Eks Ketua Umum Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) Mahful Muis Tumanurung saat jumpa media di Lantai III Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta, Selasa (26/1/2016) dan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Amin Djamaluddin, di kantornya Jalan Tambak 20-D, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu malam (27/1/2016).
Eks Ketua Umum Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) Mahful Muis Tumanurung saat jumpa media di Lantai III Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta, Selasa (26/1/2016) dan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Amin Djamaluddin, di kantornya Jalan Tambak 20-D, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu malam (27/1/2016). Nurdiansyah dan Heru Triyono (Editor Foto: Ki Agus) / Tempo dan Beritagar

Wawancara Amin Djamaluddin dan Mahful Muis Tumanurung: Antara murtad dan Islam mainstream

Mahful mengaku keluar dari Islam mainstream dan menilai Majelis Ulama salah alamat. Sementara Amin berpendapat Gafatar telah menistakan agama dan murtad.

Polemik Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) berlanjut. Organisasi masyarakat yang dinilai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Amin Djamaluddin, kelanjutan aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah dan Millah Abraham ini kembali memicu kontroversi.

Penyebabnya, pernyataan dari eks Ketua Umum Gafatar Mahful Muis Tumanurung yang melontarkan pernyataan keluar dari Islam mainstream. Kalimat itu terucap dari bibir Mahful saat jumpa media di Lantai III Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta, Selasa (26/1/2016).

Mahful menekankan bahwa Gafatar tidak memiliki paham sama dengan Islam versi Majelis Ulama Indonesia. Sebab itu, fatwa sesat yang disematkan terhadap organisasinya dinilai salah alamat.

"Bagaimana mau difatwa kalau kami di luar mereka (MUI)," tuturnya. Ajaran yang dipegang teguh Gafatar ditambahkan Mahful adalah paham Millah Abraham.

Pernyataan keluar dari Islam itu menimbulkan pertanyaan besar dari Amin Djamaluddin. Ia mengaku gagal paham dengan perkataan Mahful soal Islam mainstream itu. Jika yang dimaksud mainstream itu Islam Ahli Sunnah Wal Jama'ah, maka pernyataan Mahful sama saja penodaan agama.

"Perbuatannya (Mahful) harus di pidana, karena menistakan agama," kata Amin saat ditemui Heru Triyono dan Yandi Mohammad dari Beritagar.id di kantornya Jalan Tambak 20-D, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu malam (27/1/2016).

Amin sendiri sudah bergerak untuk melaporkan Gafatar ke Kejaksaan Agung dan Markas Besar Polri pekan lalu tentang penodaan agama dan menyebarkan ajaran sesat. Pada 2008 dia juga melaporkan Ahmad Musadeq ke polisi, dan membuat Musadeq mendekam di penjara selama 4 tahun--dengan jenis laporan yang sama.

Dasar hukum yang dipakai Amin adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 yang intinya setiap orang dilarang melakukan penafsiran agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.

Namun Mahful tidak terima dicap sesat. Pasalnya, ia merasa belum pernah diajak diskusi oleh MUI mengenai paham yang dianutnya: Millah Abraham. "Kenapa ketika kami eksis tidak pernah diajak diskusi? Kenapa tiba-tiba diberi fatwa? Apakah Anda (MUI) pernah berdialog dengan kami?" katanya.

Pihaknya mengaku sempat meminta waktu berdialog dengan MUI pada tahun 2015, tapi tidak digubris.

Sebelas tahun lalu Amin berdialog dengan Musadeq, yang dianggap guru spiritual oleh Mahful di kantor LPPI. Ketika itu Musadeq datang untuk menjelaskan tentang alirannya. "Dia menyatakan diri sebagai Al Masih Al Maud setelah bertapa 40 hari di Gunung Bunder (Bogor)," katanya.

Oleh Musadeq, Amin diberi buku Teologi Abraham; Membangun Kesatuan Iman Yahudi, Kristen dan Islam, Eksistensi dan Konsekuensi Sebuah Kesaksian, Al Masih Al Maw'ud & Ruhul Qudus Dalam Perspektif Taurat, Injil & Al-Qur'an.

