Yunarto Wijaya di kantor Charta Politika, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis siang (25/4/2019).
Yunarto Wijaya di kantor Charta Politika, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis siang (25/4/2019). Wisnu Agung / Beritagar.id
BINCANG

Yunarto Wijaya: Saya tak menyangka Prabowo sujud lagi

Ia membantah telah memanipulasi data-data survei dan menanggung hidup dalam ancaman pembunuhan karena dituduh curang.

Perkenalkan: seorang “provokator”, bintang talkshow dan salah satu komentator politik paling populer di Twitter. Yup, inilah Toto, si aktivis Twitter yang sering bikin lawan-lawannya jengkel.

“Kan di sana (Twitter) egaliter. Berpendapat asal ada dasarnya gak masalah he-he,” tutur pria bernama tulen Yunarto Wijaya ini saat wawancara di kantor Charta Politika, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis siang (25/4/2019).

Bicara politik, di bulan politik dan ada Toto, maka akan jadi menarik. Argumennya teratur dan rapi. Serapi hem birunya siang itu—yang ia bilang mirip hem Sandiaga Uno. “Ha-ha mirip kan,” ia terbahak—sambil menarik-narik kerah bajunya.

Nama Toto meledak di ruang publik saat jadi direktur eksekutif Charta Politika tahun 2012. Sejak itu ia dikenal luas sebagai pengamat politik. Apalagi setelah Bima Arya, sang pendiri lembaga survei itu mundur, lalu menjadi Wali Kota Bogor.

Kala itu jarang ada anak muda fasih bicara politik. Nah Toto mengisi kekosongan tersebut—bahkan sampai sekarang. Namun, Toto juga dekat dengan kontroversi. Simak saja kelakuannya. Mulai dari taruhan pindah negara jika Prabowo menang, sampai menyindir Tengku Zulkarnaen untuk beli cermin, adalah contoh gaya nyinyir dia di media sosial. Sarkas.

Tapi, Toto adalah sosok yang beda ketika berjumpa langsung. Ia lebih kalem dan siang itu meminta maaf karena telat untuk memulai wawancara.

Ia juga bicara dengan penuh humor—meski kondisinya sedang diteror oleh orang tak dikenal. “Rumah gue itu dijaga polisi. Ancamannya mau bunuh,” ujarnya kepada Heru Triyono, Muammar Fikrie dan Nur Rochmi.

Ia mengaku banyak dapat pesan caci maki dan sibuk memblokir ratusan nomor yang masuk ke nomor pribadinya. Nomor-nomor itu yang mengirim pesan ancaman dan menudingnya curang terkait hitung cepat. "Sudah biasa,” kata Toto yang sudah melaporkan teror itu ke polisi.

Berikut perbincangan dengan Toto soal kekalahan Prabowo, hitung-hitungan elektabilitas Ma’ruf Amin, serta politik identitas terkait hasil Pilpres kemarin:

Yunarto Wijaya di kantor Charta Politika, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis siang (25/4/2019).
Yunarto Wijaya di kantor Charta Politika, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis siang (25/4/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Merasa meleset gak antara survei elektabilitas yang didapat dengan hasil quick count Pilpres kali ini?
Yang namanya quick count itu kan belum pernah meleset...

…maksudnya apakah ada perbedaan signifikan antara hasil survei Anda dengan hasil quick count, meleset gak angkanya?
Oke. Survei dianggap meleset itu apa batasannya? Apakah bisa bandingkan survei setahun terakhir dengan survei sebulan sebelum pencoblosan? Kan gak bisa.

Survei itu baca perilaku pemilih pada saat survei dilakukan. Jangan salah.

Orang-orang yang tidak paham metode kuantitatif sering anggap survei itu alat prediksi, seperti ahli nujum. Salah itu.

Bicara akurasi, dua tahun lalu Charta Politika merilis survei bahwa Ahok-Djarot akan menang pada putaran kedua. Sementara lembaga survei lain justru mengunggulkan Anies-Sandi. Bagaimana itu bisa terjadi?
Penyesatan itu dilakukan dengan membandingkan antarlembaga. Misalnya di Pilkada Jabar dan DKI—kemudian menyatakan lembaga survei tertentu itu ngaco.

Kan jelas, waktu survei masing-masing lembaga itu saja berbeda. Belum lagi bicara metode. Kalau dibandingkan presisinya ya gak akan bisa.

Lembaga survei mana yang dengan tepat menebak pemenang Pilkada DKI 2012 dan 2017? Ada enggak? Semua lembaga survei salah.

Kenapa? Ada yang salah dengan teori dan metodologi yang digunakan?
Di Jakarta itu memang terjadi non-sampling error. Begini, ketika responden masuk kompleks, pasti diusir satpam, masuk apartemen, pasti enggak bisa.

Nah, orang-orang Jakarta cenderung juga enggak ada di rumah kalau siang.

Sehingga, terdapat kecenderungan rendahnya tanggapan (response rate), yang membuat non-sampling error sangat besar. Itulah kenapa survei di Jakarta sering meleset.

Ada tuduhan lembaga Anda bermain untuk membentuk opini lewat survei?
Jangan disimplifikasi survei itu dibeli dan dipesan. Penjelasannya bukan itu. Enggak ada untungnya lembaga survei bohong ketika risikonya adalah kredibilitas.

Mohon maaf, kita ini agak rendah literasinya soal statistik. Lebih senang bahas dari sisi siapa yang bayar atau siapa yang ada fotonya sama Jokowi atau Prabowo. Begitu kan?

Anda kan konsultan politik. Pasti tahu risikonya akan dapat serangan dari pihak-pihak yang tidak puas dengan hasil quick qount?
Tapi survei itu bukan politik. Survei itu ilmu statistik. Kalau membedah survei, bedahlah secara statistik, jangan politik.

Fadli Zon banyak juga kok foto dengan Jokowi. Apakah berarti dia di sisi Jokowi? Kan enggak begitu.

Stand position Anda?
Saya selalu berusaha objektif. Misalnya isu Fadli Zon enggak lolos. Saya orang pertama yang langsung nge-twit.

Karena setahu saya dia termasuk tertinggi di survei. Harusnya lolos.

Jokowi pun beberapa kali saya kritik. Misalnya ketika memilh Ma’ruf Amin dan soal Abu Bakar Ba’asyir yang akan diberi remisi.

Mari berbuat adil sejak dalam pikiran. Bukan berarti membela orang jadi tolol kan? Kalau data di Aceh menang Prabowo, ya mau bagaimana. Itu faktanya.

Menurut Anda, bagaimana do and dont-nya sebuah lembaga survei agar tetap netral dan kredibel?
Sudah ada semua kok di kode etik yang diatur Persepi (Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia).

Pada 2009 dan 2014, Persepi pernah menyidang beberapa lembaga, kemudian mereka dipecat.

Kalau mau kredibel ya jangan bohong. Karena pada akhirnya sejarah mencatat, lembaga mana yang bohong atau tidak.

Pertanyaan saya, pernahkan quick count salah dalam sejarah Pilpres? Enggak pernah. Tapi bohong iya, ketika Prabowo sujud karena dibohongi tiga lembaga survei pada 2014.

Bohongnya lembaga survei pada 2014 itu jadi preseden buruk hasil quick count saat ini?
Poin saya bukan itu, tapi tuduhan BPN terhadap lembaga survei abal-abal tersebut seperti sedang menunjuk dirinya sendiri.

Karena itu adalah sejarah mereka pada 2014. Jadi itu bukan preseden. Tapi upaya membela diri yang malah membuka borok sendiri.

Bisa jadi mereka melihat survei Anda yang meleset dengan hasil quick count di Jakarta waktu itu, sehingga tidak percaya lagi...
Mereka selalu membandingkan survei yang di Pilkada DKI, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tapi apa hubungannya survei dengan quick count?

Jangan campur aduk. Karena keduanya beda.

Buat saya sederhana. Quick count-nya 52,2 persen, real count-nya 62 persen, artinya antara real count dan quick count itu ngawur.

Mana ada margin of error 10 persen. Saran saya, Prabowo pecat orang yang melakukan penghitungan itu.

Mereka tetap tidak percaya lembaga survei. Bahkan Bachtiar Nasir bilang quick count itu mengandung sihir dan kebusukan…
Itu penghinaan terhadap karya ilmiah. Buat saya terbuka saja. Buka data-datanya. Buktikan angka-angka yang BPN sebutkan. Itu saja.

Anda juga bersedia untuk membuka penyandang dana lembaga Anda?
Kan saya sudah buka pada ekspos data kemarin. Kalau untuk quick count kita memang biaya sendiri.

Kenapa? Karena kita sudah dapat banyak sekali kerjaan dari survei dapil.Ada sekitar 70-80 dapil yang kita survei.

Biaya menggelar quick count itu hasil menabung ya?
Iya. Itu kerja setahun. Hitung cepat itu kita anggap marketing cost. Siapa yang tidak mau namanya masuk dalam portofolio sejarah, diekspos publik, kerja sama dengan televisi dan dapat iklan. Ini kan promosi gratis.

Sekali menggelar quick count, misalnya di 2 ribu TPS, itu melibatkan berapa orang?
Sekitar 2200 orang. Terdiri dari enumerator(petugas lapangan) dan koordinator data entry.

Bisa mahal sekali ya ongkosnya. Kalau satu orang digaji Rp500 ribu saja, bisa di atas Rp1 miliar biayanya, atau malah mencapai Rp2 miliar?
Enggak sampai he-he.

Bagaimana Anda menjamin orang-orang itu tidak “bermain” atau bahkan menyetor laporannya ke lembaga survei lain, sehingga hasilnya jadi bias?
Kan ada perjanjian hitam di atas putih. Bisa kena pidana kalau melakukan itu. Enggak pernah ada kasusnya dan mereka enggak berani.

Yunarto Wijaya di kantor Charta Politika, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis siang (25/4/2019).
Yunarto Wijaya di kantor Charta Politika, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis siang (25/4/2019). | Wisnu Agung /Beritagar.id

Dari kacamata seorang konsultan, kenapa Prabowo kalah dalam hitungan quick qount?
Satu yang kurang dari Prabowo. Dia itu tidak pernah jadi problem solver. Prabowo itu terkesan malas berpikir.

Dia kritikus besar, tapi ketika masuk case studi apa program untuk harga bahan pokok mahal dan soal impor, dia gak bisa awab.

Prabowo menjadi menarik ketika berpidato, yang sifatnya searah. Kalau debat dia agak melempem.

Prabowo juga gak masuk ke dalam isu-isu aktual dua tahun terakhir. Yang masuk malah SBY. Dia menghilang di tiga tahun pertama.

Menurut Anda Prabowo punya peluang menang?
Sangat besar. Kalau dia bersama-sama dengan masyarakat ikut serta dalam tiap permasalahan, bisa jadi Jokowi kalah.

Kenapa? Karena Jokowi hidup di masa ekonomi global yang tidak baik. Seluruh dunia sedang hadapi situasi antikemapanan karena ketidakpastian ekonomi global.

Sehingga siapa pun yang jadi penantang punya peluang besar mengalahkan petahana. Tapi ketika Prabowo tidak hadir dalam tiap persoalan yang krusial, dia tidak akan dilihat.

Karena pemilih itu pada akhirnya memilih problem solver, bukan kritikus besar.

Sandiaga Uno tidak bisa mewakili kehadiran itu di masyarakat?
Biar bagaimanapun ini pemilihan presiden. Ya memilih presiden. Cawapres hanya ban cadangan. Dia hanya bisa membantu secara branding. Menu utamanya adalah sosok capres itu.

Prabowo terlalu malas pada tiga tahun awal. Dia tidak merawat massa yang sangat besar sekali—yang dia miliki pada 2014.

Bagaimana dengan Jokowi. Apakah ia mendapat kredit dari keberadaan Ma’ruf Amin di sampingnya?
Pada akhirnya iya. Saya tidak mengatakan kredit. Tapi Ma’ruf berhasil menjadi netralisator isu-isu yang jadi beban Jokowi. Itu saja. Tapi bukan sebagai pendongkrak suara.

Sosok Ma’ruf berpengaruh enggak di daerah basisnya Prabowo?
Kalau di Banten dan Jawa Barat tidak. Ini lebih mengarah ke isu besarnya. Anda tidak mungkin mengatakan Jokowi tidak memenuhi unsur ke-Islaman ketika wakilnya adalah seorang ulama kan?

Ini yang kemudian jadi justifikasi teman-teman di NU untuk mendukungnya. Buktinya ada kenaikan luar biasa suara Jokowi di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Bukannya di Jawa Tengah ada sosok Sudirman Said yang kemarin mendapat suara cukup tinggi di Pilkada?
Yang bikin tinggi bukan sosok dia. Tapi wakilnya, Ida Fauziah, yang dari PKB, notabene banyak dukungan dari NU.

Ketika NU-nya ditarik, selesai. Bahkan suara Prabowo makin hancur di Jawa Tengah. Karena kekuatan utama Sudirman Said ada di Ida, dengan jaringan perempuan NU-nya.

Oke. Kalau Jokowi memilih Mahfud MD sebagai wakil, apa yang akan terjadi?
Plus minus. Sosoknya tetap menarik pemilih muda dan aktivis. Tapi ada juga potensi matahari kembar saat kampanye.

Yang jelas, keberadaan Mahfud yang ceplas-ceplos berpotensi memancing kontroversi.

Padahal, dalam situasi kekinian, tidak boleh ada satu pun kesalahan kata-kata, seperti yang menimpa Ahok—yang tersandung masalah agama.

Apakah secara elektoral, politik identitas memiliki efek besar di Pilpres 2019?
Pastinya siapapun yang tidak memiliki magnet elektoral tetap sulit mendapatkan angka yang fenomenal.

Karena pertarungan ini bukan pertarungan identitas atau aliran politik kayak tahun 1955. Ini pertarungan sentimen saja, bukan ideologi.

Apakah PKS dan PDIP punya sikap berbeda dalam tiap isu di DPR? Kan enggak. Beberapa isu bahkan terkesan sama.

Itu yang membuat politik identitas saat ini tidak berpengaruh terhadap perolehan suara partai Islam?
Buat partai tertentu iya. PKS misalnya. Mereka diselamatkan naik daunnya politik aliran. Tapi apakah politik aliran dalam arti ideologi yang sesungguhnya, enggak juga.

Dalam konteks ini kan hanya jadi bagian dari pertarungan Prabowo dengan Jokowi.

Saya melihat PKS diselamatkan pemilih anti-Jokowi yang religius. Karena mereka sulit pilih Gerindra, yang tidak memiliki wajah Islam.

Spekulasi saya, teman-teman HTI juga mau tidak mau memilih PKS.

"Ma’ruf berhasil menjadi netralisator isu-isu yang saat ini jadi beban Jokowi. Itu saja. Bukan sebagai pendongkrak suara."

Yunarto Wijaya

PDIP tampak unggul di real count sementara , apakah elektabilitas PDIP ini dipengaruhi masuknya Ahok?
Enggak. Itu kayak nyemplungin ikan paus ke laut. Memang habitat Ahok di situ. Enggak ada yang baru. Partai jadi besar itu ya yang punya tokoh besar.

PDIP kalau tidak ada Jokowi juga tidak jadi besar. Lihat sejarah. PDIP tak pernah berhasil mengalahkan Demokrat ketika SBY masih Presiden.

Saat Jokowi jadi capres, suara PDIP kemudian langsung naik signifikan.

Lima tahun mendatang, apakah akan ada sosok mengejutkan menjadi presiden?
Sejarah presiden kita memang selalu kejutan. Siapa sangka Soeharto jadi presiden, dari militer level rendah kemudian ada tragedi 30 September, dia jadi naik.

Siapa sangka juga Habibie, Megawati, Gus Dur, SBY dan kini si kurus Jokowi jadi presiden. Who Knows.

Tapi Anda sudah memprediksi nama-namanya?
Masih liar ya. Bisa saja survei menyebut Kang Emil atau Risma. Tapi tidak menutup kemungkinan nama seperti Najwa Shihab akan masuk.

Apapun bisa terjadi. Ukraina saja memilih pelawak sebagai presidennya. Apalagi jika ekonomi global masih begini terus.

Btw Anda terkejut dengan respons Prabowo terhadap situasi hari-hari ini? Sujud misalnya?
Saya tidak menyangka Prabowo sujud syukur lagi. Dia mungkin menjaga militansi relawannya yang sedang mengumpulkan C1.

Tapi kok sekelilingnya itu seperti menjerumuskan beliau.

Ancaman terhadap Anda masih ada pascahitung cepat kemarin itu?
Masih. Biasa lah. Sudah lapor ke polisi juga. Saya harus blok ratusan nomor--karena nomor saya tersebar di medsos.

Mau ganti sayang, karena nomor itu dari kuliah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR