Keterangan Gambar : Sutradara "Istirahatlah Kata-Kata", Yosep Anggi Noen, berpose di atas jembatan penyeberangan kawasan Senayan, Jakarta Pusat, seusai menerima wawancara dengan Beritagar.id, pada Selasa (24/01/2017). © Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo

Ia menyutradarai film tentang Wiji Thukul sebagai upaya untuk membicarakan hal yang lebih besar tentang orang-orang yang "dihilangkan".

istirahatlah kata-kata
jangan menyembur-nyembur
orang-orang bisu

Bait pertama puisi karya Wiji Thukul pada 1988 itu tepat menggambarkan film baru karya sutradara Yosep Anggi Noen. Film dengan judul sama dengan puisi tersebut, Istirahatlah Kata-Kata, tidak menggambarkan sosok heroik sang penyair ketika melawan rezim Orde Baru.

Film ini malah menceritakan periode Thukul ketika melarikan diri ke Pontianak, Kalimatan Barat, setelah terjadi kerusuhan di Jakarta pada 27 Juli 1996. Periode ketika Thukul tak banyak bersuara, tak lagi berpuisi, menjadi buron.

Hidupnya berpindah-pindah karena khawatir sewaktu-waktu ada yang menciduknya. Istri dan kedua anaknya terpaksa ia tinggalkan di Solo, Jawa Tengah. Namun, di akhir film, seperti juga akhir bait puisi itu, Thukul menemukan kebangkitannya. Ia pun bergerak melawan, menemui kembali istrinya, lalu pergi, dan menghilang hingga sekarang.

Pasca tayang perdana di bioskop komersial pada 16 Januari lalu, para penggemar setia Thukul pun bereaksi. Tak jarang mereka melontarkan kritik, terutama melalui media sosial, seperti Facebook dan blog. Mereka menyayangkan karena Anggi membuat sosok Thukul sebagai seorang penakut.

Padahal, puisi Thukul tidak pernah jauh dari mengkritik pemerintah dan menyuarakan rakyat yang tertindas. Ia seolah tak pernah gentar bersuara, hingga sosoknya menjadi legenda yang dekat dengan kata pemberontak dan pemberani. Satu bait puisinya sempat jadi jargon yang membahana pada setiap aksi demonstrasi, yaitu "Hanya satu kata: lawan!"

Anggi tak menampik kritik itu pasti datang. "Yang namanya film selalu bermain di luar ekspektasi," katanya di GROM Gelato, Plaza Senayan, Jakarta Pusat, pada Selasa (24/01/2017).

Menurut dia, mengultuskan sosok hanya membuat penonton menjadi berjarak. "Yang dipuja orang itu adalah yang tak tergapainya, bukan kedekatannya dengan manusia," ujar pria kelahiran Moyudan, 15 Maret 1983 itu.

Begitulah cara Anggi berekspresi selama ini. Film yang melambungkan namanya, Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya, juga menggambarkan hubungan manusia melalui kisah yang enteng, estetika sederhana, dan sedikit narasi.

Terlepas dari segala kritik, pujian juga datang untuk film ini. Hampir semua media mainstream memberikan ulasan positif. Film ini dianggap pintu gerbang untuk membuka isu yang selama ini seolah jalan di tempat. Penonton pun membludak. Hari pertama penanyangannya hanya ada 19 layar, lalu seminggu setelahnya naik hampir dua kali lipat.

Anggi tak pernah menyangka dengan kesuksesan film yang diputar pertama kali di Locarno International Film Festival ke-69, Swiss pada Juli lalu itu. "Saya sebagai pembuat film merasa tersanjung karena penontonnya orang-orang muda," ujarnya kepada Sorta Tobing, Muammar Fikrie, Indra Rosalia, dan fotografer Wisnu Agung Prasetyo.

Petang itu, di sebuah cafe yang menyajikan es krim Italia, ia memilih secangkir single espresso dan semangkuk kecil sorbet dua rasa. Panas dan dingin, persis dengan caranya bercerita. Kadang penuh emosi, tapi kadang terlihat tenang. Beberapa kali lelehan sorbet yang mencair di atas meja ia lap dengan tisu.

Kami juga menampilkan video ketika Anggi menjawab 10 pertanyaan singkat. Ia tertawa ketika harus merespon antara sinetron Indonesia atau India. Bagaimana reaksinya saat memilih kanan atau kiri? Semua tersaji pada video dalam tulisan di bawah ini. Berikut perbincangan kami dengan Anggi:

Sutradara "Istirahatlah Kata-Kata",  Yosep Anggi Noen, saat berbincang dengan Beritagar.id di GROM Gelato, Plaza Senayan, Jakarta Pusat, pada Selasa (24/01/2017).
Sutradara "Istirahatlah Kata-Kata", Yosep Anggi Noen, saat berbincang dengan Beritagar.id di GROM Gelato, Plaza Senayan, Jakarta Pusat, pada Selasa (24/01/2017).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Mengapa Anda mau menyutradarai film ini?
Menurut saya Thukul adalah tokoh penting. Saya pasti banyak belajar. Kebetulan saya merasa tidak punya sumbangsih ketika terjadi pergantian rezim itu (dari Orde Baru ke Reformasi). Saya merasa terhormat dan jadi tahu bagaimana mencatat dan mengingat lagi sejarah.

Ada beban berat memfilmkan tokoh sebesar Wiji Thukul?
Yang paling membuat lega ketika Fitri (anak sulung Thukul) bilang, "Bapakku ini juga seniman. Puisinya ditafsir banyak orang. Mas dan mbak juga seniman film, pasti akan menafsir tentang bapak saya." Jadi saya merasa diberi ruang oleh keluarganya.

Kenapa memilih periode ketika Thukul melarikan diri ke Pontianak?
Kami melakukan riset panjang dan ternyata kurun waktu di Pontianak itu kompleks bagi perjalanan batin seorang Thukul. Ketika itu, ia pertama kali dicap sebagai buronan. Sebelumnya memang ia pernah ditangkap, tapi sebagai demonstran.

Setelah peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996, kekuatan PRD (Partai Rakyat Demokratik) tak terkoordinasi dengan baik. Banyak orang jadi buronan. Tiba-tiba Thukul menjadi sosok yang penakut dan paranoid dengan aparat. Itu kami dapatkan dari riset di Pontianak. Lalu, dengan teguh hati ia kembali kepada keluarganya dan pergerakan untuk menggulingkan Orde Baru.

Bukankah ceritanya menjadi agak sempit?
Itu pilihan yang wajar untuk sebuah film. Film ini satu dari banyak cara untuk mengenalkan Thukul. Tapi ketika menjadikan film menjadi jawaban untuk semua pertanyaan tentang dia, ini problematis, karena kami akan seperti menghakimi.

Film itu tidak harus mengadili, tapi menemukan ruang untuk memancing pemikiran orang. Begitu kamu mengadili ya, berarti kamu tidak sedang membuat film.

Proses riset film ini butuh waktu berapa lama?
Risetnya panjang 1,5 tahun. Kami sebenarnya punya naskah lain yang lebih panjang. Kalau dieksekusi semua jadi kayak film India kali ya. Tapi kami harus memutuskan dan memilih.

Bagaimana dengan kritik yang mengatakan film ini terlalu menggambarkan sosok Thukul sebagai seorang penakut, paranoid?
Itu manusiawi sekali. Mengultuskan sosok tak membuat kita mendudukkannya pada posisi sebagai manusia yang sejajar dengan kita. Itu problematis. Ia seolah tak teraih sebagai manusia. Artinya, justru tak memberi manfaat apapun bagi penonton karena berjarak.

Jadi ini upaya membumikan sosok Wiji Thukul?
Upaya mengenalkan Wiji Thukul sebagai manusia. Ia sama seperti kita yang mampu berkeputusan untuk memperjuangkan gagasan berdemokrasi, kebebasan berekspresi, menunjukkan dia berpihak kepada rakyat. Itu yang paling penting.

Anda menduga kritik itu akan datang?
Kita bikin kentang goreng saja dikritik kurang asin. Ha-ha-ha.... Jadi, tak ada karya apa pun yang tak lepas dari kritik.

Film ini masuk bioskop komersial, mengapa tidak membuat jalan ceritanya lebih mudah dinikmati penonton umum?
Bayangkan ujaran-ujaran demokrasi dan HAM (Hak Asasi Manusia) dibincangkan oleh orang-orang apatis di sebuah kedai kopi yang harganya puluhan ribu. Impact-nya mungkin ada, entah besar atau kecil. Kami percaya betul diskusi HAM dan demokrasi bukan semata-mata ruangnya aktivis. Diskusi soal orang hilang adalah diskusi kita bersama dalam semua lini kehidupan.

Justru film ini membumikan para penonton. Tadi malam saya berbicang dengan anak-anak muda yang masih bayi ketika terjadi peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996. Setelah menonton, mereka jadi mau belajar mengenai apa yang terjadi.

