbuka.

Ada pihak yang meragukan pengetahuan sepak bola Anda?
Makanya gue tantang. Mau adu main bola, mau debat, apa mau adu banyak-banyakan teman suporter dan pemain bola? Jadi, kalau kata mereka gue ini alay atau apa, gue memilih untuk menjadi seperti itu.

Jadi gue begini bukan born with, tapi made by, karena ini gue create. Posisinya jelas bahwa pada 2010, pasar Indonesia itu youth netizen dan woman.

Yang bisa gue baca dari survei itu adalah mencoba cari cara untuk menyamakan frekuensi dengan mereka. Karena cewek pasti bosan dengan bola yang kadang seri dan komentatornya begitu-begitu saja.

Ada juga netizen yang menilai gaya Anda dalam membawakan pertandingan itu norak dan tidak mendidik...
Penonton bola sudah pasti akan nonton bola saat pertandingan. Yang perlu gue garap adalah pemirsa yang enggak nonton bola, dan bagaimana caranya dia jadi pindah nonton bola.

Makanya testimonial yang gue dapat, ibu-ibu yang tadinya nonton sinetron sekarang ikhlas kasih remote tv ke suaminya.

Kemudian anak yang ribut sama orang tuanya, sekarang duduk bareng, ketawa bareng dengerin gue komentar.

Quality time mereka yang tadinya main handphone sendiri-sendiri, sekarang pada menunggu gue siaran supaya mereka ketawa bersama.

Bagaimana soal anggapan kata-kata Anda yang tidak mendidik?
Testimoni-testimoni tadi menurut gue lebih penting. Kalau di televisi ya mendidik dengan cara menghibur. Gue menyiapkan banyak kutipan pahlawan, banyak kutipan motivasi, banyak lagu perjuangan, ya itu bagian dari edukasinya.

Btw Anda sepertinya kesal sekali jika dinilai tidak mendidik penonton televisi...
Gue bukan orang yang tidak berpendidikan, gue ini sangat berpendidikan. Sebentar lagi gue S3. Sombong kan? Ha-ha. Sekali gue diundang, bisa dapat Rp25 juta kalau di corporate.

Mereka senang undang gue, kenapa? Karena gue kalau sharing, gue bisa tampilkan muka Choky Sitohang dengan gaya bicara Sule sama Tukul. He-he.

Kritik lain adalah Anda diminta menggunakan bahasa sepak bola saja yang benar agar penikmat bola yang difabel juga bisa memahami pertandingan...

Gue itu siaran dengan translator yang difabel dan ada yang menderita difabel juga, gue juga wawancara mereka. Bagi mereka itu sah-sah saja. Cuma memang mereka harus bisa menerjemahkan kata-kata gue dengan bahasa isyarat yang lebih ringkas.

Ada tudingan juga Anda ini sekadar cari sensasi, benar?
Tujuan gue bukan sensasi. Enggak lain enggak bukan, gue cuma mau Indonesia juara. Yang kedua, gue mau memberikan tontonan yang berbeda ke penonton. Gue tentu paham jika terlalu banyak bicara itu mengganggu, tapi jika terlalu diam itu justru akan membentuk suasana datar dan hampa. Ya itu namanya pilihan.

Banyak juga ya ternyata haters Anda he-he...
Dulu 50-50, sekarang sih sudah jadi 80-20. Yang 80 suka sama gue, haters-nya jadi sedikit.

"Tujuan gue bukan sensasi. Enggak lain enggak bukan, gue cuma mau Indonesia juara"

Valentino Jebret

Kenapa Anda harus capai-capai pakai klarifikasi segala--dengan menjawab para haters itu di media sosial?
Mungkin karena gue orang hukum, gue senang dengan proses jawab menjawab. Kedua, gue itu orang Batak, orang Batak kan selalu begitu. Gue komplain sama lo, lo jawab komplain, ya gue balas lagi. Memang sudah bawaan saja.

Intinya gue perlu haters, karena mereka akan tetap buat gue terus mawas diri.

Anda merasa sudah berada di puncak kesuksesan sekarang ini?
Kesuksesan buat gue itu kalau kita sudah bebas dari segala cicilan dan pinjaman.

Gue itu penganut penulis Steven Covey. Prinsipnya gue enggak mau kesuksesan itu berhenti di gue, tapi bisa bawa orang lain juga untuk sukses.

Kalau dengan gaya lebay yang sama, Anda mau membawakan acara olahraga lain, selain sepak bola?
Ini pertanyaan atau tawaran? Asal angkanya pas kenapa enggak? Ha-ha.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.