Keterangan Gambar : Novelis Eka Kurniawan berpose untuk Beritagar.id usai wawancara di bilangan Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (16/3/2016) © Beritagar.id / Muammar Fikrie

Dalam menghasilkan karya, Eka tak pernah mendorong diri menulis saban hari, apalagi berkomitmen. Ia menulis jika sedang ingin dan akan berhenti jika bosan.

"Hanya orang yang enggak bisa ngaceng bisa berkelahi tanpa takut mati". Begitu kata Iwan Angsa, yang merupakan kalimat pertama novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.

Selanjutnya, cerita melibatkan Ajo Kawir, pemuda yang penisnya tidak bisa berdiri, dan Si Tokek, sang sahabat--yang memiliki ayah bernama Iwan Angsa tadi.

Sang penulis, Eka Kurniawan, bukan cuma menggambarkan Ajo yang berusaha membuat kemaluannya bangun. Pembaca dibawanya ke masa lalu, saat Ajo remaja, yang saat itu diajak Si Tokek menonton dua polisi memerkosa perempuan gila.

Kisah berikutnya silakan baca sendiri novel setebal 252 halaman itu, yang bakal bikin Anda panas dingin dan ingin mengulang.

Alih-alih memakai kata penis atau vagina, Eka lebih memilih kata vulgar, seperti memek, perek atau lonte dalam novel itu. "Saya enggak mau membunuh kata-kata," ujar pria 41 tahun ini. Selama pemakaian kata sesuai konteks, ia merasa benar.

Itulah Eka, liar tapi tidak murahan, walau gemar mengeksploitasi seksualitas. Hal yang sama ia terapkan dalam novel Cantik Itu Luka yang mengisahkan tragedi keluarga dengan penggambaran kekerasan fisik, juga seksual.

Gaya menulisnya ini dipuji Indonesianis yang meninggal tahun lalu, Benedict Anderson, dengan mengatakan, "menyenangkan bahwa setelah setengah abad berlalu, Pramoedya Ananta Toer telah menemukan penggantinya."

Sang guru besar Universitas Cornell Amerika itulah yang pertama mendesak Eka untuk menerjemahkan novel-novelnya. Kini novel Cantik Itu Luka telah diterjemahkan ke-24 bahasa dan Lelaki Harimau ke-5 bahasa.

Cantik Itu Luka (Beauty is Wound) baru saja menyabet penghargaan World Readers Awards yang digelar Selasa (22/3/2016) di Hongkong. Penganugerahan juga diberikan ke penerjemah novel itu, Annie Tucker, yang menilai novel Eka segar dan hal baru bagi pembaca.

Sedang Lelaki Harimau atau Man Tiger dinominasikan di Man Booker Prize 2016, yang merupakan penghargaan bergengsi terhadap karya sastra berbahasa Inggris.

Nama Eka berjajar dengan penulis ternama, seperti Orhan Pamuk (Turki), Han Kang (Korea Selatan), Yan Lianke (Cina) atau Kenzaburo (Jepang).

Dari 13 buku yang masuk nominasi, enam buku akan melaju ke babak berikutnya pada April, dan sebulan kemudian nama pemenang diumumkan.

Di dunia prosa sendiri, Man Booker dianggap berada satu tingkat di bawah Hadiah Nobel sastra.

Rabu (16/3/2016), di ruangan lantai dua rumahnya di bilangan Ciputat, Tangerang Selatan, Eka menerima Fajar W. Hermawan, Yandi Mohammad, Heru Triyono dan Muammar Fikrie dari Beritagar.id untuk wawancara.

Ruangan itu memanjang. Di pojoknya terdapat satu meja di dekat jendela, tempat Eka bekerja. Buku-buku di lemari kayu tampak berderet dari bawah sampai hampir menyentuh langit--menjadi latarnya. Karya penulis Gabriel Garcia Marquez, Orhan Pamuk dan Roberto Bolano menclok di sana.

Selama dua jam, ditemani teh dalam kotak, Eka bicara di balik layar penulisan, perjalanan karir dan juga So Nyeo Shi Dae alias SNSD, girlband yang disukainya. "Ide bisa datang dari mana saja kan," kata Eka, berkaos I Love You This Much bergambar kucing nyengir.

Berikut petikannya:

Novelis Eka Kurniawan berpose untuk Beritagar.id usai wawancara di kediamannya, di bilangan Ciputat, Tangerang, Banten, Rabu (16/3/2016).
Novelis Eka Kurniawan berpose untuk Beritagar.id usai wawancara di kediamannya, di bilangan Ciputat, Tangerang, Banten, Rabu (16/3/2016).
© Muammar Fikrie /Beritagar.id

Apa yang Anda rasakan ketika Anda masuk dalam 13 nomine Man Booker International Prize 2016 yang bersanding dengan nama besar seperti Orhan Pamuk (Turki) dan Han Kang (Korea Selatan)?

Bagaimana ya, kami sama-sama penulis kan? Mereka itu hanya lebih tua saja. Ha-ha.

Bagaimana kans Anda untuk melaju ke babak berikutnya (dari 13 menjadi enam buku) pada bulan April nanti?
Tidak tahu juga. Saya baru baca tiga dari 13 karya yang dinominasikan, dan bagus-bagus. Salah satu yang saya baca adalah buku Han Kang, yang membahas kekacauan di sebuah keluarga akibat perempuan yang mendadak vegetarian.

Seluruh keluarga gempar karena perempuan itu merasa dirinya adalah pohon yang hanya mau minum, karena itu dia merasa cuma butuh disiram doang.

Artinya peluang Anda berat?
Mmh. Begitu sepertinya.

Apa respons pertama saat mendengar kabar Anda masuk nominasi?
Saya cukup senang, walau agak terdistraksi karena mendapat kabar itu sewaktu lagi antar anak sekolah. Seorang teman dari penerbit, bernama Ronny Agustinus, mengirim pesan pendek ke saya.

Bagaimana ceritanya Man Tiger terjemahan dari novel Lelaki Harimau bisa masuk nominasi Man Booker Prize?
Proses seleksinya saya tidak tahu. Yang jelas penghargaan ini digelar setiap tahunnya untuk mengapresiasi penulis sastra dari berbagai belahan dunia sejak 2005. Tapi, pada 2016 hal itu berubah. Nominasi didasarkan pada sebuah buku.

Beberapa kalangan sependapat dengan Benedict Anderson yang menyebut Anda sebagai pengganti atau the next Pramoedya Ananta Toer. Hal itu menjadi beban?
Kalau pun tidak ada Pram pasti saya dibilang the next siapa begitu. Ya kan? Saya rasa hal itu menimpa pada hampir semua penulis baru. Julukan-julukan yang sejenis akan muncul. Mungkin, 50 tahun mendatang akan ada the next Eka. Dan itu hal biasa saja.

Tapi Anda masih berpendapat bahwa novelis terbaik di Indonesia adalah Pramoedya Ananta Toer?
Memang terbukti. Sudah lewat 70 tahun dari generasinya, tidak ada yang semangatnya seperti dia (Pram). Di usia 60an Pram masih menulis. Tapi di generasi saya, juga banyak yang bagus. Sebut saja Gunawan Maryanto dan Puthut EA.

Bagaimana dengan penulis di bawah generasi Anda. Ada penulis penting yang patut diperhatikan?
Banyak, ada nama Norman Erikson Pasaribu, Andina Dwifatma dan lulusan filsafat UGM (Universitas Gadjah Mada) yang sering menulis cerpen (cerita pendek) di Koran Tempo, namanya Dea Anugrah. Dea adalah penulis yang asyik. Dan, saya rasa, Pram banyak dijadikan referensi oleh penulis.

Seberapa dalam sih Pram memengaruhi tulisan Anda?
Pram tidak terlalu memengaruhi gaya tulisan saya. Tapi soal semangat, saya banyak menyerapnya.

Jadi siapa yang begitu memengaruhi tulisan Anda?
Dalam hal gaya tulisan saya harus berterimakasih kepada Freddy S dan Enny Arrow. Ha-ha

Sebab itu Anda detail dalam merekontruksi cerita soal seksualitas?
Nah itu.

Ternyata bukan pengalaman pribadi ya...
He-he. Bukan. Yang pasti karena saya banyak baca karya Freddy S. Kalau pengalaman pribadi disimpan sendiri saja.

*Fredy Siswanto dan Enny Arrow adalah penulis khas cerita erotis pada medio 90an.

Dalam melakukan riset untuk materi tulisan, apakah Anda melibatkan diri atau menjadi bagian dari karakter yang Anda buat?

Begini. Riset saya itu dimulai bukan ketika mau menulis sesuatu. Saya juga tidak merasa harus mengalami dulu atau mengetahui sesuatu dulu baru menulis. Random saja, kemudian nanti difilter dan dijadikan tulisan.

Kalau soal detail biasanya belakangan, seperti jurnalis melakukan kroscek pada tulisannya. Sebab itu untuk cerita yang multiplot seperti novel O, makan waktu banyak, sekitar 8 tahun untuk menyelesaikannya.

Lama sekali. Apakah Anda mengalami kesulitan menyelesaikan novel O--yang baru saja dirilis itu?
Butuh waktu, karena memang penyelesaiannya dicicil sejak 2008. Di tengah prosesnya saya sempat membuat novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Ya, sebagai sambilan kalau sedang bosan. Mana yang kelar lebih dulu akan terbit duluan.

Bisa ya ketika Anda berencana menulis sebuah tema, di tengah jalan kemudian berganti...
Awalnya sulit, karena ada tulisan yang ujungnya berhasil dan juga tidak. Kalau tidak disela begitu, tidak akan menghasilkan karya, karena tidak selesai-selesai. Ini untuk melatih diri saya juga mengerjakan beberapa sekaligus.

Apa yang muncul di dalam kepala ketika mengerjakan beberapa ide itu sekaligus?
Kurang lebih seperti pasar. Wara-wiri, dan bisa saja di tengah jalan saya dapat barang bagus, lalu belok. Misalnya, beberapa hari lalu saya mendapatkan cerita menarik dari sebuah media online.

Ceritanya ada motor selama tiga tahun terparkir di Terminal Giwangan Yogyakarta. Ini peristiwa luar biasa, karena orang ingin tahu siapa pemiliknya, kenapa ada di situ, dan bisa jadi cerita amat bagus.

Walau berita itu sudah lewat tapi terngiang terus di kepala. Itu yang kemudian bisa sambung menyambung, akhirnya menjadi cerpen atau novel.

Setelah menemukan cerita yang menarik, apa yang biasanya Anda lakukan?
Saya endap saja. Saya percaya dengan teori survival of the fittest. Ya, ide menarik akan terus bertahan di kepala. Kalau tidak menarik sudah pasti menghilang sendiri.

Apakah dalam menulis Anda membuat timeline dan membagi draft tulisan menjadi sub-sub materi?
Saya tak pernah mendorong diri menulis saban hari, apalagi berkomitmen. Saya menulis jika sedang ingin dan akan berhenti jika bosan. Jangan dipaksakan.

Saya bisa menulis di manapun tanpa mengasingkan diri. Asalkan jangan diajak ngobrol ketika sedang menulis. Biasanya sambil mendengarkan musik.

Masih suka mendengarkan lagu SNSD (So Nyeo Shi Dae)?
Masih. Saya memang suka musik apa saja, termasuk pop dari Korea. Namun, karena saya seorang Eka, dan suka dengan SNSD, maka jadi heboh. Padahal kalau saya bilang suka The Beatles akan jadi biasa saja.

Sebenarnya Anda ikut-ikutan suka atau memang suka dalam arti sebenarnya?
Saya hafal nama personel SNSD. Tapi saya juga hafal personel The Beatles. Karena SNSD sedang populer maka saya coba mendengarkan. Sama seperti saya mencoba mendengarkan dangdut. Kalau SNSD, saya memiliki koleksi lagunya di laptop. Dan catat, saya beli lagunya lho. Ha-ha.

Di setiap novel, Anda memiliki kalimat pembuka yang memikat. Kalimat itu berkali-kali ganti atau memang sudah dipikirkan masak sebelum dipasang di sana?
Biasanya kalau dirasa tidak asyik, ya coba buat lagi. Kalau sudah menemukan satu kalimat yang saya suka, itu pasti disimpan dulu, meski belum tahu kelanjutannya kira-kira bagaimana.

Jadi, rangkaian cerita belum terbentuk, tapi kalimat pembuka itu sudah ada?
Jika kalimat pembuka tidak bisa diteruskan ke rangkaian cerita, ya saya simpan saja. Saya suka membuat pembukaan yang menarik.

Darimana biasa Anda dapat kalimat pembuka itu?
Dari mana saja. Misalnya dari teman saya. Dia pernah bercerita mengenai tiga siswi sekolah menengah atas yang sedang ngobrol saat antre di depan kasir sebuah supermarket. Salah satu dari mereka mengatakan ini; "nanti malam aku 17 tahun". Nah, itu buat saya sesuatu, dan akan disimpan untuk menjadi kalimat pembuka nantinya.

Tapi kalau kalimat pembuka asal comot begitu saja, tidak susah mengatur plot ceritanya?
Terkadang saya menulis tidak memiliki kelanjutannya. Itu jadi barang useless saja. Terkadang yang useless itu dipakai untuk bagian cerita lain. Artinya, pekerjaan utama saya adalah bukan mencari ide atau menangkapnya. Tapi justru membuang ide yang tidak perlu. Karena banyak sekali yang harus dieliminasi.

Kalau saat ini Anda sedang memikirkan ide apa?
Banyak sih. Contohnya soal pengajian. Di satu sisi hal itu biasa, di sisi lain menggelisahkan karena dinilai berisik. Kalau di desa, yang 100 persen muslim, bahkan 100 persen alim, mendengar pengajian adalah hal biasa. Tapi kalau di Jakarta? Nah tarik menarik soal pandangan ini akan menghasilkan karakter-karakter yang menarik dituliskan.

Soal karakter itu, bagaimana Anda mengembangkannya?
Semua tokoh diambil dari model yang nyata. Mungkin tidak satu, tapi bisa penggabungan dari tiga karakter. Saya biasanya sudah punya bayangan bagaimana si karakter menghadapi sebuah situasi dan responnya terhadap karakter lain.

Apakah seorang penulis menemui kesulitan dalam melakukan proses simulasi ini?
Justru simulasi itu proses yang paling mengasyikan dalam menulis novel. Reaksi karakter dan bagaimana perubahannya terhadap plot itu yang akan membuat penulis tertantang.

Karya Anda yang mana yang paling berat saat melakukan simulasi karakter?
Tergantung, karena bentuk novel yang satu dengan yang lain berbeda. Kalau Man Tiger, sangat psikologis, kemudian Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, lebih bermain ke plot. Kalau O lebih rumit lagi, karena plotnya banyak, tapi bisa seimbang satu sama lain.

Novel O akan diterjemahkan juga seperti Lelaki Harimau dan Cantik Itu Luka?
Beberapa penerbit sudah bertanya. Tapi agen saya bilang nanti dulu deh.

Bagaimana respons pembaca novel O usai peluncuran?
Sejauh ini lumayan, tapi saya agak terkejut dengan keramaiannya. Sebenarnya saya tidak pernah pakai acara peluncuran segala, karena malas he-he. Di awal, penerbitnya bilang hanya tumpengan saja, tapi ternyata ada peluncuran.

*Acara peluncuran novel O diadakan pada 13 Maret 2016, di Toko Buku Gramedia, Mal Central Park Lantai 3, Jakarta.

Penulis asal Tasikmalaya, Eka Kurniawan, saat ditemui di kediamannya, di bilangan Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (16/3/2016).
Penulis asal Tasikmalaya, Eka Kurniawan, saat ditemui di kediamannya, di bilangan Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (16/3/2016).
© Nurdiansah /TEMPO

Dengan proses pengerjaan novel O yang lama itu, apakah Ben Anderson, sahabat Anda, tahu soal novel baru ini?
Dalam beberapa kesempatan, dia memang sempat bertanya ke saya sedang menulis apa. Saya bilang mau menulis fabel, yaitu tentang monyet. Itu saja. Dia tidak tahu judulnya O.