Yang membuat Amin terkejut di Gafatar ada pembayaran uang untuk menebus dosa. Ia mendapatkan formulir itu secara rahasia. "Besaran nominal uangnya ditentukan Musadeq," ujarnya.

Indikasi sesat terhadap Gafatar membuat ribuan warga menyerang permukiman Gafatar di Desa Moton, Mempawah Timur, Mempawah, Kalimantan Barat pada 19 Januari lalu. Hal itu membuat sekitar 700-an warga eks Gafatar dipulangkan ke daerah asal masing-masing.

Beritagar.id menemui dua nara sumber ini pada ruang dan waktu berbeda. Materi wawancara Mahful kami kumpulkan dari tanya jawabnya dengan media, termasuk Beritagar.id, ketika di YLBHI. Sementara Amin kami wawancara secara khusus di kantornya. Berikut petikan wawancara dengan keduanya:

Eks Ketua Umum Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) Mahful Muis Tumanurung saat jumpa media di Lantai III Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta, Selasa (26/1/2016) dan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Amin Djamaluddin, di kantornya Jalan Tambak 20-D, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu malam (27/1/2016).
Eks Ketua Umum Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) Mahful Muis Tumanurung saat jumpa media di Lantai III Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta, Selasa (26/1/2016) dan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Amin Djamaluddin, di kantornya Jalan Tambak 20-D, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu malam (27/1/2016). | Nurdiansyah dan Heru Triyono /Tempo dan Beritagar

Mahful Muis Tumanurung:

Setelah pengusiran dari Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, kini eks Gafatar di wilayah lain Kalimantan juga diusir warga. Apa sikap Anda?
Sangat menyesalkan dan mengutuk tindakan biadab pengusiran secara sistematis itu. Seperti pembakaran, pengrusakan, dan pencurian aset. Untuk itu kami menuntut pihak berwenang mengusut dan menuntaskan persoalan ini secara hukum.

Mengapa anggota Gafatar beramai-ramai eksodus ke bumi Kalimantan?
Untuk melaksanakan program kedaulatan pangan mandiri. Kami ingin fokus untuk terus berjuang membangun bangsa ini lewat program itu. Program itu tidak mengikat dan memaksa. Karena setelah bubar, struktur kepengurusan tidak ada lagi. Masing-masing pribadi kami persilakan untuk ambil sikap.

Konon Kalimantan akan dijadikan kota mandiri dan kebangkitan?
Kalimantan adalah pilot project dari program kedaulatan pangan. Karena tanahnya subur, luas, strategis dan secara ekonomi harga lahannya terjangkau. Sehingga kami menghimbau eks anggota untuk terus melanjutkan program itu.

Apakah benar jika jangka panjangnya Gafatar akan membangun negara?
Kami tersanjung dibilang begitu. Bicara negara adalah soal kedaulatan, proklamasi, dan undang-undang dasar, serta teritorial. Bukan itu yang kami mau. Tujuan kami adalah membangun negeri yang penuh kedamaian dan kesejahteraan berdasarkan nilai kebenaran universal yang diajarkan Tuhan semesta alam melalui kitab-kitabnya. Itu saja.

Bukan menguasai Indonesia dan menggantikan pemerintahannya?
Kami ini anak bangsa yang terlalu cinta negeri Indonesia. Maka itu izinkan kami ikut aktif untuk membangun, jangan dicegah dan jangan ditahan. Biarkan kami sampai tujuan, dan kita lihat siapa yang lebih unggul antara eks Gafatar atau teman-teman di bidang pangan yang lain. Kami tidak bermimpi untuk jadi penguasa. Apa daya kami? Gafatar pun selama ini tidak pernah bicara kekuasaan, apalagi merebutnya. Jika kami diberi kekuasaan pun kami tidak akan terima.

Bagaimana caranya membangun negeri yang penuh kedamaian dan kesejahteraan itu?
Memakmurkan apa yang ada di alam semesta nusantara ini. Sumber daya alamnya ya kita bangun. Syukur-syukur bisa jadi mercusuar bagi dunia. Untuk mewujudkan niatan itu kami mengkoordinasikan masing-masing wilayah yang berisi ribuan manusia (anggota Gafatar) yang ada di Kalimantan untuk melaksanakan program itu.

Prosesnya memang bukan lagi dalam struktur ormas. Tapi kami tetap bisa mengkoordinasikan wilayah-wilayah baik di level pusat, kabupaten atau kota.

Kenapa harus program kedaulatan pangan?
Karena pangan adalah kebutuhan dasar dari seluruh hidup berbangsa dan negara.

Kenapa program itu tidak diusulkan saja ke pemerintah?
Gafatar sudah terlanjur melakukan program itu. Memang pada 13 Agustus 2015, kami (Gafatar) bubar, tapi program ini tidak berhenti. Namun, bagi yang tidak mau melanjutkan juga tidak mengapa untuk tidak meneruskan. Tapi, program yang berjalan, tetap ada koordinasi di masing-masing wilayah. Hal itu dilakukan untuk memonitor. Kami ingin pastikan eks Gafatar tidak jadi sampah masyarakat.

Dari mana Anda menghimpun dana sehingga program kedaulatan pangan bisa berjalan?
Sejak awal kami tidak ingin membebani pemerintah. Kami bergerak secara mandiri, tidak sepeser pun uang kami terima dari pemerintah. Sumbernya adalah kolektif dari dana iuran anggota kami.

Jika memang melaksanakan program itu di Kalimantan kenapa eks anggota Gafatar sampai diusir?
Apa yang dilakukan di sana murni bertani, tidak berdakwah. Isu dakwah adalah opini yang dikembangkan oleh media, bukan berita. Ini yang saya nilai tidak seimbang, tapi anehnya dijadikan dasar untuk memberangus kami, termasuk oleh Majelis Ulama Indonesia. Padahal kami ingin menjadi transmigran mandiri. Kami juga tidak melanggar hukum, tapi kenapa berpindah tempat ke sana seperti melanggar hukum? Kenapa kami diusir?

Mungkin karena Gafatar dicap sesat oleh Majelis Ulama Indonesia di beberapa daerah, termasuk Kalimantan?
Kantor kami terbuka lebar. Kenapa ketika kami eksis tidak pernah dipanggil untuk diskusi tentang pemahaman yang kami yakini. Pernah kah MUI berdialog dengan saya? Kami ini pernah menyurati MUI tapi tidak ditanggapi pada 2015. Kami kirimkan surat audiensi. Intinya soal keyakinan itu hak asasi kami. Bukankah semua rasul tidak memaksakan bangsanya harus mengikuti dia. Jadi jangan saling menjegal.

MUI kan juga ormas, sama dengan Gafatar. Sesama ormas tidak pantas untuk sesat menyesatkan. Fatwa ini justru memprovokasi, tidak memberi edukasi ke masyarakat. Ini giliran kami membina dipersalahkan. Kemana mereka selama ini? Malah tidak membina umat.

Anda menyatakan keluar dari Islam mainstream dan tidak mau versi Islam yang Anda pahami disamakan dengan MUI?
Kami tidak memiliki paham yang sama dengan yang dipahami MUI. Jadi kami bukan bagian dari mereka, sehingga tidak pantas mereka keluarkan fatwa ke kami.

Maksudnya paham yang Anda anut adalah menggabungkan beberapa agama?

Sama sekali tidak menggabungkan. Tapi akar teologinya tetap sama, yakni mengabdi kepada Tuhan semesta yang esa.

Apa bentuk hubungan Gafatar dengan Ahmad Musadeq?

Secara keorganisasian beliau bukan pengurus dan pendiri. Tapi nilai-nilai spiritualnya kami junjung tinggi. Itu semua kami dapatkan dari beliau, yang kami tempatkan sebagai nara sumber. Sebagaimana orang menempatkan kiai sebagai nara sumber.

Jika Ahmad Musadeq adalah narasumber spiritual, dengan kata lain dipercaya sebagai seorang rasul?

Hal itu sudah selesai pada 2007. Dan beliau hanya membawa risalah. Hanya saja kami mengambil beliau sebagai nara sumber. Kami lebih percaya dengan keterangan dia, ketimbang ada orang yang berceramah tapi tidak berdasar, bahkan berkhayal dengan sesuatu yang abstrak. Padahal kita hidup di dunia yang konkret.

Bukankah Gafatar bermisi sosial? Kenapa porsinya seperti lebih banyak hal spiritual?

