Keterangan Gambar : Warih Andang Tjahjono © Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo

Warih adalah orang Indonesia pertama yang bisa menduduki pucuk pimpinan Toyota Indonesia menggantikan Masahiro Nonami.

Warih Andang Tjahjono agaknya lebih akrab dengan sepeda ketimbang alat transportasi bermesin lainnya.

Di ruang kerjanya, tak ada satu pun potret Warih bersama salah satu kendaraan keluaran Toyota. Hanya ada enam bingkai yang terpampang: tiga di antaranya foto resmi bersama pejabat dan rekan kerja, satu bingkai lain berisi piagam penghargaan, dan dua lainnya adalah foto Warih berpose dengan sepedanya.

Sepeda memang menjadi saksi perjuangan hidupnya semasa sekolah dulu. Untuk bisa sampai ke SMP Negeri 4 Solo, setiap pagi Warih muda harus mengayuh sepedanya sepanjang tujuh kilometer, dan jarak yang sama untuk kembali ke rumah.

"Jadi kalau pagi, di jalan saya selalu ketemu satu guru yang pakai mobil ke sekolah. Nah, dia akan tahu saya terlambat atau tidak, karena dia kan bisa perkirakan kapan saya sampainya," ujar Warih di ruang kerjanya yang terletak di bilangan Sunter, Jakarta Utara, Selasa (13/6/2017).

Masa mudanya memang tak mudah, meski bukan berarti selalu tak mujur. Orangtua Warih berprofesi sebagai guru sekolah dasar biasa yang penghasilannya harus dibagi antara Warih dan dua saudara kandungnya, juga beberapa sepupunya yang turut diasuh sang bapak dan ibu.

"Susah, tapi yang ikut banyak. Saya juga bingung dengan bapak-ibu," kata Warih mengingat masa kecilnya.

Saking susahnya, pria kelahiran Pati, Jawa Tengah, 53 tahun silam ini mengaku tak memiliki cita-cita yang spesifik. Baginya, bisa diterima di sekolah favorit saja sudah cukup.

Warih memang cukup mujur. Usahanya untuk bisa menuntut ilmu di sekolah favorit selalu terwujud. Usai menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Pertama-nya, Warih diterima di SMA Negeri 1 Solo. Begitu juga ketika lulus SMA, Warih juga diterima di Fakultas Teknik Kimia Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah.

Selepas dari Undip, ia diterima di produsen mobil besar asal Jepang, Toyota. Loyalitasnya berkarier selama 29 tahun di Toyota, akhirnya membuahkan hasil. Hingga akhirnya si pengayuh sepeda ini menggantikan posisi Masahiro Nonami sebagai Presiden Direktur TMMIN per 1 April 2017. Posisinya pun menjadi fenomenal. Sebab, sepanjang sejarah Toyota di Indonesia, Warih adalah putra lokal pertama yang berhasil menduduki jabatan ini.

Kariernya di Toyota pun dimulai dengan beragam posisi. Mulai dari bagian Sumber Daya Manusia (SDM), General Affairs, Operation Management Consulting (2009-2011), Direktur Vehicle Manufacturing Karawang Plant & Production Engineering (2011-2014), sampai Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia pada tahun 2014.

Bersama Mustafa Imanuddin, Ronna Nirmala, dan fotografer Wisnu Agung Prasetyo, Warih bercerita tentang perkembangan Toyota Indonesia, isu global, hingga persaingan dunia otomotif saat ini. Berikut petikannya:

Warih Andang Tjahjono saat berbincang dengan Beritagar.id di kantornya, Sunter, Jakarta Utara.
Warih Andang Tjahjono saat berbincang dengan Beritagar.id di kantornya, Sunter, Jakarta Utara.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Hampir tiga puluh tahun di Toyota, perkembangan apa saja yang Anda lihat selama ini?Kita coba evaluasi Kijang ya. Dulu tahun 1977, lokal kontennya masih 19 persen, supplier (pemasok) masih impor semua. Sekarang kita lihat akhir 2015, generasi 6 Innova (Kijang), lokal kontennya sudah 85 persen, supplier sudah 140 (tier 1), tier 2 dan 3 nya bisa dua kali lipat.

Harganya sekarang mahal. Tapi walau mahal, marketnya bisa 4.000 sampai 5.000, konstan.

Jadi kalau saya lihat, perkembangan industri dan ekonomi (Toyota Kijang Innova) itu, naik. Marketnya juga tetap ada, ekonomi orang Indonesia juga meningkat. Artinya optimistislah industri kita masih bagus.

Ke depan marketnya masih optimistis?
Iya lah. Kalau misalnya Trans Papua, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra sudah terhubung, orang pasti semakin butuh mobil. Nah, pada saat itu kita incar marketnya.

Kesempatan market kita besar. Saat ini, dari kira-kira 1 juta, kepemilikannya per orang sampai 86. Padahal kalau negara maju bisa 600-700, berarti kita punya tujuh sampai delapan kali lipat kesempatannya.

