Gunawan Maryanto, aktor pemeran Wiji Thukul, berpose di depan kamera usai diwawancara Beritagar.id di rumahnya, Tritonirmolo, Bantul, Jumat (11/11/2016) sore.
Gunawan Maryanto, aktor pemeran Wiji Thukul, berpose di depan kamera usai diwawancara Beritagar.id di rumahnya, Tritonirmolo, Bantul, Jumat (11/11/2016) sore. Beritagar.id / Suryo Wibowo

Wawancara Gunawan Maryanto; Menyelami Thukul lewat karya

Gunawan harus memakai gigi palsu untuk merepresentasikan salah satu ciri Thukul: tonggos

Siapa penyair yang puisinya paling banyak dikutip sepanjang sejarah gerakan menumbangkan Orde Baru? Jawabannya puisi Widji Widodo, lebih dikenal sebagai Wiji Thukul--yang percaya kata-kata adalah senjata.

...Jangan kau penjarakan ucapanmu
Jika kau menghamba kepada ketakutan,
Kita memperpanjang barisan perbudakan.

(Ucapkan Kata-katamu)

Puisi Thukul lugas dan penuh energi. Dalam aksi demo 1998 syairnya jadi mantera. Menyatukan kaum tertindas seantero negeri dan membangkitkan gairah perlawanan terhadap penguasa.

Baginya, jika usul ditolak tanpa ditimbang / Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan / Dituduh subversif dan mengganggu keamanan. "Maka hanya ada satu kata: Lawan!" demikian ia tulis dalam puisi berjudul "Peringatan".

Ia menghilang di tengah gemuruh perlawanan terhadap rezim Orde Baru. Sayangnya tak banyak orang menyadari. Hingga 3 April 2000, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan menyatakan Thukul hilang. Namanya tercatat sebagai satu di antara belasan aktivis 98 yang sampai kini tak kembali.

Pada Agustus dan September 2016, sebuah film masa-masa terakhir Thukul berjudul Istirahatlah Kata Kata diputar di dua festival film dunia. Locarno International Film Festival dan Pasific Meredien International Film Festival di Vladivostok. "Film ini ingin menampilkan semangat Wiji Thukul," kata Gunawan Maryanto, aktor pemeran Thukul dalam film tersebut.

Beritagar.id menemui Gunawan di rumahnya, Tritonirmolo, Bantul, Jumat (11/11/2016) sore, yang merupakan rumah barunya.

Rumah semi terbuka itu artistik, adem dan nyaman. "Sehari-hari saya banyak menghabiskan waktu di Teater Garasi tapi kalau mau menyepi ya ke sini," kata pria kelahiran Yogyakarta 10 April 1976 itu.

Gunawan mengaku enggan terkungkung dalam satu medium. Ia menekuni karawitan, menyutradarai teater, serta menulis naskah drama, cerpen, dan puisi.

Istirahatlah Kata Kata adalah film ke delapannya. Sebelumnya ia membintangi Toilet Blues dan Optatissimus, Guru Bangsa: Tjokroaminoto dan Aach... Aku Jatuh Cinta, serta Mencari Hilal . "Tapi baru kali ini (di Istirahatlah Kata Kata) jadi aktor utama," katanya.

Dalam film yang disutradarai Yosep Anggi Noen itu Gunawan main bersama Marrisa Anita, presenter televisi, yang berperan sebagai Sipon, istri Wiji Thukul. Berikut wawancaranya :

Gunawan Maryanto, aktor pemeran Wiji Thukul, berpose di depan kamera usai diwawancara Beritagar.id di rumahnya, Tritonirmolo, Bantul, Jumat (11/11/2016) sore.
Gunawan Maryanto, aktor pemeran Wiji Thukul, berpose di depan kamera usai diwawancara Beritagar.id di rumahnya, Tritonirmolo, Bantul, Jumat (11/11/2016) sore. | Suryo Wibowo /Beritagar.id

Sejak kapan berkenalan dengan seni peran?
Saya terpapar seni pertunjukan sejak kecil. Bapak saya punya kelompok ketoprak, si mbah juga. Rumah saya di Karangmalang (Yogyakarta) berdekatan dengan (dulu) kampus ISI Yogyakarta.

Kalau bermain teater?
Kelas 6 SD (sekolah dasar). Waktu itu ada seorang dosen tamu asal Belgia di ISI namanya Rudi Corens mendirikan teater anak. Aku ikut sampai SMA di sana. Aku belajar teater modern dari situ, karena fokusnya teater modern. Tapi kalau (seni) tradisi aku belajar otodidak.

Setelah itu?
Saat SMA ketemu Hanung (kini sutradara, Hanung Bramantyo) di teater SMA. Kami bikin sanggar bersama, namanya Sanggar Anom. Lokasinya di Sendowo (nama kampung di sekitar UGM Yogyakarta). Anggotanya ada Hanung, Kusen (kini Direktur Yayasan Umar Kayam Kusen Alipah Hadi). Selain belajar teater juga belajar menulis. Saya juga ikut pencinta alam.

Anda aktif sekali di ekstra-kurikuler sekolah...
Sangat-sangat aktif. Karena terlalu aktif sampai jarang masuk sekolah. Latihan sampai pagi, tidur di sekolah. Sampai dianggap gembel di sekolah. Agar tak dicoret dari sekolah kita harus berprestasi.

Saat kuliah anda juga aktif di teater?
Ya, masuk Fisipol UGM tahun 1994 saya bergabung dengan Teater Garasi. (Teater Garasi berdiri 1993).

Ok, Anda bermain dalam film Istirahatlah Kata-Kata. Bagaimana ceritanya bisa memerankan Wiji Thukul dalam film tersebut?
Ujug-ujug saya dikontak Anggi (Yosep Anggi Noen). Sebelumnya aku sudah dengar Anggi mau garap film tentang Thukul. Dia bilang minta dibantu. Aku tak segera mengiyakan karena belum tahu kayak apa film ini.

Tapi akhirnya Anda bersedia?
Film ini ingin mengangkat kisah Wiji Thukul. Menurut mereka (produser dan Anggi) penting sekali mengenalkan kembali Wiji Thukul pada generasi sekarang. Bagiku juga penting karena sebagai penyair aku mengagumi puisi Wiji Thukul sejak awal.

Anda pernah kenalan dengan Wiji Thukul?
Secara personal aku gak kenal. Tapi dulu aku pernah melihat dia dari kejauhan.

Di mana Anda melihatnya?
Di pasar Beringharjo (Yogyakarta). Saat itu dia sedang membaca puisi di pasar. Kalau tak salah ada penertiban pedagang pasar. Wiji Thukul memberi support pada pedagang. Ramai sekali.

Kapan peristiwa itu?
Tahun 1994/1995.

Berapa kali Anda melihat langsung Wiji Thukul?
Lebih dari sekali. Tapi yang aku ingat persis yang di pasar itu.

Karena tak mengenal langsung Wiji Thukul lantas bagaimana Anda memerankannya dalam film Istirahatlah Kata Kata?
Kalau di teater itu ada metode meniru. Mimesis. Aku mempelajari karakter Thukul dari foto-foto. Bagaimana tubuh ini meniru sepersis mungkin. Itu yang aku lakukan. Tubuh itu seperti wadah. Cara berdiri dan cara duduk itu mewakili apa yang di dalamnya. Itu yang kemudian yang aku tiru.

Tujuan metode ini bukan untuk menjadi seperti itu. Tapi meraba apa yang ada di dalamnya. Itu yang terpenting. Kalau itu sudah didapat mau bentuk apa saja akan hadir.

Dari mana Anda mendapat referensi karakter Wiji Thukul?
Aku browsing video. Tanya ke teman-temannya. Tanya bagaimana sosok Wiji Thukul. Aku juga membaca catatan-catatan tentang Wiji Thukul yang pernah dibuat. Berita di media hingga video dokumenter di Youtube.

Apa itu cukup...
Memang sangat sedikit. Tapi Anggi memang tidak ingin membuat film harus persis Wiji Thukul. Ia membebaskan (saya), kamu gak harus jadi Wiji Thukul. Tapi paling enggak menampilkan semangatnya. Pendekatan aku juga melalui puisi-puisinya. Aku mencoba mengenal dan menyelami Wiji Thukul lewat karyanya.

Kok bisa di film itu gigi Anda mirip gigi Wiji Thukul...
Aku pakai gigi palsu. Itu prosesnya cukup lama. Anggi juga tidak segera memutuskan aku harus pakai apa enggak. Karena dia memang gak ingin bikin film yang persis Wiji Thukul. Tapi tentang semangatnya. Jadi dia juga menimbang cukup lama. Tapi setelah diputuskan aku harus pakai karena itu salah satu ciri (Wiji Thukul), tonggos.

Seperti apa proses pemasangan gigi palsu itu?
Ada dokter gigi yang membantu kami. Dia mengobservasi gigi saya kemudian memasang beberapa kali percobaan. Ditempel satu-satu atau satu set sekali pasang. Akhirnya dipilih satu set.