Kitab suci mengatakan, buah yang baik itu tidak mungkin berasal dari akar pohon yang buruk. Pertanyaan saya apakah aksi sosial Gafatar buruk atau baik? Kan tidak ada yang buruk. Kami bukan teroris, pecandu narkoba atau koruptor, kenapa kami dimusuhi?

Selama ini apakah ada penanaman nilai-nilai spiritual tadi ke anggota?
Untuk urusan kepercayaan kami pulangkan kepada masing-masing. Mereka memiliki ragam latar belakang, Kristen atau Islam. Tapi kami membebaskan bagi mereka yang ingin mendalami ajaran Millah Abraham, yang bersumber dari Taurat, Injil dan Alquran.

Amin Djalamuddin melaporkan Anda ke polisi. Anda siap jika akan diperiksa?
Sebagai warga negara Indonesia yang taat hukum saya akan datang.

Amin Djamaluddin:

Menurut Anda apakah pengusiran warga eks Gafatar dari Kalimantan bisa dibenarkan?
Bagaimanapun kekerasan bukan jalan keluar. Mereka ini hanya pengikut. Yang harus dipantau adalah pemimpinnya (Gafatar). Saya rasa itu adalah ekses dari terbongkarnya kesesatan mereka, sehingga warga tersulut.

Mengapa anggota Gafatar beramai-ramai eksodus ke bumi Kalimantan?
Pindahnya mereka ke Kalimantan itu adalah representasi dari sejarah perpindahan dari Mekah ke Madinah untuk berdirinya ibu kota Negara yang mereka sebut Ummul Qura. Ini adalah fase ketiga dari Gafatar, yakni hijrah. Fase yang pertama adalah sirrun, yaitu gerakan rahasia, yang kedua adalah jahrun, yaitu berdakwah.

Kemudian yang bahaya adalah keempat, yakni qital, perang terbuka demi kemenangan. Selanjutnya adalah futuh, yaitu menang, lalu mendirikan khilafah, yaitu membentuk pemerintahan negara Islam versi mereka.

Apakah mereka mampu untuk membangun negara?
Potensinya besar. Baru berapa tahun saja sudah ada cabangnya di 34 daerah, dengan anggota berjumlah 50 ribuan orang. Jika sudah mempunyai banyak pengikut, Gafatar yakin memenangkan peperangan.

Bukankah mereka ke Kalimantan untuk melaksanakan program kedaulatan pangan?
Itu kamuflase. Setelah mereka memiliki anggota yang banyak mereka akan mendirikan khilafah. Tapi khilafah yang bukan seperti Nabi Muhammad, tapi menggabungkan tiga agama: Yahudi, Kristen dan Islam. Itu sesat.

Tapi bagaimana mau dibilang sesat kalau mereka di sana hanya bertani?

Kalau mau debat datang ke sini saja. Buku asli mereka sama saya semua. (Menunjukkan buku Teologi Abraham; Membangun Kesatuan Iman Yahudi, Kristen dan Islam, yang editornya Mahful Muis).

Intinya buku itu menodai Islam. Saya sebutkan ya. "Perkataan Rasul (anak) adalah perkataan Allah (bapak) dan perbuatan Rasul adalah perbuatan Allah". Artinya, jika Rasul tidur berarti Allah juga tidur, kalau Rasul makan, berarti Allah juga makan. Ini jelas sesat.

Sesat yang lain adalah salat baru diwajibkan setelah hijrah. Sementara perjuangan mereka saat ini masih di fase Mekah. Sehingga tidak wajib salat 5 waktu. Padahal salat 5 waktu diwajibkan ketika peristiwa isra mi'raj. Dan itu terjadi sebelum hijrah. Akan tetapi mereka wajib salat malam

Apa sanksi kalau tidak melakukan kewajiban, apakah dihitung dosa juga?
Ya dosa. Tapi bisa bayar uang untuk menebus dosa. Kalau misalnya tidak salat, dan Anda sebagai anggota Gafatar, maka tinggal datang ke rasulnya (Musadeq), dan bilang kepadanya bahwa Anda tidak salat. Kalau orang kaya ya tinggal bayar. Sekali tidak salat bisa Rp2 juta. Yang tanda tangan adalah Musadeq.

Mahful Muis Tumanurung mengatakan struktur organisasinya tidak menempatkan Musadeq sebagai pengurus?
Karena Musadeq ditempatkan sebagai Rasul. Dia membaiat hampir seluruh jajaran pengurus Gafatar. Saya memiliki data nomor baiatnya. Mahful itu baiatnya nomor 19.

Bagaimana Anda mendapatkan buku-buku itu?
Awalnya ada seorang ibu yang datang ke saya. Dia mengaku Islam tapi tidak salat, tidak juga pergi haji. Kemudian saya suruh dia diam-diam ambil buku ajaran aliran itu, dan buku itu adalah Teologi Abraham; Membangun Kesatuan Iman Yahudi, Kristen dan Islam.

Namun, data-data lain seperti buku Eksistensi dan Konsekuensi Sebuah Kesaksian, dengan Editor Mahful Muis, Al Masih Al Maw'ud & Ruhul Qudus Dalam Perspektif Taurat, Injil & Al-Qur`an saya dapatkan sendiri dari Musadeq.

Kabarnya Musadeq menuduh Anda mencuri buku-buku itu?
Saya tidak mencuri, saya ada foto Musadeq dengan saya ketika dia menyerahkan buku-buku itu ke saya (memperlihatkan fotonya). Musadeq datang untuk presentasi tentang alirannya. Dari bukti-bukti buku itu saya melaporkan Musadeq ke polisi, hingga dia dikurung (penjara) selama 4 tahun (pada 2007).

Setelah Musadeq bebas, Anda sudah berkomunikasi lagi dengannya?
Tidak. Yang pasti dia akan marah sekali dengan saya. Selama ini Balitbang Kementerian Agama (Badan Penelitian dan Pengembangan) yang memantaunya. Pernah orang Balitbang datang ke rumahnya di Depok yang besar sekali, dan ketika itu Musadeq menyampaikan ke orang itu bahwa MUI sesat.

MUI sejumlah daerah mencap Gafatar sesat. Tapi Mahful tidak terima karena telah menyatakan telah keluar dari Islam mainstream dan tidak merasa bagian dari Islam yang dianut MUI. Bagaimana menurut Anda?

Jawaban itu justru menjatuhkan dia. Selama ini kan tuduhannya penyesatan. Kalau menyatakan keluar ya artinya pemurtadan. Ini lebih gawat lagi, dengan mengajak anggota meyakini ajaran Millah Abraham yang menggabungkan tiga agama.

Justru itu Mahful bilang bahwa ini bukan urusan MUI lagi karena dia bukan Islam dengan yang sama?
Saya tanya ke Anda. Apakah undang-undang memperbolehkan pemurtadan? Ini sudah penodaan agama, plus menyebarkan ajaran sesat. Dasar hukum yang saya pakai adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 yang intinya setiap orang dilarang melakukan penafsiran agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.

Mahful mengaku tidak menyebarkan paham Millah Abraham itu ke anggotanya. Ia justru membebaskan karena keyakinan adalah hak asasi?

Mereka itu wajib bohong terhadap yang bukan anggotanya. Maaf saja.

Sebenarnya seberapa meyakinkan doktrin Gafatar sehingga bisa merekrut orang sebegitu banyak dan ahli di bidangnya?
Orang pintar masuk karena tertarik dengan konsep mereka itu. Jualannya adalah khilafah dan keyakinan bahwa kiamat itu segera datang. Kiamat itu diartikan sebagai menangnya mereka. Bukan kiamat versi kita, hancurnya bumi.

Apakah ada perbedaan ketika terjadi transformasi dari Al-Qiyadah-Al-Islamiyah menjadi Komunitas Millah Abraham, lalu menjelma jadi Gafatar?

Tidak. Ganti jaket saja. Kenapa dinamakan Gafatar? Karena yang paling banyak itu mereka di Aceh awalnya. Dulu di sana berkembang Komunitas Millah Abraham (Komar). Sebab itu Gubernur Aceh ketika itu melarang di seluruh provinsi Aceh aliran Komar pada 6 April 2011. Nah, setelah dilarang, mereka ganti nama jadi Gafatar.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR