Yudian Wahyudi saat ditemui di Royal Hotel Kuningan Jakarta, Jumat (9/3/2018).
Yudian Wahyudi saat ditemui di Royal Hotel Kuningan Jakarta, Jumat (9/3/2018). Beritagar.id / Bismo Agung Sukarno
BINCANG

Yudian Wahyudi: Enggak ada perintah cadar dalam Quran

Dalam rencananya, kebijakan cadar akan dilakukan lewat pembinaan yang baik dan adil. Tak akan ada pemecatan bagi mahasiswi yang ingin terus memakai cadar.

Belakangan sosok Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yudian Wahyudi, sedang viral. Itu karena kebijakan pelarangan cadar yang dibuatnya menuai pro dan kontra. Sebagian menudingnya diskriminatif, tapi ada juga yang melihat kebijakannya sebagai aturan biasa saja yang berlaku di kampus.

Meski kebijakan cadar akhirnya dicabut Sabtu lalu (10/3/2018), berita mengenai sosoknya masih terus berlanjut. Kali ini Yudian disorot karena pendapatnya soal khilafah. Ia menyatakan gagasan khilafah merupakan ancaman laten terhadap Indonesia.

Hal itu diungkapnya saat jadi saksi ahli dalam sidang sengketa yang melibatkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) melawan Kementerian Hukum dan HAM di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta pada Kamis lalu (8/3/2018). Yudian jadi saksi ahli di pihak Kemenkumham.

"Khilafah HTI itu bertentangan dengan Pancasila, sangat berbeda pergerakannya dengan organisasi Islam lain seperti NU atau Muhammadiyah," kata Yudian kepada Heru Triyono, Sorta Tobing, dan fotografer Bismo Agung dari Beritagar.id saat wawancara di Royal Hotel Kuningan Jakarta, Jumat (9/3/2018).

Awalnya kami sudah sepakat bertemu dengannya di Yogyakarta, namun batal karena Yudian ada acara mendadak. Sehingga lokasi wawancara pun pindah ke Ibu Kota. Kini ia memang agak sibuk. Dirinya kerap bolak-balik Jakarta-Yogyakarta. Secara jujur, ia mengaku repot dengan urusan cadar ini. "Banyak informasi salah soal kebijakan itu," ujarnya. Yudian pun ingin meluruskannya.

Kami berbincang dengan Yudian selama dua jam. Gaya bicaranya cukup lantang, seperti orang marah-marah. Tapi dia juga amat ramah--dengan menyuruh kami masuk dan duduk di sofa ruang tamu yang ada di kamar hotelnya. Hidangannya: buah duku dan kripik punai.

Berikut hasil wawancara dengan pria berusia 58 lulusan Harvard Law School Amerika Serikat ini:

Yudian Wahyudi saat ditemui di Royal Hotel Kuningan Jakarta, Jumat (9/3/2018).
Yudian Wahyudi saat ditemui di Royal Hotel Kuningan Jakarta, Jumat (9/3/2018). | Bismo Agung /Beritagar.id

Mengapa Anda spesifik melarang penggunaan cadar?
Kita hanya ingin tahu, yang memakai itu sadar enggak soal stigmanya (cadar). Orang tua mereka menerima apa enggak? Mereka mau hidup seperti apa. Itu saja. Kita hanya ingin bertanya, bukan mengancam. Ini kan pembinaan.

Bagaimana jika mahasiswi itu tetap memakai cadar setelah pembinaan, apakah ada sanksi?
Enggak apa-apa. Biar, kan itu keyakinan, mau diapakan? Memangnya mahasiswi yang bercadar mau dipecat, kan enggak bisa.

Ya pemakaian cadar kan memang wujud pengamalan beragama, sifatnya privat...
Iya lah. Walaupun itu berlebihan.

Memangnya apa stigma yang kerap melekat pada orang-orang bercadar?
Salah seorang pengurus NU di NTB bilang kalau cadar itu tidak diperintahkan dan tidak dilarang. Tapi yang memakai itu umumnya terafiliasi dengan gerakan transnasional. Jadi kalau orang Indonesia pakai itu ya namanya tasyabbuh atau menyerupai.

Bukannya itu menuduh?
Belum tentu mereka bagian (dari gerakan transnasional). Maka itu akan ditanyakan baik-baik. Tuan Guru Bajang yang hafal Quran di NTB itu bilang, dia bolak-balik lihat Quran dan Hadis, enggak ada itu perintah cadar dalam Quran. Andai itu wajib, pasti ada perintahnya di dalam dua sumber tadi.

Jadi memakai cadar di kampus itu sebaiknya tidak dilakukan karena Anda anggap berlebihan?
Islam itu terkadang berhadapan dengan situasi di lapangan. Jika kamu ke Kanada, yang suhunya minus 15, apakah hanya pakai baju biasa saja? Ya disesuaikan bajunya kan. Biar enggak dingin. Intinya jangan berlebihan, karena Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.

Tapi kebijakan Anda ini sangat sensitif dan mengundang sentimen masyarakat...
Kami sudah membayangkannya. Ini kan persoalan internal. Saya punya kewenangan di kampus. Wong (kebijakan) itu juga dalam rangka melaksanakan Rakernas Kemenag. Rakernas itu diarahkan untuk mendorong Islam moderat.

Sebagian masyarakat mungkin bingung, kenapa soal radikalisme dihubungkan dengan cadar?
Maka itu ada pembinaan. Akan ditanya gitu lho. Paham ya? Ya kalau tidak terkait mau diapain? Islam itu jelas sekali menganut asas praduga tak bersalah.

Tampaknya kan Anda serius sekali soal cadar ini, sampai membentuk tim konseling untuk mereka yang bercadar?
Ya serius, orang mahasiswanya juga banyak. Paham kan psikologi pegawai negeri itu? Maaf. Susah sekali kalau enggak ada SK-nya. Paham? Ya pembinaan ini lebih ke diskusi, dengan guyonan, diajak outbond, tidak menyeramkan. Zalim kan enggak boleh.

Yang beredar di media kan pihak kampus akan meminta mereka untuk mundur jika tetap menggunakan cadar?
Beritanya saja dipotong-potong. Ini kan pembinaan dan pendataan. Jadi kalau Pemerintah meminta data mahasiswa, ya kami bisa bilang bahwa anak itu tidak terkait dengan apapun. Mereka bercadar berdasarkan akidah.

Memang banyak ya yang bercadar di kampus UIN Sunan Kalijaga?
Ada 41.

Pembinaan sudah diterapkan kepada mereka?
Belum. Panitia konselingnya saja belum dibentuk.

Baru rencana membentuk tim konseling tapi kok sudah ramai begitu?
Saya enggak tahu. Ada surat rektor yang isinya agak kurang informatif--yang tersebar. Isi surat itu meminta dekan-dekan untuk melaporkan mahasiswi yang memakai cadar untuk dibina. Kemudian kita lihat latar belakangnya dan mau ajak bicara. Belum apa-apa itu.

Anda menyimpan kekhawatiran apa memangnya soal mahasiswi yang bercadar?
Kalau cadarnya dalam arti ideologi politik, bukan akidah, itu pasti menimbulkan kekhawatiran. Ini yang ingin kami cegah. Pondasi pemikirannya ya soal keberadaan negeri ini. Negeri itu negara. Paham ya?

Tapi tampaknya kebijakan ini justru merepotkan Anda sendiri?
Kalau merepotkan ya merepotkan, tapi sebagai pendapat ya biasa saja. Kita diamkan.

Apakah kebijakan ini mengundang teror kepada Anda?
Enggak ada alhamdulillah. Hanya ramai di Facebook saja. Kemudian ada SMS kepada saya yang menyatakan mata saya ini sudah buta karena ingin sebuah jabatan. Saya bilang, ngapain saya ribut-ribut, wong saya sudah rektor kok.

