Yuli Sugianto atau Yuli Sumpil saat ditemui di kediamannya, kawasan Purwantoro, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (14/10/2018).
Yuli Sugianto atau Yuli Sumpil saat ditemui di kediamannya, kawasan Purwantoro, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (14/10/2018). Beritagar.id / Bismo Agung Sukarno
BINCANG

Yuli Sumpil: Hanya Tuhan yang maha adil

Ia mengkritisi sanksi yang diterimanya dan meminta PSSI bisa memperjelas batas provokasi dan rasisme yang diizinkan dalam sepak bola Indonesia.

Ada yang botak, gondrong, berotot dan juga selegam batu kali. Mereka sekitar belasan, bernyanyi dan mengacung-acungkan mafela bertulis: Aremania. Mereka fokus memerhatikan layar dan satu pria kurus yang memimpin sorakan. “Arema! Arema!” jerit pria itu sembari menjepit rokok di antara gigi.

Pria itu adalah Sam Jules atau Yuli Sumpil, dirigen fenomenal Aremania. Yuli mengundang kami sore itu untuk nonton bareng PSM Vs. Arema FC di sebuah kafe di kawasan Tanjungrejo, Malang. Di pertandingan itu Arema keok 1-2. Yuli dan teman-temannya pun murung, bagai tentara kalah perang.

Yuli belakangan jadi sorotan. Itu tak lepas dari sanksi seumur hidup tak boleh masuk stadion dari komisi disiplin PSSI. Sanksi itu imbas dari aksinya merobek duit di depan pemain Persebaya. Di media sosial, ia menerima banyak simpati, meskipun ada juga yang mencibir.

“Sanksi ini adalah pembunuhan karakter,” katanya saat wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Bismo Agung di kediamannya, kawasan Purwantoro, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (14/10/2018).

Seperti kebanyakan pria di Malang, sepak bola telah membentuk kehidupan Yuli dan identitasnya. Ia mengatakan, sepak bola adalah satu-satunya hal yang mulia dalam hidupnya—ketika cita-cita jadi tentara Angkatan Laut gagal ia raih.

Kiprahnya sebagai dirigen sejak 1997 begitu disegani, meski beberapa membenci. Ia sering dijuluki raja rasis dari suporter-suporter tim lain. “Saya rasa bukan rasis, tapi memandang Arema Malang nomor satu dan yang lain janc**, apakah itu rasis?” ujar pria berusia 42 ini.

Sepak bola memang dianggap serius di Malang. Hampir setiap ruang terbuka di pusat kota jadi tempat pertemuan para Aremania. Mereka bicara sepak bola dan memuja Arema. Di tembok-tembok jalan, huruf-huruf Aremania ditulis dengan warna merah dan biru terang-terang. “Di Malang, anak yang baru lahir itu otomatis jadi Aremania,” kata Yuli Sugianto, nama tulennya.

Kami bertemu Yuli di rumahnya sebelum nonton bareng itu. Ia muncul dengan membawa kandang burung tertutup kain yang langsung dilepasnya ketika kami tiba. Kemudian, kami duduk di sofa untuk wawancara--dilatari ocehan burung kenari miliknya.

Didampingi Vandy Wijaya, Aremania yang juga terkena sanksi, Yuli menjelaskan panjang lebar soal provokasi, rivalitas dan rasisme selama satu jam lebih. Berikut ini jawaban-jawaban yang ia katakan:

Yuli Sumpil dan Aremania saat nonton bareng di sebuah kafe di kawasan Tanjungrejo, Malang, Jawa Timur, Minggu (14/10/2018).
Yuli Sumpil dan Aremania saat nonton bareng di sebuah kafe di kawasan Tanjungrejo, Malang, Jawa Timur, Minggu (14/10/2018). | Bismo Agung /Beritagar.id

Boleh tahu kenapa Anda melakukan aksi provokasi dengan masuk ke lapangan?
Itu bukan provokasi. Refleks saja. Waktu bermain di Surabaya, Arema juga diperlakukan enggak enak, malah lebih dari itu, iya kan?

Yang Anda lakukan itu adalah aksi balasan yang terjadi di Surabaya?
Aku sih enggak membandingkan. Tapi ini aksi spontan dan enggak sampai menyeruduk pemain, ya kan? Kalau maskot Bonek di Surabaya itu malah nge-fuck pemain Arema ketika masuk stadion. Lebih parah.

Bukankah sama saja ya, sama-sama provokasi?
Begini. Di Surabaya, tulisan Arema di papan skor itu di balik, logo juga dirobek, itu sepanjang pertandingan lho dan bisa dilihat di televisi. Tapi Persebaya cuma disanksi empat pertandingan.

Jadi ini adalah soal rivalitas dengan Bonek?
Ya apa yang kamu perbuat di kandang kamu terhadap Arema, jangan salahkan juga kalau kamu dibegitukan di sini.

Apakah bentuk provokasi itu hal biasa yang dilakukan antarpendukung?
Sekali lagi, itu bukan provokasi. Kalau aku provokasi, aku ajak teman-teman semuanya masuk ke lapangan. Aku hanya melakukan psywar agar mental pemain Surabaya turun. Ini hal lumrah di kalangan suporter, dalam arti rivalitas ya.

Apa sebenarnya pesan yang mau disampaikan dengan aksi merobek-robek uang itu?
Seperti yang aku bilang tadi, melemahkan mental mereka.

Aksi Anda itu dilakukan atas persetujuan teman-teman Aremania?
Di stadion itu hukumnya demokrasi. Seandainya waktu itu aku dinilai salah, aku mesti dipisuh-pisuhi (dikata-katain kotor) sama puluhan ribu suporter. Nyatanya kan enggak, aku malah dikasih aplaus.

Sempat ada Aremania yang keberatan dengan aksi itu?
Mungkin. Tapi aku kira 90 persen setuju terhadap aksi itu. Karena itu biasa dalam rivalitas. Banyak yang kecewa juga dengan hukuman yang aku dan Vandy (Aremania) terima. Aku pun mengira satu sampai dua tahun saja. Tapi malah seumur hidup. Teman-teman dari The Jak dan Ultras Malaya memberi dukungan untuk aku karena sanksi ini. Mereka minta aku sabar.

Anda merasa sanksi itu tidak adil?
Aku enggak bisa jawab. Biar orang-orang yang menjawabnya, khususnya yang mengerti sepak bola. Yang pasti, tolonglah PSSI, buat kejelasan aturan untuk suporter. Harus jelas dan mendidik. Kasih tahu kepada kami aksi yang boleh dan tidak, termasuk soal rasisme.

PSSI kan sudah bilang kalau terdengar nyanyian rasis, pertandingan akan dihentikan…
Tapi definisi rasis itu luas. Misalnya ada nyanyian ganyang Malaysia, sama enggak itu artinya dengan membunuh? Bagaimana?

Nyanyian yang bernada rasis dan kebencian itu bisa dihilangkan?
Rasis itu apa? Aku tanya? Aku sudah pernah bilang, aku ini orangnya fasis. Tapi itu buat tim yang aku dukung saja. Kalau di masyarakat ya enggak, biasa ae.

Sebagai pendukung, saya harus anggap Arema nomor satu di dunia, termasuk Timnas. Aku enggak bisa menyamakan cintaku ke Indonesia dengan negara lain, enggak mungkin. Nah ini saja sudah bentuk fasis kan. Kalau menurut aku lho.

Fasisme itu penting untuk suporter?
Penting banget. Masa iya kita menyamakan tim yang kita dukung dengan yang lain. Enggak seru. Di luar negeri, soal fasisme ini lebih parah. Ya awalnya juga berangkat dari fanatisme.

Kalau paham ini membahayakan, bagaimana?
Jika mau jadi suporter itu ya jangan banci. Makanya, aku terima saja sanksi untuk aku pribadi, tapi tidak untuk Arema. Aku enggak terima Arema dihukum lima pertandingan tanpa penonton.

Anda menyesal melakukan aksi itu?
Kalau untuk sendiri sih enggak, tapi untuk tim iya, aku menyesal. Kenapa untuk Arema seberat itu. Aku merasa kurang adil untuk Aremanya. Kalau untuk sendiri, biar orang yang menjawab. Saya pikir, hanya aturan Tuhan yang maha adil.

"Kalau nyanyi saja diatur harus sopan, ya nonton catur ae"

Yuli Sumpil

Dari penjelasan Anda, sepertinya Anda sudah tahu akan risiko terkena sanksi?
Aku sudah ngerti bahwa akan kena sanksi. Tapi enggak mengira sampai seumur hidup. Kalau sanksinya jelas, saya akan berpikir dua kali.

Ya ini kan belum jelas, apakah aku masih boleh nonton Timnas? Apakah boleh nonton konser atau pengajian masuk ke stadion? Bagaimana kalau aku buat stadion sendiri, masa enggak boleh masuk stadion sendiri.

Kalau sudah tahu ada risiko sanksi, kenapa tetap melakukan aksi itu?
Ini harus dipahami dari sudut pandang suporter. Surabaya adalah rivalku. Ya kan? Yang dilakukan rival pasti kita perhatikan. Tapi saya enggak mau cari pembenaran. Biar orang lain saja, pantas enggak aku dihukum seumur hidup.

Apakah Anda merasa bahwa sanksi ini adalah efek dari kasus kematian Jak Mania di Bandung?
Enggak ngerti aku. Seandainya ini imbas ya jangan merugikan tim seberat itu. Kalau dua pertandingan disanksi, aku masih terima. Tapi ini lebih dari itu, menurut aku ya salah.

Anda sudah berkomunikasi dengan manajemen Arema soal sanksi ini?
Belum. Mereka mungkin juga pusing.

Tapi CEO Arema FC, Iwan Budianto, mengaku sudah lelah dengan perilaku Anda…
Aremania iku ya memang begini. Kita enggak bisa diatur siapapun, kita enggak ada struktur organisasi. Aku sudah siap dengan hukuman ini. Ini demi Arema. Mungkin ini perjalanan hidupku. Yang penting, aku dihukum bukan sebagai pecundang.

Kabarnya Anda akan menemui Komnas HAM untuk membicarakan sanksi ini?
Aku belum tahu. Kalau teman-teman mendorong, ya monggo, tapi aku enggak meminta. Nanti terkesan aku mencari pembelaan. Aku enggak mau meminta-minta. Lihat saja dengan baik, benar enggak sanksi ini? Mendidik enggak? Soalnya seperti pembunuhan karakter.

Teman-teman Aremania akan melakukan apa menghadapi sanksi ini?
Banyak dari mereka bentuk gerakan #saveyuli dan lain-lain. Kalau bisa, Aremanya juga diperjuangkan. Karena lebih utama ya Arema. Silakan protes ke PSSI, perjuangkan Arema, termasuk perjuangkan Vandy.

Apakah dulu Anda pernah melakukan aksi yang juga diganjar sanksi?
Sering. Pernah ya, di Balikpapan, pemain Arema diserang suporter. Enggak usah sebut merek. Begitu di Malang, kami lakukan aksi balasan dengan tabur bunga di batu nisan yang aku buat dari foam--tepat di tempat pemain cadangan. Ya sebagai simbol saja.

Yuli Sugianto atau Yuli Sumpil saat ditemui di kediamannya, kawasan Purwantoro, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (14/10/2018).
Yuli Sugianto atau Yuli Sumpil saat ditemui di kediamannya, kawasan Purwantoro, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (14/10/2018). | Bismo Agung /Beritagar.id

Ada kelompok suporter yang dukung Anda, tapi Ada juga yang mengecam, bahkan Anda dibilang kampungan…
Intinya tegakkan dulu aturannya. Jangan setelah kejadian baru dihukum. Batasannya saja enggak jelas. Misalnya, tulis saja bahwa suporter masuk lapangan itu akan dihukum dua tahun. Harus ada yang tertulis begitu. Saya ini enggak melakukan kriminal dan membunuh. Ini kan enggak jelas ukurannya.

Tapi masyarakat menilai aksi Anda adalah teror yang membahayakan pemain lawan?
Ini bentuk dukungan. Di luar negeri ada pemain yang dilempar koin dan pendukungnya kena hukuman yang jelas. Nyanyian mereka juga emosional. Apa kalau kalah dan tim kita dihina diam saja? Ya enggak.

Kita sampaikan lewat nyanyian-nyanyian bentuk perlawanan kita terhadap tim rival. Kalau nyanyi saja diatur harus sopan, ya nonton catur ae.

Sejak lama Aremania memiliki rivalitas dengan Bonek. Apakah ada sosok yang Anda hormati dari Bonek?
Enggak ada yang aku hormati. Wong aku enggak kenal.

Tapi pernah beraudiensi dengan mereka?
Enggak pernah. Bonek kuliah di Malang ya diam-diam. Aku juga enggak pernah ngobrol sama Bonek. Ya kalau pernah, aku dimusuhi orang se-Malang. Bisa-bisa dibilang janc** atau bajingan. Apalagi sampai salaman, bisa-bisa dipateni aku.

Diancam dibunuh ya biasa dari rival. Vandy bahkan sampai istri dan anaknya diancam dibunuh lewat Whatsapp dan SMS setelah kejadian itu. Ancaman begitu ya banci bagi kita. Ya ini kehidupan real suporter, dan banyak orang belum mengerti.

Apakah seorang dirigen di Aremania bisa digantikan?
Vandy: Cuma ada satu sosok seorang Yuli. Tidak bisa digantikan. Dia adalah panutan. Efeknya akan besar ketika Sam Jules enggak ada.

Menurut Anda (Yuli) bisa tergantikan?
Biar teman-teman menjawab. Bagi aku, Malang iku selalu paling pertama jadi acuan dan disorot. Bukan cuma soal suporter. Indonesia itu embrionya ya dari Malang, Singosari. Kemudian Ken Arok lari, mundur lagi, jadi Majapahit dan ada Sumpah Palapa—yang menjadikan satu seluruh nusantara. Ini yang aku pegang. Harga diri orang Malang.

Anda melihat ada politisasi dari sanksi yang Anda terima?
Sampean lebih ngerti. Yang aku tahu, ya bernyanyi dan jadi pendukung loyal. Aku mempertaruhkan segalanya untuk klub ini, bahkan sampai jual cincin pertunangan untuk nonton away. Slogan aku: harta, nyawa dan waktu itu untuk Arema.

Menjadi dirigen Aremania adalah takdir?
Ya aku nonton Arema sejak lima SD. Cita-cita aku adalah jadi tentara Angkatan Laut. Ketika gagal, aku menindik kuping dengan jarum dan memanjangkan rambut. Sejak itu semua total untuk Arema.

Sanksi seumur hidup di mata Yuli Sumpil /Beritagar ID
BACA JUGA