Untuk kejar market, apa pendekatannya ke pelanggan?
Kemampuan kita sebagai orang industri adalah untuk melihat maunya customer apa. Jangka pendeknya, kita harus cepat merespons maunya customer, lalu buat modifikasi kecil untuk memenuhi itu. Paling tidak setahun sekali.

Kalau jangka panjangnya ya terus berusaha, he-he-he.

Intinya kita tidak boleh terlalu nyaman. Banyak cerita, dulu jagoan sekarang keok. Jadi, kita harus terus aware dengan persaingan yang ada sekarang.

Cara mengetahui respons pelanggan seperti apa?
Kalau di industri ini kan produknya dievaluasi lewat market. Kalau trendingnya turun dan turun, pasti customer butuh sesuatu lah. Maka kita harus cepat refresh.

Tren Toyota pernah turun? Kapan?
Ada lah masa itu. Semua industri pasti pernah.

Biasanya yang diinginkan pelanggan itu seperti apa sih?
Kalau saya lihat sekarang rata-rata customer ingin produk yang stylish, banyak aksesorisnya. Dulu kan lebih functionalist.

Tingkat kemampuan orang Indonesia untuk membeli kendaraan sejauh ini bagaimana?
Sekarang itu yang paling laku LCGC (Low Cost Green Car) atau low segment vehicle. Tahun 2015, market sepeda motor itu sekitar 7 sampai 8 juta, terus 2016 ada penurunan 1 juta. Kita berpikir, jangan-jangan ada satu juta yang hilang itu geser ke mobil. Ternyata memang, meski gak semua.

Jadi, ekonomi kita didrive dari itu. Perpindahan kendaraan. Nah, ini artinya berkaitan juga dengan kemampuan.

Apa karena perbankan mempermudah pembiayaannya?
Iya itu juga. Tapi kita juga punya masalah besar soal itu: non-performing loan alias kredit macet..he-he-he.. tapi itu biasa, masih bisa diatasi.

Atau karena terbantu juga dengan keberadaan Uber, Go-Car, dsb?
Begini, sekarang ramai orang mempertentangkan jika MRT Jakarta (Mass Rapid Transit) ada, maka market mobil akan turun. Tapi, dari pengamatan saya di beberapa stasiun KRL, lapangan parkirnya selalu penuh dengan mobil dan motor.

Orang kita sudah mirip dengan orang Jepang. Ke stasiun pakai mobil atau motor, dari situ baru diteruskan dengan kereta ke pusat kota.

Intinya kita tidak boleh terlalu nyaman. Banyak cerita, dulu jagoan sekarang keok. Jadi, kita harus terus aware dengan persaingan yang ada sekarang.

Warih Andang Tjahjono

Soal lokal konten. Sekarang Toyota punya berapa model yang kontennya sudah dominan lokal. Ke depan kira-kira bagaimana?
Lokal konten itu ada dua definisi, yakni ada nilai tambah di Indonesia, dan proses serta manufakturnya di Indonesia. Sekarang memang tantangannya adalah lokalisasi seutuhnya. Kita baru 60 persen, Thailand sudah lebih dari 70 persen. Tugas kita sekarang bagaimana bisa lebih dari 70 persen.

Sekarang Innova sudah 85 persen, Sienta 80 persen, Yaris 75 persen, Fortuner 75 persen, Etios 60 persen, dan Vios 75 persen.

Bagaimana menjawab tantangan itu?
Industri hulu, industri awal dari sumber daya alam diolah. Kalau kata Pak Jokowi: hilirisasi satu tingkat lah. Jangan jual raw material. Jual produk-produk hilir, karena raw material pengolahannya ada tiga empat tingkat, dan harus ada smelter (tempat pemurnian konsentrat).

Tapi memang industri ini tantangannya besar, harus ada support dari pemerintah.

Untuk produk manufaktur otomotif, smelternya bagaimana?
Sudah banyak yang dibuat, seperti misalnya baja ada Nippon Steel. Industri hulu itu jangan sendiri, paling tidak joint venture. Kalau mikir sendiri kelamaan. That's the best way. Karena pesaing kita itu Thailand.

Kita sebentar lagi akan punya Pelabuhan Patimban, Subang, Jawa Barat. Ada cara untuk meningkatkan ekspor?
Kita bicara trade balancing. Sementara trade balancing itu dipengaruhi impor dan ekspor. Sebenarnya gampang. Mengutip Chatib Basri (mantan Menteri Keuangan), kalau mau kurangin impor barang konsumsi, kurangin bahan konsumsinya. Maka, impornya pasti berkurang.

Tapi sekarang bagaimana meningkatkan ekspor. Satu-satunya cara yang paling efektif adalah meningkatkan industrinya. Tapi, industri itu butuh waktu, itu tantangan ekonomi kita.

Jadi gak usah banyak mikir, ya kencengin industrinya, karena konsumsi itu makin lama makin naik.

Industri bagus juga akan menambah value, lapangan pekerja, nilai tambah barang. Kita akan ekspor barang mentah. Ekspor migas turun-turun terus, nonmigas malah naik.