Jadi, ingin menjadi trigger (pemicu)?
Sebuah hyperlink bagi kita untuk masuk ke gagasan dan pintu-pintu lain dan membicarakan hal yang lebih besar. Layar, kursi bioskop, dan mata kita sebesar apa sih untuk melihat riwayat seseorang? Yang luas kan niat, hati, dan pemikirannya. Itu yang harus benar-benar kita tumbuhkan. Sebuah pemikiran untuk melihat demokrasi itu tidak murah.

Salah satu alasan memilih Marissa Anita sebagai Sipon (istri Wiji Thukul) apakah untuk menjangkau penonton yang lebih luas?
Tentu saja ini keputusan sinematik. Film saya jelas punya karakter yang berbeda dengan yang komersial. Saya lebih banyak melakukan long take. Jadi saya butuh aktor yang mampu menguasai ruang. Nah, orang-orang panggunglah yang mampu mewujudkan pikiran dan gagasan saya.

Marrisa akrab dengan panggung karena berasal dari The Jakarta Player. Gunawan Maryanto (pemeran Wiji Thukul), kalian tahu siapa dia. Saya lebih percaya aktor yang lahir dari panggung ketimbang lensa.

Ada alasan khusus mengapa di beberapa adegan ekspresi para pemain tidak diperlihatkan?
Enggak tahu, mungkin itu yang dibaca kritikus. Saya dibesarkan pada sebuah tradisi yang tidak selalu serba terbuka. Jawa itu kan lebih banyak menyimpan. Sinema menjadi rupa saya untuk mentransformasi spirit. Apa ya? Spirit menjadi orang Jawa yang tidak mengumbar.

Jadi film-film Anda harus tentang orang Jawa?
Ha-ha-ha.... Enggak juga sih.

Inikah alasan Anda tidak menunjukkan kekerasan Orde Baru secara verbal?
Orang yang sudah kalap duluan mendengar film tentang Wiji Thukul pasti mengira film ini bakal tentang para aktivis dan kekerasan yang menimpa mereka. Saya memilih estetika sebaliknya. Ketika menunjukkan kekejaman Orde Baru tidak harus dalam bentuk kekerasan.

Saya melihat kekerasan pada zaman itu seperti efek panoptikon. Kita merasa diawasi tapi enggak tahu siapa yang mengawasi. Kita bahkan enggak tahu tetangga kita itu siapa. Jadi semuanya serba menakutkan, tertekan. Nah, itu yang paling mengerikan buat saya.

Seperti karakter tetangganya Sipon?
Sebenarnya itu ketika kita hidup dalam ruang penuh tekanan, bisa jadi semengerikan itu.

Termasuk sosok intel yang hanya sekali lewat doang?
Iya, tidak merokok, makan lemper.

Semua cerita itu berdasarkan informasi orang terdekat Wiji Thukul?
Banyak orang yang saya temui bertemu dia hanya satu kali. Tak ada orang yang terus-menerus bersama Thukul, kecuali keluarganya. Itu pun kadang dia kan pergi, ngamen-lah, puisilah, ke Jawa Timur-lah.

Saya merasa membuat film ini seperti merangkai banyak cerita dari pertemuan orang-orang. Kita mencari Wiji Thukul di mana lagi selain ingatan orang. Tak ada lagi kan?

Istirahatlah Kata-Kata kan puisi Thukul yang lama. Di film kesannya Thukul menulis itu di Pontianak.
Ya itu tadi, sinema adalah upaya saya untuk squeezing the time. Kalau Anda hanya menaruh realita ke dalam layar, tanpa interaksi atau persepsi, itu bukan statement. Puisi jelas melampaui zaman. Kalau ditanya mengapa judulnya itu, saya pikir ini kontekstual ya.

Apa itu bahasa lain untuk "Kerja, Kerja, Kerja" (slogan pemerintahan Presiden Joko Widodo)?
Saya pikir tidak ada hubungannya. Kalau diotak-atik gathuk mungkin ya. Tapi saya juga menaruh puisi yang menurut saya sesuai dengan konsep memberontak Thukul, "kemerdekaan adalah nasi/dimakan jadi tai." Kontekstual sekali dan menggelitik juga. Kita lihat demokrasi sekarang, seperti yang kalian tahulah, kondisinya serunyam ini, seberisik ini.

Jadi, menyindir fenomena media sosial juga?
Bisa jadi. Tapi enggak juga. Buat apa nyindir sih. Film ini mencoba meletakkan sejarah yang kontekstual pada zaman ini. Dan ternyata tanggapannya menarik karena orang jadi mengingat puisi itu.

Saya melihat kekerasan pada zaman itu seperti efek panoptikon. Kita merasa diawasi tapi enggak tahu siapa yang mengawasi.