Kemudian kenapa pada akhirnya Anda mencabut kebijakan pelarangan cadar? (Pertanyaan via Whatsapp dan telepon)
Yudian hanya menjawab: Salam. Tks.

Yudian Wahyudi saat ditemui di Royal Hotel Kuningan Jakarta, Jumat (9/3/2018).
Yudian Wahyudi saat ditemui di Royal Hotel Kuningan Jakarta, Jumat (9/3/2018). | Bismo Agung /Beritagar.id

Dalam sidang gugatan HTI, pernyataan Anda juga menuai kontroversi, kenapa sebabnya?
Itu ada yang melintir omongan saya.

Di sidang Anda bilang khalifah bukan pemimpin khilafah, melainkan khalifah adalah status terkait keahlian tertentu. Khalifah itu bisa hadir dalam sistem apapun. Kemudian menyebut Donald Trump sebagai Khalifah terkuat saat ini...
P
ernyataan itu benar saya sampaikan, tapi tolong dengarkan logika saya, jangan disimpulkan sendiri kemudian dihajar.

Oke. Kenapa Donald Trump disebut sebagai khalifah?
Kalau mencari khalifah dunia saat ini ya dia. Enggak percaya? Lihat saja, dia memiliki kapal induk tenaga nuklir yang isinya 1.000 pesawat tempur. Ya kalau senjatanya cuma pedang kan zaman dulu. Maka itu saya bilang Amerika adalah the only super power sekarang ini.

Yang disorot juga adalah ketika Anda menyebut proses peralihan kekuasaan dari satu khalifah ke khalifah lain atas sebab perang tanding...
Saya bilang menang tanding, bukan perang tanding.

Di mana-mana ditulisnya perang tanding. Konotasinya perebutan kekuasaan itu didasari syahwat politik?
Saya menyebutnya menang tanding. Apa itu? Bisa pewarisan dari atasan ke bawahan. Bisa one man one vote, bisa lewat tim seleksi, aklamasi, musyawarah, perwakilan, dan lainnya. Tapi yang terburuk dan jika tidak ada kesepakatan, ya pada akhirnya perang. Memang aku bohong?

Maksudnya jabatan khalifah itu diperoleh melalui perang?
Bahasa saya tetap menang tanding. Misalnya Rasulullah, ketika berhasil membebaskan kota Mekkah. Itu revolusi pertama. Kan menang tanding. Pasukannya jelas datang ke Mekkah. Tolong jangan kehilangan perspektif.

Namun ada yang berpendapat akad untuk memberikan kekuasaan Islam (khalifah) itu adalah dengan baiat, bukan dengan perang?
Kalau terpaksa pada level tertentu, kan harus perang? Paham kan? Kenapa Abu Bakar jadi khalifah? Karena dipromosikan oleh Umar, kemudian semua menerima, selesai. Urusan pelantikan (baiat) ya soal lain.

Berdirinya khilafah itu memang karena menang dalam perang?
Saya ulang ya. Kenapa dulu ada khilafah? Simpel, karena menang tanding. Kenapa sekarang bubar? Karena kalah tanding. Sebabnya mereka tidak punya teknologi militer yang canggih. Yang kedua, ya dikhianati Arab Saudi. Setelah mereka (Arab Saudi) merdeka dari Turki eh malah bikin kerajaan. Ini fakta sejarah.

Soal HTI, apakah dakwah mereka itu murni atau ada cita-cita politik?
Itu yang saya buktikan di pengadilan. Saya ditanya hakim, apa bedanya dakwah Muhammadiyah, NU dan HTI? Saya bilang, dakwah Muhammadiyah dan NU itu dalam rangka dan dalam kerangka Pancasila. Muhammadiyah bikin sekolahan, NU bikin pesantren. Kalau Dakwah HTI ini dalam rangka dan dalam kerangka negara baru, negara Islam.

Apakah sudah terbukti HTI akan membuat negara baru?
Contoh konkretnya ada di Medan. Mereka mengajak tentara dan polisi. Ada dokumennya.

Pertanyaannya kenapa HTI mendapat simpati sebagian masyarakat, bahkan di kampus-kampus?
Karena banyak yang enggak mengerti. Salah satu masalahnya lagi, NU dan Muhammadiyah sudah moderat hidupnya. Nah anak-anak yang sedang mencari identitasnya ini kan senang yang gagah-gagah. Nah HTI bisa memberikan kebutuhan mereka itu.

Di kampus kan tempat pertarungan ideologi, kenapa HTI bisa lebih "laku"?
Mereka masuk dengan kemasan lain. Mereka ini menghadirkan common enemy. Kalau demo mereka bagus. Jadi anak muda senang. Sama halnya ketika kita bersama PDIP dan PPP menganggap Golkar sebagai common enemy toh? Psikologi seperti ini yang kurang diurus oleh ormas Islam lain.

"Dakwah Muhammadiyah dan NU itu dalam rangka dan dalam kerangka Pancasila. Kalau dakwah HTI itu dalam rangka dan dalam kerangka bikin negara baru"

Yudian Wahyudi

Kampus Anda juga ada HTI?
Mereka pernah mengibarkan bendera HTI dan viral. Saya anggap itu kudeta terhadap kampus. Karena HTI tanpa izin melakukan kegiatannya.

Sebenarnya apa yang dikhawatirkan dari HTI, toh mereka tidak punya senjata--kalau misalnya memang ingin bikin negara baru?
Makanya enggak akan menang. Kalaupun iya kira-kira 3 ribu tahun lagi. Ini kan berita gaib.

Nah maka itu, enggak harus dikhawatirkan keberadaan HTI?
Memang enggak, tapi mereka tidak paham. Maka itu enggak usah berpikir buat negara baru, kita kan sudah punya negara.

Mereka pantas dibubarkan?
Iya, karena ngomongnya itu kan khilafah-khilafah terus di belakang. Jadi, kebangkitan Islam tidak harus kebangkitan mendirikan sebuah negara, makanya Muhammadiyah memperbaiki nasib umat dari pendidikan.

Tapi raja-raja dulu, Kerajaan Mataram misalnya, juga memakai konsep khilafah dalam memimpin kerajaannya, mereka memakai gelar khalifatullah--perwujudan wakil Tuhan di dunia...
Itu kan dulu ketika khilafah belum bubar. Ketika khilafah masih menang tanding. Pada 1453 Sultan Turki berhasil merebut dan menggabugkan Abbasiyah dan Usmaniyah melalui penaklukan. Ketika itu Turki muncul sebagai the only one super power.

Jadi orang barat banyak yang sowan ke Turki. Ini beneran. Gelar Sultan ketika itu prestise. Makanya di Nusantara nama rajanya adalah Sultan. Tapi ketika Amerika menang perang dunia dua, Presiden jadi the strongest man on earth, jadilah semua memakai kata Presiden.

Tanpa maksud menghina sultan-sultan, mereka sekarang punya power enggak? Enggak. Karena power-nya ada di presiden. Kenapa dari sultan ke presiden? Karena menang tanding.

Btw bagaimana ceritanya Anda bisa belajar di sekolah bergengsi Universitas Harvard di Amerika?
Semua berawal ketika saya bandel dan dibuang oleh Bapak ke pesantren di Balikpapan. Saya pun jadi santri.

Saat remaja itu kerjaan saya mukulin orang. Bapak murka ketika saya menangkap kodok dan mulutnya saya kasih mercon. Mercon itu saya bakar di depan orang banyak saat lagi antre beli karcis.

Saya digebuki banyak orang. Pakai bangku dan bambu. Bapak enggak marah. Mungkin sudah lelah he-he. Tapi saya disuruhnya menjadi santri.

Meski bandel nilai akademis saya bagus. Ya puncaknya adalah bisa mengambil Alwaleed Islamic Studies Program di Harvard University.

Rektor UIN Sunan Kalijaga bicara soal cadar /Beritagar ID
BACA JUGA