*Fabel adalah cerita kehidupan hewan yang berperilaku menyerupai manusia.

Sempat bertemu di saat-saat terakhir Ben meninggal pada tahun lalu?
Tiga hari sebelum Ben meninggal saya menemuinya, ketika dia mau memberi kuliah di Universitas Indonesia (UI). Dari UI dia mau jalan-jalan ke Malang, kemudian meninggal di sana. Sejak 2008, setiap kali Ben ke Indonesia, kami memang selalu bertemu.

Sejak kapan Anda kenal dengan Ben?
Saya mengenalnya mulai 2008, ketika masih tinggal di sebuah apartemen di Benhil (Bendungan Hilir), belum di Ciputat. Semua bermula dari pertanyaannya ke beberapa mahasiswa di Yogya, soal siapa penulis Indonesia yang bagus.

Mereka (mahasiswa) kemudian merekomendasikan buku saya, seperti Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, dan Corat-coret di Toilet. Ben kemudian membawa novel-novel itu ke Cornell (Universitas). Semenjak itu, Ben selalu minta bertemu saya ketika ke Indonesia.

Ben yang membuka jalan untuk Anda ke penerbit di Inggris, Verso Books UK?
Dia (Ben) yang merekomendasikan penerbit itu dari awal pertemuan. Dia juga yang terus menyuruh menerjemahkan novel saya. Setiap bertemu, selalu mengulang hal sama.

Sampai akhirnya, pada 2011, Ben memutus Tariq Ali, penulis novel, yang juga aktivis, datang ke Indonesia untuk membujuk saya menerbitkan buku dalam bahasa Inggris.

Akhirnya penerjemahan dilakukan, Ben dan saya memilih memilih Dalih (Labodalih Sembiring) untuk menerjemahkan Lelaki Harimau ke bahasa Inggris.

Awalnya saya dan Ben agak bingung menerjemahkan Lelaki Harimau, karena terjemahannya agak aneh, menjadi Tiger Man. Akhirnya kami sepakat menyebutnya menjadi Man Tiger.

Mengapa awalnya Anda seperti sulit sekali memenuhi permintaan Ben untuk menerjemahkan karya Anda?
Menerjemahkan buku berbahasa Indonesia ke bahasa lain bukan perkara mudah. Penerjemah dan iklim kesusastraan Indonesia membuat kebanyakan penulis tidak berpikir ke sana. Karena hampir tidak punya akses terhadap penerbit-penerbit di luar.

Lantas, bagaimana cara Anda bisa menembus pasar internasional seperti saat ini?
Sebenarnya semua berawal dari penawaran. Misalnya saya, yang dimulai dari tawaran Ben tadi itu. Dan, penawaran datang tidak hanya dari penerbit, tapi juga datang dari media.

Beberapa waktu lalu The New York Times Magazine menawarkan saya untuk menulis juga di laman mereka. Saya mau, kemudian terjadi kesepakatan, dan dimuat.

Berapa banyak sudah penolakan yang Anda terima dari naskah yang Anda kirim ke penerbit?
Saya tidak terlalu ingat soal itu. Tapi, sewaktu duduk di sekolah menengah pertama, karya saya beberapa kali di tolak majalah anak. Padahal saya merasa, ketika itu sudah bisa menulis dengan baik, walau belum terpikir serius menjadi penulis.

Lalu, apa motivasi Anda mengirim tulisan ke sebuah majalah jika belum ada niatan serius?
Saya ingin kelihatan keren saja di depan teman-teman sekolah. Karena saya tidak jago di bidang yang lain, semisal main sepakbola maupun basket. Jadi kalau ada nama saya tercantum di majalah kan itu jadi sesuatu, biar enggak medioker-medioker banget. Ha-ha.

Saya lupa majalah anak apa yang memuat tulisan saya tersebut. Tapi, ketika duduk sekolah menengah atas, saya memang beberapa kali menulis untuk Majalah Hai dan Aneka. Lagi-lagi itu hanya untuk keren-kerenan saja. Dari ketenaran itu, setiap ada pembuatan majalah dinding di sekolah, sudah pasti saya pemimpin redaksinya.

Penulis Eka Kurniawan memajang novelnya Lelaki Harimau yang diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi Man Tiger, di bilangan Palmerah, Jakarta Barat, Kamis (10/3/2016).
Penulis Eka Kurniawan memajang novelnya Lelaki Harimau yang diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi Man Tiger, di bilangan Palmerah, Jakarta Barat, Kamis (10/3/2016).
© Dhemas Reviyanto Atmodjo /TEMPO

Jadi kapan benar-benar serius menjadi penulis?
Ketika saya kuliah di Yogyakarta.

Keseriusan itu muncul karena jurusan kuliah yang Anda ambil, yakni Ilmu Filsafat UGM?
Ha-ha. Mungkin ada hubungannya juga. Tapi saya justru minder ketika awal masuk ke Balairung (Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (BPPM) Balairung UGM). Sebab itu saya memilih menjadi ilustrator ketimbang jadi reporter.

Namun, pengalaman di Yogya banyak membuka pikiran saya. Dengan bertemu orang-orang baru dan datang ke diskusi-diskusi sastra, sedikit banyak mengasah pemikiran saya. Ya, memang butuh waktu cukup lama untuk yakinkan diri sebagai penulis.

Ngomong-ngomong kenapa Anda ambil jurusan filsafat?
Awalnya tidak tahu apa itu filsafat. Dalam bayangan saya, filsafat adalah Kahlil Gibran, sehingga di kelas hanya belajar membuat kalimat cantik dan bagus. Asyik rasanya membayangkan itu.

Tapi dua semester berjalan, kok saya tidak pernah bertemu Gibran. Tersesat lah saya di sana, dan jadi gamang untuk meneruskan kuliah.

Masuk semester tiga, saya malah masuk kursus pendek desain grafis. Niatnya mau mundur dari filsafat dengan cara yang tidak terlihat, supaya bilang ke orangtua juga enak.

Setahun kursus desain grafis saya malah merasa bosan ha-ha, dan kembali lagi ke filsafat, kemudian mulai mencoba-coba menulis cerpen.

Apa judul cerita pendek pertama Anda yang dimuat media?
Hikayat Si Orang Gila yang dimuat di Bernas (surat kabar harian yang terbit di Yogyakarta). Saya sebut cerpen pertama karena cerpen-cerpen saya sebelumnya adalah cerpen remaja, yang ditulis berdasarkan hobi saja.

Sejak remaja saya memang hobi baca dan menulis, tapi lebih kuat keinginan saya menjadi anak band. Seperti kebanyakan anak muda masa itu, saya lebih mendengarkan Nirvana, Pearl jam, Guns N' Roses, juga The Rolling Stones, Rush dan Led Zeppelin.

Ternyata Anda juga memiliki bakat di musik...
Sempat main band, tapi akhirnya sadar tidak punya bakat di musik. Saya ini pegang macam-macam alat. Kadang drum atau gitar. Waktu itu sempat mencoba menulis lirik lagu, tapi saya lupakan saja. Sepertinyanya kalau ditemukan catatannya juga sudah saya hancurkan. Ha-ha.

Kenapa tidak ditekuni secara serius band itu?
Awalnya serius. Saya pergi ke Yogya itu awalnya ya karena mau ikut teman bikin band di sana. Saya tidak berpikir untuk kuliah saat itu.

Tapi, kalau alasannya adalah cuma ngeband, maka tidak terlalu kuat alasannya untuk minta izin ke orangtua pergi ke luar kota . Sehingga saya pura-pura kuliah biar dibiayai orangtua, tapi tetap bisa main musik.

Hampir setiap minggu saya main di studio, dengan genre rock. Tapi di sisi lain, saya tetap memelihara hobi membaca. Di antaranya buku-buku Abdullah Harahap, Kho Ping Hoo, Pramoedya, Barbara Cartland, serta komik Jepang.

Sewaktu kecil, kalau di luar rumah saya membaca novel horor dan silat, tapi kalau di dalam rumah, misalnya di depan orangtua, bacaaan saya berganti jadi Lima Sekawan dan Trio Detektif. Ha-ha.

Reputasi masa remaja Anda sepertinya tidak terlalu baik...
Saya memang suka bolos ketika sekolah. Suatu kali, saya pernah pergi kemping selama tiga bulan, di semester kedua. Teman-teman saya, orang tua, paman dan nenek semua mencari saya. Pada saat kembali, ternyata saya telah dikeluarkan dari SMA 1 Tasikmalaya.

Ketika kembali ke Pangandaran, saya masuk ke sekolah swasta yang tidak populer, di mana sebagian besar siswanya adalah buangan dari sekolah lain, karena bandel. Di sekolah itu amat bebas, saya bisa memanjangkan rambut dan masuk seenaknya.

Lingkungan sekolah yang tidak mendukung terhadap prestasi siswa, tapi Anda kok bisa masuk ke UGM...
Nah
, sebab itu, lingkungan sekolah terkejut ketika saya masuk UGM. Menurut teman saya, setiap kali upacara Senin di sekolah, guru selalu menyebut nama saya sewaktu pidato upacara, sebagai inspirasi.

Karena apa? Satu-satunya dalam sejarah sekolah itu yang muridnya bisa kuliah dan di UGM pula ya hanya saya.

Saya menyelesaikan studi di UGM pada 1999, dengan skripsi berjudul Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, yang juga diterbitkan sebagai buku.

Saya sempat bekerja sebagai wartawan di majalah Pantau selama satu tahun, dan pernah juga jadi penulis naskah di SinemArt--salah satu perusahaan rumah produksi.

Dalam pandangan Anda, apakah profesi menulis itu bisa menjamin kelangsungan hidup?
Kalau menulis secara umum ya bisa lah menjamin. Saya juga terbantu karena banyak menulis untuk film televisi dan sinetron.

Artinya kalau menggantungkan menulis novel saja tidak akan bisa?
Cukup deg-degan ya. Saya paham menulis naskah buat televisi memang berbeda dengan novel dalam hal kepuasan. Tapi saya menjalaninya dengan enjoy dan menikmatinya.

Saya masih ingat salah satu naskah sinetron yang saya supervisi di awal karir. Yaitu Di Sini Ada Setan, yang dibintangi Marshanda dan Alyssa Soebandono.

Sepengetahuan Anda, menulis skrip untuk film televisi atau sinetron itu bisa lebih besar bayarannya ketimbang novel?
Pastinya ha-ha. Dan jauh lebih cepat dalam pembuatannya. Untuk skrip FTV, saya butuh waktu lima hari dan tidak perlu ribet cari ide karena sinopsisnya sudah ada.

Saya tinggal mengembangkan, dan itu melatih saya juga dalam membangun plot. Tapi saya tidak terima skrip untuk sinetron striping, karena harus selesai dalam satu hari satu malam. Saya moderat saja. Dapat duit cukup ya sudah, sehabis itu pergi liburan.

Apakah penulis novel banyak yang memiliki sampingan seperti Anda ini?
Banyak, tapi satu per satu nama mereka saya tidak tahu.

Para penulis itu berkenan membuka namanya sebagai penulis skrip sinetron?
Ada yang membuka namanya ada yang diam-diam. Kalau nama saya sih tercantum saja, terserah, tidak masalah. Saya melihat, pembaca buku saya itu tidak menonton sinetron, dan sebaliknya, penonton sinetron itu tidak membaca buku saya.

Selama 16 tahun menulis, Anda tidak berniat mengajar secara formal?
Sekolah saja tidak suka, apalagi mengajar. Ha-ha. Saya tidak suka ruang sekolah yang terkotak. Kalau belajar ya sukanya di lapangan (non formal).

Apa tip untuk penulis yang baru memulai karirnya...
Hanya ada satu rahasia untuk menulis bagus: banyak baca.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.