Yosep Anggi Noen

Anda mengenal sosok Wiji Thukul di usia berapa?
Saya kenal pas SMP (Sekolah Menengah pertama). Dulu saya tidak merasa itu seperti puisi, lebih catatan harian. Puisi kok kayak begini ya? Bapakku itu guru Bahasa (Indonesia). Jadi bacaan saya lumayan liris. Ketika kakak kelas ke rumah dan bawa puisi Wiji Thukul, saya merasa itu tidak seperti puisi.

Setelah itu, pergaulan dan pemikiran saya berkembang, baru saya merasa justru Thukul adalah orang yang punya ketulusan untuk mencatat zaman. Lebih tulus daripada bunga-bunga kata.

Apa tafsir Anda mengenai Wiji Thukul?
Kita kan anak muda nih jadi di zaman Orde Baru dulu tidak pernah melihat kekejaman itu ada. Tak merasakan ruang demokrasi dibatasi sedemikian rupa. Di titik itu muncul tokoh yang bersuara di tengah kepenatan tekanan.

Kemudian saya membaca puisinya dalam waktu berjarak dan aura negeri yang begitu bebas. Saya pikir perlu menghadirkan seorang Thukul dalam berbagai pengetahuan yang kita tahu saat ini dan membagikannya kepada anak muda. Membaca puisinya hari ini dan tahun 1990an itu beda.

Puisi Thukul favorit Anda?
Aku paling suka puisi dia yang bahasa Jawa. Cuma kalau aku highlight kesannya jawasentris banget. Judulnya Ing Telengin Ning. Artinya, hening yang sehening-heningnya. Puisi ini muncul di film tapi lamat-lamat, tak aku terjemahkan, seperti suara mengganggu saja. Jadi suara abis dia mabuk tuh ada bisikannya.

Kembali ke soal film, Anda puas dengan hasilnya?
Puas. Meskipun itu adalah upaya kita untuk percaya diri. Kalau kemudian ada banyak kelemahan, tentu saja. Siapa yang sempurna?

Ini film terbaik yang Anda buat?
Aku enggak bisa bandingin ya. Saya merasa semua karya saya adalah upaya terbaik untuk memperjuangkan sinema.

Kenapa akhirnya masuk bioskop komersial?
Film saya sebelumnya juga masuk (bioskop komersial) tapi terbatas karena infrastruktur zaman itu belum mampu. Kalau sekarang bioskopnya sudah terbuka dengan estetika baru. Film apa pun sebenarnya bisa masuk bioskop, asal memenuhi standar mereka, misalnya lulus sensor.

Film ini banyak yang disensor?
Tak ada potongan sensor sama sekali. Kami juga tidak melakukan self-censorship. Dan itu membuat saya merasa kita punya haluan yang sama. Kita merindukan sesuatu yang menggugah, tanpa dibatasi.

Yang diputar di luar negeri sama dengan di sini?
Persis. Bedanya cuma di subtitle.

Tidak disensor, apa berarti Anda bermain aman?
Saya kira enggak. Semua yang ada dalam naskah adalah upaya saya menunjukkan yang sebenar-benarnya. Kalau tidak perlu adegan hubungan seks, misalnya, ya enggak perlu. Pilihan estetika saya seperti itu.

Sutradara "Istirahatlah Kata-Kata", Yosep Anggi Noen, berpose di atas jembatan penyeberangan di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, seusai menerima wawancara Beritagar.id pada Selasa (24/01/2017).
Sutradara "Istirahatlah Kata-Kata", Yosep Anggi Noen, berpose di atas jembatan penyeberangan di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, seusai menerima wawancara Beritagar.id pada Selasa (24/01/2017).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Menurut Anda, Wiji Thukul masih hidup?
Wiji Thukul ada dan berlipat ganda.

Kalau dia menjadi sutradara akan seperti apa?
Waduh, enggak tahu saya. Pertanyaannya mengerikan juga ya. Kita kenal Thukul dari puisinya. Saya pikir dia juga sering jadi sutradara teater. Peran teater yang ia mainkan juga energik, kritis, dan mampu memainkan elemen sosial yang ada di sekitarnya.

Oke, kalau begitu menurut Anda, puisi Thukul filmiest?
Puisi Thukul itu filmiest, sinematik. Puisinya seperti naskah yang bisa diwujudkan dalam kenyataan sinema.

Kalau Thukul sekarang ada di depan Anda, mau mengatakan apa?
Itu sulit, pertanyaan yang menurut saya.... (sambil mengetuk-ketukkan tangan ke meja). Saya mau bertanya pendapat dia atas hari ini. Apa yang dia lihat hari ini. Pasti akan menarik.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.