Livi Zheng di halaman Masjid Bimantara Komplek MNC Tower, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (16/11/2015)
Livi Zheng di halaman Masjid Bimantara Komplek MNC Tower, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (16/11/2015) Bismo Agung / Beritagar.id

Wawancara Livi Zheng: inspirasi Bruce Lee dan David Boushley

Livi Zheng berbicara tentang keadaan perempuan sutradara di Hollywood, dan perjuangannya sampai menjadi berkilau.

"Saya bekerja keras," kata Livi Zheng ketika membahas kariernya sebagai perempuan sutradara di Hollywood, profesi yang didominasi lelaki.

Bukan rahasia lagi industri film Amerika tidak ramah perempuan. Tapi Livi mencoba mengubah itu. "Awalnya orang Amerika mengira saya mundur. Tapi malah bisa membuat film," ujar perempuan 26 tahun ini.

Pencapaian adalah hal berarti bagi Livi. Dia memulai karier dari bawah. "Padahal awalnya cuma bagian kecil dari set sebuah film, seperti membantu bagian kostum, tata lampu, bahkan katering," kata Livi.

Perjuangannya berbuah setelah lima tahun. Ia tampil sebagai pemain sekaligus produser di film The Empire's Throne (2013) dan memulai debutnya sebagai sutradara lewat film Brush with Danger pada 2014.

Suaranya lumayan cempreng di tengah keheningan sore di halaman Masjid Bimantara Komplek MNC Tower, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (16/11/2015).

Berkaos hitam motif kembang dibalut kardigan, Livi menerima Heru Triyono dan Bismo Agung dari Beritagar.id di tengah "kegilaan" jadwalnya. "Aku sibuk promosi Brush With Danger," tutur Livi yang sudah dua bulan di Tanah Air.

Filmnya sudah tayang September tahun lalu di Amerika. Namun mulai 26 November nanti akan diputar serentak di Indonesia. Seperti di jaringan bioskop XXI, Platinum, Blitz dan Cinemax.

Livi menjawab pertanyaan dengan terbuka selama satu jam, namun berhati-hati ketika membahas film Indonesia, dengan segala seluk beluknya. Ia lebih enjoy bicara tentang keadaan perempuan sutradara perempuan di Hollywood, dan perjuangannya hingga menjadi berkilau. Berikut petikannya:

Livi Zheng di halaman Masjid Bimantara Komplek MNC Tower, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (16/11/2015)
Livi Zheng di halaman Masjid Bimantara Komplek MNC Tower, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (16/11/2015) | Bismo Agung /Beritagar.id

Selamat film Brush with Danger akan diputar di Indonesia. Bagaimana perjuangannya sehingga bisa masuk ke jaringan bioskop berskala nasional?
Saya sebenarnya mau pingsan ha-ha-ha. Karena di sini sistemnya berbeda, dan harus belajar banyak. Di Amerika, sutradara ya seniman, yang mengurus aktor, desain, paling mentok perizinan lokasi syuting. Urusan distribusi dan sponsor milik produser eksekutif. Nah, kalau di Indonesia si filmmaker mengurus dua hal tadi juga. Tapi aku menikmatinya.

Promosi film jelas butuh biaya banyak, apalagi film Anda jujur saja belum dikenal, dari mana Anda mendapatkan uang?
Susah memang pada awalnya, butuh waktu agak lama. Tapi akhirnya aku bisa bekerjasama dengan 60 mal, Sushi Tei dan Boga Group.

Kenapa mereka mau...
Karena saya keren ciyee. Tidak tahu sih ha-ha, mungkin karena saya sutradara dari Indonesia, atau ukurannya adalah karya. Brush with Danger masuk seleksi nominasi Oscar dari 40 ribu film yang diproduksi di Amerika pada 2014 lalu. Hal itu mungkin yang diapresiasi.