Ada upaya pendekatan dengan Australia soal ekspor?
Marketnya gak match. Produknya juga gak cocok. Tapi kita masih berharap 5 sampai 10 tahun ke depan, karena dia marketnya besar loh.

Tapi semua market kita anggap sebagai potensi. Vietnam dan Filipina juga besar. Kalau punya capability masuklah.

Selain Australia, ada market lain yang sedang didekati?
Ada Afrika Utara, Amerika Tengah; Asia ada Laos, Myanmar, Kamboja, itu besar juga.

Toyota Indonesia itu, sales volumenya nomor empat di dunia, setelah Amerika, Jepang, Tiongkok. Kalau tiga negara ini tidak ada, kita nomor satu. Jadi potensinya besar. Kita pasti besar, tapi kita jangan sampai keduluan. Industrinya harus bisa kejar.

Kasian supply chain kita. Kalau kita jadi market tok, gimana nanti.

Terkait isu global. Industri otomotif juga diminta untuk mengadaptasi produknya ke ramah lingkungan. Di beberapa negara maju sudah mulai. Kalau di sini bagaimana? Pasarnya sudah kelihatan?
Dalam Paris Agreement, kita (Indonesia) berkomitmen bahwa tahun 2020 kita akan melakukan pemangkasan emisi hingga 20 persen. Selain itu memang bahan bakar fosil akan habis. Itu tak bisa dibantah. Dua fundamental utama.

Nah sekarang, emisi 20 persen consists of many things: industri otomotif, pabrik, semua berkontribusi.

Jangka panjang menengah, kendaraan konvensional pasti makin lama makin sedikit, akan digantikan oleh kendaraan yang lebih hemat bahan bakar. Itu harus, tinggal waktu saja.

Terus marketnya memang kendaraan yang hemat bahan bakar (hybrid, listrik, dsb) pasti mahal. Tapi ingat, kendaraan model ini untuk investasi anak cucu kita. Generasi kita ke depan harus dilindungi. Jadi ini sudah kewajiban.

Sekarang memang kita masih berdiskusi dengan customer, maunya apa dan bagaimana.

Pendekatan ke masyarakat bagaimana?
Sebenarnya kita sudah ada kampanye, di IIMS (Indonesia International Motor Show), kita perkenalkan (mobil ramah lingkungan), tapi memang belum masif.

Pengenalan awal juga sudah ke teman-teman di SMK, SMA. Supaya lebih dalam.

Pembekalan untuk SDM Toyota sendiri?
Semua sudah siap-siap. Persaingan dunia usaha itu macam-macam, produktivitas itu sama dengan smart work, bagaimana bekerja lebih ringan dan mudah. Butuh pemikiran baru. Produksi dan kualitas bagus.

Makanya kita selalu butuh generasi baru. Next generation should be better than current generation.

Prosesnya harus lebih bagus dari saya. Kalau saya training 5 kali, dia 10 kali.

Warih Andang Tjahjono saat berbincang dengan Beritagar.id di kantornya, Sunter, Jakarta Utara.
Warih Andang Tjahjono saat berbincang dengan Beritagar.id di kantornya, Sunter, Jakarta Utara.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Termasuk pembekalan dengan SMK?
Sekarang vokasi, kita ada beberapa learning center, ajak guru untuk belajar/praktik. SMK lebih banyak praktik, supaya mereka lebih dekat dengan kita. Lebih mengenal teknologi.

Ada rencana masuk kurikulum?
Sekarang kita lebih banyak ke learning center. Angkatan kerja kita ini butuh pembekalan khusus. Itu yang sekarang kita kejar.

Model hybrid apa yang akan segera keluar?
Tergantung customer. Kita lihat saja selanjutnya. Kalau preverensi kita.

Indonesia itu unik. Kalau negara lain preverensinya berubah, dari penumpang ke komersial. Tapi kalau kita, kita masih suka style MPV, walau memang tidak bisa dibilang commercial vehicle lagi.

Market kita memang kuat dipengaruhi budaya. Tapi, tetap ada positifnya, guyub. Tapi kan gampang, kalau senang sendirian cari model hatchback saja.

Customer itu keras, salah sedikit bahaya.

Ada rencana buat mobil hybrid murah gak?
Tantangannya itu. Tapi secara teknologi sendiri sulit. Butuh regulasi yang clear juga.

Tapi, sekarang yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa membuat market yang lebih besar, sehingga potensi untuk mengembangkan juga besar. Kalau bisa, memang harga harus kompetitif. Supaya bisa itu policy harus bagus.

Euro-4 di Indonesia, sudah siapkah?
Sebenarnya semua regulasi harus ada timelinenya, pemerintah juga tidak sendirian. Sebelum regulasi keluar pasti ada komunikasi dengan pengusaha.

Kalau untuk RUEN/RUED (Rancangan Umum Energi Nasional/Daerah), apakah teknologi yang dimiliki TMMIN sudah sejalan?
Tinggal jalan saja. Toyota sudah siap.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.