Thukul penyair cadel. Anda menirukan itu juga?
Ternyata gigi palsu itu membantu. Tanpa mencadel-cadelkan diri, sudah otomatis cadel.

Gunawan Maryanto, aktor pemeran Wiji Thukul, berpose di depan kamera usai diwawancara Beritagar.id di rumahnya, Tritonirmolo, Bantul, Jumat (11/11/2016) sore.
Gunawan Maryanto, aktor pemeran Wiji Thukul, berpose di depan kamera usai diwawancara Beritagar.id di rumahnya, Tritonirmolo, Bantul, Jumat (11/11/2016) sore. | Suryo Wibowo /Beritagar.id

Thukul dalam pelariannya berpindah-pindah tempat, di mana saja lokasi syuting film ini?
Kira-kira 90 persennya di Pontianak dan 10 persen di Yogya. Karena film ini memang mengisahkan fase terakhir Wiji Thukul dalam pelarian, yakni di Pontianak.

Bagaimana pemilihan setting lokasinya?
Landscape Pontianak itu cukup menarik. Anggi bilang ini landscape yang belum pernah ditampilkan dalam film Indonesia. Anggi beberapa kali ke sana bersama EB (Produser film Istirahatlah Kata Kata Yulia Evina Bhara).

Mereka mendatangi lokasi yang pernah menjadi tempat persembunyian Thukul. Tapi lokasi yang digunakan di film itu bukan lokasi sesungguhnya. Anggi memilih beberapa lokasi yang menarik dan menggambarkan lokasi pada waktu. Setelah lokasi dipilih secara umum, aku diminta datang ke sana untuk observasi.

Berapa lama syutingnya?
Dua minggu di Pontianak. Di Yogya tiga hari. Di Yogya ada beberapa tempat. Ruang dalamnya di rumah Anggie, ruang luarnya di daerah Terban. Hotelnya di dekat terminal lama. Sangat sedikit sekali lokasi yang di Yogya. Kebanyakan juga di ruang dalam.

"Puisi Thukul masih relevan karena kaum tertindas dan termarjinalkan tetap ada"

Gunawan Maryanto

Kapan film ini akan diputar di Indonesia?
Di Indonesia 14 Januari, tapi coba pastikan lagi. (Ia agak ragu tepatnya). Perdananya di JAF (Jogja-NETPAC Asian Film Festival), tapi belum dapat tanggal.

Bagaimana puisi Thukul menurut Anda?
Bahasa puisi Wiji Thukul itu lugas membicarakan kenyataan yang terjadi di sekitarnya. Tapi bukan berarti tak ada metafora di sana. Lugas tapi tetap sebagai puisi. Aku senang itu. Lepas dari isinya, lepas dari kosakatanya.

Sebagai puisi dia tetap metaforik. Jadi kaya. Misalnya saja puisi Istirahatlah Kata-Kata, kan tidak ada dalam keseharian. Dia tidak menggunakan kalimat yang mendayu-dayu tapi tetap metaforik. Istirahatlah kata-kata, jangan menyembur-nyembur. Itu menurutku puitik.

Anda terinspirasi dengan puisinya?
Salah satu penyair yang puisinya saya baca di awal-awal karier saya adalah Wiji Thukul. Sering juga baca di kampus sehingga aku "mengenalnya". Alamnya juga dekat dengan saya. Yakni Solo dan Yogyakarta, serta pasar dan Kampung.

Jadi aku merasa dekat dengan puisi-puisi itu. Kalau menginspirasi atau mengilhami aku tak tahu. Seluruh penyair itu dilahirkan oleh penyair-penyair sebelumnya. Jadi aku gak tahu bagian mana persisnya aku belajar dari Wiji Thukul.

Apa relevansi puisi Wiji Thukul dengan kondisi sekarang?
Menurutku masih relevan. Karena kaum tertindas dan termarjinalkan sampai sekarang masih ada. Penggusuran tetap ada. Buruh di-PHK masih ada. Kemiskinan masih ada. Jadi cukup banyak puisi-puisinya yang dibaca sekarang masih relevan.

Anda menulis puisi, naskah teater, cerpen, menjadi sutradara, juga bermain film. Sebenarnya Anda ingin disebut sebagai apa?
Aku menyebut diriku sebagai penulis, sutradara teater dan aktor.

Setelah bermain film Istirahatlah Kata Kata, ada rencana membintangi film lain...
Belum tahu.

BACA JUGA