Anda tentu bahagia mendapat pengakuan di Amerika dan juga di negeri sendiri. Bagaimana respons insan film Indonesia terhadap film Anda itu?
Jujur saja, saya tidak banyak kenal dengan filmmaker di sini (Indonesia). Entah itu aktor dan aktris. Tapi beruntungnya, tetap ada senior di film yang membantu. Seperti Wulan Guritno, Roy Marten, Gatot Brajamusti, juga Tio Pasukadewo. Mereka banyak memberi saran bagus ke saya. Bahkan Mbak Wulan membantu saya membuatkan proposal.

Kabarnya Anda dekat dengan Ketua Umum Parfi (Persatuan Artis Film Indonesia) Gatot Brajamusti dan sudah dipinang untuk memproduksi film bersama?
Saya agak terkejut dengan kata pinang itu yang ditulis sebuah media. Tapi isi beritanya kan jelas, bahwa dipinang untuk produksi film bersama, bukan pinang yang lain. Tapi baru sebatas rencana. Yang pasti film ke empat saya itu tentang bela diri, dan mengambil syuting di Indonesia.

Menurut Anda, apakah film produksi Indonesia sudah lebih baik?
Saya tidak suka membanding-bandingkan. Yang jelas saya suka film AADC (Ada Apa Dengan Cinta) dan Laskar Pelangi. Tapi meski bagus film box office seperti Laskar Pelangi itu hanya ditonton oleh 2 persen dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia. Bandingkan dengan Korea Selatan, yang mencapai angka 30 persen dari jumlah penduduknya.

Sebagai sutradara mengapa Anda pikir penting untuk menampilkan kisah kakak-beradik dari Asia bernama Alice Qiang dan Ken Qiang yang menjadi imigran gelap di Amerika dalam film Brush with Danger?
Film ini terinspirasi dari teman aku, seorang imigran asal Ethiopia yang melarikan diri dari perang. Imigran seperti dia banyak di Amerika, dan bisa bertahan hidup. Ini amat inspiratif bagi para imigran yang lain.

Film itu masuk nominasi Oscar, namun mendapat kritik dari New York Times....
Sebetulnya diliput New York Times saja sudah kebanggaan. Sangat tidak mudah bisa diliput di New York Times. Di Hollywood, review tidak merefleksikan kualitas film. Banyak sekali film di Hollywood yang mendapat kritik pedas, tapi filmnya sukses, seperti Man of Steel yang sutradaranya dikritik habis-habisan di New York Times.

Benar ada diskriminasi di Hollywood terhadap perempuan Asia? Misalnya, perempuan sutradara tidak dibayar sebanyak pria....
Katanya iya. Penghasilannya lebih rendah, tapi saya belum membandingkan. Saya lebih melihat karya saja. I'll do my best, let god do the rest.

Boleh tahu berapa bayaran yang Anda terima?
Tidak usah disebutlah soal bayaran itu he-he. Tapi begini, begitu film kita masuk seleksi nominasi Oscar, mendadak yang mau mendekati banyak. Padahal di awal, karya saya ditolak terus. Sekarang dari mulai komposer sampai penulis skenario ramai-ramai menghubungi.

Sebagai perempuan dari Asia tak mudah mendapatkan proyek film sendiri. Bagaimana Anda mendapat jalannya?
Kuncinya adalah kerja keras dan konsisten. Saya bekerja dengan tim selama 18 jam setiap hari. Saya beruntung memiliki mentor yang sarat pengalaman.

Untuk menjadi sutradara yang bagus, kenapa harus di Amerika?
Kebetulan saja karena saya kuliah di di Los Angeles. Sambil kuliah, saya belajar dunia film. Saya bantu-bantu di bagian tata lampu, katering dan kostum selama bertahun-tahun.

Apa yang Anda nikmati bekerja dengan David Boushley, stunt coordinator yang telah mengkoreografi film-film Denzel Washington, William Hurt dan Tommy Lee Jones...
Saya merasa beruntung melakukan pekerjaan bersamanya. Dia (Boushley) memang selalu mengejutkan dan cukup keras dengan saya. Tapi itu adalah tantangan.

Brush With Danger (2014) Official Trailer - Ken Zheng, Livi Zheng Thriller Movie HD /Movieclips Film Festivals & Indie Films

Karier film Anda dimulai dari menjadi stunt (peran pengganti) seperti jatuh dari ketinggian atau perkelahian. Sebagai perempuan Anda tidak khawatir mendapat luka di wajah atau bagian tubuh yang lain...

(Livi memulai karier di bidang film sejak usia 15 tahun, dengan tampil di serial televisi Laksamana Cheng Ho di Indonesia).

Ketika remaja, saya ini suka berkelahi. Suatu kali ketika sekolah di Beijing (Tiongkok), saya berkelahi dengan murid lelaki dari Nigeria. Masalahnya adalah dia tidak membayar uang yang dia pinjam. Padahal kan uang saku saya terbatas.

Ternyata utang itu adalah modus, karena semua teman yang dipinjam uangnya tidak pernah kembali. Setelah saya tagih, dia malah menantang. Akhirnya kami berkelahi dan dia terkena tendangan saya hingga menangis. Tapi sejak kuliah saya sudah tidak berkelahi lagi he-he. The more we know martial arts, the less we want to fight.

Dari siapa Anda suka seni bela diri, bahkan sampai memenangi 26 kejuaraan bela diri wushu untuk regional dan nasional di Amerika Serikat?
Ayah suka bela diri dan itu menular ke saya. Saya baru mempelajari beladiri pas SMA ketika saya pindah ke Beijing. Di sana saya baru belajar serius. Sebab itu, kalau lelah latihan saya suka cabut dari sekolah. Saya pernah lompat pagar setinggi tiga meter pada jam pelajaran. Sayangnya, ada kejadian tidak enak. Saat teman saya dari Eropa ikut loncat, kakinya terkilir, dan harus memakai penyangga kaki besoknya ketika sekolah. Meski nakal, nilai saya bagus semua.

Apakah sejak kecil memang Anda memiliki passion di bidang film?
Ketika masih kecil, saya tidak bermimpi menjadi seorang pembuat film. Di keluarga saya, kalau tidak jadi pengusaha, ya, insinyur. Karena itu, saya beranggapan bahwa masa depan hidup mapan adalah berkarier di bidang bisnis.

Tapi profesi sutradara tampak seperti sesuatu yang sangat dekat dengan saya, karena saya suka ke bioskop. Tapi saat kecil memang banyak sih yang saya mau.

Jadi kapan Anda tahu bahwa Anda ingin menjadi sutradara?
Ketika di Amerika. Saya melihat dunia lebih luas dan melakukan hal-hal yang menarik. Saya bertemu dengan teman-teman yang mencintai film dan menciptakannya. Saya terus membayangkan berapa banyak orang yang terlibat dalam proyek-proyek besar tersebut.

Anda sarjana ekonomi lulusan Universitas Washington, kenapa memilih menggarap film?
Kesuksesan bisa diraih di bidang apa saja asal kerja keras. Saya mencontoh sosok Bruce Lee yang bisa berakting, bermain sebagai pemeran pengganti, juga keren di belakang layar. Kebetulan almamater Lee sama dengan saya. Dia mendapat pendidikan di University of Washington.

Masih muda, sukses dan memilki kegiatan segudang, apa masih sempat menggeluti hobi?
Me time saya saat ini amat susah. Boro-boro me time, sleep time saja terkadang tidak bisa. Sehari hanya dapat 4 jam untuk tidur. Ketika di Seattle (Amerika) hobi saya adalah makan, main time zone dan ke bioskop. Hampir semua restoran di Seattle sudah saya coba. Tapi kadang bosan, karena belum ada pendamping. Cariin dong? ha-ha

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR